Tag Archive | gulma

RANGGA DIPA


RANGGA DIPA

 

RANGGA DIPA

(clerodenron indicum (L) O. Ktje., C. fortunatum BL., C. aiphonanthus R.Br.)

Famili : verbenaceae

 

a. nama

1) nama daerah

Genje (jawa); daun apium, sekar petak, biduyuk, ganja, mamadatan (sunda); rangga dipa (sumatera)

 

2) inggris :-

 

b. morfologi

rangga dipa tumbuh liar, batang perdu, tegak, kulit batang, warna hijau keunguan, retak-retak memanjang, jika dipotong di tengah terdapat rongga. Daun berbentuk garis, warna hijau tua mengilap, tepi daun rata bergelombang dan berbingkai garis. Posisi daun duduk melingkar berseling, dalam 1 lingkaran terdapat 3 daun, pangkal daun dan bagian ujung meruncing. Panjang daun 6-15 cm sedangkan lebar 1,3-1,5 cm. bunga mengelompok membentuk paying, tumbuh dari ketiak daun, tangkai bunga merah, di ujung warna kuning. Mahkota bunga berwarna merah tua, bentuk bintang 5. buah bulat, yang muda berwarna hijau sedangkan buah matang kuning pucat. Tumbuhan ini berkembang biak dengan biji dan akar.

 

c. lingkungan tumbuh

rangga dipa tumbuh liar di lading, pinggir hutan, pinggir perkampungan, lahan terbuka atau agak terlindung, tanah yang agak lembap seperti di kebun pisang. Tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 1.200 m dpl. Tumbuhan ini merupakan gulma pada pertanaman buah-buahan dan perkebunan.

 

d. kandungan kimia

belum diketahui.

e. kegunaan

rangga dipa berguna untuk mengobati sakit kencing, asma, rematik, kesleo

 

f. ramuan

1) sakit buang air seni karena radang

Daun rangga dipa dan daun rumput lidah ular masing-masing 10-15 g direbus dengan 3 gelas air hingga menjadi separuhnya. Air rebusan diminum pagi dan sore atau malam hari. Air rebusan hanya digunakan untuk 2 kali penggunaan.

 

2) asma

Daun rangga dipa dikeringkan, lalu dibuat rokok. Rokok daun rangga dipa dipakai seperti rokok pada umumnya.

 

3) rematik dan keseleo

Daun rangga secukupnya dicuci bersih, lalu ditumbuk halus. Hasil tumbukan ditempelkan pada bagian yang sakit.

KUMIS KUCING


RUMPUT KUMIS KUCING, RUMPUT MAMANG BESAR

 

(cleome spinosa L., Gnandropis speciosa (H.B.K) DC.)

Famili : capparidaceae

a. nama

1) nama daerah

Kutun,mamam, bunga laba-laba (jawa); jukut kumis kucing (sunda)

2) nama inggris

Spider plant, cats whiskers

b. morfologi

kumis kucing merupakan tumbuhan semusim. Berbatang tegak atau merebah di tanah, berbentuk bulat, warna hijau, bercabang di bagian pangkal. Tingginya mencapai 150 cm. daun majemuk, warna hijau, tangkai panjang, menjari 3-5 anak daun. Anak daun yang ditegah ukurannya lebih besar. Letak anak daun duduk, berbentuk lanset, pangkal dan ujung daun runcing, tepi daun rata, baunya keras. Bunga majemuk, bertandan, keluar dari ujung tangkai. Dalam 1 tangkai terdapat 4 mahkota bunga warna putih, atau agak ungu, melengkung ke bawah. Benang sari panjang menyerupai kumis kucing. Buah polong, kecil, bulat panjang, panjangnya 7-12 cm. buah muda warna hijau, buah matang warna coklat muda dan pecah. Bijinya banyak dan halus . tumbuhan ini berkembang biak dengan biji.

C. lingkungan tumbuh

tumbuh llliar di lading-ladang terlantar, di lahan-lahanvterbuka atau agak terlindungi, semak-semak, sepanjang jalan, dan tanah yang agak lembap. Tumbuhan ini merupakan gulma pada tanaman semmusim maupun tanaman tahunan.

d. kandungan kimia

belum diketahui.

e. kegunaan

rumput kumis kucing hanya dipakai untuk obat luar seperti rematik dan terpukul atau memar.

f. ramuan

1) rematik dan luka terpukul atau memar

Seluruh bagian tumbuhan segar secukupnya, dicuci bersih lalu ditumbuk halus. Hasil tumbukan ditempelkan di bagian yang sakit lalu dibalut. Ramuan lainya adalah kumis kucing secukupnya direbus dengan air bersih beberapa menit. Kemudian dalam keadaan hangat-hangat disiramkan sedikit-demi sedikt pada bagian yang sakit.

SEMBUNG


SEMBUNG

POHON SEMBUNG

 

(blumea balsamifera (L.) less, baccharisnsalvia lour, conyxa balsamifera L.)

Famili: compositae/astraceae)

 

a. nama

1) nama daerah

Sembug uttan, se,bumg luwuk, sembung legi, sembung lelet, sembung langu, sembung gantung, sembung gula (jawa); kamandin (madura); sembung (bali); capo (minangkabau); afoat (timor); ampampau ampompase, capo (bugis); madikapu (ternate)

 

b. morfologi

sembung merupakan umbuhan berbatang perdu dan tegak, hidup menahu. Tinggi tumbuhan ini mencapai 4 m. kulit batang muda berbulu halusndan warna hijau. Daun bundar telur sampai lonjong, warna hiju, bulu halus seperti bludru, dan letaknya berselang-seling. Daun pada cabang atas duduk tak bertangkai. Daun cabang berukuran kecil dengan panjgan 8 cm-40 cm dan lebar 2 cm-20 cm. bagian pangkal dan ujung daun meruncing sedangkan bagian pinggir daun bergigi. Pada tangkai terdapat 2-3 anak daun berukuran kecil. Rasa daun hangat, sedikit pedas dan pahit serta beraroma harum. Bunga berkelompok dalam malai dan tumbuhan dari ujung cabang. Kelopak bunga warna hijau, berbentuk piala sedangkan mahkota warna kuning. Buah dan biji sembung ukuranya kecil, agak melengkung. Buah muda warna hijau sedangkan buah yang matang agak coklat. Tumbuhan ini berkembang biak dengan biji.

 

c. lingkungan tumbuh

sembung tumbuh liar pada tanah berpasir dan agal lembap serta di tempat terbuka atau agak terlindung seperti seperti di pinggir hutan, semak belukar, sepanjang aliran sungai, dan areal perkebunan. Tumbuhan dari dataran rendah sampai ketinggian 2.200 m dpl. Tumbuhan ini merupakan gulma pada tanaman tahunan.

 

d. kandungan kimia

sembung mengandung minak asiri yang komponnya terdiri dari borneol, sineol, limonene, dn di-metil eter khoroasetofenon.

 

e. kegunaan

tumbuhan ini berkhasiat untuk mengobati penyakit rematik, pembulu darah menyempit, haid tidak teratur, nyeri haid, diare, dan tidak nafsu makan.

 

f. ramuan

1) rematik

Daun sembung kering 10-15 g atau daun segar 20-30 g direbus dengan 6 gelas air hingga menjadi 3 gelas. Air rebuan diminum 3 kali sehari masing-masing 1 gelas.

 

2) diare

Daun sembung segar 1 genggam dicuci bersih, lalu direbus dengan 3 gelas air hingga menjafi separuhnya. Air rebusan ditambah madu secukupnya, lalu diminum 3 kali sehari masing-masing 1/2 gelas.

 

3. penyempitan pembulu darah jantung

Daun sembung segar ½ genggam dicuci bersih, lalu direbus dengan 3 gelas air hingga menjadi 2 gelas. Air rebusan ditambah madu secukupnya, lalu diminum 3 kali sehari masing-masing ¾ gelas.

 

4. haid tidak teratur dan tidak nafsu makan

Daun sembung segar ¾ genggam dicuci bersih, lalu direbus dengan 3 gelas air hingga menjadi 2 gelas. Air rebusan ditambah madu secukupnya, lalu diminum 3 kali sehari.

 

5. nyeri haid

Daun sembung segar 5-7 lembar dan beberapa biji kedawung disangarai, lalu di tumbuk halus. Setelah itu, ramuan direbus dengan 2 gelas air hingga menjadi 1 gelas. Setelah itu, ramuan direbus dengan 2 gelas air hingga menjadi 1 gelas. Setelah dingin, air rebusan diminum 1 kali sehari pada pagi hari dan malam hari masing-maing 1 gelas

BANDOTAN


. nama

BANDOTAN

 

1) nama daerah

Wedusan (jawa); babadotan (sunda)

2) inggris

Goat weed, bastard agronomy

 

b. morfologi

bandotan merupakan gulma semusim,tumbuh tegak,batang membentuk percbangan dan berbulu. tinggi batang bandotan mencapai 90 cm. daun berbentuk bundar telur (oval), duduk daun behadapan, tepi daun bergigi, dan tangkai daun agak panjang. Bunga bentuk cawan dan tersusun mengelompok dalam tajuk. Bunga berwarna putih atau keungunan. Biji berjumlah banyak, berbalut dalam kelopak, dan berbulu putih pada bagian ujung biji. Tumbuhan ini berkembang biak dengan biji.

 

c. lingkungan tumbuh

tumbuhan ini tumbuh liar di tempat-tempat terbuka atau agak terindung seperti di lading-ladang dan kebun-kebun. Tumbuhan dari dataran rendah sampai ketinggian di atas 2.500 m dpl. Bandotan merupakan gulma pada pertanaman tanaman tahunan dan tanaman semusim.

 

d. kandungan kimia

bandotan mengandung seskuiterpen,asam hidrosinat,steroid,alkaloid,kumarin, dan terpenoid.

 

e. kegunaan

bandotan berguna unutk mengobati demam,salit perut.sariawan,malaria,emetik,sakit tenggorokan,batuk,asma,sebagai obat luar untuk penyakit kulit seperti bisul,eksem,luka berdarah,koreng, dan borok, serta influenza,tumor rahim,radang paru-paru,diare,perut kembung,radang telinga, dan difteri.

 

f. ramuan

1) demam,malaria,influenza,tumor rahim, dan radang paru-paru

Daun dan batang segar masing-masing 40-60 g atau 15-40 g tanaman yang telah dikeringkan di cuci bersih, lalu direbus dengan 3 gelas air hingga menjadi 11/2 gelas. Air rebusan diminum 2 kali sehari masing-masing ¾ gelas.

 

2) diare,disentri,sakit perut, dan perut kembung

Daun dan batang muda segar secukupnya di cuci bersih, ditumbuk halus, lalu di peras hingga menjadi ½ gelas. Air perasan diminum 2 kali sehari.

3) radang telinga

Daun dan batang bandotan muda secukupnya dicuci bersih, ditumbuk halus, lalu diperas. Air perasan diteteskan pada telinga yang sakit.

 

4) penyakit difteri dan sakit tenggorokan

Daun dan batang muda 60 g dicuci bersih, ditumbuk halus, lalu diperas. Pada air perasan ditambahkan gula batu secukupnya. Air perasan diminum 3 kali sehari.

 

5) penyakit bisul,eksem, dan luka berdarah

Daun danbatang muda secukupnya dicuci bersih, lalu ditumbuk sampai halus. Hasil tumbukan ditempelkan pada bagian yang sakit dan dibalut perban. Lakukan 2 kali sehari sampai sembuh.

 

6) penyakit koreng,borok, dan bengkak

Seluruh bagian tumbuhan 60-100 g, nasi basi ½ genggam, dan garam secukupnya ditumbuk sampai halus. Hasil tumbukan ditempelkan pada bagian yang sakit.

 

4) demam,sakit kepala, dan sakit perut

Daun dan batang segar 20-30 g dicuci bersih, lalu dipotong pendek. Bahan diseduh dengan segelas air panas. Setelah dingin, air seduhan diminum 3 kali sehari masing-masing 1 gelas

jarong


1.  JARONG

jarong

jarong

 

(achyranthes asper L;A. bidentata)

Family:amaranthaceae

a. nama

1) nama daerah

 

Sangketan (jawa); nyarong,jarongan.jarong lalaki (sunda); sanko hidung (sulawesi); rai-rai ddodingan (maluku)

 

2) nama inggris:-

b. morfologi

 

Gulma ini berumur 1-2 tahun, batang tegak atau merebah di permukaan tanah, panjang batang 60 cm. batang berbentuk bersegi empat, warna hijau atau merah muda, dan cabang banyak. Berdaun tunggal,lebar,bertangkai,duduknya berhadapan, warna hijau, berbentuk daun bulat telur, dan sungsang sampai jorong memanjang. Panjang daun 1,5-10 cm. kedua permukaan daun berambut, ujung daun tumpul, pangkal daun menyempit, pinggir daun rata atau agak bergelombang, dan tulang daun menyirip. Bunga tumbuh dari ujung tangkai atau di antara percabangan, bentuk  tandan. Kuntum bunga hijau, bulir bulat, keras, dan tajam. Tumbuhan ini dapat dikembangbiak dengan biji.

 

c. lingkungan tumbuh

jarong banyak di temukan di lahan agak terlindungi antara lain di lading,tegalan,pinggir jalan,halaman,kebun yang telah ditinggalkan, atau hutan kecil. Tanah yang cocok untuk tumbuh adalah tanah agak lembap sampai lembap dengan ketinggian mencapai 2.300 m dari permukaan laut (dpl). Tumbuhan ini merupakan gulma pada pertanaman tanaman tahunan dan tanaman semusim.

 

d. kandungan kimia

daun jarong mengandung senyawa alkaloid akirantin,glukosa,galaktosa,rhamnosa, dan alkaloid. Bijinya mengandung senyawa herdiakordan dan sapogenin sementara akar. kegunaan

tumbuhan ini dapat di gunakan untuk mengobati demam,malaria,radang amandel,radang paru-paru,gondongan,rradang sendi,bengkak ginjal,nyeri menstruasi,muntah darah

 

f. ramuan

1) demam malaria,radang amandel,enteritis,radang paru-paru,gondongan,radang sendi,bengkak ginjal,nyeri pada saat menstruasi,muntah darah, dan kencing darah.

diminum 3 kali sehari pagi dan siang sebelum makan serta malam sebelum tidur.

2) luka dan bisul

Daun dan batang jarong muda secukupnya dihaluskan atau direbus. Daun dan batang yang telah dihaluskan ditempelkan pada bagian yang sakit. Untuk daun dan akar yang direbus,air rebusan digunakan untuk mencuci luka seperti gigitan ular,serangga, dan bisul

Catatan:

Wanita hamil dilarang minum air rebusan tumbuhan ini karena dapat menggangu pertumbuhan dan kesehatan janin.