BUDIDAYA lebah klanceng,trigona sp


lebah klanceng

trigona spp

 

 

PEMESANAN BIBIT KLANCENG KLIK DISINI 

Indonesia mempunyai berbagai jenis lebah asli Indonesia antara lain Apis

dorsata (lebah hutan), Apis Cerana (lebah lokal), Apis Andreniformis (lebah kerdil),

Apis Nigrocinta (lebah lokal Sulawesi), Apis Koschenokovi (lebah merah), Apis

Nuluensis (lebah gunung), Trigona sp (lebah klanceng) (Hadisoesilo, 2001). Lebah

klanceng merupakan lebah asli dari Asia dari genus Trigona berwarna hitam dengan

ukuran paling kecil diantara semua jenis lebah.

Koloni lebah klanceng terdiri dari lebah ratu, lebah pekerja, lebah pejantan, telur

dan sarang. Jumlah lebah klanceng dalam satu koloni maksimal seratus ribu ekor.

Faktor yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan koloni lebah klanceng adalah

adanya ketersediaan pakan sebagai penghasil nektar dan polen, lingkungan yang sesuai,

populasi koloni yang tinggi dan kemampuan fisik lebah klanceng.

Ketersediaan pakan lebah secara berkesinambungan yang mampu menghasilkan

nektar dan tepung sari sangat menentukan kehidupan lebah klanceng. Lebah klanceng

sangat membutuhkan pakan yang mengandung karbohidrat, protein, vitamin, mineral,

air dan lain-lain untuk kehidupannya. Pakan tersebut sangat penting untuk

perkembangan koloni, perawatan ratu, peningkatan produksi telur dan produksi madu.

Sumber karbohidrat sebagian besar diperoleh dari nektar, sedangkan sumber protein

diperoleh dari polen.

Selain ketersediaan pakan lebah maka faktor lingkungan seperti suhu,

kelembaban udara, curah hujan dan ketinggian tempat juga sangat menentukan

perkembangan lebah klanceng. Kemampuan lebah untuk mempertahankan kehangatan

kondisi mikroklimat merupakan adaptasi secara langsung untuk mempertahankan suhu.

Adapun cara yang ditempuh adalah melalui pengendalian terintegrasi antara produksi

dan pelepasan panas. Mekanisme ini dapat menyebabkan menurunnya aktivitas lebah

dalam mencari makanan sehingga akan dapat mempengaruhi perkembangan koloni

selanjutnya.

Hasil pengamatan pada peternak lebah klanceng di desa Ngembal Kecamatan

Tutur Kabupaten Pasuruan. Selama ini peternak memelihara lebah klanceng masih pada

stup-stup yang dibuat dari lubang bambu, lubang kayu, atau akar pohon yang besar dan

berlubang. Semuanya dibuat sedemikian rupa sehingga mirip dengan kandang alamiah

lebah klanceng.

Volume stup lebah klanceng masih belum ditentukan secara pasti. Terbukti dari

berbagai pendapat tentang volume stup lebah klanceng antara lain menurut Baconawa

(1999) menyatakan bahwa volume stup Trigona sp yaitu 11 inchi x 10 inchi x 8 inchi

mempunyai volume 13.750 cm3 dan berat stup kurang lebih 5 Kg. Volume stup

Trigona sp dapat juga terbuat dari kayu dengan ukuran panjang 280 mm, lebar 200 mm

dan tingginya 250 mm mempunyai volume 14.000 cm3 (Anonymous, 2001), bahkan

menurut Zucchi (1967) menyatakan bahwa volume stup untuk Trigona sp yaitu 8 inchi

x 8 inchi x 50 inchi mempunyai volume 50.000 cm3. Volume lebah klanceng dapat juga

dengan ukuran 10 cm x 28 cm x 20 cm mempunyai volume 5600 cm3, ada juga yang

berpendapat ukuran stup 28 cm x 21 cm x 21 cm mempunyai volume 12.348 cm3 dan

ketebalan kayu 2,5 cm (Heard, 1988).

Berdasar uraian diatas perlu dibuat stup yang lebih praktis sehingga

memudahkan peternak dalam pengambilan hasil produksinya, dan diharapkan hasil

produksi dari lebah klanceng dapat meningkat.

1.2. Perumusan Masalah

Peternak belum mengetahui secara pasti volume dari stup lebah klanceng

sehingga membuat stup secara asal. Selama ini peternak memelihara lebah klanceng

pada stup-stup yang dibuat dari lubang bambu atau lubang kayu. Stup dibuat

sedemikian rupa sehingga mirip dengan kondisi alamiah lebah klanceng.

Volume stup lebah klanceng masih belum ditentukan secara pasti. Terbukti dari

berbagai macam pendapat tentang volume stup lebah klanceng. Salah satunya

Baconawa (1999) menyatakan bahwa volume stup lebah klanceng 13.750 cm3,

sedangkan Zucchi (1967) menyatakan bahwa volume stup lebah klanceng 50.000 cm3.

Peternak masih mengalami kesulitan dan belum menemukan cara yang praktis

dalam pengambilan hasil produksinya. Peternak masih membuka stup dengan paksa

dalam pengambilan hasil produksinya. Pembukaan secara paksa mengakibatkan stup

lebah klanceng rusak. Berdasar uaraian diatas dapat dirumuskan permasalahan berapa

volume stup yangdapat menghasilkan bobot koloni dan frekuensi aktivitas keluar

masuk lebah klanceng yang optimal.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

a) Untuk mengetahui pengaruh volume stup terhadap bobot koloni lebah klanceng.

b) Untuk mengetahui pengaruh volume stup terhadap frekuensi aktivitas keluar masuk

lebah klanceng.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah :

a) Memilih volume stup pada berbagai ukuran yaitu kecil, sedang dan besar.

b) Membedakan volume stup terhadap peningkatan bobot koloni lebah klanceng.

c) Membedakan volume stup terhadap peningkatan frekuensi aktivitas keluar masuk

lebah klanceng.

1.5. Kerangka Pikir

Lebah klanceng beraktivitas pada suhu 18 0C sampai 35 0C (Anonymous, 2004).

Aktivitas lebah akan menurun apabila suhu lingkungan dibawah 18 0C dan diatas 35 0C.

Suhu lingkungan yang tidak sesuai dapat mengakibatkan lebah untuk hijrah mencari

tempat yang lebih nyaman.

Lebah klanceng menghasilkan panas dari dalam tubuhnya. Saat musim bunga

jumlah koloni akan meningkat. Koloni yang besar akan meningkatkan suhu dalam stup.

Kondisi yang terlalu panas mengakibatkan aktivitas lebah klanceng akan menurun.

Volume stup besar mempunyai ruang yang longgar. Ruang yang longgar akan

membuat suhu didalamnya cepat turun. Volume stup besar mampu menghindarkan

lebah klanceng dari kepanasan dibandingkan dengan stup sedang dan stup kecil.

Suhu yang terlalu dingin membuat aktivitas lebah klanceng menurun. Lebah

klanceng menjaga panas dengan cara membentuk gerombolan. Saat suhu terlalu dingin

lebah klanceng disibukkan untuk menjaga suhu tubuhnya, sehingga membuat

aktivitasnya berkurang.

Volume stup kecil mempunyai ruang yang sempit. Ruang yang sempit akan

membuat suhu didalamnya meningkat. Stup kecil mampu menjaga suhu didalamnya

tetap hangat.

1.6. Hipotesis

Hipotesis dari penelitian ini adalah :

a. Terdapat perbedaan pengaruh volume stup terhadap bobot koloni lebah klanceng.

b. Terdapat perbedaan pengaruh volume stup terhadap frekuensi aktivitas keluar masuk

lebah klanceng.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Koloni Lebah Klanceng

Taxonomi lebah klanceng yaitu phylum : Arthropoda, class : Hexapoda, ordo :

Hymoneptera, family : Apidae (Anymous, 2004). Setiap kelompok didalam koloni

terdiri dari ratu, beberapa pekerja dan jumlah pejantan sepertiga dari jumlah pekerja.

Selama hidupnya lebah klanceng mengalami siklus metamarfosis yang lengkap yaitu

mulai dari telur sampai dengan dewasa. Masing-masing tahap membutuhkan waktu

yang berbeda-beda baik ratu, lebah jantan maupun lebah pekerja. Siklus hidup lebah

dibagi dalam beberapa tahapan yaitu periode telur, periode larva, penutupan sel, pra

pupa dan pupa.

Ukuran panjang tubuh lebah klanceng kurang lebih 4 mm, Trigona duckei

Friese dikenal jenis lebah tanpa menyengat yang paling kecil, Melipona interrupta

Latrielle adalah yang paling besar. M. beechii adalah lebih kecil dibanding Apis

mellifera. Warna jenis yang berbeda bervariasi dari hitam ke coklat, merah, jeruk,

kuning, dan putih (Anonymous, 2005).

2.1.1. Ratu Lebah Klanceng

Ratu merupakan satu-satunya penelur seumur hidup. Setiap koloni lebah

biasanya memiliki seekor ratu lebah. Ratu lebah berukuran paling besar ( paling besar

diantara lebah jantan dan lebah pekerja). Ratu Lebah melepaskan pheromones untuk

mengatur aktivitas koloni, dan lebah pekerja juga menghasilkan pheromones untuk

melakukan komunikasi antar lebah (Anonymous, 2005).

  1. Pekerja Lebah Klanceng

Lebah pekerja adalah lebah betina yang organ reproduksinya terkekang sehingga

tidak berfungsi sempurna. Ukuran jenis lebah pekerja adalah terkecil dibandingkan

dengan lebah ratu dan lebah jantan. Sayap lebah pekerja hampir menutupi bagian perut,

kaki belakang berkembang menjadi alat pembawa pollen, tubuhnya berbulu,

mempunyai sengat lurus dan berkait (Mace, 1984). Lebah Pekerja adalah lebah betina

yang tidak subur. Lebah Pekerja mengeluarkan lilin yang digunakan untuk membangun

sarang, membersihkan dan memelihara sarang, menaikkan yang muda, menjaga sarang

dan menyediakan makanan terdiri dari madu dan tepung sari(Anonymous, 2005).

Baconawa (1999) menyatakan bahwa masa kerja lebah pekerja selama 60 hari.

Sejak usia 1 minggu lebah pekerja mulai bekerja membersihkan lubang sel bekas

hunianya tatkala ia menjadi larva. Usia 2 minggu, lebah pekerja bekerja membuat royal

jelly. Usia 3 minggu, membuat sel-sel dalam sarang. Usia 4 minggu, mengikuti lebah

pekerja dewasa untuk mencari makan di luar sarang. Usia 5 minggu, bekerja mencari

makan untuk memenuhi kebutuhan hidup koloni. Usia 5 minggu, lebah pekerja sering

disebut lebah pangan (pencari makan). Lebah pekerja sering disebut lebah pencari jejak,

karena mampu membaca sinar ultraviolet matahari untuk mencari jejak dimana terdapat

sumber makanan. Usia 6-7 minggu, lebah pekerja bekerja menjaga keamanan koloni

dan mati pada usia 7 minggu.

  1. Jantan Lebah Klanceng

Lebah jantan merupakan kasta kelompok kedua terbesar dalam koloni lebah.

Jumlahnya sekitar sepertiga dari jumlah lebah betina dan tugas utamanya adalah

pemacek atau harem bagi lebah ratu. Lebah jantan tidak mencari madu atau tepung sari

untuk makanana. Tujuan yang utama lebah jantan adalah untuk mengawini ratu lebah

klanceng yang baru. Lebah jantan kawin dengan lebah ratu pada saat terbang, lebah

jantan mati dengan seketika setelah kawin (Anonymous, 2005).

  1. Tanaman Pakan Lebah Klanceng

Daerah tropis pembungaan tanaman selalu silih berganti sepanjang tahun, namun

demikian kuantitas dan kualitasnya dipengaruhi oleh musim yang terdapat di daerah

yang bersangkutan (Gojmerac, 1980). Akibatnya setiap bulan volume bunga menjadi

tidak sama (Crane, 1980). Bunga mengandung nektar dan tepung sari yang digunakan

oleh lebah sebagai bahan makanan. Carlos, Souza, dan Moura (1995) menambahkan

bahwa Tepung sari Dan Madu merupakan unsur-unsur makanan penting untuk lebah,

tepung sari menjadi sumber protein utama mereka.

Bahan dasar makanan lebah klanceng adalah nektar dan pollen yang digunakan

untuk proses pertumbuhan larva, metamorfosis, perkembangan sarang lebah klanceng

dan untuk fungsi tubuhnya. Bahan dasar nektar adalah karbohidrat dalam bentuk gula,

sedangkan pollen mengandung protein, lemak, vitamin dan mineral (Crane, 1980;

Sanford, 2001). Lebah mempunyai banyak variasi dalam memproses nektar dan pollen,

sehingga makanan setiap tingkatan dan jenis/kasta lebah sesuai dengan yang disediakan

(Graham, 1993). Jarak tempuh lebah klanceng untuk mencari sumber makanan kurang

lebih radius 500 meter (Baconawa, 1999). Lebah membutuhkan makanan berupa polen

atau nectar dalam jumlah yang cukup dan berkualitas. Pencarian makanan oleh lebah

dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti : jarak minimum ke sumber makanan, morfologi

bunga , suhu dan isyarat makanan ( Tarumingke dan Coto, 2003).

2.2.1. Nektar

Nektar adalah cairan yang terdapat di dalam bunga. Sekuntum bunga rata-rata

menyimapan sekitar 1/100 mg nektar. Disepakati bahwa teori pencarian makanan

optimal oleh lebah dimulai pada sumber nektar terbanyak. Lebah mengikuti arah

pencarian makanan yang dimulai dari bagian bawah dan kemudian ke bagian atas

bunga. Hal ini disebabkan bunga pada bagian bawah menyediakan lebih banyak nectar

dibandingkan dengan bunga bagian atas (Schoonhoven dan van Loon 1998).

Zat-zat yang terkandung didalam cairan nektar meliputi unsur nitrogen yang

mengandung asam amino, amida, asam organik, beberapa vitamin, senyawa aromatik

dan berbagai mineral, tetapi kandungan yang banyak dijumpai di dalam nektar adalah

karbohidrat. Bunga pada jarak tiga km dari koloni dapat menyediakan sekitar 3,4 kali

lebih banyak nectar dibandingkan dengan bunga yang berada didekat koloninya

sehingga pencarian makanan menarik bagi lebah (Schoonhoven dan van Loon 1998).

Nektar dapat dibedakan menjadi dua yaitu : nektar bunga (flora) dan nektar nonbunga

(ekstra flora).

  • Nektar bunga (flora): yakini nektar yang terdapat pada bunga-bungaan

tertentu, baik pada ethernya, kelopaknya ataupun pada kuncupnya.

  • Nektar non-bunga (ekstra flora) : yakni nektar yang terdapat pada pepohonan

selain bunga, baik pada pangakal daun, dahan, kuncup daun ataupun pohonya

(misal pada tanaman karet dan ketela pohon).

  1. Tepung Sari ( pollen)

Tepung sari adalah zat pakan untuk membangun tubuh (protein) bagi lebah.

Tepung sari itu sendiri berasal dari bunga, yaitu hasil alam yang terdapat pada kepala

putik bunga dalam bentuk butir-butir atau serbuk halus (Pavord,1975). Tepung sari

mempunyai gizi yang tinggi berupa proyein (20,1%), lemak (3,34%), air (23,89%) dan

sisanya vitamin dan mineral yang sangat diperlukan untuk pembentukan jaringan tubuh.

Gojmerac (1983) menambahkan, bahwa sebagian besar kebutuhan total protein

suatu koloni lebah madu dipenuhi dari tepung sari sangat penting untuk pertumbuhan

dan perkembangan tubuh, memperbaiki jaringan dan menjalankan fungsi tubuh lainya.

  1. Penampilan Koloni Lebah Klanceng
  2. Produksi Brood Lebah Klanceng

Brood adalah kumpulan dari pengeraman pada sarang yang berisi telur, maupun

pupa. Siklus hidup lebah dibagi dalam beberapa tahapan yaitu periode telur, periode

larva, penutupan sel, pra pupa dan pupa. Brood tersebut terdapat ditengah sarang sebagi

tempat pengeraman. Ada pengeraman terbuka, yaitu berisi telur dan pupa, dan

pengeraman tertutup sebagi tahap perkembangan kelanjutan (pupa menjadi anak).

Kehidupan lebah dimulai dengan telur yang ditelurkan oleh ratu didalam sel

sisiran sarang. Telur akan menetas setelah 3 hari menjadi larva. Lebah pekerja memberi

larva pakan sehingga tumbuh sangat cepat sehingga memadati sel dalam waktu 4 hari.

Larva tersebut membuat satu koloni dalam selnya, lebah pekerja menutup sel saramg

dengan lilin, kemudian fase pupa. Fase pupa inilah terjadi perubahan besar menjadi

lebah dewasa (Anonymous, 1990). Jumlah koloni yang menetas (brood) tergantung dari

musim dan kondisi lingkungan.

  1. Perkembangan Koloni Lebah Klanceng

Koloni lebah dalam perkembangan dimulai pada fase: telur, larva, pupa, dewasa

dan akhirnya keluar dari sarang (Anonymous, 2001). Telur ratu ditempatkan di dalam

sarang pekerja atau pejantan dan menetas menjadi larva. Umur larva di dalam sarang

cukup panjang sehingga terdapat waktu untuk makan dan tumbuh menjadi jenis lebah

yang berlainan(Anonymous, 2001).

Baconawa (1999) menyatakan bahwa jumlah populasi maksimum lebah

klanceng 100.000 para pekerja untuk tiap sarangnya sedangkan species Apis jumlah

maksimum pekerja tiap sarang 60.000. Lebah klanceng memiliki populasi lebih besar di

bandingkan dengan species Apis. Jumlah koloni akan meningkat seiring meningkatnya

telur, larva dan pupa yang menyebabkan jumlah populasi lebah semakin banyak,

sehingga jumlah lebah pekerja yang membawa nektar dan pollen semakin banyak.

2.4 Stup lebah klanceng

Stup merupakan tempat anggota koloni mengumpul dan melakukan tugas yang

berbeda-beda pada berbagi jenis kelamin dan umurnya (Graham, 1993). Sehingga

koloni lebah seperti kota besar yang multiguna, berada di dalam rongga kayu dengan

lubang tertentu dan sisiran sarang yang dirancang untuk berbagai fungsi dan semua ada

hubungannya dengan arsitektur dan fisiologi lebah (Kleber, 2004). Baconawa (1999)

menyatakan bahwa volume stup lebah klanceng yaitu 11 inchi x 10 inchi x 8 inchi

mempunyai volume 13.750 cm3 dan berat stup kurang lebih 5 Kg, volume stup lebah

klanceng dapat juga terbuat dari kayu dengan ukuran panjang 280 mm, lebar 200 mm

dan tingginya 250 mm mempunyai volume 14.000 cm3 (Anonymous, 2001), bahkan

menurut Zucchi (1967) menyatakan bahwa volume stup untuk lebah klanceng yaitu 8

inchi x 8 inchi x 50 inchi mempunyai volume 50.000 cm3. Volume lebah klanceng

dapat juga dengan ukuran 10 cm x 28 cm x 20 cm mempunyai volume 5.600 cm3, ada

juga yang berpendapat ukuran stup 28 cm x 21 cm x 21 cm mempunyai volume 12.348

cm3 dan tebal kayu 2,5 cm (Heard, 1988).

Besar atau kecil ukuran sarang sangat tergantung pada ras dan umur koloni.

Pembuatan untuk sarang baru mendasarkan pada sarang lama baik lebah Eropa maupun

lebah tropis, di mana pada awalnya membangun sarang lebih kecil dan akan dibesarkan

kalau umur koloni sudah tua. Aktivitas lebah dipengaruhi oleh kondisi lingkungan,

dimana kondisi lingkungan juga sangat berpengaruh pada perkembangan bunga sebagai

penghasil nektar. Kondisi cuaca lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap aktivitas

lebah antara lain : temperatur, intensitas cahaya dan kelembapan udara serta kecepatan

angin (Sedgley, 1991). Aktivitas lebah menurun pada suhu di bawah 18 0 C, kebanyakan

lebah aktif pada suhu 18 0 C sampai 35 0 C (Anonymous, 2004).

BAB III

MATERI DAN METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Desa Ngembal Kecamatan Tutur Kabupaten

Pasuruan, untuk pelaksanaan penelitian dimulai tanggal 3 Agustus sampai 3 November

2006.

3.2. Materi Penelitian

Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

3.2.1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

a. Bibit yang digunakan berasal dari lebah klanceng sebanyak 24 koloni. Koloni

lebah lebah klanceng yang digunakan diperoleh dari peternak rakyat lebah

klanceng di desa Ngembal Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan.

b. Kayu randu dan triplek yang digunakan untuk pembuatan stup.

3.2.2. Peralatan

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

a. Termometer ruang untuk mengukur suhu luar kandang dan didalam.

b. Counter untuk menghitung aktivitas klanceng (keluar/masuk).

c. Timbangan dengan kapasitas 3 Kg dengan kepekaan 10 gr.

d. Spidol untuk memberi label pada kotak dan penutupnya.

3.3. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

percobaan :

3.3.1 Penentuan sampel

a). Volume Stup

Sampel yang digunakan pada penelitian ini yaitu volume stup yang terdiri dari :

a). Kecil ; b). Sedang ; c). Besar dan masing-masing sampel perlakuan diulang sebanyak

delapan kali, sehingga total keseluruhan stup sebanyak 24 stup. Pembuatan stup terdiri

dari tiga ukuran volume stup yaitu : Stup kecil (Panjang 25 cm x lebar 14 cm x tinggi 10

cm = 3500 cm3), Stup sedang ( panjang 30 cm x lebar 16 cm x tinggi 14 cm = 6720

cm3), Stup besar ( Panjang 37 cm x lebar 18,5 cm x tinggi 18 cm = 12321 cm3 ).

b). Pengisian Koloni

Masing-masing sampel di isi dengan satu koloni lebah klanceng. Koloni lebah

klanceng di peroleh dari peternak rakyat lebah klanceng di desa Ngembal Kecamatan

Tutur Kabupaten Pasuruan.

c). Penempatan Stup

Sampel yang sudah di isi dengan koloni lebah klanceng untuk sementara waktu

di tempatkan di tempat koloni yang lama. Sampel di tempatkan pada tempat yang lama

dimaksudkan agar memudahkan lebah klanceng kembali ke sarangnya lagi. Kurang

lebih 3 hari sampel baru dipindah pada tempat yang telah ditentukan.

d). Pemberian Nomer Urut Sampel

Semua sampel ditempatkan secara acak kemudian di beri nomer urut. Pemberian

nomer urut dimaksudakan untuk memudahkan dalam pengambilan data.

3.3.2 Penentuan koloni

Sarang koloni lebah klanceng mudah rusak sehingga pada waktu pemindahan

harus dilakukan secara hati-hati. Koloni dipindahkan secara keseluruhan dari mulai :

sarang, brood, lebah ratu, lebah pekerja, lebah pejantan, kemudian stup ditutup rapat

agar koloni tidak diserang oleh predator.

3.3.3 Variabel Pengamatan

Variabel pengamatan adalah bobot koloni dan aktivitas lebah lebah klanceng.

Metode pengukuranya menurut Junus (2001) dapat dilakukan dengan cara menimbang

bobot koloni lebah untuk kemudian diketahui pertambahan populasi lebah. Langkahlangkah

yang dilakukan untuk mengetahui bobot koloni lebah klanceng adalah sebagai

berikut :

  1. Pengukuran bobot koloni lebah klanceng

a). Penimbangan stup kosong yang belum diisi koloni lebah klanceng pada awal

penelitian (bobot stup kosong).

b). Penimbangan stup yang telah berisikan koloni lebah klanceng selama pengamatan

(bobot stup kosong + koloni).

c). Perhitungan bobot koloni

Bobot koloni = ((bobot stup kosong + koloni) – bobot stup kosong) – rata2

penyusutan stup.

Keterangan :

Rata2 penyusutan =(bobot stup awal penelitian – bobot stup akhir penelitian) / total

pengamatan

  1. Pengukuran frekuensi aktivitas keluar masuk lebah klanceng

Aktivitas klanceng diperoleh dengan cara menghitung jumlah lebah klanceng

yang keluar dan yang masuk selama 5 menit pada pukul 08.00 wib setiap 2 hari sekali.

3.Pengukuran suhu

Pengukuran suhu dilakukan 2 hari sekali, meliputi pegukuran suhu luar kotak

dan didalam kotak yang dilakukan pada pukul 08.00 wib.

 
● JK perlakuan = (Total juml

3.4. Batasan Istilah

Stup : adalah tempat anggota koloni mengumpul dan melakukan tugas

yang berbeda-beda pada berbagi jenis kelamin dan umurnya.

Koloni lebah : adalah bentuk koloni lebah yang terdiri dari lebah ratu, lebah

jantan dan lebah pekerja.

Bobot koloni : adalah bobot total – bobot kotak kosong, dimana bobot total

adalah hasil dari penimbangan stup keseluruhan.

Volume stup : adalah panjang x lebar x tinggi (ukuran bagian dalam kotak).

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Pengaruh Volume Stup Terhadap Bobot Koloni Lebah Klanceng

Hasil analisis ragam pada Lampiran 10, 11 dan 12 menunjukkan bahwa volume

stup memberikan pengaruh yang sangat nyata (P < 0,01) terhadap bobot koloni lebah

klanceng pada bulan Agustus. Volume stup memberikan pengaruh yang nyata (P <

0,05) terhadap bobot koloni lebah klanceng pada bulan september. Volume stup

memberikan pengaruh yang tidak nyata (P > 0,05) terhadap bobot koloni lebah klanceng

pada bulan Oktober. Rata-rata bobot koloni lebah klanceng pada volume stup kecil,

sedang dan besar dari hasil pengamatan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Rata-rata bobot koloni lebah klanceng pada volume stup kecil, sedang dan

besar pada bulan Agustus, September dan Oktober.

Perlakuan Rata-rata Bobot Koloni (gr)

Agustus September Oktober

Kecil 90,2 ± 26,95 a 49, 6 ± 27,62 a 47,4 ± 26,78

Sedang 143,8 ± 37,07 b 66,7 ± 17,25 a 76,3 ± 21,63

Besar 192,2 ± 19,00 b 95,6 ± 39,69 b 82,3 ± 35,43

Keterangan : Superskrip yang berbeda menunjukkan pengaruh yang sangat nyata ( P <

0,01) bulan Agustus, pengaruh nyata (P< 0,05) bulan September dan

pengaruh tidak nyata (P>0,05) bulan Oktober.

Memperhatikan Tabel 1 dapat diketahui bahwa rata-rata bobot koloni bulan

Agustus pada stup sedang 1,59 kali lipat lebih banyak dibanding stup kecil, akan tetapi

pada stup besar mempunyai rata-rata 2,13 kali lipat dari stup kecil sehingga

menyebabkan pengaruh sangat nyata. Rata-rata bobot koloni bulan September pada stup

sedang 1,34 kali lipat lebih banyak dibanding stup kecil, akan tetapi pada stup besar

mempunyai rata-rata 1,93 kali lipat dari stup kecil sehingga menyebabkan pengaruh

yang nyata. Rata-rata bobot koloni bulan Oktober pada stup kecil, stup sedang dan stup

besar mempunyai rata-rata yang hampir sama sehingga menyebabkan tidak beda nyata.

Volume stup berpengaruh terhadap bobot koloni lebah klanceng karena dipengaruhi

oleh kapasitas volume dari stup, kondisi lingkungan yang sesuai untuk lebah klanceng,

ketersedian tanaman pakan lebah berupa berupa nektar dan tepung sari yang diperoleh

dari bunga tanaman. Sedgley (1991) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi

kehidupan dan perkembangan koloni lebah klanceng adalah populasi koloni yang tinggi,

lingkungan yang sesuai, dan kemampuan fisik lebah klanceng dan ketersediaan tanaman

pakan lebah berupa nektar dan tepung sari.

Stup sedang mempunyai volume 1,92 kali lipat dibanding stup kecil, akan tetapi

pada stup besar mempunyai volume 3,52 kali lipat dibanding stup kecil. Volume stup

besar dan stup sedang mempunyai ruang yang lebih besar. Saat musim bunga volume

stup besar dapat menampung nektar dan tepung sari pada sarang pakan dalam jumlah

lebih banyak dibandingkan dengan stup kecil. Kapasitas tampung yang besar

menyebabkan populasi koloni dapat berkembang dengan cepat. Jumlah populasi koloni

yang besar mengakibatkan aktivitas dari lebah klanceng pekerja untuk mencari pakan

meningkat.

Memperhatikan pada Lampiran 19 menunjukkan bahwa rata-rata suhu pada stup

besar 27,68 ± 0,80 0C, rata-rata suhu pada stup sedang 29,30 ± 1,16 0C dan rata-rata

suhu pada stup kecil 33,39 ± 0,74 0C sedangkan rata-rata suhu luar stup 26,95 ± 2,67 0C.

Lebah mampu beraktivitas pada suhu 18 0C sampai 35 0C (Anonymous, 2004).

Aktivitas lebah akan menurun apabila suhu lingkungan dibawah 18 0C dan diatas 35 0C.

Suhu ideal bagi pertumbuhan lebah adalah sekitar 26 derajat 0C, pada suhu ini lebah

dapat beraktivitas normal (Anonymous, 2005). Saat suhu lingkungan dibawah 18 0C

lebah klanceng akan disibukkan untuk menjaga suhu tubuhnya agar tetap hangat dengan

cara menggerak-gerakkan sayap dan membentuk gerombolan sehingga mengakibatkan

aktivitasnya berkurang. Koloni akan meninggalkan sarang dan sel-sel sarang mulai

mencair saat suhu diatas 40 0C (Anonymous, 2004).

Kemampuan fisik dari lebah klanceng lebih rendah dibandingkan dengan Apis

Melifera. Jarak tempuh lebah klanceng dalam mencari pakan berupa nektar dan tepung

sari radius 500 meter dari sarangnya, sedangkan Apis Melifera radius 5 km dari

sarangnya (Baconawa, 1999). Kemampuan fisik lebah klanceng terbatas sehingga saat

sumber pakan di sekitar sarang berkurang lebah klanceng akan makan hasil produksinya

berupa madu dan tepung sari. Saat jumlah pakan sedikit hasil produksi dari lebah madu

dan tepung sari akan dimakan oleh koloni dari lebah klanceng sehingga menyebabkan

bobot koloni berkurang. Faktor utama yang menentukan banyaknya nektar yang

dikumpulkan adalah kapasitas kantung madu yang tergantung ukuran tubuh lebah,

keadaan cuaca dan pengalaman dari lebah pekerja (Erwan, 2003).

Memperhatikan pada Lampiran 20 dapat diketahui daftar-daftar tanaman pakan

untuk lebah pada musim bunga bulan Agustus terdapat 39 jenis tanaman, bulan

September yang terdapat 27 jenis tanaman dan bulan Oktober 19 jenis tanaman

(Lamerkabel, 2004). Ketersedian pakan lebah klanceng berupa nektar dan tepung sari

dapat mempengaruhi perkembangan dari koloni lebah klanceng. Jumlah pakan yang

banyak dapat menyebabkan koloni berkembang dengan cepat.

Pembentukan koloni membutuhkan pakan berupa nektar dan tepung sari. Nektar

dan tepung sari digunakan untuk proses pertumbuhan larva, metamorfosis dan

perkembangan dewasa sarang dan fungsi tubuhnya. Nektar dikumpulkan oleh lebah

pekerja sebagai makanan brood dan dewasa sarang, yang diproses terlebih dahulu

menjadi madu (Crane, 1980). Kesehatan koloni lebah sangat tergantung oleh adanya

polen. Koloni-koloni lebah tidak mampu merawat, membesarkan dan memelihara

anakan tanpa adanya polen. Demikian pula halnya dengan lebah ratu tidak mampu

menghasilkan telur dalam jumlah yang cukup banyak jika ketersediaan polen sangat

sedikit ( Gary, 1992).

4.2. Pengaruh Volume Stup Terhadap Aktivitas Lebah Klanceng.

Hasil analisis ragam pada Lampiran 13, 14, 15, 16, 17 dan 18 menunjukkan

bahwa volume stup memberikan pengaruh yang sangat nyata (P < 0,01) terhadap

aktivitas keluar dan masuk lebah klanceng pada bulan Agustus. Volume stup

memberikan pengaruh yang nyata (P < 0,05) terhadap aktivitas keluar dan masuk lebah

klanceng pada bulan September. Volume stup memberikan pengaruh yang tidak nyata

(P > 0,05) terhadap aktivitas keluar dan masuk lebah klanceng pada bulan Oktober.

Rata-rata bobot koloni lebah klanceng pada volume stup kecil, sedang dan besar dari

hasil pengamatan dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Rata-rata aktivitas keluar dan masuk lebah klanceng pada volume stup kecil,

sedang dan besar pada bulan Agustus, September dan Oktober.

Perlakuan Rata-rata aktivitas (ekor)

Agustus September Oktober

Kecil Aktivitas Keluar 7,8 ± 6,33 a 14,9 ± 4,68 a 23,6 ± 9,85

Aktivitas Masuk 9,4 ± 7,10 a 11,9 ± 2,15 a 21,4 ± 11,56

Sedang Aktivitas Keluar 12,1 ± 5,32 a 15,9 ± 8,73 a 19,5 ± 16,20

Aktivitas Masuk 16,3 ± 5,87 a 18,4 ± 8,38 a 18,9 ± 8,90

Besar Aktivitas Keluar 19,3 ± 3,84 b 23,3 ± 1,61 b 21,0 ± 13,04

Aktivitas Masuk 19,4 ± 4,31 b 21,9 ± 8,32 b 21,4 ± 11,54

Keterangan : Superskrip yang berbeda menunjukkan pengaruh yang sangat nyata ( P <

0,01) bulan Agustus, pengaruh nyata (P< 0,05) bulan September dan

pengaruh tidak nyata (P>0,05) bulan Oktober.

Memperhatikan Tabel 4 dapat diketahui bahwa bulan Agustus pada stup kecil,

dan stup sedang memberikan aktivitas keluar dan masuk yang sama yang berbeda pada

stup yang besar. Bulan September pada stup kecil, dan stup sedang memberikan

aktivitas keluar dan masuk yang sama yang berbeda pada stup yang besar. Bulan

Oktober pada stup kecil, stup sedang dan stup besar memberikan aktivitas keluar dan

masuk yang sama. Aktivitas yang sama pada stup kecil, sedang dan besar dikarenakan

kebutuhan lebah klanceng sudah terpenuhi didalam stup sehingga menyebabkan lebah

klanceng tidak beraktivitas keluar.

Stup sedang mempunyai volume 1,92 kali lipat dibanding stup kecil, akan tetapi

pada stup besar mempunyai volume 3,52 kalilipat dibanding stup kecil. Volume stup

besar dan stup sedang mempunyai ruang yang lebih besar. Saat musim bunga volume

stup besar dapat menampung nektar dan tepung sari pada sarang pakan dalam jumlah

lebih banyak dibandingkan dengan stup kecil. Kapasitas tampung yang besar

menyebabkan populasi koloni dapat berkembang dengan cepat. Jumlah populasi koloni

yang besar mengakibatkan aktivitas dari lebah klanceng pekerja untuk mencari pakan

meningkat.

Memperhatikan pada Lampiran 19 menunjukkan bahwa rata-rata suhu pada stup

besar 27,68 ± 0,80 0C sedangkan rata-rata suhu pada stup sedang 29,30 ± 1,16 0C dan

rata-rata suhu pada stup kecil 33,39 ± 0,74 0C sedangkan rata-rata suhu luar stup 26,95

± 2,67 0C. Lebah mampu beraktivitas pada suhu 18 0C sampai 35 0C (Anonymous,

2004). Aktivitas lebah akan menurun apabila suhu lingkungan dibawah 18 0C dan

diatas 35 0C. Suhu ideal bagi pertumbuhan lebah adalah sekitar 26 derajat 0C, pada suhu

ini lebah dapat beraktivitas normal (Anonymous, 2005). Saat suhu lingkungan dibawah

18 0C lebah klanceng akan disibukkan untuk menjaga suhu tubuhnya agar tetap hangat

dengan cara menggerak-gerakkan sayap dan membentuk gerombolan sehingga

mengakibatkan aktivitasnya berkurang. Koloni akan meninggalkan sarang dan sel-sel

sarang mulai mencair saat suhu diatas 40 0C (Anonymous, 2004).

Kemampuan fisik dari lebah klanceng lebih rendah dibandingkan dengan Apis

Melifera. Jarak tempuh lebah klanceng dalam mencari pakan berupa nektar dan tepung

sari radius 500 meter dari sarangnya, sedangkan Apis Melifera radius 5 km dari

sarangnya (Baconawa, 1999). Kemampuan fisik lebah klanceng terbatas sehingga saat

sumber pakan di sekitar sarang berkurang lebah klanceng akan makan hasil produksinya

berupa madu dan tepung sari. Saat jumlah pakan sedikit hasil produksi dari lebah madu

dan tepung sari akan dimakan oleh koloni dari lebah klanceng sehingga menyebabkan

bobot koloni berkurang. Faktor utama yang menentukan banyaknya nektar yang

dikumpulkan adalah kapasitas kantung madu yang tergantung ukuran tubuh lebah,

keadaan cuaca dan pengalaman dari lebah pekerja (Erwan, 2003).

Memperhatikan pada Lampiran 20 dapat diketahui daftar-daftar tanaman pakan

untuk lebah pada musim bunga bulan Agustus terdapat 39 jenis tanaman, bulan

September yang terdapat 27 jenis tanaman dan bulan Oktober 19 jenis tanaman

(Lamerkabel, 2004). Ketersedian pakan lebah klanceng berupa nektar dan tepung sari

akan mempengaruhi perkembangan dari koloni lebah klanceng. Jumlah pakan yang

banyak akan menyebabkan koloni berkembang dengan cepat.

Aktivitas keluar lebah pekerja dari sarang bertujuan untuk mencari pakan. Pakan

lebah klanceng berupa nektar dan tepung sari yang diperoleh dari bunga tanaman.

Aktivitas koloni lebah klanceng dipengaruhi oleh hormon feromon. Hormon feromon

disekresikan oleh ratu lebah klanceng. Tidak keseluruhan dari koloni beraktivitas keluar

akan tetapi hanya lebah pekerja dewasa yang beraktivitas keluar mencari pakan.

Aktivitas masuk dari lebah pekerja ke dalam stup membawa nektar dan tepung

sari yang diperoleh dari bunga tanaman, kemudian ditampung pada se-sel pakan. Nektar

di ambil oleh lebah pekerja dari tanaman menggunakan proboscis. Fungsi proboscis

yaitu alat untuk mengambil dan menyimpan nektar yang diambil dari bunga kemudian

di bawa ke sarang. Pollen basket merupakan alat untuk membawa tepung sari yang

berada pada bagian kaki lebah klanceng.

Memperhatikan pada Tabel 3 dan 4 dapat diketahui bahwa bobot koloni tinggi

pada bulan Agustus dan kemudian menurun pada bulan September dan Oktober, akan

tetapi pada aktivitas lebah klanceng pada bulan Agustus lebih rendah dibandingkan

bulan September dan Oktober. Hal ini dikarenakan pada bulan Agustus kondisi

lingkungan yang nyaman sehingga meningkatkan produktivitas dari lebah dan adanya

ketersediaan pakan yang banyak sehingga menyebabkan bobot koloni yang tinggi pada

bulan Agustus. Bulan September dan Oktober merupakan musim paceklik (kekurangan

pakan) sehingga koloni akan memakan dari nektar dan tepung sari yang ada di dalam

stup oleh karena itu menyebabkan bobot koloni yang rendah pada bulan September dan

Oktober. Aktivitas lebah klanceng sedikit pada bulan Agustus dan mengalami

peningkatan pada bulan September dan Oktober, hal ini dikarenakan lebah ratu selalu

bertelur untuk membentuk koloni yang baru.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

1). Stup besar menghasilkan rata-rata bobot koloni lebah klanceng paling tinggi

dibanding stup sedang dan stup kecil, karena stup besar mempunyai volume yang

lebih besar dibandingkan dengan stup sedang dan stup kecil.

2). Volume stup besar menghasilkan aktivitas keluar dan masuk koloni lebah klanceng

lebih tinggi dibanding stup sedang dan stup kecil, dengan stup yang tidak terlalu

panas dan dingin akan membuat lebah klanceng merasa nyaman sehingga

menyebabkan aktivitasnya meningkat.

3). Faktor yang mempengaruhi perkembangan koloni lebah klanceng yaitu volume stup,

aktivitas koloni, populasi koloni, ketersedian pakan.

5.2. Saran

1). Stup besar mempunyai bobot koloni dan aktivitas keluar dan masuk lebih tinggi oleh

karena itu disarankan kepada peternak lebah klanceng untuk menggunakan stup

besar agar memperoleh hasil yang maksimal.

2). Lokasi untuk pemeliharan koloni lebah klanceng sebaiknya dekat dengan sumber

pakan agar koloni dapat berkembang dengan cepat.

 

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s