CARA BETERNAK AYAM BURAS


PEDOMAN PRAKTIS BETERNAK AYAM BURAS


Oleh Senong Zakaria dan Baharuddin Wawo *
Ayam buras (bukan ras) merupakan salah satu ternak unggas penghasil telur dan
daging. Sebagai seorang petani, terutama petani di pedesaan yang serba terbatas, baik
ilmu, modal maupun lahan, maka pilihan satu-satunya akan jatuh pada ayam buras yang
dikenal masyarakat pada umumnya dengan nama ayam kampung.
Ayam buras merupakan potensi di daerah yang selalu ada dan hampir dimiliki
oleh setiap rumah tangga serta mempunyai beberapa keunggulan dibanding dengan jenis
unggas lain antara lain 1) mudah dipelihara dan sudah sering dilakukan oleh masyarakat
di pedesaan, 2) cepat beradaptasi dengan lingkungan dan umumnya tahan terhadap
penyakit tertentu, 3) daging dan telur ayam buras lebih disukai masyarakat, sehingga
peluang pasar masih terbuka lebar dan harganya tetap stabil, 4) dapat dilaksanakan
dengan modal kecil-kecilan dan penggunaan lahan terbatas serta dapat diusahakan secara
bertahap, 5) memiliki variasi keunggulan tertentu sesuai dengan daerah asalnya.
Ayam buras dapat menjadi sumber ekonomi rakyat petani bilamana ada
perubahan peranan dari sekedar sebagai sampingan yang dipelihara secara tradisional
kemudian dirubah menjadi usaha komersil dan dikelola secara intensif atau semi intensif.
Kuncinya dalam pengembangan ayam buras yaitu merubah sistem lama (tradisional)
dengan mengadopsi teknologi yang mudah dilaksanakan dan diharapkan dalam waktu
yang relatif singkat pengembangan ayam buras sudah dapat ditingkatkan.
Dengan perubahan ini yaitu dengan adopsi teknologi yang mudah dan murah
biayanya akan memberikan keuntungan yang memadai, berarti akan dirasakan setiap
petani akan pendapatan yang diperoleh dengan harapan bahwa ayam burasnya dikelola
dengan baik sesuai anjuran teknis maupun ekonomisnya.
BEBERAPA CARA BUDIDAYA
Siklus reproduksi ayam buras yang dipelihara tradisional biasanya berlangsung selama
125 hari yaitu sebagai berikut 1) masa bertelur 20 hari, 2) masa mengeram 21 hari, 3)
masa mengasuh anak 65 hari, 4) masa istirahat 20 hari
Namun apabila dibudidayakan maka siklus di atas dapat dikurangi dengan jalan :
 Induk diberi kesempatan mengerami telurnya dan setelah menetas anak ayam dipisah
dari induk selanjutnya anak ayam dipelihara tersendiri dan induk ayam istirahat.
 Telurnya dipungut terus, kemudian ditetaskan di mesin tetas.
 Bila muncul sifat mengeram maka induk dimandikan 2 kali setiap minggu selama 2
minggu berturut-turut.
1. Budidaya Pertama
Induk tidak mengasuh anak (sesudah menetas anak dipisahkan dari induknya) maka
1-2 bulan, induknya dapat bertelur kembali asalkan tetap didampingi pejantan.
2. Budidaya Kedua
Induk tidak mengasuh anak dan tidak diberi kesempatan mengerami telurnya. Jadi
masa bertelur lebih panjang waktunya yaitu 20 hari dan masa istirahat akan lebih
pendek yaitu 14-21 hari.
3. Budidaya Ketiga
Yaitu mengeramkan telur dengan menggunakan mesin tetas. Namun harus diikuti/
dibarengi dengan keterampilan dalam penetasan telur. Dalam hal ini telur tetas harus
berasal dari induk yang sudah bertelur satu periode atau setelah ayam bertelur 2 bulan
dengan umur induk sekitar 8 bulan dengan jantan umur 10 bulan.
PEMELIHARAAN AYAM BURAS
Ayam buras terdiri atas 3 kelompok umur :
1. Periode Starter
– Pemeliharaan intensif dengan menggunakan induk pemanas boleh menggunakan
box, boleh juga dalam kandang kecil.
– Lantai box tutup kertas, agar anak ayam tidak dingin.
– Siapkan makanan dan air minum.
– Air minum tambah gula sedikit (asal sudah terasa manis).
– Masukkan anak ayam yang baru menetas
– Nyalakan lampu. Patokan 10 ekor/ 10 watt, selama 1 minggu, setelah 1 minggu
bohlamnya diganti menjadi 5 watt dan hanya malam menyala (apabila sudah
umur lebih dari 1 minggu) jika daerahnya terang.
– Box dipasang dalam kandang yang sudah tersedia.
– Umur 3 minggu, keluarkan ayam dari box dan lepas dalam kandang yang sudah
siap pakai.
– Umur 2 hari air minum ditambah antikoksi sebanyak 1 cc per liter air selama 3-5
hari berturut-turut.
– Pemberian pakan tetap harus tersedia sepanjang hari.
– Umur 4 hari, vaksinasi ND (tetes mata), 1 gram vaksin (ampul) + 3 cc larutan
aquades. Tetes mata kiri atau kanan.
– Umur 4 minggu dilakukan lagi vaksinasi ND (tetes mata).
– Bila kelihatan ada berak warna putih (terjadi pada umur 5-6 minggu) maka
berikan Neo Meditril melalui air minum sebanyak 0,5 cc per liter air. Apabila
tidak ada berak putih/ hijau tidak perlu diberikan.
– Setelah anak ayam berumur 8 minggu (2 bulan) berarti anak ayam sudah masuk
phase dara (periode grower).
2. Periode Grower
Anak ayam setelah umur 2 bulan sudah memerlukan kandang yang lebih luas
yaitu 8-10 ekor per meter (tergantung besarnya ayam), usahakan pemeliharaannya
semi intensif agar supaya anak ayamnya dapat berjemur dan makan hijauan dan untuk
itu diperlukan adanya umbaran. Misalnya ayamnya ada 20 ekor maka kandang yang
disediakan 2-3 m2 (1,5 x 2 m) ditambahkan umbaran di luar 1,5 x 4 m.
– Pemberian pakan kontinyu setiap hari dan tingkatkan jumlahnya mulai 40-70
gram.
– Siapkan air minum (jangan kosong tempat air minum)
– Berikan hijauan setiap hari sesuai kebutuhan. Misalnya rumput lapangan, limbah
sayur-sayuran yang tidak dimanfaatkan, ubi dan lain-lain.
– Hijauan sebelum diberikan dipotong halus baru dihambur pada umbaran.
– Lakukan seleksi, pilih yang bagus untuk bibit dan yang kerdil dipelihara
tersendiri, gemukkan dan jual.
– Setelah ayam berumur 4 bulan, vaksinasi dengan vaksin ND-Lasota melalui
suntikan pada bagian dada.
– Sesudah umur 5,5 bulan ayam mulai berkotek-kotek berarti sudah/ hampir
bertelur. Berarti ayamnya sudah dikategorikan dewasa. Pakan diganti dari pakan
grower (14 % protein) menjadi pakan ayam layer (ayam dewasa dengan protein
15,5-16 %).
– Berikan obat cacing pada umur 3 bulan.
3. Periode Layer
Pada periode ini biasanya peternak memelihara ayamnya sesuai keinginan
peternak.
– Hanya membutuhkan telur saja (telur konsumsi) maka biasanya dipelihara pada
kandang ” battery”. Ukuran kandangnya 20 x 30 x 40 cm/ ekor.
– Bilamana yang dibutuhkan telur bibit maka berarti harus ada pejantannya.
Sebagai patokan 1 jantan mengawini 7-10 ekor betina. Gunakan pejantan paling
banyak 2 ekor yang memang sejak kecil sama-sama dalam satu kandang. Yang
terbaik 1 jantan : 7-10 ekor betina. Pilih jantan dan betina yang memang
memenuhi syarat.
– Lakukan vaksinasi ND-Lasota setiap 4 bulan (terhitung mulai dari vaksinasi ND
ke 3).
– Usahakan ayam tidak pindah-pindah kandang (kecuali apabila isinya terlalu
banyak di dalam atau dengan sistem battery).
– Gunakan pemeliharaan semi intensif, karena produksi telurnya tinggi, efisien
penggunaan pakan.
– Dalam kandang siapkan sarang bertelur. Boleh dierami induk dan begitu menetas
anak dipisah agar induknya cepat bertelur. Boleh juga tiap hari telur dipungut dan
ditetaskan melalui mesin tetas.
*) Dosen Fakultas Peternakan Unhas dan Penyuluh Pertanian Madya

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s