TEKNIK PERTANIAN


TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN
PANGAN
(PADI,JAGUNG,KEDELAI)
8.1. Teknik Budidaya Padi
a. Botani Tanaman
Berdasarkan literatur Grist
(1960), padi dalam sistematika
tumbuhan diklasifikasikan ke
dalam Divisio Spermatophyta,
dengan Sub divisio
Angiospermae, termasuk ke
dalam kelas Monocotyledoneae,
Ordo adalah Poales, Famili
adalah Graminae, Genus adalah
Oryza Linn, dan Speciesnya
adalah Oryza sativa L.
Menurut D.Joy dan
E.J.Wibberley, tanaman padi
yang mempunyai nama botani
Oryza sativa dan dapat
dibedakan dalam dua tipe, yaitu
padi kering yang tumbuh di lahan
kering dan padi sawah yang
memerlukan air menggenang
dalam pertumbuhan dan
perkembangannya
Genus Oryza L. meliputi lebih
kurang 25 spesies, tersebar di
daerah tropik dan sub tropik
seperti Asia, Afrika, Amerika,
dan Australia.
Menurut Chevalier dan Neguier
padi berasal dari dua benua ;
Oryza fatua Koenig dan
Oryza sativa L berasal dari
benua Asia, sedangkan jenis
padi lainnya yaitu Oryza stapfii
Roschev dan Oryza glaberima
Steund berasal dari Afrika
Barat.
Padi yang ada sekarang ini
merupakan persilangan antara
Oryza officinalis dan Oryza
sativa f spontania. Tanaman padi
yang dapat tumbuh baik di
daerah tropis ialah indica,
sedangkan japonica banyak
diusahakan di daerah sub tropis
(Pustaka Bogor, 2005).
Berdasarkan literatur Aak (1992)
akar adalah bagian tanaman
yang berfungsi menyerap air dan
zat makanan dari dalam tanah,
kemudian diangkut ke bagian
atas tanaman. Akar tanaman
padi dapat dibedakan atas :
1. Radikula; akar yang
tumbuh pada saat benih
berkecambah. Pada
benih yang sedang
berkecambah timbul
calon akar dan batang.
Calon akar mengalami
pertumbuhan ke arah
bawah sehingga
terbentuk akar tunggang,
sedangkan calon batang
akan tumbuh ke atas
sehingga terbentuk
batang dan daun.
2. Akar serabut (akar
adventif); setelah 5-6 hari
terbentuk akar tunggang,
akar serabut akan
tumbuh.
3. Akar rambut ; merupakan
bagian akar yang keluar
dari akar tunggang dan
akar serabut. Akar ini
145
merupakan saluran pada
kulit akar yang berada di
luar, dan ini penting
dalam pengisapan air
maupun zat-zat
makanan. Akar serabut
biasanya berumur
pendek sedangkan
bentuk dan panjangnya
sama dengan akar
serabut.
4. Akar tajuk (crown roots) ;
adalah akar yang tumbuh
dari ruas batang
terendah. Akar tajuk ini
dibedakan lagi
berdasarkan letak
kedalaman akar di tanah
yaitu akar yang dangkal
dan akar yang dalam.
Apabila kandungan udara
di dalam tanah rendah,
maka akar-akar dangkal
mudah berkembang.
Gambar 48. Pertumbuhan akar
padi
Bagian akar yang telah dewasa
(lebih tua) dan telah mengalami
perkembangan akan berwarna
coklat, sedangkan akar yang
baru atau bagian akar yang
masih muda berwarna putih.
Padi termasuk golongan
tumbuhan Graminae dengan
batang yang tersusun dari
beberapa ruas. Ruas-ruas itu
merupakan bubung kosong.
Pada kedua ujung bubung
kosong itu bubungnya ditutup
oleh buku. Panjangnya ruas
tidak sama. Ruas yang
terpendek terdapat pada pangkal
batang. Ruas yang kedua, ruas
yang ketiga, dan seterusnya
adalah lebih panjang daripada
ruas yang didahuluinya.
Pada buku bagian bawah dari
ruas tumbuh daun pelepah yang
membalut ruas sampai buku
bagian atas.
Tepat pada buku bagian atas
ujumg dari daun pelepah
memperlihatkan percabangan
dimana cabang yang terpendek
menjadi ligula (lidah) daun, dan
bagian yamg terpanjang dan
terbesar menjadi daun kelopak
yang memiliki bagian auricle
pada sebelah kiri dan kanan.
Daun kelopak yang terpanjang
dan membalut ruas yang paling
atas dari batang disebut daun
bendera.
Tepat dimana daun pelepah
teratas menjadi ligula dan daun
bendera, di situlah timbul ruas
yang menjadi bulir padi.
146
Pertumbuhan batang tanaman
padi adalah merumpun, dimana
terdapat satu batang
tunggal/batang utama yang
mempunyai 6 mata atau sukma,
yaitu sukma 1, 3, 5 sebelah
kanan dan sukma 2, 4, 6 sebelah
kiri. Dari tiap-tiap sukma ini
timbul tunas yang disebut tunas
orde pertama.
Gambar 49 Pertumbuhan daun
padi
Tunas orde pertama tumbuhnya
didahului oleh tunas yang
tumbuh dari sukma pertama,
kemudian diikuti oleh sukma
kedua, disusul oleh tunas yang
timbul dari sukma ketiga dan
seterusnya sampai kepada
pembentukan tunas terakhir
yang keenam pada batang
tunggal.
Tunas-tunas yang timbul dari
tunas orde pertama disebut
tunas orde kedua. Biasanya dari
tunas-tunas orde pertama ini
yang menghasilkan tunas-tunas
orde kedua ialah tunas orde
pertama yang terbawah sekali
pada batang tunggal/ utama.
Pembentukan tunas dari orde
ketiga pada umunya tidak terjadi,
oleh karena tunas-tunas dari
orde ketiga tidak mempunyai
ruang hidup dalam kesesakan
dengan tunas-tunas dari orde
pertama dan kedua.
Padi termasuk tanaman jenis
rumput-rumputan mempunyai
daun yang berbeda-beda, baik
bentuk, susunan, atau bagianbagiannya.
Ciri khas daun padi adalah
adanya sisik dan telinga daun.
Hal inilah yang menyebabkan
daun padi dapat dibedakan dari
jenis rumput yang lain.
Adapun bagian-bagian daun padi
adalah
– Helaian daun ; terletak
pada batang padi dan
selalu ada. Bentuknya
memanjang seperti pita.
Panjang dan lebar
helaian daun tergantung
varietas padi yang
bersangkutan.
– Pelepah daun (upih) ;
merupakan bagian daun
yang menyelubungi
batang, pelepah daun ini
berfungsi memberi
dukungan pada bagian
ruas yang jaringannya
147
lunak, dan hal ini selalu
terjadi
– Lidah daun ; lidah daun
terletak pada perbatasan
antara helai daun dan
upih. Panjang lidah daun
berbeda-beda,
tergantung pada varietas
padi. Lidah daun
duduknya melekat pada
batang. Fungsi lidah
daun adalah mencegah
masuknya air hujan di
antara batang dan
pelepah daun (upih).
Disamping itu lidah daun
juga mencegah infeksi
penyakit, sebab media air
memudahkan
penyebaran penyakit.
Daun yang muncul pada saat
terjadi perkecambahan
dinamakan coleoptile. koleoptil
keluar dari benih yang disebar
dan akan memanjang terus
sampai permukaan air. koleoptil
baru membuka, kemudian diikuti
keluarnya daun pertama, daun
kedua dan seterusnya hingga
mencapai puncak yang disebut
daun bendera, sedangkan daun
terpanjang biasanya pada daun
ketiga.
Daun bendera merupakan daun
yang lebih pendek daripada
daun-daun di bawahnya, namun
lebih lebar daripada daun
sebelumnya. Daun bendera ini
terletak di bawah malai padi.
Daun padi mula-mula berupa
tunas yang kemudian
berkembang menjadi daun.
Daun pertama pada batang
keluar bersamaan dengan
timbulnya tunas (calon daun)
berikutnya. Pertumbuhan daun
yang satu dengan daun
berikutnya (daun baru)
mempunyai selang waktu 7 hari,
dan 7 hari berikutnya akan
muncul daun baru
lainnya.banyaknya daun padi
hingga terbentuknya malai.
Gambar 50 Bagian daun
tanaman padi
Sekumpulan bunga padi
(spikelet) yang keluar dari buku
paling atas dinamakan malai.
Bulir-bulir padi terletak pada
cabang pertama dan cabang
kedua, sedangkan sumbu utama
malai adalah ruas buku yang
terakhir pada batang.
Panjang malai tergantung pada
varietas padi yang ditanam dan
cara bercocok tanam. Dari
sumbu utama pada ruas buku
148
yang terakhir inilah biasanya
panjang malai (rangkaian bunga)
diukur.
Panjang malai dapat dibedakan
menjadi 3 ukuran yaitu malai
pendek (kurang dari 20 cm),
malai sedang (antara 20-30 cm),
dan malai panjang (lebih dari 30
cm).
Jumlah cabang pada setiap
malai berkisar antara 15-20
buah, yang paling rendah 7 buah
cabang, dan yang terbanyak
dapat mencapai 30 buah
cabang.
Jumlah cabang ini akan
mempengaruhi besarnya
rendemen tanaman padi varietas
baru, setiap malai bisa mencapai
100-120 bunga (Aak, 1992).
Gambar 51 Malai padi
Bunga padi adalah bunga
telanjang artinya mempunyai
perhiasan bunga. Berkelamin
dua jenis dengan bakal buah
yang diatas. Jumlah benang sari
ada 6 buah,tangkai sarinya
pendek dan tipis,kepala sari
besar serta mempunyai dua
kandung serbuk. Putik
mempunyai dua tangkai
putik,dengan dua buah kepala
putik yang berbentuk malai
dengan warna pada umumnya
putih atau ungu (Departemen
Pertanian, 1983).
Gambar 52 Bunga padi
Komponen-komponen (bagian)
bunga padi adalah:
– kepala sari
– tangkai sari,
– palea (belahan yang
besar),
149
– lemma (belahan yang
kecil),
– kepala putik,
– tangkai bunga.
Buah padi yang sehari-hari kita
sebut biji padi atau butir/gabah,
sebenarnya bukan biji melainkan
buah padi yang tertutup oleh
lemma dan palea.
Buah ini terjadi setelah selesai
penyerbukkan dan pembuahan.
Lemma dan palea serta bagian
lain yang membentuk sekam
atau kulit gabah (Departemen
Pertanian, 1983).
Jika bunga padi telah dewasa,
kedua belahan kembang
mahkota (palea dan lemmanya)
yang semula bersatu akan
membuka dengan sendirinya
sedemikian rupa sehingga
antara lemma dan palea terjadi
siku/sudut sebesar 30-600.
Membukanya kedua belahan
kembang mahkota itu terjadi
pada umumnya pada hari-hari
cerah antara jam 10-12, dimana
suhu kira-kira 30-320C.
Di dalam dua daun mahkota
palea dan lemma itu terdapat
bagian dalam dari bunga padi
yang terdiri dari bakal buah
(biasa disebut karyiopsis). Jika
buah padi telah masak, kedua
belahan daun mahkota bunga
itulah yang menjadi pembungkus
berasnya (sekam).
Diatas karyiopsis terdapat dua
kepala putik yang dipikul oleh
masing-masing tangkainya.
Lodicula yang berjumlah dua
buah, sebenarnya merupakan
daun mahkota yang telah
berubah bentuk.
Pada waktu padi hendak
berbunga, lodicula menjadi
mengembang karena menghisap
cairan dari bakal buah.
Pengembangan ini mendorong
lemma dan palea terpisah dan
terbuka. Hal ini memungkinkan
benang sari yang memanjang
keluar dari bagian atas atau dari
samping bunga yang terbuka
tadi. Terbukanya bunga diikuti
dengan pecahnya kandung
serbuk, yang kemudian
menumpahkan tepung sarinya.
Sesudah tepung sarinya
ditumpahkan dari kandung
serbuk maka lemma dan palea
menutup kembali. Dengan
berpindahnya tepung sari dari
kepala putik maka selesailah
sudah proses penyerbukkan.
Kemudian terjadilah pembulaian
yang menghasilkan lembaga dan
endosperm. Endosperm adalah
penting sebagai sumber
cadangan makanan bagi
tanaman yang baru tumbuh
(Departemen Pertanian, 1983)
Peristiwa jatuhnya tepung sari
yang menempel pada kepala
putik disebut penyerbukan.
Penyerbukan ini berlangsung
antara jam 09.00-11.00 pagi.
150
Padi mengadakan penyerbukan
sendiri, namun dapat terjadi pula
penyerbukan silang.
Kemungkinan terjadinya
penyerbukan silang secara
alamiah pada padi jenis cere 0-
0,9 % sedangkan untuk jenis
bulu 0-2,9 %.
Pembuahan merupakan
kelanjutan dari penyerbukan.
Pada proses pembuahan ini,
pollen (serbuk sari) yang
menempel pada kepala putik
dengan bantuan cairan yang ada
pada kepala putik, akan
berkecambah atau memanjang
hingga bertemu dengan indung
telur, yang akhirnya
menghasilkan lembaga dan
endosperm.
Endosperm merupakan sumber
makanan cadangan bagi
tanaman padi yang baru tumbuh
(berkecambah), terdiri dari zat
tepung yang diliputi oleh selaput
protein, disamping itu juga
mengandung zat-zat anorganik
(Aak, 1992).
Secara umum padi dikatakan
sudah siap panen bila butir
gabah yang menguning sudah
mencapai sekitar 80 % dan
tangkainya sudah menunduk.
Tangkai padi merunduk karena
sarat dengan butir gabah bernas.
Untuk lebih memastikan padi
sudah siap panen adalah
dengan cara menekan butir
gabah. Bila butirannya sudah
keras berisi maka saat itu paling
tepat untuk dipanen (Andoko,
2002).
Secara umum pemasakan bulir
pada tanaman padi terbagi atas
empat stadia, yaitu :
1. Stadia masak susu (8-10
hari setelah berbunga
merata)
2. Stadia masak kuning (7
hari setelah masak susu)
3. Stadia masak penuh (7
hari setelah masak
kuning
4. Stadia masak mati (6 hari
setelah masak
penuh)(Aak, 1992).
Secara umum ada tiga stadia
proses pertumbuhan tanaman
padi dari awal penyemaian
hingga pemanenan :
1. Stadia vegetatif ; dari
perkecambahan sampai
terbentuknya bulir. Pada
varietas padi yang
berumur pendek (120
hari) stadia ini lamanya
sekitar 55 hari,
sedangkan pada varietas
padi berumur panjang
(150 hari) lamanya
sekitar 85 hari.
2. Stadia reproduktif ; dari
terbentuknya bulir sampai
pembungaan. Pada
varietas berumur pendek
lamanya sekitar 35 hari,
dan pada varietas
151
berumur panjang sekitar
35 hari juga.
3. Stadia pembentukan
gabah atau biji ; dari
pembungaan sampai
pemasakan biji. Lamanya
stadia sekitar 30 hari,
baik untuk varietas padi
berumur pendek maupun
berumur panjang.
Apabila ketiga stadia dirinci lagi,
maka akan diperoleh sembilan
stadia. Masing-masing stadia
mempunyai ciri dan nama
tersendiri. Stadia tersebut
adalah:
1. Stadia 0 ; dari
perkecambahan sampai
timbulnya daun pertama,
biasanya memakan
waktu eskitar 3 hari.
2. Stadia 1 ; stadia bibit,
stadia ini lepas dari
terbentuknya duan
pertama sampai
terbentuk anakan
pertama, lamanya sekitar
3 minggu, atau sampai
pada umur 24 hari.
3. Stadia 2 ; stadia anakan,
ketika jumlah anakan
semakin bertambah
sampai batas maksimum,
lamanya sampai 2
minggu, atau saat padi
berumur 40 hari.
4. Stadia 3 ; stadia
perpanjangan batang,
lamanya sekitar 10 hari,
yaitu sampai
terbentuknya bulir, saat
padi berumur 52 hari.
5. Stadia 4 ; stadia saat
mulai terbentuknya bulir,
lamanya sekitar 10 hari,
atau sampai padi
berumur 62 hari.
6. Stadia 5 ; perkembangan
bulir, lamanya sekitar 2
minggu, saat padi sampai
berumur 72 hari. Bulir
tumbuh sempurna
sampai terbentuknya biji.
7. Stadia 6 ; pembungaan,
lamanya 10 hari, saat
mulai muncul bunga,
polinasi, dan fertilisasi.
8. Stadia 7 ; stadia biji berisi
cairan menyerupai susu,
bulir kelihatan berwarna
hijau, lamanya sekitar 2
minggu, yaitu padi
berumur 94 hari.
9. Stadia 8 ; ketika biji yang
lembek mulai mengeras
dan berwarna kuning,
sehingga seluruh
pertanaman kelihatan
kekuning-kuningan. Lama
stadia ini sekitar 2
minggu, saat tanaman
berumur 102 hari.
10. Stadia 9 ; stadia
pemasakan biji, biji
berukuran sempurna,
keras dan berwarna
kuning, bulir mulai
merunduk, lama stadia ini
152
sekitar 2 minggu, sampai
padi berumur 116 hari
(Sudarmo, 1991).
Dibawah ini (Gambar 53)
diberikan tahapan pertumbuhan
padi yang dimulai dari
perkecambahan sampai padi
dewasa.
Gambar 53 Proses perkecambahan padi
153
Gambar 54 Padi dewasa
b.Varietas Unggul Padi
Varietas pada tanaman
padi mempunyai pengaruh besar
terhadap tingkat produktivitas. Di
negara-negara subtropis
umumnya dibudidayakan
varietas japonica.
Ciri yang paling khas dari
varietas itu adalah butirnya bulat,
batang tidak terlalu panjang,
serta berdiri kokoh. Sedangkan
di daerah tropis yang iklimnya
terpengaruh oleh angin muson
varietas utama yang
dibudidayakan adalah varietas
indica yang berbatang tinggi.
Disamping berbatang tinggi
varietas itu cenderung memiliki
tunas samping (side shoots)
(Hohnholz, 1986).
Gambar 55.Pertumbuhan
Varietas IR64 di lahan sawah
Varietas padi yang akan
digunakan haruslah memiliki ciriciri
:
– Dapat beradaptasi
dengan iklim dan tipe
tanah setempat
– Cita rasanya disenangi
dan memiliki harga yang
tinggi di pasaran lokal
– Daya hasil tinggi
– Toleran terhadap hama
dan penyakit
– Tahan rebah (IRRI,
2004).
154
Varietas unggul merupakan
salah satu komponen teknologi
budidaya padi yang mudah
diadopsi petani.
Varietas unggul berperanan
penting dalam peningkatan hasil,
perbaikan dan diversifikasi mutu,
dan penekanan kehilangan hasil
karena gangguan hama,
penyakit, maupun cekaman
lingkungan.
Kondisi agro-ekosistem lahan
pertanaman padi di Indonesia
sangat beragam, demikian juga
selera konsumen terhadap mutu
beras.
Kendala produksi terutama hama
dan penyakit bersifat dinamis,
dapat berubah karakter populasi,
ras, atau strainnya. Kondisi
tersebut menuntut penyediaan
varietas unggul yang juga
beragam dan dinamis
Varietas unggul yang dilepas
dalam beberapa tahun terakhir
memiliki keunggulan yang relatif
berbeda. Hal ini tentu
memberikan peluang yang lebih
luas bagi petani dalam memilih
varietas yang akan
dikembangkan.
Ada beberapa aspek yang perlu
mendapat pertimbangan dalam
menentukan pilihan, misalnya
potensi hasil, umur tanaman,
ketahanan terhadap hama dan
penyakit, mutu beras, selera
konsumen, dan kondisi daerah
pengembangan. Bagi peneliti,
aspek tersebut memang menjadi
pertimbangan dalam merakit
varietas unggul (Pustaka
Deptan, 2006).
Pemanfaatan Varietas Hasil
Rekayasa Bioteknologi
Pada umumnya tanaman
memiliki perbedaan fenotip dan
genotip yang sama. Perbedaan
varietas cukup besar
mempengaruhi perbedaan sifat
dalam tanaman. Keragaman
penampilan tanaman terjadi
akibat sifat dalam tanaman
(genetik) atau perbedaan
lingkungan kedua-duanya.
Perbedaan susunan genetik
merupakan salah satu faktor
penyebab keragaman
penampilan tanaman.
Program genetik merupakan
suatu untaian susunan genetik
yang akan diekspresikan pada
satu atau keseluruhan fase
pertumbuhan yang berbeda dan
dapat diekspresikan pada
berbagai sifat tanaman yang
mencakup bentuk dan fungsi
tanaman dan akhirnya
menghasilkan keragaman
pertumbuhan tanaman (Sitompul
dan Guritno, 1995).
Hasil penelitian dan
pengembangan Badan Tenaga
Nuklir Nasional (BATAN) dalam
bidang pertanian, khususnya
pada jenis tanaman padi hingga
tahun 1999 ini ialah berjumlah 6
(enam) varietas yaitu:
– Atomita I
– Atomita II,
155
– Atomita III,
– Atomita IV
– Padi gogo (lahan kering)
Situgintung, serta padi
Cilosari.
Enam varietas padi unggul hasil
penelitian dan pengembangan
Pusat Penelitian dan
Pengembangan Teknologi Isotop
dan Radiasi (P3TIR-BATAN)
tersebut memiliki keunggulan
dibidang varietas asal
(induknya).
Keunggulan padi hasil pemuliaan
dengan radiasi adalah:
– produksinya tinggi
– tahan wereng coklat
– tahan penyakit hawar
daun, dan umurnya
genjah.
– Disamping keunggulan
tersebut juga masih
memiliki keunggulan
spesifik yang dimiliki oleh
padi varietas Atomita II
tahan terhadap lahan
bergaram, varietas
Cilbsari tahan terhadap
hama penggerek batang
dan rendemen cukup
tinggi (BATAN, 2000).
c. Macam dan warna beras
Warna beras yang berbeda-beda
diatur secara genetik, akibat
perbedaan gen yang mengatur
warna aleuron, warna
endospermia, dan komposisi pati
pada endospermia.
􀁸 Beras “biasa” yang
berwarna putih agak
transparan karena hanya
memiliki sedikit aleuron,
dan kandungan amilosa
umumnya sekitar 20%.
Beras ini mendominasi
pasar beras.
􀁸 Beras merah, akibat
aleuronnya mengandung
gen yang memproduksi
antosianin yang
merupakan sumber
warna merah atau ungu
􀁸 Beras hitam, sangat
langka, disebabkan
aleuron dan endospermia
memproduksi antosianin
dengan intensitas tinggi
sehingga berwarna ungu
pekat mendekati hitam,
􀁸 Ketan (atau beras ketan),
berwarna putih, tidak
transparan, seluruh atau
hampir seluruh patinya
merupakan amilopektin
􀁸 Ketan hitam, merupakan
versi ketan dari beras
hitam.
Beberapa jenis beras
mengeluarkan aroma wangi bila
ditanak (misalnya ‘Cianjur
Pandanwangi’ atau ‘Rajalele’).
Bau ini disebabkan beras
melepaskan senyawa aromatik
yang memberikan efek wangi.
156
Sifat ini diatur secara genetik
dan menjadi objek rekayasa
genetika beras.
Di antara komponen teknologi
yang dihasilkan melalui
penelitian, varietas unggul
memang lebih nyata
sumbangannya terhadap
peningkatan produksi padi
nasional.
Akan tetapi, keunggulan suatu
varietas dibatasi oleh berbagai
faktor, termasuk penurunan
ketahanannya terhadap hama
dan penyakit tertentu. Setelah
dikembangkan dalam periode
tertentu hingga saat ini
Departemen Pertanian telah
melepas lebih dari 175 varietas
unggul padi yang sebagian besar
dihasilkan oleh Puslitbang
Tanaman Pangan.
8.1.4. Kandungan beras
Sebagaimana bulir serealia lain,
bagian terbesar beras
didominasi oleh pati (sekitar 80-
85%). Beras juga mengandung
protein, vitamin (terutama pada
bagian aleuron), mineral, dan air.
Pati beras dapat digolongkan
menjadi dua kelompok:
􀁸 amilosa, pati dengan
struktur tidak bercabang
􀁸 amilopektin, pati dengan
struktur bercabang.
Komposisi kedua golongan
pati ini sangat menentukan
warna (transparan atau tidak)
dan tekstur nasi (lengket,
lunak, keras, atau pera).
d.Anatomi beras
Beras sendiri secara biologi
adalah bagian biji padi yang
terdiri dari
􀁸 aleuron, lapis terluar
yang sering kali ikut
terbuang dalam proses
pemisahan kulit,
􀁸 endospermia, tempat
sebagian besar pati dan
protein beras berada, dan
􀁸 embrio, yang merupakan
calon tanaman baru
(dalam beras tidak dapat
tumbuh lagi, kecuali
dengan bantuan teknik
kultur jaringan). Dalam
bahasa sehari-hari,
embrio disebut sebagai
mata beras.
e.Kegunaan Beras
Beras dimanfaatkan terutama
untuk diolah menjadi nasi,
makanan pokok terpenting
warga dunia.
Selain itu, beras merupakan
komponen penting beras kencur
dan param. Minuman yang
populer dari olahan beras adalah
arak dan Air tajin.
Dalam bidang industri pangan,
beras diolah menjadi tepung
beras. Sosohan beras (lapisan
aleuron), yang memiliki
157
kandungan gizi tinggi, diolah
menjadi tepung rice bran.
Bagian embrio juga diolah
menjadi suplemen dengan
sebutan tepung mata beras.
Untuk kepentingan diet, beras
dijadikan sebagai salah satu
sumber pangan bebas gluten
dalam bentuk berondong.
Data survey pada MT 2002/03 di
12 propinsi penghasil padi
membuktikan sekitar 90% dari
9,2 juta ha lahan sawah telah
ditanami varietas unggul baru.
Dari sekitar 80 varietas padi
yang telah berkembang di
petani, beberapa varietas
banyak digunakan seperti IR64,
Way Apoburu, Ciliwung,
Memberamo, dan Ciherang,
masing-masing dengan luas
tanam 4,20 juta ha, 0,80 juta ha,
0,62 juta ha, 0,43 juta ha, dan
0,41 juta ha. Di Jawa Barat, luas
areal tanam varietas Ciherang
pada MT 2002/03 menduduki
urutan kedua setelah IR64,
masing-masing 18% dan 33%
dari total areal pertanaman padi
di sentra produksi nasional ini.
Di antara varietas unggul yang
telah berkembang di petani, IR64
paling lama bertahan karena
hasil dan mutu berasnya tinggi.
Sebenarnya, Ciherang adalah
hasil persilangan antara varietas
IR64 dengan varietas/galur lain.
Sebagian sifat IR64 juga dimiliki
oleh Ciherang, termasuk hasil
dan mutu berasnya yang tinggi.
f.Syarat Tumbuh
f.1Iklim
Padi dapat tumbuh dalam iklim
yang beragam, tumbuh di daerah
tropis dan subtropis pada 45o LU
dan 45o LS dengan cuaca panas
dan kelembaban tinggi dengan
musim hujan 4 bulan.
Rata–rata curah hujan yang baik
adalah 200 mm/bulan atau
1500-2000 mm/tahun. Padi
dapat di tanam di musim
kemarau atau hujan. Pada
musim kemarau produksi
meningkat asalkan irigasi selalu
tersedia. Di musim hujan,
walaupun air melimpah produksi
dapat menurun karena
penyerbukan kurang intensif.
Di dataran rendah padi
memerlukan ketinggian 0 – 650
m dpl dengan temperatur 22 –
27 oC sedangkan didataran tinggi
650-1500 mdpl dengan
temperatur 19 – 23 oC.
Tanaman padi memerlukan
penyinaran matahari penuh
tanpa naungan. Angin juga
berpengaruh terhadap
pertumbuhan tanaman padi yaitu
dalam penyerbukan dan
pembuahan tetapi jika terlalu
kencang akan merobohkan
tanaman
Temperatur sangat
mempengaruhi pengisian biji
padi. Temperatur yang rendah
dan kelembaban yang tinggi
pada waktu pembungaan akan
mengganggu proses pembuahan
158
yang mengakibatkan gabah
menjadi hampa.
Hal ini terjadi akibat tidak
membukanya bakal biji.
Temperatur yang juga rendah
pada waktu bunting dapat
menyebabkan rusaknya pollen
dan menunda pembukaan
tepung sari (Luh, 1991).
Tanaman padi dapat hidup
dengan baik di daerah yang
berhawa panas dan banyak
mengandung uap air. Dengan
kata lain, padi dapat hidup baik
di daerah beriklim panas yang
lembab.
Pengertian iklim ini menyangkut
curah hujan, temperatur,
ketinggian tempat, sinar
matahari, angin, dan musim.
1. Tanaman padi
membutuhkan curah
hujan yang baik, rata-rata
200 mm/bulan atau lebih,
dengan distribusi selama
4 bulan. Sedangkan
curah hujan yang
dikehendaki per tahun
sekitar 1500-2000 mm.
2. Tanaman padi dapat
tumbuh baik pada suhu
230C ke atas, sedangkan
di Indonesia pengaruh
suhu tidak terasa, sebab
suhunya hamper konstan
sepanjang tahun. Adapun
salah satu pengaruh
suhu terhadap tanaman
padi yaitu kehampaan
pada biji.
3. Ketinggian daerah yang
cocok untuk tanaman
padi adalah daerah
antara 0-650 meter
dengan suhu antara 26,5
0C – 22,5 0C, daerah
antara 650-1500 meter
dengan suhu antara 22,5-
18,7 0C masih cocok
untuk tanaman padi.
4. Sinar matahari diperlukan
untuk berlangsungnya
proses fotosintesis,
terutama pada saat
tanaman berbunga
sampai proses
pemasakan buah. Proses
pembungaan dan
kemasakan buah
berkaitan erat dengan
intensitas penyinaran dan
keadaan awan.
5. Angin mempunyai
pengaruh positif dan
negatif terhadap tanaman
padi. Pengaruh
positifnya, terutama pada
proses penyerbukan dan
pembuahan. Pengaruh
negatifnya adalah
penyakit yang
disebabkan oleh bakteri
atau jamur dapat
ditularkan oleh angin, dan
saat terjadi angina
kencang pada saat
tanaman berbunga, buah
dapat menjadi hampa
dan tanaman roboh.
6. Pada musim kemarau
peristiwa penyerbukan
dan pembuahan tidak
terganggu oleh hujan,
159
sehingga persentase
terjadinya buah lebih
besar dan produksi
menjadi lebih baik.
f.2Tanah
Padi sawah ditanam di tanah
berlempung yang berat atau
tanah yang memiliki lapisan
keras 30 cm dibawah permukaan
tanah. Menghendaki tanah
Lumpur yang subur dengan
ketebalan 18 – 22 cm.
Keasaman tanah antara pH 4,0 –
7,0. Pada padi sawah,
penggenangan akan mengubah
pH tanam menjadi netral (7,0).
Pada prinsipnya tanah berkapur
dengan pH 8,1 – 8,2 tidak
merusak tanaman padi tetapi
akan mengurangi hasil produksi
Tanah sawah yang mempunyai
persentase fraksi pasir dalam
jumlah besar, kurang baik untuk
tanaman padi, sebab tekstur ini
mudah meloloskan air. Pada
tanah sawah dituntut adanya
Lumpur, terutama untuk
tanaman padi yang memerlukan
tanah subur, dengan kandungan
ketiga fraksi dalam perbandingan
tertentu.
Sifat tanah sangat berbeda-beda
dan hal ini berhubungan dengan
keadaan susunan tanah atau
struktur tanahnya. Air dan udara
yang tidak dapat beredar di
dalam tanah dapat
menyebabkan kondisi tanah
tidak baik, contohnya tanah liat.
Tidak semua jenis tanah cocok
untuk areal persawahan. Hal ini
dikarenakan tidak semua jenis
tanah dapat dijadikan lahan
tergenang air. Padahal dalam
sistem tanah sawah, lahan harus
tetap tergenang air agar
kebutuhan air tanaman padi
tercukupi sepanjang musim
tanam.
Oleh karena itu, jenis tanah yang
sulit menahan air (tanah dengan
kandungan pasir tinggi) kurang
cocok dijadikan lahan
persawahan.
Sebaliknya, tanah yang sulit
dilewati air (tanah dengan
kandungan lempung tinggi)
cocok dijadikan lahan
persawahan. Kondisi yang baik
untuk pertumbuhan tanaman
padi sangat ditentukan oleh
beberapa faktor, yaitu posisi
topografi yang berkaitan dengan
kondisi hidrologi, porisitas tanah
yang rendah dan tingkat
keasaman tanah yang netral,
sumber air alam, serta
kanopinas modifikasi sistem
alam oleh kegiatan manusia.
g. Teknik budidaya padi
sebatang
Produksi padi nasional pada
bulan Desember 1997 adalah
46.591.874 ton yang meliputi
areal panen 9.881.764 ha. Hasil
produksi padi sawah dapat
mencapai 6-7 ton/ha, sedangkan
untuk padi gogo produksi hanya
mencapai 1-3 ton /ha
(Reghawanti, 2005).
Sampai dengan tahun 2005,
Indonesia masih mengalami
defisit pangan utama, untuk padi
sebesar 2,5 juta ton, kedelai 1,5
160
juta ton, gula 1,7 juta ton,
sedangkan pangan lainnya
mengalami surplus. Ini
menunjukkan bahwa dalam 5
tahun ke depan Indonesia masih
harus memacu produksi pangan
untuk mengurangi defisit.
Untuk memenuhi kebutuhan
pangan yang terus meningkat,
lahan sawah beririgasi tetap
menjadi andalan bagi produksi
padi nasional. Program
intensifikasi yang dicanangkan
sejak sekitar tiga dekade lalu
pada awalnya mampu
meningkatkan produksivitas dan
produksi padi secara nyata.
Tetapi sejak dekade terakhir
produksivitas padi cenderung
melandai, bahkan ada yang
menurun di beberapa lokasi.
Intensifikasi budidaya padi harus
terus diupayakan. Salah satu
metode yang diterapkan adalah
SRI (The System Of Rice
Intensification) yang pertama kali
dikembangkan oleh Henri De
Laulanie di Madagaskar pada
tahun 1980.
SRI adalah sistem intensifikasi
padi yang menyinergikan tiga
faktor pertumbuhan padi untuk
mencapai produktivitas maksimal
yaitu;
1) maksimalisasi jumlah anakan
2) pertumbuhan akar,
3) suplai hara, air, oksigen.
Cara tersebut menghemat air,
karena padi tidak digenangi
layaknya di persawahan. Air
hanya digunakan untuk menjaga
kelembaban tanah agar akar
padi dapat tumbuh dengan baik
karena pada dasarnya padi
bukan tanaman air.
Hal ini dimaksudkan agar suplai
oksigen ke akar cukup sehingga
padi menjadi sehat dan
berkembang membentuk
karakter-karakter morfologi yang
mendukung peningkatan
produktivitas tanaman padi.
Dalam sistem SRI penggunaan
pupuk organik merupakan salah
satu faktor pembeda
dibandingkan dengan sistem non
SRI.
Disamping itu produk yang
dihasilkan dari budidaya atau
peternakan yang menggunakan
pupuk organik lebih disukai
masyarakat.
Alasannya, produk tersebut lebih
aman bagi kesehatan. Di
negara-negara maju,
masyarakatnya mulai beralih
mengkonsumsi produk yang
dihasilkan secara organik.
Pupuk organik cair atau padat
yang diaplikasikan pada
budidaya tanaman atau
peternakan memiliki nilai jual
yang lebih tinggi (Parnata,
2004).
Hasil metode SRI sangat
memuaskan. Di Madagaskar,
pada beberapa tanah tak subur
161
yang produksi normalnya 2
ton/ha, petani yang
menggunakan SRI memperoleh
hasil panen lebih dari 8 ton/ha,
beberapa petani memperoleh 10
– 15 ton/ha, bahkan ada yang
mencapai 20 ton/ha.
Sedangkan, di daerah lain
selama 5 tahun, ratusan petani
memanen 8-9 ton/ha.
Metode SRI minimal
menghasilkan panen dua kali
lipat dibandingkan metode non
SRI maupun metode lain yang
biasa diterapkan oleh petani.
Petani tidak harus menggunakan
masukan luar untuk memperoleh
manfaat SRI. Metode ini juga
bisa diterapkan untuk berbagai
varietas yang biasa dipakai
petani.
Semua unsur potensi dalam
tanaman padi dikembangkan
dengan cara memberikan kondisi
yang sesuai dengan
pertumbuhan mereka (Berkelaar,
2005).
Perpaduan antara pemakaian
varietas unggul padi sawah dan
pemberian pupuk organik cair
pada sistem penanaman SRI
diharapkan dapat mengatasi
permasalahan masih rendahnya
produksi padi, selain itu juga
diharapkan dapat
mengembangkan pertanian
berkelanjutan yang berwawasan
lingkungan.
Air sangat perlu bagi kehidupan
tumbuhan. Kandungan air
tumbuhan bervariasi sesuai
antar-spesies dan dalam
berbagai struktur tumbuhan dan
juga bervariasi antar siang dan
malam selama periode
pertumbuhan.
Tumbuhan menggunakan air
kurang dari 5 % air yang diserap.
Sisanya hilang ke atmosfer
melalui transpirasi dari daun
tumbuhan.
Kebutuhan air untuk pengolahan
tanah sampai siap tanam (30
hari) mengkonsumsi air 20% dari
total kebutuhan air untuk padi
sawah dan fase bunting sampai
pengisian bulir (15 hari)
mengonsumsi air sebanyak 35
%.
Berdasar data tersebut
sebetulnya sejak tanam sampai
memasuki fase bunting tidak
membutuhkan air banyak,
demikian pula setelah pengisian
bulir.
Oleh karenanya 15 hari sebelum
panen, padi tidak roboh dan
ditinjau dari aspek pemberian air
memang tidak perlu lagi.
Budidaya padi yang diterapkan
dengan konsep penghematan air
yaitu penggenangan hanya
dilakukan selama 25 hari yaitu
pada saat padi mengalami masa
bunting (pengisian malai).
Konsep hemat air ini menjadi
acuan pada SRI (budidaya padi
sebatang), dan konsep ini sangat
mendukung keoptimalan
pertumbuhan dan
perkembangan padi karena bibit
umur muda tumbuh lebih baik
162
dalam kondisi aerob / tidak
tergenang (berdasarkan riset
jepang > 30 tahun),
mikroorganisme tanah lebih baik
untuk perakaran (pada tanah
macak–macak /tidak tergenang),
jumlah sel aerenchym akar padi
sawah yang tergenang sangat
kecil, sedangkan pada tanah
yang tidak tergenang sangat
tinggi, dan hama padi sawah
(keong mas) lebih terkendali.
Pengefisienan penggunaan air di
petakan dapat dilakukan dengan
mengairi sawah dalam keadaan
macak-macak. Setelah tanaman
padi berumur 14 hari sampai
periode bunting tidak
memerlukan air yang banyak.
Kebiasaan petani menggenangi
sawahnya sampai 5 cm bahkan
lebih karena petani tidak
membayar air yang digunakan
tersebut, sehingga cenderung
bermewah-mewah dengan air.
Berdasar hasil penelitian
menggunakan air pada padi
sawah menunjukkan bahwa
sawah yang digenangi setinggi 5
cm sejak tanam sampai bunting
tidak memberikan perbedaan
hasil gabah dengan sawah yang
diairi macak-macak.
Hanya biasanya sawah yang
diairi macak-macak populasi
gulma lebih banyak terutama
rumput-rumput berdaun sempit.
Dengan irigasi macak-macak
sampai periode bunting, maka
air dapat dihemat
penggunaannya.
Metode ini mampu menghemat
penggunaan benih padi sampai
80 %.
Jika biasanya untuk satu hektar
lahan diperlukan benih sekitar 50
kg, dengan SRI hanya
diperlukan 8-10 kg.
Produktivitas yang selama ini
rendah ( 4-5 ton/ha ) dapat
didongkrak dengan penerapan
SRI yang telah dilakukan di
beberapa provinsi dan telah diuji
secara statistik dapat mencapai
10 ton/ha.
Selain bertujuan untuk
meningkatkan produksi,
penerapan metode SRI ternyata
mengandung konsep pertanian
yang berkelanjutan dan
berwawasan lingkungan.
Metode SRI lebih sedikit
menggunakan pupuk kimia serta
sangat dianjurkan menggunakan
pupuk organik seperti pupuk
kandang, kompos, pupuk hijau
serta biomassa ( jerami ).
Teknik penanaman diawali
dengan pengolahan tanah,
pembibitan, penanaman,
pemupukkan, pengendalian
hama, penyakit, dan gulma, dan
diakhiri dengan panen. Berikut
ini adalah tahapan teknik
penanamannya sesuai dengan
urutan dari atas kebawah.
163
Pengolahan tanah
Penanaman hanya 1 tanaman
per lubang tanam
Tampilan gambar anakan
maksikum, masa puncak
pertumbuhan vegetatif
Awal fase pengisian biji
Fase Pengisian biji
Fase Pematangan
Panen
Sawah yang tidak digenangi air,
akan dapat mengurangi emisi
gas CH4 (gas methan = gas
rumah kaca ) di atmosfer. Gas
methan akan teremisi ke
atmosfer dari tanah – tanah yang
tergenang
Berkelaar (2005)
mengemukakan bahwa terdapat
164
empat kunci penerapan SRI,
yaitu :
1. Bibit dipindah lapang
(transplantasi) lebih awal
Bibit padi ditransplantasi saat
dua daun telah muncul pada
batang muda, biasanya saat
berumur 8-15 hari. Benih
harus disemai dalam petakan
khusus dengan menjaga
tanah tetap lembab dan tidak
tergenang air. Lebih banyak
batang yang muncul dalam
satu rumpun, dan dengan
metode SRI lebih banyak
bulir padi yang dihasilkan
oleh malai.
2. Bibit ditanam satu-satu
daripada secara berumpun
3. Jarak tanam yang lebar
Pada prinsipnya tanaman
harus mendapat ruang cukup
untuk tumbuh. Hasil panen
maksimum diperoleh pada
sawah subur dengan jarak
tanam 50 x 50 cm, sehingga
hanya 4 tanaman per m2.
Dalam metode SRI
kebutuhan benih jauh lebih
sedikit dibandingkan metode
tradisional, salah satu
evaluasi SRI menunjukkan
bahwa kebutuhan benih
hanya 7 kg/ha, dibanding
dengan metode tradisional
yang mencapai 107 kg/ha.
4. Kondisi tanah tetap lembab
tapi tidak tergenang air
Secara tradisional
penanaman padi biasanya
selalu digenangi air. Namun,
sebenarnya air yang
menggenang membuat
sawah menjadi hypoxic
(kekurangan oksigen) bagi
akar dan tidak ideal untuk
pertumbuhan. Akar padi
akan mengalami penurunan
bila sawah digenangi air,
hingga mencapai ¾ total akar
saat tanaman mencapai
masa berbunga. Saat itu
akar mengalami die back
(akar hidup tapi bagian atas
mati). Keadaan ini disebut
juga “senescence”, yang
merupakan proses alami, tapi
menunjukkan tanaman sulit
bernafas, sehingga
menghambat fungsi dan
pertumbuhan tanaman.
Dengan SRI, petani hanya
memakai kurang dari ½
kebutuhan air pada sistem
tradisional yang biasa
menggenangi tanaman padi.
Tanah cukup dijaga tetap
lembab selama tahap
vegetatif, untuk
memungkinkan lebih banyak
oksigen bagi pertumbuhan
akar. Sesekali (mungkin
seminggu sekali) tanah harus
dikeringkan sampai retak. Ini
dimaksudkan agar oksigen
dari udara mampu masuk
kedalam tanah dan
mendorong akar untuk
“mencari” air. Sebaliknya,
jika sawah terus digenangi,
akar akan sulit tumbuh dan
menyebar, serta kekurangan
oksigen untuk dapat tumbuh
dengan subur.
Selanjutnya Berkelaar (2005)
menambahkan selain empat
prinsip utama diatas, ada dua
165
praktek tambahan lain yang
sangat penting dalam metode
SRI.
Keduanya tidak berlawanan dan
telah lama dikenal oleh petani
dalam bercocok tanam.
Sehingga untuk menerapkan
kedua praktek tambahan ini tidak
terlalu sulit.
Kedua praktek tambahan
tersebut adalah :
1. Pendangiran
Pendangiran (membersihkan
gulma dan rumput) dapat
dilakukan dengan tangan atau
alat sederhana. Pendangiran
pertama dilakukan 10 atau 12
hari setelah tranplantasi, dan
pendangiran kedua setelah 14
hari. Minimal disarankan 2-3 kali
pendangiran, namun jika
ditambah sekali atau dua kali lagi
akan mampu meningkatkan hasil
hingga satu atau dua ton per ha.
Yang lebih penting dari praktek
ini bukan sekedar untuk
membersihkan gulma, tetapi
pengadukan tanah ini dapat
memperbaiki struktur dan
meningkatkan aerasi tanah.
Pendangiran ini membutuhkan
banyak tenaga, bisa mencapai
25 hari kerja untuk 1 ha. Tapi hal
ini tidak sia-sia karena hasil
panen yang diperoleh sangat
tinggi.
2. Asupan Organik
Petani disarankan untuk
menggunakan kompos, dan
hasilnya lebih bagus.
Kompos dapat dibuat dari
macam-macam sisa tanaman
(seperti jerami, serasah
tanaman, dan bahan dari
tanaman lainnya), dengan
tambahan pupuk kandang bila
ada.
Daun pisang juga bisa
menambah unsur potasium,
daun-daun tanaman kacangkacangan
dapat menambah
unsur N, dan tanaman lain
seperti Tithonia dan Afromomum
angustifolium, memberikan
tambahan unsur P.
Kompos menambah nutrisi tanah
secara perlahan-lahan dan dapat
memperbaiki struktur tanah.
Di tanah yang miskin jika tidak di
pupuk kimia, secara otomatis
perlu diberikan masukan nutrisi
lain.
Pedomannya: dengan hasil
panen yang tinggi, sesuatu perlu
dikembalikan untuk
menyuburkan tanah.
Keuntungan dari SRI :
– Hasil-hasil yang lebih
tinggi, baik itu butiran
maupun jerami.
– Mempersingkat umur
panen (± 10 hari).
166
– Pemakaian bahan kimia
lebih sedikit
– Kebutuhan air lebih
sedikit
– Persen bulir sekam lebih
sedikit
– Meningkatnya berat bulir
– Tanpa perubahan ada
ukuran bulir
– Tahan badai siklon
– Tahan dingin
– Kesehatan tanah
meningkat melalui
aktivitas biologis
Pada SRI semua tampak ideal
untuk direalisasikan, tetapi
disamping itu juga memiliki
keterbatasan, diantaranya :
– SRI membutuhkan lebih
banyak tenaga kerja per
ha daripada metode
tradisional.
– Dengan SRI, diperlukan
lebih banyak waktu juga
untuk mengatur
pengairan sawah
dibandingkan cara lama.
– Pendangiran juga
membutuhkan waktu
lebih banyak bila sawah
tidak digenangi air terus.
– Awalnya, SRI
membutuhkan 50-100%
tenaga kerja (yang
terampil dan teliti) lebih
banyak, tapi lama
kelamaan jumlah ini
dapat menurun.
Walaupun metode ini masih
perlu pengembangan lebih lanjut
akan tetapi dari hasil yang
diperoleh memperlihatkan
harapan dapat meningkatkan
produksi pangan nasional.
Dalam hal produksi beras
nasional maka beberapa upaya
yang dibutuhkan untuk
memelihara kapasitas
sumberdaya pangan adalah
untuk memelihara kapasitas
melalui:
a. Pembangunan dan
rehabilitasi sistem irigasi,
serta perbaikan pengelolaan
sumber daya air dalam
rangka menyediakan air yang
cukup untuk pertanian.
Untuk itu perlu dilakukan : (i)
perbaikan dalam pengaturan,
kelembagaan pengelolaan,
dan pemanfaatan
sumberdaya air, seperti
penatagunaan ruang/wilayah
dan penerapan peraturan
secara disiplin, oleh Pemda
dan Depdagri; (ii) fasilitasi
pengelolaan sumber daya air
dan pengairan oleh Meneg
Kimpraswil; (iii) fasilitasi
pemanfaatan lahan pertanian
secara produktif, efisien dan
ramah lingkungan oleh
Deptan; dan (iv)
pemanfaatan dan
167
pengawasan sumberdaya
lahan dan perairan oleh
masyarakat.
b. Menekan berlanjutnya alih
fungsi lahan beririgasi
kepada usaha non pertanian.
Hal ini menyangkut
pengaturan/pembatasan
dengan sistem insentif yang
dilaksanakan secara lintas
institusi antara lain: (i)
penetapan peraturan dan
penerapannya secara disiplin
oleh Pemda dan BPN; (ii)
fasilitasi bagi pengembangan
berbagai usaha masyarakat
berbasis pertanian oleh
Departemen Teknis; dan (iii)
pengawasan oleh
masyarakat sebagai pelaku
usaha.
c. Membuka lahan pertanian
baru pada lokasi-lokasi yang
memungkinkan dengan tetap
memperhatikan rencana tata
ruang wilayah dan kaidahkaidah
kelestarian
lingkungan; yang difasilitasi
oleh Pemda.
Upaya untuk memacu
peningkatan produktivitas usaha
pangan mencakup :
(i) penciptaan varietas
unggul baru, dan
teknologi berproduksi
yang lebih efisien;
(ii) teknologi pasca panen
untuk menekan
kehilangan hasil; dan (iii)
teknologi yang
menunjang peningkatan
intensitas tanam. Upaya
ini dilaksanakan secara
sinergis oleh institusi
penelitian,
pengembangan dan
penyuluhan lingkup
Departemen Pertanian,
Ristek/BPPT, Perguruan
Tinggi, dan
Lembaga/Dinas Teknis
setempat yang
melaksanakan alih
pengetahuan dan
teknologi kepada
masyarakat.
(iii) Upaya menyediakan
insentif untuk
meningkatkan minat
masyarakat
mengembangkan usaha
pangan dilakukan
melalui: penyediaan
prasarana transportasi,
komunikasi, perdagangan
(Pemda, Kimpraswil,
Swasta); pelayanan
administrasi perizinan
usaha produksi, industri,
distribusi yang sederhana
dan cepat (Pemda);
pelayanankeuangan/per
modalan yang cepat dan
murah (Pemda, Swasta).
(iv) Di sisi permintaan,
upaya menurunkan
konsumsi beras per
kapita dapat dilakukan
melalui penggalakan
program diversifikasi
pangan dengan
pemanfaatan pangan
sumber kalori, protein,
vitamin dan mineral yang
dapat diproduksi secara
168
lokal. Beberapa upaya
diantaranya adalah:
– Sosialisasi, pelatihan,
dan pendidikan sejak
usia sekolah, tentang
pola makan dengan gizi
seimbang dengan
sumber-sumber pangan
bervariasi; oleh lembagalembaga
pendidikan dan
pelatihan daerah dengan
dukungan dari pusat.
– Pengembangan teknologi
pengolahan untuk
meningkatkan daya tarik
ekonomis dan fisik dari
berbagai bahan pangan
lokal/tradisional non
berasyang difasilitasi oleh
unit Litbang Departemen
Teknis, Deperindag,
Perguruan Tinggi dan
Swasta.
– Pengembangan industri
pengolahan dengan
bahan-bahan pangan
lokal oleh swasta yang
difasilitasi oleh Pemda
dan Deperindag.
169
8.2. Teknik Budidaya Jagung
a. Botani Jagung
(Zea mays L.) merupakan salah
satu tanaman pangan dunia
yang terpenting, selain gandum
dan padi. Sebagai sumber
karbohidrat utama di Amerika
Tengah dan Selatan, jagung juga
menjadi alternatif sumber
pangan di Amerika Serikat.
Penduduk beberapa daerah di
Indonesia (misalnya di Madura
dan Nusa Tenggara) juga
menggunakan jagung sebagai
bahan makanan pokok.
Tanaman ini mempunyai fungsi
banyak yaitu:
a. Sumber karbohidrat
b. Pakan ternak (hijauan
maupun tongkolnya),
c. Diambil minyaknya (dari
biji)
d. Tepung (dari biji, dikenal
dengan istilah tepung
jagung atau maizena),
e. Bahan baku industri (dari
tepung biji dan tepung
tongkolnya). Tongkol
jagung kaya akan
pentosa, yang dipakai
sebagai bahan baku
pembuatan furfural.
f. Bahan farmasi, jagung
yang telah direkayasa
genetika juga sekarang
ditanam sebagai
penghasil bahan farmasi.
Berdasarkan bukti genetik,
antropologi, dan arkeologi
diketahui bahwa daerah asal
jagung adalah Amerika Tengah
(Meksiko bagian selatan).
Budidaya jagung telah dilakukan
di daerah ini 10.000 tahun yang
lalu, kemudian teknologi ini
dibawa ke Amerika Selatan
(Ekuador) sekitar 7000 tahun
yang lalu, dan mencapai daerah
pegunungan di selatan Peru
pada 4000 tahun yang lalu.
Kajian filogenetik menunjukkan
bahwa jagung (Zea mays ssp.
mays) merupakan keturunan
langsung dari teosinte (Zea
mays ssp. parviglumis ).
Dalam proses domestikasinya,
yang berlangsung paling tidak
7000 tahun oleh penduduk asli
setempat, masuk gen-gen dari
subspesies lain, terutama Zea
mays ssp. mexicana. Istilah
teosinte sebenarnya digunakan
untuk menggambarkan semua
spesies dalam genus Zea,
kecuali Zea mays ssp. mays.
Proses domestikasi menjadikan
jagung merupakan satu-satunya
spesies tumbuhan yang tidak
dapat hidup secara liar di alam.
Hingga kini dikenal 50.000
varietas jagung, baik ras lokal
maupun kultivar.
Jagung merupakan komoditas
andalan yang dirasakan
mempunyai keunggulan
komparatif karena :
170
– Saat ini Indonesia masih
mengimpor jagung dalam
jumlah besar + 700.000
ton per tahun untuk
keperluan industri pakan
ternak.
– Peluang pakan ternak
yang cukup besar di
Kalimantan Barat dan
saat ini Kalimantan Barat
masih mendatangkan
jagung dari Semarang
(Jawa Tengah) sebesar +
10.000 ton/tahun.
– Ketersediaan Lahan
untuk pengembangan
jagung di Kalimantan
Barat cukup besar yang
didukung dengan
ketersediaan teknologi
dan SDM. Selain itu juga
adanya serta sudah
terbentuknya kemitraan
dengan swasta yaitu di
Sanggau Ledo (Kab.
Bengkawang)
b Deskripsi
Jagung merupakan tanaman
semusim (annual). Satu siklus
hidupnya diselesaikan dalam 80-
150 hari.
Paruh pertama dari siklus
merupakan tahap pertumbuhan
vegetatif dan paruh kedua untuk
tahap pertumbuhan generatif.
Tinggi tanaman jagung sangat
bervariasi. Meskipun tanaman
jagung umumnya berketinggian
antara 1m sampai 3m, ada
varietas yang dapat mencapai
tinggi 6m. Tinggi tanaman biasa
diukur dari permukaan tanah
hingga ruas teratas sebelum
bunga jantan.
Meskipun beberapa varietas
dapat menghasilkan anakan
(seperti padi), pada umumnya
jagung tidak memiliki
kemampuan ini.
Akar jagung tergolong akar
serabut yang dapat mencapai
kedalaman 8 m meskipun
sebagian besar berada pada
kisaran 2 m.
Pada tanaman yang sudah
cukup dewasa muncul akar
adventif dari buku-buku batang
bagian bawah yang membantu
menyangga tegaknya tanaman.
Gambar 56. Akar jagung
171
Batang jagung tegak dan mudah
terlihat, sebagaimana sorgum
dan tebu, namun tidak seperti
padi atau gandum. Terdapat
mutan yang batangnya tidak
tumbuh pesat sehingga tanaman
berbentuk roset.
Batang beruas-ruas. Ruas
terbungkus pelepah daun yang
muncul dari buku. Batang jagung
cukup kokoh namun tidak
banyak mengandung lignin.
Gambar 57 Batang jagung
Daun jagung adalah daun
sempurna. Bentuknya
memanjang. Antara pelepah dan
helai daun terdapat ligula.
Tulang daun sejajar dengan ibu
tulang daun.
Permukaan daun ada yang licin
dan ada yang berambut.
Stomata pada daun jagung
berbentuk halter, yang khas
dimiliki familia Poaceae. Setiap
stomata dikelilingi sel-sel
epidermis berbentuk kipas.
Struktur ini berperan penting
dalam respon tanaman
menanggapi defisit air pada selsel
daun.
Gambar 58 daun jagung
Jagung memiliki bunga jantan
dan bunga betina yang terpisah
(diklin) dalam satu tanaman
(monoecious).
Tiap kuntum bunga memiliki
struktur khas bunga dari suku
Poaceae, yang disebut floret.
Pada jagung, dua floret dibatasi
oleh sepasang glumae (tunggal:
gluma).
Bunga jantan tumbuh di bagian
puncak tanaman, berupa
karangan bunga (inflorescence).
Serbuk sari berwarna kuning dan
beraroma khas.
172
Bunga betina tersusun dalam
tongkol. Tongkol tumbuh dari
buku, di antara batang dan
pelepah daun.
Pada umumnya, satu tanaman
hanya dapat menghasilkan satu
tongkol produktif meskipun
memiliki sejumlah bunga betina.
Gambar 59. Bunga jantan
Gambar 60 Bunga Betina
Gambar 61 Buah Jagung siap
panen
Beberapa varietas unggul dapat
menghasilkan lebih dari satu
tongkol produktif, dan disebut
sebagai varietas prolifik. Bunga
jantan jagung cenderung siap
untuk penyerbukan 2-5 hari lebih
dini daripada bunga betinanya
(protandri).
c. Perbaikan teknologi
produksi jagung
Untuk mengimbangi permintaan
akan produksi jagung maka
pemerintah menerapkan
beberapa paket teknologi intuk
meningkatkan peoduksi jagung.
Dibawah ini diberikan
merupakan alternatif pertanaman
jagung pada lahan kering yang
dikeluarkan Departemen
Pertanian.
173
Urutan kerja pada teknologi
budidaya ini adalah:
1. Pengolahan tanah
sederhana atau tanpa
olah tanah (TOT).
2. Varietas yang digunakan
adalah bersari bebas
(varietas Bisma) maupun
hibrida sebanyak 20
kg/ha, yang telah
diperlakukan ridomil,
benih ditugal dengan
jarak tanam 80 x 40 cm
dengan 2 biji /lubang .
3. Pemupukan sesuai
dengan rekomendasi
setempat, yaitu seluruh
pupuk SP-36, KCI dan
1/2 bagian Urea
diberikan bersamaan
tanam atau 7-10 hari
setelah tanam sebagai
pupuk dasar, dengan
cara ditugal 5 cm dari
lubang tanaman.
4. Pupuk susulan ‘/2 bagian
Urea diberikan pada
umur tanaman 1 bulan
setelah tanam, pupuk
diberikan dengan cara
tugal sedalam 5-10 cm
ditutup kembali.
5. Penyiangan dilakukan 2
kali yaitu umur 2 minggu
dan 4 minggu setelah
tanam sekaligus
membumbun.
6. Pengendalian hama
penyakit dilakukan
dengan menerapkan
konsep pengendalian
hama terpadu (PHT).
7. Panen dan pasca
panen, tanaman dipanen
apabila klobot berwarna
keputihan/coklat dan
mengering dengan biji
mengkilap dan kadar air
25-30 %.
Untuk lebih jelasnya perhatikan
urutan gambar berikut:
174
Gambar 62 Urutan penanaman
jagung
d.gejala kahat hara
Beberapa gejala gejala kahat
satu atau lebih hara esensia
pada jagung
Petani jagung harus belajar
mengenal gejala gejala kahat
satu atau lebih hara esensial
yang diperlukan untuk
pertumbuhan tanaman yang
sehat untuk memperoleh hasil
yang menguntungkan.
Kita harus dapat menjadi dokter
untuk tanaman jagungmu
sendirl.
Melihat kebun secara teratur dan
mengidentifikasi gejala dari
suatu masalah merupakan aspek
penting dari budidaya tanaman.
Keuntungan optimum dari
investasi untuk produksi
tergantung dari suplai hara yang
cukup selama pertumbuhan
tanaman.
Gejala kahat hara yang timbul
disebabkan karena
kebutuhannya tidak terpenuhi.
Hendaknya kebun dicek
beberapa kali selama satu
musim. Kahat hara yang dapat
dideteksi dini dapat diatasi
dengan pemupukan dalam alur
di sisi tanaman. Andaikata tidak
dapat diatasi dalam tahun ini,
asal diketahui di mana masalah
tersebut timbul, maka sudah
merupakan informasi yang
sangat berarti untuk
perencanaan pemupukan pada
musim berikutnya.
Daun tanaman yang sehat harus
berwarna hijau tua. Hal ini
menunjukkan bahwa daun
tersebut berkadar klorofil tinggi
yang sangat dibutuhkan untuk
menangkap sinar matahari untuk
menghasilkan gula yang
diperlukan untuk pertumbuhan
dan perkembangan tanaman.
Kahat nitrogen
Kahat nitrogen (N) tidak mudah
dideteksi waktu tanaman masih
muda. Namun bila berwarna
hijau kekuningan, maka
kemungkinan tanaman kahat N.
Bila kahat N dapat dideteksi dini,
pemberian pupuk N dalam alur di
sisi tanaman dapat mengatasi
masalah ini.
Setelah tanaman kira-kira
setinggi lutut, tingkat
pertumbuhan akan meningkat
yang diikuti dengan kebutuhan N
yang meningkat cepat.
Kebutuhan 3, 4 kg N/ha/hari
adalah umum dan kebutuhan ini
175
meningkat dua kali lipat saat
pertumbuhan maksimum. Bila N
tidak tersedia dalam jumlah
cukup, maka warna ujung daun
tua akan berubah menjadi
kuning dan warna ini akan
berkembang sepanjang tulang
daun utama. Karena N sifatnya
mobil dalam tanaman, gejala
kahat N ini berangsur-angsur
akan merambah ke daun-daun di
atasnya. Daun tua kemudian
akan mati. Uji N jaringan
tanaman dapat dilakukan
dengan menggunakan indikator
kimia atau alat elektronik untuk
membantu mengdiagnosis kahat
N ini. Tanaman mati muda
dengan tongkol yang kecil dan
bijinya sedikit.
Kahat fosfor
Kahat fosfor (P) umumnya sudah
tampak waktu tanaman masih
muda. Gejala awal dimulai
dengan daun yang berwarna
ungu-kemerahan. Tangkai yang
lemah dan kecil tanpa tongkol
atau tongkolnya kacil dan melilit -
juga merupakan indikasi kahat P.
Suhu rendah dan udara kering
atau sangat basah pada awal
pertumbuhan atau restriksi fisik
untuk pertumbuhan akar dapat
menyebabkan kahat P,
meskipun P dalam tanah cukup.
Kahat P juga menyebabkan
panen terlambat. Serapan P
yang banyak per hari saat
pertumbuhan yang cepat
menekankan pentingnya
kesuburan tanah yang tinggi
yang mampu menyuplai hara P
yang cukup.
Kahat kalium
Kahat kalium (K) dimulai dengan
warna kuning atau kecoklatan
sepanjang pinggir daun pada
daun tua. Warna tersebut akan
berkembang ke arah tulang daun
utama dan pada daun-daun di
atasnya. Gejala umum kahat K
lainnya adalah warna coklat tua
pada buku batang bagian dalam
dan dapat diketahui dengan
mengiris batang secara
memanjang. Ukuran tongkol
kadang-kadang tidak terlalu
dipengaruhi seperti halnya pada
kahat N dan P, tetapi biji-biji
jagung pada ujung tongkol tidak
berkembang dan tongkol jagung
banyak kelobotnya dengan biji
sedikit sebagai akibat kahat K.
Kalium juga merupakan faktor
utama dalam efisiensi
penggunaan air dan karena itu
pengaruh kekeringan akan lebih
nyata bila tanaman kahat K. Saat
kebutuhan maksimum
menyebabkan serapan K lebih
banyak daripada N. Hal ini
menunjukkan pentingnya
kesuburan tanah yang tinggi
untuk mencapai produksi yang
menguntungkan.
Kahat hara lainnya
Kecuali N, P dan K, kahat hara
lainnya tidak sering dijumpai di
lapang, tetapi dapat merupakan
pembatas penting produksi.
Kahat belerang (S) tampak pada
daun muda yang berwarna hijau
muda dengan pertumbuhan yang
terhambat. Sering dijumpai pada
tanah berpasir atau tanah
dengan kadar bahan organik
176
rendah. Berbagai pupuk yang
mengandung S dapat digunakan
untuk mengatasi masalah ini.
Kahat magnesium (Mg)
menyebabkan timbulnya warna
keputihan sepanjang kanan kiri
tulang daun pada daun tua
dengan warna merah keunguan
sepanjang pinggir daun. Gejala
ini dapat merupakan indikasi
bahwa tanahnya masam,
terutama timbul pada tanaman
muda dengan pengolahan tanah
yang kurang intensif. Pemberian
dolomit dapat mengatasi
masalah kahat Mg ini pada
tahun-tahun berikutnya. Bila pH
tidak merupakan masalah, maka
sumber Mg lainnya seperti
Kalium-Magnesium-Sulfat dapat
mengatasi kahat Mg ini.
Daun pucuk yang mengering
atau melilit merupakan indikasi
kahat tembaga (Cu). Kahat seng
(Zn) ditandai oleh garis-garis
klorotik yang paralel dengan
tulang daun utama pada daun
muda, ruas pendek dan tanaman
kerdil. Tanaman tanpa tongkol
atau tongkolnya steril pada
pertanaman dengan populasi
tinggi yang mendapat pupuk
cukup dapat disebabkan oleh
kahat boron (B).
Lahan masam mempengaruhi
serapan berbagai hara dan
dapat menyebabkan tanaman
kahat hara, meskipun tanaman
dipupuk cukup. Uji tanah perlu
dilaksanakan secara teratur
untuk mengidentifikasi masalahmasalah
yang berkaitan dengan
pH dan memonitor kadar P dan
K tanah. Uji nitrat pada profil
tanah akan memberikan
informasi yang baik untuk arahan
pemupukan N di daerah di mana
residu nitrat masih tersisa dari
musim sebelumnya. Di daerah
yang lebih
Gejala Daun
Daun sehat mengkilat dan
berwama hijau tua bila tanaman
mendapat suplai hara yang
cukup.
Kahat FOSFOR daunnya
berwarna ungu-kemerahan,
terutama pada tanaman yang
masih muda.
Kahat KALIUM ujung dan tepi
daunnya berwarna kekuningan
atau mengering.
Kahat NITROGEN dimulai
dengan wama kekuningan pada
ujung daun dan berkembang
sepanjang tulang daun utama.
Kahat MAGNESIUM
menyebabkan timbulnya garisgaris
keputihan sepanjang tulang
daun dan seringkali timbul warna
ungu pada bagian bawah dari
daun tua.
KEKERINGAN menyebabkan
tanaman berwarna hijaukeabuan;
daun-daun
menggulung sebesar pensil.
PENYAKIT Helminthosporium
dimulai dengan bercak kecil dan
berangsur-angsur berkembang
pada seluruh daun.
177
Zat kimia kadang-kadang
menyebabkan
1. Batang sehat mempunyai
ukuran normal. Batang
tersebut bila dipotong
memanjang akan terlihat
bagian dalam batang
berwarna keputihan dan
sehat.
2. Tanaman perlu dipupuk
KALIUM apabila batang
dipotong menunjukkan wama
coklat pada bukunya.
3. Kahat FOSFOR mempunyai
batang yang lemah dan kecil,
kadang-kadang tanaman
tidak membentuk tongkol
atau tongkolaya kecil.
Perhatikan warna ungu pada
daun tua.
4. Tanaman jagung membentuk
ANAKAN bila tanaman
dipupuk terlalu banyak
Nitrogen pada awal
pertumbuhan.
5. Gejala serangan penyakit
pada batang juga
menyebabkan timbulnya
ikatan pembuluh yang
berwarna kehitaman pada
batang bagian atas dengan
warna yang lebih gelap pada
batang bagian bawah. Busuk
pada batang bagian dalam
menyebabkan tanaman
cepat mati dan batangnya
patah. Tongkolnya mengecil
Gambar 63. Beberapa gejala
kerusakan pada batang jagung
Gejala pada akar
1. Akar yang banyak dan
dalam dari tanaman
menunjukkan tanaman
sehat
2. FOSFOR pada awal
pertumbuhan
menyebabkan
perkembangan akar tidak
sempurna.
3. Cacing akar memakan
akar halus dan membuat
tanaman tidak tumbuh
sempurna
178
4. Tanah masam
menyebabkan akar
bagian bawah berubah
warna dan busuk,
terutama pada akar
penunjang yang tumbuh
pada buku ketiga dan
keempat.
5. Kerusakan karena zat
kimia menyebabkan akar
tidak berkembang
Ciri-ciri kerusakan akar tanaman
jagung seperti tersebut diatas
dapat dilihat pada gambar
berikut yang dimulai dari atas
dan seterusnya
1
2
3
4
5
Gambar 64. Beberapa gejala
kerusakan pada akar jagung
Gejala kekurangan, kelebihan
ataupun penyakit juga dapat
dlihat pada tongkol buah, seperti
tertera diwah ini
1.TONGKOL NORMAL yang
mendapat cukup pupuk dan
berproduksi tinggi, beratnya
sekitar 150-225 gram. Ujung
kelobot fidak penuh berisi biji.
2.TONGKOL BESAR yang
beratnya lebih dari225gram
dengan bijiyang memenuhi ujung
kelobot merupakan
indikasibahwa populasi tanaman
terlalu sedikit untuk mencapai
produksiyang menguntungkan.
3.TONGKOL KECIL
menunjukkan bahwa tanahnya
kurang subur, populasi tanaman
terlalu banyak atau ada masalah
lainnya.
179
4.KAHAT KALIUM menyebabkan
ujung tongkol tidak berbiji penuh,
bijinya jarang dan tidak
sempurna.
5.KAHAT FOSFOR mengganggu
persarian dan pembentukan biji.
Tongkolnya kecil, sering
bengkok dengan pembentukan
biji yang tidak sempuma.
RAMBUT HIJAU saat tongkol
masak menunjukkan bahwa
tanaman terlalu banyak dipupuk
Nitrogen
UDARA KERING menyebabkan
pembentukan rambut yang
lambat; persarian tidak
sempuma pada saat
pembentukan biji.
Gambar 65 Beberapa gejala
kerusakan pada tongkol
Biji jagung kaya akan
karbohidrat. Sebagian besar
berada pada endospermium.
Kandungan karbohidrat dapat
mencapai 80% dari seluruh
bahan kering biji.
Karbohidrat dalam bentuk pati
umumnya berupa campuran
amilosa dan amilopektin.
Pada jagung ketan, sebagian
besar atau seluruh patinya
merupakan amilopektin.
Perbedaan ini tidak banyak
berpengaruh pada kandungan
gizi, tetapi lebih berarti dalam
pengolahan sebagai bahan
pangan.
180
Jagung manis tidak mampu
memproduksi pati sehingga
bijinya terasa lebih manis ketika
masih muda.
Secara rinci kandungan zat apa
saja yang terdapat pada jagung
adalah: gula, kalium, asam
jagung dan minyak lemak.
Utrennya (buah yang masih
muda) banyak mengandung zat
protein, lemak, kalsium, fosfor,
besi, belerang, vitamin A, B1,
B6, C dan K.
Rambutnya mengandung minyak
lemak, damar, gula, asam
maisenat dan garam-garam
mineral.
Biji buah jagung biasanya di buat
tepung jagung (maizena).
e. Manfaat dan kegunaan
Salah satu manfaat jagung
adalah diuretik (memperlancar
air seni) karena kandungan
kaliumnya yang tinggi terutama
pada rambut dan tongkol
mudanya.
Selain itu, kandungan thiamin
bisa mengeringkan luka seperti
misalnya luka pada cacar air.
Kandungan fosfornya baik untuk
tulang dan gigi.
Kegunaan jagung adalah:
1. Melancarkan air seni
2. Radang ginjal, batu ginjal
3. Hipertensi
4. Diabetes
5. Melancarkan ASI
6. Rakhitis
7. Batu empedu
8. Cacar air
9. Diare
10. Keguguran (rambut, daun
dan tongkol mudanya)
f. Teknik Budidaya Jagung
Sukmaraga
Produksi jagung dewasa ini tidak
dapat memenuhi kebutuhan
dalam negeri sehingga
diperlukan impor.
Keadaan ini tidak dapat
dibiarkan karena akan
merugikan para peternak yang
membutuhkan pakan, dimana
jagung memegang peran 51 %
sebagai bahan pokok
pembuatan pakan.
Untuk mengatasi hal ini maka
dicarilah varietas jagung yang
dapat berproduksi sampai 8,5
ton/ha.
Oleh karena itu perlu suatu
acuan teknologi budidaya jagung
sukmaraga, sehingga petani
yang mencoba dan
mengembangkan jagung
sukmaraga dapat berhasil sesuai
potensial hasil dari jagung
tersebut.
181
Diharapkan dengan berhasilnya
petani menerapkan jagung
sukmaraga, peningkatan
produksi jagung dapat
meningkat. Mengingat jagung
sukmaraga adalah jagung
komposit dapat ditanam ulang
sampai 3 (tiga) kali tanam tidak
seperti jagung Hibrida hanya 1
(satu) kali tanam sehingga harus
beli lagi, jadi cukup menghemat
input sarana produksi.
1Penyiapan lahan
1. Tanah dibajak 15-20 cm,
gemburkan dan ratakan,
atau tanpa olah tanah bagi
tanah gembur/ringan.
2. Bersih dari sisa-sia
tanaman dan tumbuhan
pengganggu.
2. Penanaman
1. Buat lubang tanam
dengan tugal sedalam 5
cm.
2. Jarak tanam 75 cm x 40
cm (2 tanaman /rumpun),
atau 75 cm x 20 cm
(1tanaman /rumpun)
3. Masukkan benih dalam
lubang tanam dan tutup
dengan tanah atau pupuk
kandang.
3 Pemupukan
1. Takaran pupuk: untuk
yang telah dika\ji di
Lampung 350 kg urea/ha
+ 150 kg SP 36/ha + 100
kg KCL/ha.
2. Pupuk diberikan 2 kali,
pertama 7-10 hst (200
kg urea/ha + 150 kg SP
36/ha +100 kg KCL/ha)
kedua:30-35 hst(250 kg
urea/ha).
3. Pupuk diberikan dalam
lubang/ larikan + 10 cm
4. Disamping tanaman
ditutup dengan tanah .
5.Penyiangan
1. Penyiangan pertama
pada umur 15 hst.
2. Penyiangan kedua pada
umur 28-30 hst,
dilakukan sebelum
pemupukan kedua.
6. Pengendalian hama penyakit
Pengendalian penyakit bulai
dapat dilakukan dengan: Benih
jagung 1 kg dicampur 2 gr
Ridomil atau Saromil yang
dilarutkan dalam 7,5 –10 ml air.
Sedangkan untuk pengendalian
hama penggerek diberi
insektisida Furadan 3G melalui
pucuk tanaman (3-4 butir/
tanaman).
182
7. Pemberian air (khususnya
musim kemarau)
Pada saat sebelum tanam 15
hari setelah tanam 30 hst , 45
hst, dan 75 hst (6 kali
pemberian).
Sumber air dapat dari irigasi
permukaan atau tanah dangkal
(sumur) pompa
Tabel 12. Analisa Ekonomi Usaha Tani Jagung Hybrida
No. Uraian Keterangan
1. Produksi per Ha 4.800/Kg
2. Harga Rp. 1000/Kg
3. Nilai Produksi Rp. 4.700.000,-
4. Total Biaya Produksi Rp. 2.304.000,-
5. Pendapatan Petani (3-4) Rp. 2.496.000,-
6. Biaya Pokok (4 : 1) Rp. 480,-/kg
7. R/C (3:4) 2,08
Sumber : Potensi Investasi Subsektor Tanaman Pangan dan Hortikultura di
Propinsi Kalimantan Barat, Disperta, 2000
183
8.Panen
Jagung siap dipanen jika klobot
sudah mengering dan berwarna
coklat muda, biji mengkilap, dan
bila ditekan dengan kuku tidak
membekas.
g.Beberapa kendala budidaya
jagung hibrida
Jagung adalah tanaman yang
sangat akrab dengan petani.
Komoditas ini merupakan salah
satu bahan pangan andalan.
Beberapa daerah di Indonesia
masyarakatnya menjadikan
jagung sebagai bahan makanan
pokok di samping beras dan
umbi-umbian.
Tak heran, rencana
mengembangkan jagung hibrida
di Indonesia hingga mencapai
produksi lima juta ton pada tahun
2010 merupakan peluang besar
bagi petani untuk meningkatkan
produksi dan pendapatan.
Harus dicatat bahwa komoditas
jagung yang dihasilkan petani.
selama ini bersumber dari benih
lokal yang ditanam secara
tradisional. Selain tingkat
produktivitas yang rendah,
jagung lokal itu tidak laku di
pasaran dalam negeri sebagai
bahan baku industri pakan.
Kondisi sosial petani jagung juga
merupakan tantangan tersendiri
bagi usaha pengembangan
jagung hibrida.
Sebagian besar petani, masih
bergantung pada kemurahan
alam.
Belum akrab dengan teknologi,
seperti penggunaan pupuk dan
obat-obatan.
Padahal, tanpa perlakuan
khusus, benih jagung hibrida
tidak bakal mencapai tingkat
produktivitas standar, yaitu 7 ton-
8 ton per hektar.
Analisa biaya produksi jagung
hibrida dicantumkan pada Tabel
10.
Jagung juga mempunyai
beberapa manfaat, dibawah ini
adalah pohon industri dari pada
jagung
184
.
Gambar 66 Pohon industri jagung
185
8.3 Teknik Budidaya Kedelai
a. Botani
Kedudukan kedelai dalam
sisitematika tumbuhan
(taksonomi) diklasifikasikan
sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Devisi : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Polypetales
Famili : Leguminosa
Sub Famili : Papilionoideae
Genus : Glysin
Species : Glycine max (L)
Merill.
Kedelai dikenal dengan
beberapa nama lokal diantarnya
adalah kedele, kacang jepung,
kacang bulu, gedela dan
demokam. Di jepang dikenal
adanya kedelai rebus
(edamame) atau kedelai manis,
dan kedelai hitam (koramame)
sedangkan nama umum di dunia
disebut “soyabean”.
b. Morfologi
Susunan tubuh kedelai terdiri
atas dua macam alat organ
utama yaitu vegetatif dan
generatif.
Organ vegetatif meliputi:
– akar
– batang
– daun
Organ generatif meliputi:
– bunga
– buah
– biji
Struktur akar tanaman kedelai
terdiri atas akar lembaga
(radikula), akar tunggang (radix
primaria), dan akar cabang (radix
lateralis) berupa akar rambut.
Akar kedele memiliki
kemampuan membentuk bitil
akar (nodul). Bintil-bintil akar
bentuknya bulat atau tidak
beraturan yang merupakan
koloni dari bakteri Rhizobium
japonicum. Bakteri ini
bersimbiosis dengan nitrogen
bebas dari udara.
Jumlah nitrogen yang dapat
ditambat bakteri ini berkisar 40-
70% dari seluruh nitrogen yang
dibutuhkan tanaman.
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa tiap hektar lahan yang
ditanaman kacang kedele dapat
menghasilkan 198 kg bintil akar
per tahun atau setara dengan
440 kg pupuk urea.
Pada tanah yang belum atau
telah lama tidak ditanami
kacang-kacangan biasanya
populasimikrobia penambat N
sedikit.
Oleh karenanya tanah yang
belum pernah ditanamami
kacangan maka perlu
186
dikembangkan teknik inokulasi
rhizobium.
Kedele berbatang semak yang
dapat mencapai ketinggian
antara 30-100cm.
Batang beruas-ruas dan memiliki
percabangan antara 3 -6
cabang.
Tipe pertumbuhan kedele
dibedakan 3 macam, yaitu:
– tipe determinate
– Tipe semi determinate
– Tipe indeterminate
Tipe determinate, memiliki ciri
antara lain:
– ujung batang tanaman
hampir sama besarnya
– Pembungaan serentak
– Tinggi tanaman termasuk
kategori pendek sampai
sedang
– Daun paling atas
ukurannya samabesar
dengan daun bagian
tengah
Tipe indeterminate, mempunyai
ciri antara lain:
– ujung tanaman lebih kecil
dari ujung tengah
– ruas batangnya panjang
panjang, dan agak melilit
– pembungaan berangsurangsur
dimulai dari
bawah
– pertumbuhan vegetatif
terus menerus
berlangsung
– Tinggi batang termasuk
kategori sedang sampai
tinggi
– Ukuran daun paling atas
lebih kecil dibandingkan
dengan daun bagian
tengah
Tipe semi-determinate
mumpangai ciri antara dua tipe
diaras.
Daun kedelai mempunyai ciri
antara lain helai daun (lamina)
oval dan tata letaknya pada
tangkai daun bersifat majemuk
berdaun tiga (trifoliatus).
Gambar 67 Daun kedele
Tanaman kedele memiliki bunga
sempurna (hermaphrodite), yakni
pada tiap kuntum bunga terdapat
187
alat kelamin betina (putik) dan
alat kelamin jantan (benangsari).
Mekarnya bunga berlangsung
pada pukul 08.00-09.00 dan
penyerbukannya bersifat
menyerbuk sendiri.
Kuntum bunga tersusun dalam
rangkaian bunga, namun tidak
semua bunga dapat menjadi
polong (buah), sekitar 60%
bunga rontiok sebelum
membentuk polong.
Umur keluarnya bunga kedelai
bergantung varietasnya.
Tanaman ini menghendaki
penyinaran pendek lebih kurang
12 jam per hari.
Buah kedelai disebut polong
yang tersusun dalam rangkaian
buah. Tiap plong berisi antara 1-
4 biji per polong. Jumlah polong
per tanaman bergantung pada
varietasnya. Kedelai yang
ditanaman pada tanah subur
pada umumnya dapat
menghasilkan 100-
200polong/pohon.
Biji kedelai umunya berbentuk
bulat, atau pipih sampai bulat
lonjong, dengan warna bervariasi
kuning, hijau, cokllat atau hitam.
c. Varietas
Varietas kedelai sudah ditanam
di Indonesia pada mulanya
berasal dari diantaranya jepang,
Taiwan, Amerika Serikat, dan
sebagainya.
Kriteria varietas unggul kedelai
adalah:
– Berproduksi tinggi
– Berumur pendek
– Tahan (resisten)
terhadap penyakit
berbahaya
– Mempunyai daya
adaptasi luas terhadap
berbagai keadaan
lingkungan tumbuh.
d. Pedoman teknis
d.1Syarat Tumbuh
d.1.1 Tanah
Tanaman kedele dapat
tumbuh pada berbagai jenis
tanah dengan drainase dan
aerasi tanah yang cukup baik
serta air yang cukup selama
pertumbuhan tanaman.
Tanaman kedele dapat
tumbuh baik pada tanah
alluvial, regosol, grumosol,
latosol atau andosol. Pada
tanah yang kurang subur
(miskin unsur hara) dan jenis
tanah podsolik merah-kuning,
perlu diberi pupuk organik
dan pengapuran.
d.1.2 Iklim
Kedele dapat tumbuh subur
pada : curah hujan optimal 100-
200 mm/bulan. Temperatur 25-
27 derajat Celcius dengan
penyinaran penuh minimal 10
jam/hari. Tinggi tempat dari
permukaan laut 0-900 m, dengan
188
ketinggian optimal sekitar 600
m. Air . Curah hujan yang cukup
selama pertumbuhan dan
berkurang saat pembungaan dan
menjelang pemasakan biji akan
meningkatkan hasil kedele.
d.2.Teknik Budidaya
d.2.1 Persiapan lahan
Pengolahan lahan dimulai
sebelum jatuhnya hujan. Tanah
diolah dengan bajak dan
garu/cangkul hingga gembur.
Untuk pengaturan air hujan perlu
dibuat saluran drainase pada
setiap 4 m dan di sekeliling
petakan sedalam 30 cm dan
lebar 25 cm. Kedele sangat
terganggu pertumbuhannya bila
air tergenang.
Tanah bekas pertanaman padi
tidak perlu diolah (tanpa olah
tanah = TOT).
Jika digunakan lahan tegal
lakukan pengolahan tanah
secara intensif yakni dengan 2
kali dibajak dan sekali diratakan.
Buat saluran dengan kedalaman
25–30 cm dan lebar 30 cm
setiap 3–4 m, yang berfungsi
untuk mengurangi kelebihan air
sekaligus sebagai saluran irigasi
pada saat tidak ada hujan.
Gambar 68 Setelah penanaman
padi dapat dilakukan penanaman
kedele
Perlakuan benih Untuk
mencegah serangan hama lalat
bibit, sebelum ditanam benih
dicampur Marshall dengan dosis
100 gram/5 kg benih. Benih
dibasahi secukupnya lalu
dibubuhi Marshall dan diaduk
rata.
d.2.2Penanaman
Dianjurkan menggunakan benih
bersertifikat dengan kebutuhan
benih sekitar 40 kg/ha.
Penanaman benih dengan cara
ditugal, jarak tanam 40 x 10 cm
atau 40 x 15 cm sesuai
kesuburan tanah, setiap lubang
tanaman diisi 2 butir benih lalu
ditutup dengan tanah tipis-tipis.
Gambar 69 Areal pertaanaman
kedele
189
d.2.3 Pengairan
Fase pertumbuhan tanaman
yang sangat peka terhadap
kekurangan air adalah awal
pertumbuhan vegetatif (15–21
HST), saat berbunga (25–35
HST) dan saat pengisian polong
(55–70 HST). Dengan demikian
pada fase-fase tersebut tanaman
harus diairi apabila hujan sudah
tidak turun lagi.
d.2.4 Pemupukan
Dianjurkan menggunakan pupuk
Urea 50 kg, TSP 100 kg dan KCl
50 kg/ha atau sesuai anjuran
setempat. Seluruh jenis pupuk
diberikan pada waktu bersamaan
yaitu saat pengolahan tanah
terakhir. Mula-mula Urea dan
TSP dicampur lalu disebar
merata, disusul penyebaran KCl
kemudian diratakan dengan
penggaruan.
d.2.5 Penyulaman Benih
Benih yang tidak tumbuh segera
disulam, sebaiknya memakai
bibit dari varietas dan kelas yang
sama. Penyulaman paling
lambat pada saat tanaman
berumur 1 minggu.
d.2.6 Penyiangan
Penyiangan dilakukan paling
sedikit dua kali, karena di lahan
kering gulma tumbuh dengan
subur pada musim penghujan.
Penyiangan I pada saat tanaman
berumur 2 minggu,
menggunakan cangkul.
Penyiangan II bila tanaman
sudah berbunga (kurang lebih
umur 7 minggu), menggunakan
arit atau gulma dicabut dengan
tangan.
d.2.7 Pengendalian hama
Tidak kurang dari 100 jenis
serangga dapat menyerang
kedele. Pengendalian di tingkat
petani terutama di daerah sentra
produksi sering menggunakan
insektisida secara berlebihan
tanpa memperdulikan populasi
hama.
Hal ini selain menambah biaya
juga merusak lingkungan dan
menimbulkan kematian serangga
berguna.
Untuk mengurangi frekuensi
pemberian insektisida adalah
dengan aplikasi insektida
berdasarkan pemantauan hama.
Insektisida hanya akan
digunakan bila kerusakan yang
disebabkan oleh hama
diperkirakan akan menimbulkan
kerugian secara ekonomi, yaitu
setelah tercapainya ambang
kendali.
190
Pengendalian hama dilakukan
berdasarkan pemantauan.
Pengendalian hama secara
bercocok tanam (kultur teknis)
dan pengendalian secara hayati
(biologis) saat ini dilakukan untuk
menekan pencemaran
lingkungan.
Pengendalian secara kultur
teknis antara lain:
– penggunaan mulsa
jerami
– pengolahan tanah
– pergiliran tanaman dan
tanam serentak dalam
satu hamparan
– penggunaan tanaman
perangkap jagung dan
kacang hijau.
Pengendalian secara biologis
antara lain:
– penggunaan parasitoid
Trichogrammatoidea
bactrae-bactrae
– penggunaan Nuclear
Polyhidrosis Virus (NPV)
untuk ulat grayak Spodoptera
litura (SlNPV)
dan untuk ulat buah
Helicoverpa armigera
(HaNPV)
– Penggunaan feromonoid
seks yang mampu
mengendalikan ulat
grayak.
Beberapa jenis hama kedele
adalah:
Lalat Kacang atau lalat bibit
(Ophiomya phaseoli tryon).
Hama ini memiliki ciri-ciri:
– berukuran 1.5-2.0mm,
warna hitam mengkilat.
Berkembang biak cepat
satu ekor betina dapat
menghasilkan telur 100-
300 butir selama perode
dua minggu.
– Bentuk telur lalat kacang
adalah lonjong, panjang
0.28-0.36 lebar 0.12-
0.20mm, berwarna putih
mutiara. Telur menetas
setelah umur 2-4 hari.
Gejala serangan
– Bercak-bercak tidak
beraturan pada biji dan
daun
– Lubang kecil bekas
gigitan
Pengendalian
– Pergiliran tanaman
– Insektisida
Ulat Grayak
(Spodotera litura F)
Ciri-ciri
– ngengat berwarna gelap
dengan garis putih pada
sayap depan
– larva yang masih kecil
hidup berkelompok
– pembentukan pupa
diatas permukaan tanah
– daur hidup 30-61 hari
191
Gejala serangan
Ulat ini merusak seluruh bagian
tanaman
Pengendalian
– rotasi tanaman dengan
memutus siklus hidupnya
Ulat jengkal (chrysodeixis
chalcites Esp)
Ciri biologi
– Imago serangga dewasa
meletakkan telurnya di
permukaan bawah daun
– Larva membentuk
kepompong dan dalam
anyaman daun,
kemudian berubah
menjadi pupa.
– Daur ( siklus hidup) hama
ini berlangsung selama
lebih kurang 30 hari.
Gejala serangan
– Hama ini bersifat
pemangsa segala jenis
tanaman (polifag)dan
stadium yang
membahayakan adalah
larva.
– Larva menyerang seluruh
bagian tanaman,
terutama daun-daunnya
sehingga menjadi rusak
tidak beraturan.
Pengendalian
– Pengendalian non
kimiawi antara lain
dengan pergiliran (rotasi)
tanaman, mengatur
waktu tanam secara
serempak pada areal
sehamparan,
pengumpulan larva untuk
dimusnahkan.
– Penyemprotan insektisida
selektif apabila populasi
hama mencapai 85 ekor
instar 1 atau 32 instar 2
atau 17 ekor instar 3per
12 tanaman. Jenis
insektisida yang mangkus
antara lain Dekasulfan
350 EC, folimat 500 SL,
Gusadrin 150 WSC,
Hostathion 40 EC, atau
Matador 25 EC sesuai
konsentrasi yang
dianjurkan.
Penggulung Daun
(Lamprosema Indica F.)
Ciri Biologi
– Larva berwarna hijau
terang dan hidup dalam
gulungan daun muda.
– Pupa dibentuk dalam
gulungan daun yang
direkatkan satu sama lain
dengan zat perekat dari
hama tersebut.
192
Gejala serangan
Hama ini merusak kedele pada
umur tanaman 3-6 minggu
setelah tanam. Bagian daun
digulung dan dimakan sampai
tulang daunnya, sehingga daun
rusak.
Pengendalian
– Pergiliran tanaman yang
bukan sefamili ataupun
dengan mengumpulkan
dan memusnahkannya
– Pengendalian kimiawi
dengan insektisida
selektif.
Ulat polong atau buah
(Heliothis armigera Hbn)
Ciri biologi
– ngengat berwarna wawo
matang kekuningkuningan
– telur kecil-kecil
– larva berwarna merah tua
– pupa dibentuk diatas
tanah
– daur hidup 62 hari
Gejala serangan
– larva melubangi polong
kedelai sehingga rusak
Pengendalian
– non kimiawi melalui
pergiliran tanaman bukan
sefamili, waktu ranam
yang serentak, dan
mekanis dengan cara
mengumpulkan dan
memusnahkannya
– kimiawi dengan
insektisida misalnya
durnban 20EC atu Dipel
WP pada konsentrasi
yang dianjurkan.
Penggerek polong
(Etiella zinckenella treit)
Ciri biologi hama
– ngengat warna abu-abu
– sayap belakang ditutup
sisik jarang warna agak
cerah
– serangga betina mampu
bertelur 73-300 butir
diletakkan pada kelopak
bunga kedelai
– telur berwarna lonjong
dengan ukuran panjang
0.6mm.
– daur hidup hama 18-41
hari
Gejala serangan
– larva menggerek polong
dan tinggal di dalamnya
– kerusakan pada bunga
menyebabkan tanaman
tidak membentuk polong.
Penyakit
Penyakit utama pada kedelai
adalah karat daun Phakopsora
pachyrhizi, busuk batang, dan
akar Schlerotium rolfsii dan
berbagai penyakit yang
disebabkan virus.
Pengendalian penyakit karat
daun dengan fungisida
Mancozeb.
193
Penyakit busuk batang dan akar
dikendalikan menggunakan
jamur antagonis Thrichoderma
harzianum.
Pengendalian virus dilakukan
dengan mengendalikan
vektornya yaitu serangga hama
kutu dengan insektisida Decis.
Waktu pengendalian adalah
pada saat tanaman berumur 40,
50 dan 60 hari.
d.2.8.Panen
Kedele harus dipanen pada
tingkat kemasakan biji yang
tepat.
Panen terlalu awal
menyebabkan banyak biji
keriput, panen terlalu akhir
menyebabkan kehilangan hasil
karena biji rontok.
Ciri-ciri tanaman kedele siap
panen adalah :
– Daun telah menguning
dan mudah rontok
– Polong biji mengering
dan berwarna kecoklatan
Panen yang benar dilakukan
dengan cara menyabit batang
dengan menggunakan sabit
tajam dan tidak dianjurkan
dengan mencabut batang
bersama akar.
Cara ini selain mengurangi
kesuburan tanah juga tanah
yang terbawa akan dapat
mengotori biji.
193
BAB IX
TEKNIK BUDIDAYA
HORTIKULTURA
9.1. Pendahuluan
Hortikultura berasal dari
Bahasa Latin yang terdiri dari
dua patah kata yaitu hortus
(kebun) dan culture (bercocok
tanam).
Makna hortikultura dalam Buku
Kamus Besar Bahasa
Indonesia adalah seluk beluk
kegiatan atau seni bercocok
tanam sayur-sayuran, buahbuahan
atau tanaman hias.
Ilmu pengetahuan modern
membagi hortikultura atas 3
bagian yaitu:
– Sayur-sayuran
– Buah-buahan
– Hias.
Ilmu hortikultura berhubungan
erat dengan ilmu pengetahuan
lainnya, seperti teknik budidaya
tanaman, mekanisasi, tanah
dan pemupukan, ilmu cuaca,
dan sebagainya.
Budidaya hortikultura pada
umumnya diusahakan lebih
intensif dibandingkan dengan
budidaya tanaman lainnya.
Hasil yang diperoleh dari
budidaya holtikultura ini per
unit areanya juga biasanya
lebih tinggi.
Lebih lanjut dikatakan tanaman
holtikultura memiliki berbagai
fungsi dalam kehidupan
manusia. Misalnya tanaman
hias berfungsi untuk memberi
keindahan (aestetika), buahbuahan
sebagai makanan, dan
lain-lain.
Holtikultura berinteraksi dengan
disiplin ilmu lainnya seperti
kehutanan, agronomi, dan ilmu
terapan lainnya. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada
Gambar berikut ini.
Gambar 70 Hubungan antara
hortikultura dengan
ilmu lainnya
194
9.2. Pembagian Hortikultura
Hortikultura dapat
dikelompokkan atas 4 kategori
yaitu:
– Tanaman Buah-buahan,
kelompok tanaman ini
memiliki
keanekaragaman
morfologi, seperti ada
yang berbentuk pohon
(misalnya rambutan,
mangga, durian, jeruk,
dan sebagainya),
bentuk semak
(markisa).
– Tanaman sayuran,
tanaman ini merupakan
tanaman hortikultura
yang utama. Beberapa
jenis sayuran ada yang
berasal dari buah
(tomat), daun (bayam),
akar (wortel), biji
(buncis), bunga
(kembang kol) dan
sebagainya. Berbeda
dengan tanaman buahbuahan,
sayuran
memiliki umur yang
relatif singkat.
Tanaman ini umumnya
dikonsumsi dalam
bentuk segar, oleh
karenanya proses
penanganannya lebih
spesifik dibandingkan
dengan hortikultura
lainnya.
– Tanaman Hias, manfaat
dari tanaman hias ini
adalah meningkatkan
aestetika lingkungan.
Budidaya tanaman ini
dapat dilakukan pada
ruang terbuka maupun
didalam ruangan.
– Lanskap arsitektur, lans
kap menggunakan
tanaman tertentu yang
dipadukan dengan
elemen-elemen lainnya
untuk menghasilkan
pemandangan yang
indah. Aspek utama
dalam lanskap
arsitektur ini adalah
penutupan permukaan
tanah yang umumnya
diwakili dengan rumput.
Lanskap arsitektur
sedemikian pentingnya
karena dapat
memuaskan masyarkat
yang melihatnya dan
berpengaruh terhadap
efek fisiologis manusia.
Perkembangan dari
cabang hortikultura ini
demikian pesatnya
karena sangat
dibutuhkan dalam
pembangunan
supermal, taman
bermain, parkir, dan
sebagainya.
9.3. Fungsi Hortikultura
Hortikurtura mempunyai
beberapa fungsi yakni:
– Sumber bahan
makanan
– Hiasan/keindahan
– Pekerjaan
195
Berikut ini digambarkan
piramida kebutuhan bahan
makanan manusia. Kebutuhan
terbesar terdapat pada serealia
dan kebutuhan terkecil terdapat
pada lemak dan gula.
Gambar 71. Piramida makanan
9.4. Pengendalian lingkungan
untuk tanaman hortikultura
Tujuan dari memodifikasi
lingkungan tumbuh tanaman
hortikultura adalah untuk
memberikan lingkungan
tumbuh yang sesuai dengan
keinginannya.
Tanaman hortikultura seperti
layaknya makhluk hidup
lainnya membutuhkan faktor
lingkungan yang sesuai untuk
pertumbuhannya.
Beberapa jenis tanaman
mampu atau mudah
beradaptasi dengan lingkungan
tumbuhnya, akan tetapi
sebagian ada yang tidak
mampu sehingga
membutuhkan modifikasi
lingkungan pertanamannya.
Untuk daerah tropis, yang
tersedia cukup matahari,
budidaya hortikutura dapat
dilakukan sepanjang tahun,
berbeda dengan daerah sub
tropis yang membutuhkan
kontrol lingkungan tumbuh
tertentu jika ingin tetap
melakukan budidaya pada
musim dingin.
Untuk tujuan tertentu juga kita
mengharuskan menggunakan
kondisi lingkungan terkontrol,
misalnya untuk mendapatkan
bunga jenis tertentu yang
berkualitas tinggi diluar musim
harus ditanam pada kondisi ini.
Kondisi lingkungan yang
terkontrol tersebut dapat
berupa bangunan :
– Rumah kaca
Gambar 72. Bentuk rumah
kaca
196
– Rumah plastik (dapat
berupa plastik film,
polyetilen, polivinil
flourida, fiberglass.
Bangunan ini 30% lebih
murah dibandinngkan
dengan bangunan
rumah kaca. Saat ini
beberapa pengusaha
menggunakan ini untuk
tanaman ortikulturanya
karena lebih murah.
Hanya kelemahannya
bahan bangunannannya
lebih bagus digunakan
pada daerah bersuhu
rendah, pada daerah
panas dengan curah
hujan tinggi plastik ini
mudah rusak.
Gambar 73. Rumah plastik
– Pelindung dingin (Cold
frames ). Bangunan ini
digunakan untuk
pembibitan untuk
memberikan suhu yang
sesuai dengan jenis
tanamannya. Umumnya
digunakan untuk
melindungi bibit
hortikultura dari suhu
rendah.
197
Gambar 74. Pelindung bibit dari
suhu rendah
– Paranet, beberapa jenis
hortikultura sangat
disukai serangga, oleh
karenanya paranet ini
dibuat, untuk
melindungi tanaman
dari serangannya.
– Rumah kasa
Gambar 75. Rumah kasa
9.5.Perbanyakan tanaman
hortikultura
Perbanyakan tanaman
hortikultura dibagi atas dua
yaitu perbanyakan vegetatif
dan generatif.
Perbanyakan generatif adalah
perbanyakan yang
menggunakan biji sebagai
calon individu baru.
Biji merupakan hasil dari
petemuan dari sel kelamin
betina dan sel kelamin jantan,
terbentuk zygot yang kemudian
berkembang menjadi buah.
Biji tanaman hortikultura
memiliki berbagai bentuk dan
ukuran. Ada yang berbiji besar
seperti pada spesies kacangkacangan
ada juga yang bijinya
198
kecil seperti pada spesies
serealia.
Baik tidaknya sumber tanaman
yang berasal dari biji sangat
tergantung pada sifat genetik
dari kedua induknya (induk
jantan dan betina).
Awal terbentuknya biji dimulai
dari fertilisasi yang merupakan
gabungan antara gamet betina
dan jantan, yang terjadi setelah
penyerbukan.
Tahap berikutnya sesudah
fertilisasi adalah
perkembangan ovul menjadi
biji. Untuk meningkatkan mutu
produk hortikultura pemuliaan
tanaman melakukan
persilangan, untuk
menghasilkan benih unggul.
Kriteria keunggulannya juga
berbeda-beda, ada varietas
yang tahan terhadap penyakit,
cekaman abiotik, keindahan
warna bunga, dan sebagainya
tergantung pada permintaan
pasar. Sebelum benih hasil
pemulia ini dilepas ke
masyarakat, maka harus
terlebih dahulu dilakukan
sertifikasi.
Pengelompokan benih
Berdasarkan tahapan
sertifikasinya, maka benih
dikelompokkan atas:
– Breeder seed, adalah
benih yang dihasilkan
oleh pemulia, yang
belum dilakukan
pengujian lebih lanjut.
– Foundation seed,
setelah dilakukan
pengujian terhadap
kemurnian genetiknya
dan identitasnya benih
ini dimasukkan ke
kategori benih dasar
– Registered seed,
proses pendaftaran
untuk benih sertifikasi.
– Certified seed, benih
yang sudah brsertifikasi.
Pengujian Kualitas Benih
Pengujian kualitas benih untuk
mengetahui viabilitasnya, dapat
dilakukan pengujian benih
yaitu:
– Tes perkecambahan
benih adalah tahapan
pengujian yang melihat
berapa besar
persentase kecambah
dari suatu jenis benih.
Pengujian ini dapat
dilakukan pada bak
pasir, kecambah atau
menggunakan kertas
merang.
– Uji dingin, uji ini
memperlakukan benih
dengan perlakuan
temperatur rendah
sekitar 100C, sebelum
dikecambahkan pada
kondisi suhu normal.
Hasil uji ini akan
menunjukkan benih-
Benih yang mampu
beradaptasi pada suhu
rendah.
199
– Tes tetrazolium, benih
diuji dengan
menggunakan zat
kimiatetrazolium klorida.
Kemampuan benih
berkecambah setelah
dilakukan perendaman
dengan tetrazolium
menunjukkan
kemampuan benih
tersebut untuk tetap
berrespirasi. Uji ini
hanya memperlihatkan
kemampuan benih
berrepirasi tidak
memperlihatkan
kemampuan
berkecambah.
– Tes kemurnian benih,
melalui uji kemurnian
benih secara mekanis
dapat diketauhi dengan
melihat berapa
persentase kehadiran
benih lainnya
dibandingkan dengan
benih tanaman utama.
Pemecahan dormansi benih
Dormansi artinya terhambatnya
pertumbuhan (perkembangan)
untuk sementara meskipun
keadaan lingkungannya
sebenarnya bersifat
menunjang.
Beberapa benih tanaman
hortikultura tidak akan
berkecambah pada kondisi
normal. Benih seperti ini
memerlukan penanganan
khusus.
Beberpa perlakuan yang
dilakukan untuk memecah
dormansi adalah:
– Fisik (mekanis, suhu,
cahaya). Perlakuan
mekanis dilakuan pada
biji yang kulitnya keras
maka dilakukan
skarifikasi. Proses
pengikisan dapat
dilakuan dengan
memasukkan biji ke
dalam drum dicampur
pasir kemudia diputar.
Perlakuan skarifikasi
pada biji harus
dilakukan secara hatihati
karena terlalu keras
akan merusak embrio
biji. Perlakuan suhu
tinggi juga dapat
membantu memecah
dormansi, pans yang
ditimbulkannya akan
menyebabkan retaknya
kulit sehingga air dapat
masuk dan benih dapat
berkecambah. Benih
selada (Lactuca sativa)
membutuhkan
perlakuan cahaya
(sekitar 660 nanometer)
agar dapat
berkecambah.
– Bahan kimia (perlakuan
asam, pencucian
dengan air,
perendaman). Kulit biji
yang keras dapat diberi
perlakuan asam sulfat
selama beberapa menit
untuk melunakkan kulit
bijinya. Pencucian
dengan air juga dapat
200
dilakukan pada kulit biji
yang mengandung
senyawa kimia,
Pencucian ini akan
menyebabkan
terjadinya proses
hidrolisa dan zat kimia
yang dikandung kulit
akan terurai dan biji
dapat berkecambah.
Perendaman dalam
larutan etil alkohol atau
kalium florida juga
dapat membantu
memecah dormansi.
Perendaman dengan
larutan ini juga akan
menghasilkan
perkecambahan yang
serentak.
Beberapa faktor lingkungan
yang harus diperhatikan
selama proses perkecambahan
adalah:
– kelembababan udara
– Suhu udara
– Cahaya matahari
– Komposisi udara
– Bebas hama dan
penyakit
Perbanyakan generatif
Persemaian
Perkecambahan adalah proses
yang merupakan gabungan
proses respirasi dan kerja
hormon. Proses metabolisma
ini didukung oleh energi yang
berasal dari embrio. Cadangan
makanan seperti protein,
lemak dan minyak di
metabolisma pada proses
respirasi dan menghasilkan
energi.
Aktivitas persemaian ini
membutuhkan penanganan
yang kelak akan menentukan
hasil budidaya tanamannya.
Tempat persemaian dapat
menggunakan beberapa
alternatif bergantung pada jenis
yang akan dibibitkan.
Metoda persemaian dapat
dilakukan di lapangan terbuka
atau pada bak kecambah,
ataupun pot.
Gambar 76. Teknik penanaman
benih langsung di
lapangan
201
Gambar 77 Bak kecambah
yang dalam satu
tempat banyak
tanaman
Gambar 78 Tipe bak
kecambah satu
lubang satu
tanaman
Gambar 79 Pot pembibitan
Teknik persemaian
Persemaian untuk benih- benih
yang berbiji besar dapat
dilakukan dengan menanam
langsung, akan tetapi untuk
benih yang kecil dapat dibantu
dengan mencampur terlebih
dahulu dengan pasir dan
meletakkannya pada kertas lalu
ditaburkan pada jalur yang
sudah ditentukan dalam bak
kecambah.
Gambar 80 Bak persemaian
yang telah diisi
dengan tanah
202
Gambar 81 Persemaian pada
bak kecambah untuk
benih yang berukuran
besar
Gambar 82 Persemaian pada
bak kecambah untuk
benih berukuran kecil
Pindah tanam
Pindah tanaman dilakukan
yang disesuaikan dengan umur
masing-masing jenis tanaman,
beberapa jenis tanaman ada
yang cepat akan tetapi ada
juga yang lambat.
Kriteria tanaman dapat
dilakukan pindah tanaman jika
tanaman muda tersebut telah
memiliki dua daun yang telah
membuka sempurna
sempurna.
Gambar 83.Tanaman yang siap
di lakukan pindah
tanam
Jika tanaman berasal dari
pembibitan maka tanaman
muda dapat dicongkel dengan
menggunakan alat secara hatihati,
kemudian memisahkannya
satu per satu lalu ditanam,
seperti Gambar 84 dibawah ini
Gambar 84. Teknik pindah
tanam dari bibit
yang ditanam pada
bak kecambah
203
Alternatif lainnya adalah
dengan mencabut bibit,
pegang tangkai daun dengan
batangnya sekaligus dan tarik
hati-hati keatas, seperti
Gambar berikut.
Gambar 85 Teknik mencabut
bibit dari pot
Perbanyakan vegetatif
Perbanyakan cara ini adalah
perbanyakan yang
menggunakan material
tanaman selain biji.
Perbanyakan secara vegetatif
ini adalah cara perbanyakan
tanaman yang terjadi tanpa
melalui perkawinan.
Perbanyakan ini hanya
melibatkan satu induk saja,
calon individu baru (keturunan)
berasal dari bagian tubuh
induknya. Karena hanya
melibatkan satu induk, maka
makhluk hidup baru memiliki
sifat biologis yang sama
dengan induknya.
Jaringan vegetatif yang
digunakan dapat berupa
batang, akar, ataupun daun.
Perbanyakan vegetatif
dikelompokkan menjadi dua
kelompok, yaitu vegetatif alami
dan buatan. Pada
perkembangbiakan vegetatif
alami makhluk hidup baru
terbentuk tanpa bantuan
manusia, sedangkan vegetatif
buatan tanaman baru
terbentuk dengan bantuan
manusia.
Saat ini dikenal perbanyakan
vegetatif yang menggunakan
teknik kultur jaringan.
Perbanyakan dengan metode
ini menghasilkan calon invidu
baru yang lebih banyak
dibandingkan dengan
perbanyakan vegetatif dengan
metode lainnya. Karena
metode ini dapat
memperbanyak satu sel
menjadi beratus-ratus individu
baru.
Beberapa keuntungan dan
kerugian menggunakan
perbanyakan vegetatif, yaitu:
– Tanaman yang
dihasilkan memiliki sifat
yang sama dengan
induknya
– Lebih Cepat
menghasilkan
– Sangat membantu bagi
tanaman yang tidak
menghasilkan biji
204
– Terhindar dari serangan
penyakit benih
– Harga jual lebih tinggi
– Tidak terjadi alterasi
dari sifat induknya
Vegetatif alami
Beberapa cara perbanyakan
vegetatif alami adalah sebagai
berikut:
– Membelah diri, yaitu
perbanyakan diri
dengan cara membelah
diri. Perbanyakan ini
terjadi pada tumbuhan
tingkat rendah,
misalnya ganggang
hijau.
– Spora, tumbuhan yang
berkembang biak
dengan cara ini antara
lain adalah Paku
(misalnya suplir) , jamur
dan ganggang.
– Akar tinggal atau
rizoma, merupakan
batang yang tertanam
dan tumbuh di dalam
tanah. Batang tersebut
tumbuh mendatar dan
tampak seperti akar.
Jika ujung rizoma
tumbuh menjadi
tumbuhan baru maka
tumbuhan tersebut
tetap bergabung
dengan tumbuhan induk
dan membentuk
rumpun, contohnya
jahe.
– umbi lapis,
perbanyakan cara ini
contohnya terjadi pada
bawang merah. Umbi
bawang merah ini
berlapis-lapis dan
ditengahnya tumbuh
tunas. Umbi lapis baru
yang berasal dari tunas
ketiak terluar tumbuh
membentuk tunas yang
disebut siung.
Gambar 86. Perbanyakan
dengan rizoma
– umbi batang,
perbanyakan tanaman
dengan cara ini
contohnya terjadi pada
tanaman kentang dan
ubu jalar. Umbi pada
kentang ini
sesungguhnya adalah
batang yang tumbuh ke
dalam tanah. Ujung
batang itu
menggembung
membentuk umbi untuk
menyimpan cadangan
makanan. Pada satu
lekukan di permukaan
batang yang
menggembung (umbi)
tersebut terdapat tunas
205
yang disebut mata
tunas.
Gambar 87. Perbanyakan
dengan umbi batang
– umbi akar, perbanyakan
cara ini terjadi pada
wortel. Akar berubah
fungsi untuk
menyimpan cadangan
makanan sehingga
disebut umbi akar. Jika
umbi akar ditanam
maka akan tumbuh
tunas-tunas baru dari
bagian yang merupakan
sisa batang.
– geragih, batang yang
tumbuh menjalar diatas
atau dibawah
permukaan tanah
disebut geragih. Tunas
pada buku-buku batang
dapat tumbuh menjadi
tumbuhan baru. Ujung
geragih yang
menyentuh tanah akan
membelok keatas .
Pada bagaian bawah
geragih muncul akar
serabut.
Gambar 88 Perbanyakan
dengan geragih
– Tunas, contoh tanaman
hortikultura yang
berkembang biak
dengan tunas adalah
pisang. Disekitar pohon
pisang yang sudah
besar tumbuh tunas
baru. Tunas tunas ini
tumbuh berdekatan
dengan pohon induk
dan membentuk
rumpun.
Gambar 89 Perbanyakan
dengan tunas
206
Perbanyakan vegetatif buatan
Perbanyakan vegetatif buatan
terjadi dengan bantuan
manusia. Beberapa
perbanyakan vegetatif buatan
adalah:
– Cangkok, jenis
tumbuhan yang biasa
dicangkok pohon buahbuahan
misalnya
mangga, jeruk, dan lainlain.
Umumnya jenis
tumbuhan berkayu
mudah dicangkok
walaupun tidak
seluruhnya, misalnya
cemara. Mencangkok
tanaman dilakukan
dengan cara mengupas
kulit batang kemudian
dikuliti, bagian yang
dikuliti tersebut dilapisi
dengan tanah yang
subur kemudian
dibungkus dengan
sabut kelapa, ijuk atau
plastik.
Gambar 90 Teknik
mencangkok
tanaman
– Setek batang, potongan
batang tumbuhan yang
hendak di setek harus
mempunyai sebuah
mata sebagai bakal
tunas. Potongan batang
ini umumnya
merupakan batang yang
sudah cukup tua.
Penanaman batang
potongan batang ini
dilakukan pada
tanahyang subur dan
gembur
Gambar 91. Perbanyakan
dengan setek
batang
– Setek daun,
perkembangbiakan
dengan setek daun
umumnya diterapkan
pada tanaman hias
misalnya begunia. Daun
yang disetek ini harus
cukup tua, dan tanah
yang digunakn sebagai
media tumbuh harus
gembur dan lembab.
Perkembangbiakan
dengan setek daun ini
dilakukan dengan
meletakkan daun yang
207
sudah dipilih tadi diatas
permukaan tanah.
Beberapa hari
kemudian tumbuh tunas
baru yang kemudian
dapat dipindahkan
ketempat lain.
Beberapa contoh setek
daun terlihat pada
Gambar 92 berikut.
Gambar 92 Beberapa jenis
perbanyakan
dengan setek daun
– Tempel (okulasi), cara
perbanyakkan ini
dilakukan dengan
menempelkan tunas
dari satu tumbuhan ke
batang tumbuhan lain.
Setiap tumbuhan itu
mempunyai sifat yang
berbeda. Batang dan
tunas yang diokulasi
berasal dari dua
tumbuhan. Batang yang
ditempel merupakan
tumbuhan yang
mempunyai akar dan
batang yang kuat.
Gambar 93. Perbanyakan
tanaman dengan
teknik menempel
– Sambung pucuk
(enten), sambung pucuk
merupakn penyatuan
pucuk dengan batang
bawah. Pucuk dan
batang bawah yang
disambung itu berasal
dua tumbuhan.
Sambung pucuk dapat
menghasilkan tanaman
yang lebih baik
mutunya. Bila
dibandingkan dengan
okulasi, ternyata
208
sambung pucuk lebih
cepat menghasilkan.
Cara sambung pucuk
dapat dilakukan
terhadap tanaman hias,
buah-buahan, dan
perkebunan. Sambung
pucuk dilakukan secara
sederhana. Batang
bawah diperoleh dari
semaian biji. Pucuk
diambil dari cabang
tumbuhan yang
mempunyai sifat- sifat
baik seperti berbunga
indah dan berbuah
manis, atau lainnya.
Pucuk kemudian
disambung dengan
batang bawah .
Penyambungan
dilakukan dengan
menggunakan tali
plastik.
Gambar 94 Teknik sambung
pucuk
– Runduk, jenis tumbuhan
yang dapat
dikembangbiakan
dengan runduk sangat
sedikit. Tumbuhan itu
mempunyai batang
yang panjang dan
lentur. Tumbuhan yang
dapat dikembangbiakan
dengan cara merunduk
misalnya melati ,
alemanda, apel, dan
lain-lain.
Perkembangbiakan
dengan cara ini sangat
sederhana. Batang
tanaman dikerat sedikit,
batang itu kemudian
dilengkukkan atau
dirundukkan ketanah.
Kemudian batang yang
dikerat itu, ditimbun
dengan tanah, seperti
Gambar 95 berikut ini.
Gambar 95 Teknik
perbanyakan tanaman
dengan runduk
209
9.6. Teknik Budidaya
Sayuran
a. Produsen Sayuran
Permintan akan sayuran terus
meningkat, sejalan dengan
peningkatan kebutuhan karena
pertambahan jumlah penduduk,
juga disebabkan oleh
peningkatan kesadaran akan
manfaat mengkonsumsi
sayuran.
Keberhasilan industri sayuran
tergantung pada beberapa faktor
yaitu:
– Keahlian produsen sayur
untuk memasarkan
produknya
– Ketersediaan benih
unggul
– Kualitas produk
– Ketepatan waktu antara
panen dan sampainya
produk kepada
konsumen
– Tengkulak, pengecer,
perantara
b. Hal-hal yang perlu
diperhatikan
Beberapa hal perlu diperhatikan
dalam melaksanakan budidaya
sayuran.
Hal-hal tersebut adalah :
1. Sayuran dikonsumsi
dalam bentuk segar
2. Sayuran memerlukan
penanganan khusus
3. Sayuran dengan nilai
ekonomi tinggi
4. Persaingan internasional
Produksi sayur dikonsumsi
dalam bentuk segar
Produsen sayuran dapat berupa
pertanian besar, pada rumah
kaca atau rumah plastik dengan
kondisi lingkungan terkontrol,
pada sepetak lahan, ataupun
hanya pada beberapa
bedengan.
Dibandingkan dengan produk
pertanian lainnya seperti
leguminosa (kacang-kacangan),
sebaran dan distribusi sayuran
lebih kecil, hal ini disebabkan
pengiriman ke daerah yang jauh
dibutuhkan penanganan khusus
dari produk ini.
Oleh karena produk sayuran ini
dikonsumsi dalam bentuk segar,
maka untuk mengatasinya
biasanya pihak produsen
membangun industrinya dekat
dengan kota.
Faktor-faktor seperti fluktuasi
produksi sayuran setiap harinya,
alat transportasi, dan jarak
antara konsumen dengan
produsen merupakan bagian
penting yang perlu diperhatikan
oleh produsen sayur.
210
Disamping hal tersebut diatas,
kondisi lingkungan marupakan
faktor penentu dalam
menentukan keberhasilan
produk sayuran. Ketersedian air
yang cukup, suhu, kelembaban
udara dan angin, pada masa
pertumbuhan akan
mempengaruhi kualitas dari
sayuran.
Bagaimana menangani
sayuran
Pembekuan atau penyimpanan
dalam ruangan pendingin,
pengalengan dan pengeringan
menjadi mekanisme yang utama
agar produk sayuran dapat
digunakan konsumen.
Produsen sayur yang melakukan
penanganan yang baik dari
mulai tanam sampai panen serta
pascapanennya, sehingga
sampai ke konsumen turut
menentukan tinggi rendahnya
harga pproduk sayur tersebut.
Sayuran bernilai
ekonomi tinggi
Pertanaman sayuran pada
rumah kaca merupakan trend
baru untuk menghasilan produk
sayuran bermutu.
Beberapa keuntungan dari
bertanam sayuran pada rumah
kaca adalah:
– Kondisi lingkungan yang
terkontrol sehingga
pertumbuhan tanaman
jadi lebih baik
– Produknya tidak
tergantung musim
– Kualitas sayur lebih
tinggi.
– Produsen dapat
mengatur saat panen
yang disesuaikan
dengan nilai jual
tertinggi di pasar.
Oleh karena pertanaman
sayuran pada rumah kaca
membutuhkan input energi yang
tinggi dibandingkan dengan
bertanam di lahan, maka
umumnya sayuran yang ditanam
pada rumah kaca ini adalah
sayuran yang memiliki nilai
ekonomi tinggi.
Persaingan pasar
internasional
Kemampuan produk sayuran
untuk dapat bersaing pada
kompetisi internasional
ditentukan oleh:
– Kemampuan produsen
sayur untuk
menyediakan produk
sayuran yang bermutu
baik selama perjalanan
maupun setelah sayuran
sampai ke tangan
konsumen.
– Harga dasar yang
memadai dimana harga
dasar ini ditentukan oleh
biaya proses produksi
dan pasca panen, resiko
produksi, resiko
211
kebijakan politik, dan laju
nilai tukar moneter.
Di beberapa negara luar seperti
Amerika Serikat menerapkan
teknologi yang efektif dalam
memproduksi sayuran. Hal ini
dilakukan untuk menurunkan
nilai jual serendah mungkin akan
tetapi masih menguntungkan
produsen dan dapat bersaing
pada tingkat internasional.
Salah satu upaya yang dilakukan
adalah penggunaan teknologi
atmosfir terkontrol pada
kemasan sayuran, sehingga
sayuran dapat bertahan lebih
lama. Penggunaan teknologi ini
dinilai jauh lebih efisien dan
efektif karena biaya yang relatif
murah dan tidak merusak mutu
sayuran.
c. Tenaga Kerja Mekanisasi
dan Efisiensi Produksi
Beberapa tahun terakhir ini
produk sayuran menjadi bahan
perhatian masyarakat dunia.
Disamping untuk pemenuhan
kebutuhan gizi manusia, produk
sayuran ini juga memberikan
keuntungan yang menggiurkan.
Berbagai upaya yang dilakukan
untuk meningkatkan produksi
sayuran antara lain:
– Penelitian di dalam dan
luar negeri.
– Peningkatan efisiensi
produksi
– Teknologi panen dan
pasca panen,
– Kebijakan pemerintah
Berikut ini merupakan usaha
bagaimana meningkatkan mutu
dan nilai jual sayur yang perlu
dilakukan, yaitu:
– Mekanisasi
– Penanganan pasca
panen dan kualitas
bahan
– Kultur teknis
Mekanisasi
Beberapa alat mekanisasi turut
membantu agar proses produksi
sayuran lebih efisien dan efektif.
Penggunaan traktor misalnya
dalam pengolahan tanah dinilai
lebih efisien dan efektif, karena
disamping biayanya yang relatif
murah dibandingkan dengan
penggunaan tenaga manusia
juga luaran yang dihasilkannya
lebih besar.
Penggunaan sprayer dengan
menggunakan mesin dalam
pengaplikasian pupuk dan
pestisida juga membantu petani
sayur memudahkan
pekerjaannya.
Pengunaan mulsa pada
pertanaman sayuran juga dapat
menghemat biaya pengendalian
gulma dan penyakit tertentu
yang perantara pembiakannya
pada tanah.
212
Penanganan pasca panen dan
kualitas bahan
Mudah rusaknya produk sayuran
ini membutuhkan perhatian
khusus terhadap alat panen
yang digunakan.
Kerusakan buah tomat pada
waktu pemanenan merupakan
salah satu contoh penanganan
pasca panen yang tidak baik.
Misalnya kita harus menentukan
varietas apa yang kita tanam,
waktu masak dan panen,
metode pemetikan, dan tinggi
tumpukan pada kontainer yang
dapat mempengaruhi kualitas
sayur.
Tidak selamanya penggunaan
traktor/mesin pada sayuran
berakibat baik, akan tetapi
sangat tergantung pada jenis
sayurannya. Misalnya mesin ini
tidak baik digunakan untuk
pemanenan kentang, akan tetapi
untuk pemanenan sayuran daun
seperti kangkung dinilai lebih
efisien.
Mekanisasi dan kultur teknis
Pengenalan mekanisasi
menyebabkan perubahan yang
dramatis terhadap kultur teknis
sayuran. Salah stau contohnya
adalah pada kasus mekanisasi
tomat di Amerika Serikat. Sekitar
tahun 1962 pemanenan tomat
dilakukan dengan tenaga
manusia (memetik dengan
tangan), untuk lahan yang luas
pemanenan dengan sistem ini
akan menggunakan waktu yang
lama (sampai satu minggu).
Akibatnya terjadi kelambatan
panen, dan buah terlalu masak
sehingga cepat rusak.
Pekerjaan ini akan lebih mudah
dan jaminan terhadap mutu
sayur tetap terjaga maka
dilakukan pemanenan dengan
menggunakan mesin. Begitu
juga yang terjadi pada panen
anggur, pemetikan dengan
menggunakan mesin lebih
efisien dibandingkan dengan
menggunakan tangan.
Akan tetapi penggunaan alat
mekanisasi pertanian
membutuhkan persyaratan
khusus pada kultur teknisnya
yang disesuaikan dengan
spesifikasi dari mesin yang
digunakan.
Misalnya dalam pemanenan
anggur jarak tanam yang
digunakan adalah jarak tanam
yang disesuaikan dengan lebar
mesin yang digunakan agar tidak
terhalang lalu lintas mesin pada
waktu panen.
Sistem penanaman langsung
untuk beberapa jenis sayuran
tertentu dengan luasan tanam
yang besar penggunaan mesin
tanam jauh lebih efisien
dibandingkan dengan
penggunaan tenaga manusia.
213
Oleh karenanya penggunaan
mekanisasi/alat mesin pada
waktu pengolahan tanah,
penanaman, pemeliharaan,
panen dan pasca panen pada
budidaya sayuran efisien dan
efektif tergantung pada:
– jenis sayur yang ditanam
– Luas areal pertanaman
– Ketersediaan tenaga
kerja
Umumnya mekanisasi secara
normal menjalankan fungsinya
untuk meningkatkan dua hal
yaitu:
– Merupakan
pengembangan dan
modifikasi untuk
memudahkan pekerjaan
tangan.
– Mesin dibutuhkan pada
pekerjaan yang tidak
dapat dikerjakan oleh
tenaga manusia
d. Perencanaan Budidaya
Sayur
Pertama sekali yang perlu
mendapat pertimbangan jika
hendak memilih bertanam
sayuran adalah:
– Serangga dan gulma
merupakan hambatan
yang selalu hadir dan
merusak setiap budidaya
sayur
– Kondisi lingkungan
seperti cuaca (panas,
kering, curah hujan, sinar
matahari yang terik)
mempengaruh produksi
sayur secara kuantitas
dan kualitas.
Perencanaan budidaya sayuran
meliputi pertimbangan akan 3
hal yaitu:
1. Pemilihan kultivar dan
varietas
2. Faktor pendukung dan
hambatan
3. Lokasi kebun
4. Sistem pertanaman
Pemilihan Kultivar dan Varietas
sayur
Sayur-mayur adalah tanaman
yang unik di dalam dan
produknya amat berbeda
dengan kategori yang umum
dilakukan pada tanaman lain.
Hampir tiap bagian dari tanaman
dapat dimakan sebagai sayuran.
e. Pengelompokan Sayuran
Sayuran dapat diklasifikasikan
atas:
1. Klasifikasi botani (Tabel
13)
2. Klasifikasi berdasarkan
bagian yang dapat
dimakan
214
Klasifikasi sayuran atas bagian
yang dapat dimakan
Sayuran juga dapat
diklasifikasikan atas bagian apa
dari sayuran tersebut yang dapat
digunakan. Bagian tanaman
tersebut dapat berasal dari daun,
tangkai daun, umbi, batang,
akar, bunga, buah ataupun biji.
Daun
Daun dari sayuran dapat
dikonsumsi dalam bentuk segar
ataupun di masak. Yang
termasuk golongan ini adalah:
bayam, kangkung, peleng, daun
singkong, kol, selada, dan
sebagainya.
Tangkai daun
Yang termasuk ke dalam
golongan ini misalnya seledri.
Umbi lapis
Umbi lapis umumnya berada
dibawah tanah dengan sedikit
daun berada di permukaan
tanah.
Daun bawang juga dapat
digunakan sebagai sayuran
disamping umbilapisnya. Yang
termasuk golongan ini adalah
bawang merah, bawang putih,
bawang bombay.
Batang
Batang adalah bagian tanaman
yang mendukung daun, bunga
dan buah tanaman. Salah satu
contoh yang tergolong sayuran
ini adalah asparagus.
Umbi
Sayuran umbi dapat merupakan
modifikasi dari beberapa bagian
tanaman, misalnya kentang,
Akar
Beberapa akar sayuran dapat
dimanfaatkan sebagai sayur.
Awalnya akar ini tumbuh seperti
akar pada umumnya, sejalan
dengan pertambahan waktu akar
membesar.
Yang termasuk kelompok ini
misalnya adalah wortel, bit, dan
ubi jalar
Bunga
Contoh sayuran yang dimakan
bunganya adalah: brokoli, dan
kembang kol.
Buah
Tidak ada perbedaan yang pasti
antara buah dan sayuran buah.
Akan tetapi umumnya buahbuahan
digunakan sebagai
hidangan penutup (dessert),
sedangkan buah sayuran
dimakan sebagai menu utama.
Yang termasuk kelompok
sayuran buah adalah, mentimun,
labu, terong, tomat, lada, buncis
dan sebagainya.
215
Biji
Kacang ercis ataupun buncis
merupakan sayuran yang
berasal dari biji.
Ada beberapa jenis sayuran biji
yang digunakan sebagai sayuran
ketika bijinya masih lunak,
contohnya buncis dan sweet
corn, akan tetapi ada juga yang
digunakan setelah bijinya
menjadi keras contohnya biji
bunga matahari, kacang tanah.
Hambatan dan dukungan
Kumpulkan seluruh informasi
dari kebun yang akan ditanami.
Hal ini dibutuhkan untuk
melakukan pengananan khusus
untuk lokasi-lokasi yang spesifik.
Data yang dibutuhkan
Data yang perlu dikumpulkan
adalah:
– Jenis sayuran apa yang
akan ditanam
– Kesuburan tanah yang
meliputi kesuburan fisik,
khemis dan biologi
tanah. Riwayat
pemupukan yang telah
pernah dilakukan pada
lahan tersebut juga perlu
diketahui. Disamping itu
karena tanaman sayuran
menyukai tanah yang
gembur dan kaya bahan
organik maka dibutuhkan
juga informasi mengenai
kandungan bahan
organik tanah.
– Kumpulkan data produksi
tanaman pada periode
lalu dari areal tersebut.
– Musim tanam.Kumpulkan
semua data perubahan
pola curah hujan dari
lokasi. Data ini
dibutuhkan untuk
menentukan kapa waktu
tanam yang paling tepat.
Lokasi kebun
Keberhasilan budidaya sayuran
sangat tergantung apakah
tanaman kita cukup mendapat
sinar matahari atau tidak. Artinya
lokasi pertanaman tidak boleh
terlindung dari sinar matahari.
Pemilihan areal pertanaman
yang terlindung dari cahaya
matahari akan menghasilkan
produk sayuan yang tidak sehat.
Lokasi yang dipilih adalah lokasi
yang mempunyai kesuburan
tanah yang relatif tinggi. Tanah
tersebut cukup kandungan hara
dan bahan organiknya.
Sistem pertanaman
Tidak ada satupun tanah yang
dapat ditanami semua jenis
tanaman. Oleh karenanya
informasi kesuburan tanah dari
lokasi merupakan hal yang
penting diketahui sebelum
melakukan usaha penanaman
sayuran.
216
Ada beberapa pilihan sistem
pertanaman pada budidaya
sayur yaitu
– Intercroping, beberapa
jenis sayuran dapat
ditanam secara
bersamaan pada satu
lokasi. Sistem tanam ini
juga dapat mengurangi
serangan hama,
disamping
mengefisienkan
pemanfatan lahan. Salah
satu contohnya adalah
budidaya kacang
panjang dengan
menggunakan ajir yang
berasal dari batang
jagung manis. Terlebih
dahulu kita menanam
jagung, baru setelah
sebulan dilakukan
penaman kacang
panjang.
– Monokultur, sistem ini
hanya menanam satu
jenis saur pada luasan
areal tertentu
Pengeringan Sayuran
Teknik ini dapat digunakan untuk
pengeringan bawang daun
dengan kadar air ideal sebesar
9,68%.
Dehidrasi dengan vacuum
dryer. Teknik ini dapat
digunakan untuk seledri, bawang
merah dan lobak. Kadar air
terbaik adalah 10,31% dengan
TSS sebesar 57,72%.
Dehidrasi dengan teknik
blansing. Teknik ini dapat
diaplikasikan untuk kubis dan
wortel. Kadar air setelah
perlakuan adalah 12%.
Rehidrasi terhadap produk
kering akan menghasilkan
bentuk sayuran segar seperti
semula.
Gambar 96. sayuran yang
dikeringkan
217
Tabel 13 Klasifikasi Botani beberapa jenis sayuran
Famili,genus,spesies Nama umum
Monocotyledons
Amaryllidaceae (famili amarylis)
– Allium cepa
– Allium sativum
Araceae(famili arum)
– Colocasia esculenta
Gramineae (famili grass)
– Zea mays var praecox
– Zea may var rugosa
Liliaceae
– Asparagus officinalis
Bawang merah
Bawang putih
Keladi/talas
Jagung popcorn
Jagung manis
Asparagus
Dicotyledons
Chenopodiaceae
– Beta vulgaris
– Beta vulgaris , cicla group
– Spinacia oleracea
Composite
– Helianthus annus
– Lactuca sativa
Convulaceae
– Ipomea batatus
Crucefera
– Brassica oleraceae
– Brassica rapa
– Raphanus satvus
Cucurbitaceae
– Citrulus lanatus
– Cucumis sativus
– Cucurbita pepo
Bit
peleng (Bahasa Karo)
Bunga matahari
Ubi jalar
Kol
Sawi pak-choi
Radish
Semangka
Timun
labu
218
Leguminosae
– Arachis hypogaea
– Gliycine max
– Phaseolus vulgaris
– Pisum sativum
– Vigna radiata
Malvaceae
– Abelmoschus esculentus
Polygonaceae
– Rheum rhabarbarum
Solanaceae
– Capsicum annum
– Capsicum frutescens
– Lycopersicum esculentum
– Solanum melongena
– Solanum tuberosum
Tetra goniaceae
– Tetragonia tetra gonioides
Umbelliferae
– Apium graveolens
– Daucus carota
Kacang tanah
Kedele
Kacang buncis
Kacang ercis
Okra
Rhubarb
Cabai besar
Cabai rawit
Tomat
Terong
Kentang
Bayam New Zeland
Seledri
Wortel
219
9.6.1. Tenik Budidaya
Kentang
BAB XII
a. Deskripsi
Kentang adalah tanaman dari
keluarga Solanaceae yang
memiliki akar umbi yang dapat
dimakan. Kata kentang juga
biasanya digunakan untuk
menyebut akar ini.
Kentang adalah salah satu
makanan pokok di Eropa
walaupun awalnya berasal dari
Amerika Selatan.
Tanaman kentang pertama kali
dibawa dan dikembangbiakkan
di Eropa pada abad XVI.
Kentang merupakan tanaman
dikotil yang bersifat semusim
dan berbentuk semak/herba.
Batangnya yang berada di atas
permukaan tanah ada yang
berwarna hijau, kemerahmerahan,
atau ungu tua. Akan
tetapi, warna batang ini juga
dipengaruhi oleh umur tanaman
dan keadaan lingkungan. Pada
kesuburan tanah yang lebih baik
atau lebih kering, biasanya
warna batang tanaman yang
lebih tua akan lebih menyolok.
Bagian bawah batangnya bisa
berkayu. Sedangkan batang
tanaman muda tidak berkayu
sehingga tidak terlalu kuat dan
mudah roboh.
b. Jenis Kentang
Kentang (Solanum tuberosum L)
termasuk jenis tanaman sayuran
semusim, berumur pendek dan
berbentuk perdu/semak.
Kentang termasuk tanaman
semusim karena hanya satu kali
berproduksi, setelah itu mati.
Umur tanaman kentang antara
90-180 hari.
Dalam dunia tumbuhan, kentang
diklasifikasikan sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotiledónea
Famili : Solanaceae
Genus : Solanum
Species : Solanun tuberosum
Dari tanaman ini dikenal pula
spesies-spesies lain yang
merupakan spesies liar, di
antaranya Solanum andigenum
L, Solanum anglgenum L,
Solanum demissum L dan lainlain.
220
Varitas kentang yang banyak
ditanam di Indonesia adalah
kentang kuning varitas Granola,
Atlantis, Cipanas dan Segunung.
Belakangan ini Pusat Penelitian
dan Pengembangan Hortikultura
melepas 2 jenis kentang yaitu:
Merbabu-17
􀁸 Potensi hasil 30-40
ton/ha
􀁸 Khusus untuk sayur
􀁸 Tahan terhadap penyakit
busuk daun dan hama
lalat pengorok daun
Manohara
􀁸 Potensi hasil 20-37
ton/ha
􀁸 Tahan busuk daun
􀁸 Cocok untuk prosesing
Kentang sangat digemari hampir
semua orang. Bahkan di
beberapa daerah, ada yang
menjadikannya makanan pokok.
Selain itu, kentang juga banyak
mengandung vitamin B, vitamin
C, dan sejumlah vitamin A.
Sebagai sumber karbohidrat
yang penting, di Indonesia,
kentang masih dianggap sebagai
sayuran yang mewah.
c.Syarat Tumbuh
Iklim
a. Daerah dengan curah
hujan rata-rata 1500
mm/tahun sangat sesuai
untuk membudidayakan
kentang. Daerah yang
sering mengalami angin
kencang tidak cocok
untuk budidaya kentang.
b. Lama penyinaran yang
diperlukan tanaman
kentang untuk kegiatan
fotosintesis adalah
sekitar 9-10 jam/hari.
Lama penyinaran juga
berpengaruh terhadap
waktu dan masa
perkembangan umbi.
c. Suhu optimal untuk
pertumbuhan adalah 18-
210C. Pertumbuhan umbi
akan terhambat apabila
suhu tanah kurang dari
10 derajat C dan lebih
dari 30 derajat C.
221
d. Kelembaban yang sesuai
untuk tanaman kentang
adalah 80-90%.
Kelembaban yang terlalu
tinggi akan menyebabkan
tanaman mudah
terserang hama dan
penyakit, terutama yang
disebabkan oleh
cendawan.
Media Tanam
a. Secara fisik, tanah yang
baik untuk bercocok
tanaman kentang adalah
yang berstruktur remah,
gembur, banyak
mengandung bahan
organik, berdrainase baik
dan memiliki lapisan olah
yang dalam. Sifat fisik
tanah yang baik akan
menjamin ketersediaan
oksigen di dalam tanah.
b. Tanah yang memiliki sifat
ini adalah tanah Andosol
yang terbentuk di
pegununganpegunungan.
c. Keadaan pH tanah yang
sesuai untuk tanaman
kentang bervariasi antara
5,0-7,0, ini tergantung
pada varietasnya. Untuk
produksi yang baik pH
yang rendah tidak cocok
ditanami kentang.
Pengapuran mutlak
diberikan pada tanah
yang memiliki nilai pH
dibawah 7.
Ketinggian Tempat
Daerah yang cocok untuk
menanam kentang adalah pada
dataran tinggi/daerah
pegunungan, dengan ketinggian
antara 1.000-3.000 m dpl.
Ketinggian idealnya berkisar
antara 1000-1300 m dpl.
Beberapa varitas kentang dapat
ditanam di dataran menengah
(300-700 m dpl).
d. Pembibitan
Bibit Tanaman kentang dapat
berasal dari:
– Umbi
– stek batang
– stek tunas daun.
Umbi
Umbi bibit berasal dari umbi
produksi berbobot 30-50 gram.
Pilih umbi yang cukup tua antara
150-180 hari, umur tergantung
varietas, tidak cacat, umbi baik,
varitas unggul.
Umbi disimpan di dalam rak/peti
di gudang dengan sirkulasi udara
yang baik (kelembaban 80-95%).
Lama penyimpanan 6-7 bulan
pada suhu rendah dan 5-6 bulan
pada suhu 250C.
222
Pilih umbi dengan ukuran
sedang, memiliki 3-5 mata tunas.
Gunakan umbi yang akan
digunakan sebagai bibit hanya
sampai generasi keempat saja.
Setelah bertunas sekitar 2 cm,
umbi siap ditanam.
Bila bibit diusahakan dengan
membeli, (usahakan bibit yang
kita beli bersertifikat), berat
antara 30-45 gram dengan 3-5
mata tunas.
Penanaman dapat dilakukan
tanpa dan dengan pembelahan.
Pemotongan umbi dilakukan
menjadi 2-4 potong menurut
mata tunas yang ada.
Sebelum tanam umbi yang
dibelah harus direndam dulu di
dalam larutan Dithane M-45
selama 5-10 menit.
Walaupun pembelahan
menghemat bibit, tetapi bibit
yang dibelah menghasilkan umbi
yang lebih sedikit daripada yang
tidak dibelah. Hal tersebut harus
diperhitungkan secara ekonomis.
Stek Batang
dan stek tunas
Cara ini tidak biasa dilakukan
karena lebih rumit dan memakan
waktu lebih lama.
Bahan tanaman yang akan
diambil stek batang/tunasnya
harus ditanam di dalam pot.
Pengambilan stek baru dapat
dilakukan jika tanaman telah
berumur 1-1,5 bulan dengan
tinggi 25-30 cm.
Stek disemaikan di persemaian.
Apabila bibit menggunakan hasil
stek batang atau tunas daun,
ambil dari tanaman yang sehat
dan baik pertumbuhannya.
e. Pedoman Teknis Budidaya
Pengolahan Media Tanam
Lahan dibajak sedalam 30-40 cm
sampai gembur benar supaya
perkembangan akar dan
pembesaran umbi berlangsung
optimal.
Kemudian tanah dibiarkan
selama 2 minggu sebelum dibuat
bedengan.
Pada lahan datar, sebaiknya
dibuat bedengan memanjang ke
arah Barat-Timur agar
memperoleh sinar matahari
secara optimal, sedang pada
lahan berbukit arah bedengan
dibuat tegak lurus kimiringan
tanah untuk mencegah erosi.
Lebar bedengan 70 cm (1 jalur
tanaman)/140 cm (2 jalur
tanaman), tinggi 30 cm dan jarak
antar bedengan 30 cm.
Lebar dan jarak antar bedengan
dapat diubah sesuai dengan
varietas kentang yang ditanam.
Di sekeliling petak bedengan
223
dibuat saluran pembuangan air
sedalam 50 cm dan lebar 50 cm.
Teknik Penanaman
Pemupukan Dasar
– Pupuk dasar organik
berupa kotoran ayam 10
ton/ha, kotoran kambing
sebanyak 15 ton/ha atau
kotoran sapi 20 ton/ha
diberikan pada
permukaan bedengan
kurang lebih seminggu
sebelum tanam,
dicampur pada tanah
bedengan atau diberikan
pada lubang tanam.
– Pupuk anorganik berupa
SP-36=400kg/ha.
Cara Penanaman
Penyedian bibit
Bibit yang diperlukan jika
memakai jarak tanam 70 x 30 cm
adalah 1.300-1.700 kg/ha
dengan anggapan umbi bibit
berbobot sekitar 30-45 gram.
Pengaturan jarak tanam dan
waktu tanam
Jarak tanam kentang tergantung
pada jenis varietasnya. Misalnya
varietas Dimanat dan LCB jarak
tanamnya 80 x 40 sedangkan
varietas lain 70 x 30 cm.
Waktu tanam yang tepat adalah
diakhir musim hujan pada bulan
April-Juni, jika lahan memiliki
irigasi yang baik/sumber air,
maka kentang dapat ditanam
dimusim kemarau.
Sebaiknya tidak menanam
kentang pada musim hujan, dan
penanaman yang baik jika
dilakukan dipagi/sore hari.
Pembuatan lubang tanam, dan
mulsa
Lubang tanam dibuat dengan
kedalaman 8-10 cm. Bibit
dimasukkan ke lubang tanam,
ditimbun dengan tanah dan
tekan tanah di sekitar umbi. Bibit
akan tumbuh sekitar 10-14 hst.
Mulsa jerami perlu dihamparkan
di bedengan jika kentang
ditanam di dataran medium.
Pemeliharaan
Penyulaman
Untuk mengganti tanaman yang
kurang baik, maka dilakukan
penyulaman. Penyulaman dapat
dilakukan setelah tanaman
berumur 15 hari. Bibit sulaman
merupakan bibit cadangan yang
telah disiapkan bersamaan
dengan bibit produksi.
Penyulaman dilakukan dengan
cara mencabut tanaman yang
mati/kurang baik tumbuhnya dan
ganti dengan tanaman baru pada
lubang yang sama.
224
Penyiangan
Lakukan penyiangan secara
kontinyu dan sebaiknya
dilakukan 2-3 hari
sebelum/bersamaan dengan
pemupukan susulan dan
penggemburan. Jadi penyiangan
dilakukan minimal dua kali
selama masa penanaman.
Penyiangan harus dilakukan
pada fase kritis yaitu vegetatif
awal dan pembentukan umbi.
Pemangkasan Bunga
Pada varietas kentang yang
berbunga sebaiknya dipangkas
untuk mencegah terganggunya
proses pembentukan umbi,
karena terjadi perebutan unsur
hara untuk pembentukan umbi
dan pembungaan.
Pemupukan
Selain pupuk organik, maka
pemberian pupuk anorganik juga
sangat penting untuk
pertumbuhan tanaman.
Pupuk yang biasa diberikan Urea
dengan dosis 330 kg/ha, TSP
dengan dosis 400 kg/ha
sedangkan KCl 200 kg/ha.
Secara keseluruhan pemberian
pupuk organik dan anorganik
adalah sebagai berikut:
a. Pupuk kandang: saat
tanam 15.000-20.000 kg.
b. Pupuk anorganik
1. Urea/ZA: 21 hari
setelah tanam
165/350 kg dan
45 hari setelah
tanam 165/365
kg.
2. SP-36: saat
tanam 400 kg.
3. KCl: 21 hari
setelah tanam
100 kg dan 45
hari setelah
tanam 100 kg.
c. Pupuk cair: 7-10 hari
sekali dengan dosis
sesuai anjuran.
Pupuk anorganik diberikan ke
dalam lubang pada jarak 10 cm
dari batang tanaman kentang.
Pengairan
Tanaman kentang sangat peka
terhadap kekurangan air.
Pengairan harus dilakukan
secara rutin tetapi tidak
berlebihan.
Pemberian air yang cukup
membantu menstabilkan
kelembaban tanah sebagai
pelarut pupuk. Selang waktu 7
hari sekali secara rutin sudah
cukup untuk tanaman kentang.
Pengairan dilakukan dengan
cara disiram dengan
gembor/ember/atau dengan
mengairi selokan sampai areal
225
tanaman lembab (sekitar 15-20
menit).
Hama dan Penyakit
Hama
a. Ulat grayak (Spodoptera
litura)
Gejala: ulat menyerang
daun dengan memakan
bagian epidermis dan
jaringan hingga habis
daunnya. Pengendalian:
(1) mekanis dengan
memangkas daun yang
telah ditempeli telur; (2)
kimia dengan Azordin,
Diazinon 60 EC,
Sumithion 50 EC.
b. Kutu daun (Aphis Sp)
Gejala: kutu daun
menghisap cairan dan
menginfeksi tanaman,
juga dapat menularkan
virus bagi tanaman
kedelai. Pengendalian:
dengan cara memotong
dan membakar daun
yang terinfeksi,
menyemprotkan Roxion
40 EC, Dicarzol 25 SP.
c. Orong-orong (Gryllotalpa
Sp) Gejala: menyerang
umbi di kebun, akar,
tunas muda dan tanaman
muda. Akibatnya
tanaman menjadi peka
terhadap infeksi bakteri.
Pengendalian:
menggunakan tepung
Sevin 85 S yang
dicampur dengan pupuk
kandang.
d. Hama penggerek umbi
(Phtorimae poerculella
Zael)
Gejala: pada daun yang
berwarna merah tua dan
terlihat adanya jalinan
seperti benang yang
berwarna kelabu yang
merupakan materi
pembungkus ulat. Umbi
yang terserang bila
dibelah, akan terlihat
adanya lubang-lubang
karena sebagian umbi
telah dimakan.
Pengendalian: secara
kimia menggunakan
Selecron 500 EC, Ekalux
25 EC, Orthene &5 SP,
Lammnate L.
e. Hama trip (Thrips tabaci).
Gejala: pada daun
terdapat bercak-bercak
berwarna putih,
selanjutnya berubah
menjadi abu-abu perak
dan kemudian
mengering. Serangan
dimulai dari ujung-ujung
daun yang masih muda.
Pengendalian: (1) secara
mekanis dengan cara
memangkas bagian daun
yang terserang; (2)
secara kimia
menggunakan Basudin
60 EC, Mitac 200 EC,
Diazenon, Bayrusil 25 EC
atau Dicarzol 25 SP.
226
Penyakit
a. Penyakit busuk daun
Penyebab: jamur
Phytopthora infestans.
Gejala: timbul bercakbercak
kecil berwarna
hijau kelabu dan agak
basah, lalu bercak-bercak
ini akan berkembang dan
warnanya berubah
menjadi coklat sampai
hitam dengan bagian tepi
berwarna putih yang
merupakan sporangium.
Selanjutnya daun akan
membusuk dan mati.
Pengendalian:
menggunakan Antracol
70 WP, Dithane M-45,
Brestan 60, Polyram 80
WP, Velimek 80 WP dan
lain-lain.
b. Penyakit layu bakteri
Penyebab: bakteri
Pseudomonas
solanacearum. Gejala:
beberapa daun muda
pada pucuk tanaman layu
dan daun tua, daun
bagian bawah
menguning.
Pengendalian: dengan
cara menjaga sanitasi
kebun, pergiliran
tanaman.
Pemberantasan secara
kimia dapat menggunkan
bakterisida, Agrimycin atu
Agrept 25 WP.
c. Penyakit busuk umbi
Penyebab: jamur
Colleotrichum coccodes.
Gejala: daun menguning
dan menggulung, lalu
layu dan kering. Pada
bagian tanaman yang
berada dalam tanah
terdapat bercak-bercak
berwarna coklat. Infeksi
akan menyebabkan akar
dan umbi muda busuk.
Pengendalian: dengan
cara pergiliran tanaman ,
sanitasi kebun dan
penggunaan bibit yang
baik.
d. Penyakit fusarium
Penyebab: jamur
Fusarium sp. Gejala:
infeksi pada umbi
menyebabkan busuk
umbi yang menyebabkan
tanaman layu. Penyakit
ini juga menyerang
kentang di gudang
penyimpanan. Infeksi
masuk melalui luka-luka
yang disebabkan
nematoda/faktor
mekanis. Pengendalian:
dengan menghindari
terjadinya luka pada saat
penyiangan dan
pendangiran.
Pengendalian kimia
dengan Benlate.
e. Penyakit bercak kering
(Early Blight)
Penyebab: jamur
Alternaria solani. Jamur
hidup disisa tanaman
sakit dan berkembang
biak di daerah kering.
227
Gejala: daun terinfeksi
berbercak kecil yang
tersebar tidak teratur,
berwarna coklat tua, lalu
meluas ke daun muda.
Permukaan kulit umbi
berbercak gelap tidak
beraturan, kering,
berkerut dan keras.
Pengendalian: dengan
pergiliran tanaman.
f. Penyakit karena virus
Virus yang menyerang
adalah: (1) Potato Leaf
Roll Virus (PLRV)
menyebabkan daun
menggulung; (2) Potato
Virus X (PVX)
menyebabkan mosaik
laten pada daun; (3)
Potato Virus Y (PVY)
menyebabkan mosaik
atau nekrosis lokal; (4)
Potato Virus A (PVA)
menyebabkan mosaik
lunak; (5) Potato Virus M
(PVM) menyebabkan
mosaik menggulung; (6)
Potato Virus S (PVS)
menyebabkan mosaik
lemas. Gejala: akibat
serangan, tanaman
tumbuh kerdil, lurus dan
pucat dengan umbi kecilkecil/
tidak menghasilkan
sama sekali; daun
menguning dan jaringan
mati. Penyebaran virus
dilakukan oleh peralatan
pertanian, kutu daun
Aphis spiraecola, A.
gossypii dan Myzus
persicae, kumbang
Epilachna dan Coccinella
dan nematoda.
Pengendalian: tidak ada
pestisida untuk
mengendalikan virus,
pencegahan dan
pengendalian dilakukan
dengan menanam bibit
bebas virus,
membersihkan peralatan,
memangkas dan
membakar tanaman
sakit, memberantas
vektor dan pergiliran
tanaman.
f. Panen dan Pascapanen
Panen
Ciri dan Umur Panen
Umur panen pada tanaman
kentang berkisar antara 90-180
hari, tergantung varietas
tanaman.
Pada varietas kentang genjah,
umur panennya 90-120 hari;
varietas medium 120-150 hari;
dan varietas dalam 150-180 hari.
Secara fisik tanaman kentang
sudah dapat dipanen apabila
daunnya telah berwarna
kekuning-kuningan yang bukan
disebabkan serangan penyakit;
batang tanaman telah berwarna
kekuningan dan agak
mengering.
Selain itu tanaman yang siap
panen kulit umbi akan lekat
sekali dengan daging umbi, kulit
228
tidak cepat mengelupas bila
digosok dengan jari.
Cara Panen
Waktu memanen sangat
dianjurkan dilakukan pada waktu
sore hari/pagi hari dan dilakukan
pada saat hari cerah. Cara
memanen yang baik adalah
sebagai berikut: cangkul tanah
disekitar umbi kemudian angkat
umbi dengan hati hati dengan
menggunakan garpu tanah.
Setelah itu kumpulkan umbi
ditempat yang teduh. Hindari
kerusakan mekanis waktu
panen.
Prakiraan Produksi
a. Granola/Atlantis: produksi
35-40 ton/ha.
b. Red Pontiac: produksi 15
ton/ha.
c. Desiree: produksi 18
ton/ha.
d. DTO: produksi 20 ton/ha.
e. Klon no. 17: produksi 30-
40 ton/ha.
Standar Produksi
Standar ini meliputi klasifikasi
dan syarat mutu, cara
pengambilan contoh, cara
pengujian contoh, syarat
penandaan dan pengemasan.
Kentang yang segar adalah umbi
batang dari tanaman kentang
dalam keadaan utuh bersih dan
segar, sesuai dengan SNI-01-
3175-1992
Klasifikasi dan Standar Mutu
Menurut ukuran berat, kentang
segar digolongkan dalam:
a) Kecil: 50 gram kebawah.
b) Sedang: 51-100 gram.
c) Besar: 101-300 gram.
d) Sangat besar: 301 gram ke
atas.
Menurut jenis mutunya kentang
segar digolongkan dalam 2 jenis
mutu, yaitu mutu I dan mutu II.
a) Keseragaman warna dan
bentuk: mutu I=seragam;
mutu II=seragam.
b) Keseragaman ukuran: mutu
I=seragam; mutu
II=seragam.
c) Kerataan permukaan
kentang: mutu I=rata; mutu
II=tidak disyaratkan.
d) Kadar kotor (bobot/bobot):
mutu I=maksimum 2,5%;
mutu II=maksimum 2,5%.
e) Kentang cacat (bobot/bobot):
mutu I=maksimum 5%; mutu
II=maksimum 10%.
f) Ketuaan kentang: mutu
I=tua; mutu II=cukup tua.
229
Untuk mendapatkan hasil
kentang yang sesuai dengan
standar maka dilakukan
pengujian yang meliputi:
a. Penentuan keseragaman
ukuran kentang
Timbang seluruh
cuplikan, kemudian
timbang tiap butir dalam
cuplikan. Pisahkan butirbutir
yang beratnya
diatas/dibawah ukuran
berat yang telah
ditentukan dan
timbanglah semuanya.
Bila presentase berat
butir yang diatas/dibawah
ukuran berat masingmasing
sama/kurang dari
5% maka contoh
dianggap seragam.
b. Penentuan kerataan
permukaan kentang
Timbang seluruh cuplikan
dan ukur benjolan yang
terdapat pada tiap butir
dalam cuplikan. Pisahkan
butir-butir cuplikan yang
mempunyai benjolan
lebih dari 1 cm
sama/kurang dari 10%
jumlah cuplikan maka
cuplikan dianggap
mempunyai permukaan
rata.
c. Penentuan kadar kotoran
Timbanglah sampai
mendekati 0,1 gram
sebanyak lebih kurang
500 gram cuplikan dalam
wadah yang telah ditera
sebelumnya dan tuanglah
kedalalam sebuah bak
kayu yang disediakan
khusus untuk itu. Pilihlah
kotoran-kotoran dan
timbanglah berat masingmasing.
d. Penentuan cacat pada
kentang segar
Timbang seluruh cuplikan
dan tentukan butir-butir
kentang yang cacat.
Pisahkan butir-butir yang
cacat dan timbanglah
semuanya. Bila
presentase berat butirbutir
yang cacat
sama/kurang dari 50%,
maka cuplikan dianggap
Mutu I dan bila
sama/kurang dari 10%
maka cuplikan dianggap
Mutu II.
e. Penentuan ketuaan pada
kentang segar
Timbanglah seluruh
cuplikan dan tentukan
butir contoh yang
tua/cukup tua. Pisahkan
butir yang tua/cukup tua
dan timbanglah
semuanya. Bila
presentase berat butir
contoh yang kulitnya
mengelupas beratnya
lebih dari ¼ bagian
permukaannya
sama/kurang dari 5%,
maka cuplikan dianggap
tua dan bila sama/kurang
dari 10%, maka cuplikan
dianggap cukup tua.
230
Pengambilan Contoh
Contoh diambil secara acak dari
jumlah kemasan seperti terlihat
berikut ini. Tiap kemasan diambil
contoh sebanyak 10 kg dari
bagian atas, tengah dan bawah.
Contoh tersebut dicampur
merata tanpa menimbulkan
kerusakan, kemudian dibagi
menjadi empat dan dua bagian
diambil secara diagonal.
Cara ini dilakukan beberapa kali
sampai contoh mencapai 10 kg.
b) Untuk jumlah kemasan
dalam lot 1 sampai 3,
contoh yang diambil
semua.
c) Untuk jumlah kemasan
dalam lot 4 sampai 25,
contoh yang diambil 3.
d) Untuk jumlah kemasan
dalam lot 26 sampai 50,
contoh yang diambil 6.
e) Untuk jumlah kemasan
dalam lot 51 sampai
100, contoh yang
diambil 8.
f) Untuk jumlah kemasan
dalam lot 101 sampai
150, contoh yang
diambil 10.
g) Untuk jumlah kemasan
dalam lot 151 sampai
200, contoh yang
diambil 12.
h) Untuk jumlah kemasan
dalam lot 201 atau
lebih, contoh yang
diambil 15.
Petugas pengambil contoh harus
memenuhi syarat yaitu orang
yang berpengalaman atau dilatih
lebih dahulu dan mempunyai
ikatan dengan badan hukum.
Pengemasan
Kentang dikemas dengan
keranjang atau bahan lain
dengan berat netto maksimum
80 kg dan ditutup dengan
anyaman bambu kemudian diikat
dengan tali rotan/bahan lain. Isi
kemasan tidak melebihi
permukaan.
Di dalam keranjang atau
kemasan diberi label yang
bertuliskan :
– Nama barang.
– Jenis mutu.
– Nama/kode
perusahaan/eksportir.
– Berat netto.
– Produksi Indonesia.
– Negara/tempat tujuan.
231
9.6.2. Teknik Budidaya
Tomat
a. Deskripsi
Tanaman tomat merupakan
tanaman perdu semusim,
berbatang lemah dan basah.
Daunnya berbentuk segitiga.
Bunganya berwarna kuning.
Buahnya buah buni, hijau waktu
muda dan kuning atau merah
waktu tua. Berbiji banyak,
berbentuk bulat pipih, putih atau
krem, kulit biji berbulu.
Perbanyakan dengan biji
kadang-kadang dengan setek
batang cabang yang telah tua.
Tomat umumnya dibudidayakan
pada lahan kering atau pada
lahan sawah.
Tanaman ini tidak membutuhkan
persyaratan khusus, akan tetapi
menghendaki tanah yang
gembur.
Tanaman ini dapat
dibudidayakan secara
monokultur maupun dengan
sistem multiple cropping.
b.Varietas Tomat
Jenis-jenis Tomat
– Tomat biasa
(lycopersicum commune)
buahnya bulat pipih,
lunak, bentuknya tidak
teratur.
– Tomat Apel
(Lycopersicum pyriforme)
buah bulat, kuat dan
sedikit keras seperti buah
apel, tumbuh baik di
dataran tinggi
– Tomat kentang
(Lycopersicum
grandifolium) buah bulat,
padat, lebih besar dari
tomat apel, daun lebar
agak rimbun.
Beberapa varietas tomat yang
sekarang sedang dikembangkan
adalah sebagai berikut:
232
Mirah
􀁸 Potensi hasil 30-35
ton/ha
􀁸 Rasa manis masam
􀁸 Buah bulat agak lonjong
􀁸 Umur panen 55-59 hari
􀁸 Cocok untuk dataran
rendah
􀁸 Daya simpan 8 hari
􀁸 Toleran terhadap
penyakit layu bakteri
233
Opal
􀁸 Potensi hasil 30-50
ton/ha
􀁸 Rasa manis masam
􀁸 Buah lonjong
􀁸 Umur panen 58-61 hari
􀁸 Cocok untuk dataran
rendah
􀁸 Daya simpan 9 hari
􀁸 Toleran terhadap
penyakit layu bakteri
Zamrud
􀁸 Potensi hasil 30-45
ton/ha
􀁸 Rasa manis asam
􀁸 Buah bulat
􀁸 Umur panen 59-61 hari
􀁸 Daya simpan 8 hari
􀁸 Cocok untuk dataran
rendah
􀁸 Toleran terhadap
penyakit layu bakteri
c.Manfaat
Tomat termasuk sayuran buah
yang sangat digemari. Banyak
sekali penggunaan buah tomat,
antara lain sebagai bumbu
sayur, lalap, makanan yang
diawetkan (saus tomat), buah
segar, atau minuman (juice).
Selain itu, buah tomat banyak
mengandung vitamin A, Vitamin
C, dan sedikit vitamin B.
d. Syarat Tumbuh
Tomat secara umum dapat
ditanam di dataran rendah,
medium, dan tinggi, tergantung
varietasnya.
Namun, kebanyakan varietas
tomat hasilnya lebih memuaskan
apabila ditanam di dataran tinggi
yang sejuk dan kering sebab
tomat tidak tahan panas terik
dan hujan.
Suhu optimal untuk
pertumbuhannya adalah 23°C
pada siang hari dan 17°C pada
malam hari.
Tanah yang dikehendaki adalah
tanah bertekstur liat yang banyak
mengandung pasir. Dan, akan
lebih disukai bila tanah itu
banyak mengandung humus,
gembur, sarang, dan
berdrainase baik. Sedangkan
keasaman tanah yang ideal
untuk pertumbuhannya adalah
pada pH netral, yaitu sekitar 6-7.
234
e. Pedoman Budidaya
Bibit dan Persemaian
Benih tomat dapat langsung
diperoleh dari suplier atau
disiapkan sendiri.
Sebetulnya menyiapkan sendiri
benih tomat yang baik tidaklah
terlalu sukar. Caranya adalah
sebagai berikut:
1. Buah tomat dipilih yang
sehat, tidak cacat, dan
matang penuh dari
varietas yang unggul.
Buah yang telah dipilih
selanjutnya diperam
selama tiga hari sampai
warna buah berubah
menjadi merah gelap dan
lunak. Kemudian bijinya
dikeluarkan bersama
lendirnya.
2. Biji beserta lendir
difermentasi selama 3
hari sampai lendir dan
airnya terpisah dari biji.
3. Biji yang telah terpisah
tadi segera dicuci dan
dijemur selama kurang
lebih 3 hari atau hingga
kadar airnya kurang lebih
6%.
4. Biji yang telah kering
dapat langsung disemai
atau disimpan.
Bila telah diperoleh, sebaiknya
benih disemaikan dahulu
sebelum ditanam pada
bedengan yang tetap.
Bedengan persemaian dibuat
dengan ukuran lebar antara 0,8-
1,2 m dengan panjang sekitar 2-
3 m, dan tinggi sekitar 20-25 cm.
Jarak antarbarisan adalah 5 cm.
Bedengan yang telah dibentuk
diberi pupuk kandang seminggu
sebelum tanam sebanyak 5 kg
per m2 dan pupuk Urea dua hari
sebelum tanam sebanyak 30 g
per m2.
Setelah bedengan persemaian
siap diolah, bibit tomat dapat
segera disebar.
Untuk satu ha pertanaman,
benih yang dibutuhkan adalah
sekitar 300 – 400 gram. Pada
persemaian diberi lindungan
yang dapat berupa atap rumbia
atau pelepah pisang.
Persemaian disiram setiap pagi
dan sore. Bila bibit telah
mencapai tinggi antara 7-10 cm,
yaitu dalam waktu 2 minggu
setelah disebar, bibit itu dapat
segera dipindahkan ke tempat
penyapihan.
Penyapihan berguna untuk
menyeleksi bibit yang bagus dan
sebagai latihan hidup bagi
tanaman muda. Tempat
penyapihan dapat berupa
polybag atau bumbung dari
pelepah pisang. Bibit dibiarkan di
235
tempat penyapihan sampai
berumur 1 bulan dengan tinggi
sekitar 15 cm dan telah berhelai
daun 3 atau 4. Setelah itu,
tanaman dapat dipindahkan ke
tempat penanaman yang tetap.
Sebelum penanaman dilakukan,
sebaiknya lahan disiapkan
dahulu. Lahan yang telah dipilih
segera diolah. Guna mencegah
nematoda yang merugikan, kita
dapat memberikan Nemagon
sebagai fumigan tanah 2 atau 3
minggu sebelum tanam.
Kemudian lahan itu dibuat
bedengan dengan lebar antara
1,4-1,6 meter dan jarak antar
bedengan sekitar 20 cm. Lubang
penanaman segera dibuat di
atas bedengan itu dengan luas
sekitar 15-20 cm sedalam 70-80
cm.
Agar tanah cukup subur, perlu
ditambahkan pupuk kandang
sebanyak 0,5-1 kg untuk setiap
lubang. Banyaknya pupuk
kandang untuk 1 ha lahan
adalah sekitar 20-30 ton. Lahan
yang telah diolah sebaiknya
didiamkan dahulu selama 1
bulan agar diperoleh cukup sinar
matahari, kemudian barulah
digunakan.
Selanjutnya bibit yang telah
disapih ditanam pada bedengan
yang telah disiapkan dengan
jarak antartanaman sekitar 50-60
cm.
Setiap bedengan berisi dua baris
tanaman. Sehingga setiap ha
lahan dapat ditanami sebanyak
20.900-28.600 bibit.
f.Teknik Pemeliharaan Tomat
Faktor-faktor yang perlu
diperhatikan dalam
pemeliharaan tanaman tomat,
yaitu:
Penyiraman
Penyiraman dilakukan bila
selama pertumbuhan tanaman
jatuh pada musim kemarau yang
berkepanjangan (sesuai dengan
kebutuhan). Hal ini dilakukan
secara hati-hati agar tanaman
tidak rusak dan diusahakan
penyiraman tanaman pada pagi
dan sore hari.
Pemupukan
Pupuk yang diperlukan untuk
tanaman tomat adalah :
a. Pupuk kandang dengan
dosis 10-20 ton per
hektar atau 0,5-1 kg per
tanaman, yang diberikan
seminggu sebelum
tanam.
b. Untuk pupuk TSP
dengan dosis 2,5 – 3
kwintal per hektar atau
10-15 gram per tanaman,
yang diberikan seminggu
sebelum tanam.
c. Pupuk Urea diberikan
bersamaan saat tanam
236
dengan dosis 1 kwintal
per hektar atau 4-5 gram
per tanaman. Sedangkan
pemupukan Urea untuk
susulan dilakukan 4
minggu setelah
pemupukan pertama
dengan dosis sama
seperti pemupukan
pertama.
d. Cara pemberian pupuk
baik pupuk dasar
maupun susulan, yaitu
diletakkan melingkar di
sekeliling tanaman
dengan jarak 10-15 cm,
kenudian ditutup dengan
tanah.
e. Pemupukan dilakukan
pada saat awal atau akhir
musim hujan dan juga
disesuaikan dengan
tingkat kesuburan tanah
setempat.
Penyulaman
Penyulaman dilakukan bila ada
tanaman yang mati atau
pertumbuhannya kurang baik,
dan diusahakan agar bibit
tanaman pengganti harus subur
pertumbuhannya serta masih
seumur dengan tanaman yang
diganti.
Penyiangan dan Pembumbunan
Penyiangan dan pembubunan
dilakukan secara bersamaan
setelah tanaman berumur kirakira
1 bulan, yaitu dengan cara
membabat atau mencabut
rerumputan, kemudian tanah di
sekitar tanaman dibumbun pada
tanaman.
Pemberian Mulsa
Pemberian mulsa utuk menjaga
agar tanah tetap gembur,
mengurangi penguapan, dan
menekan pertumbuhan
rerumputan.
Mulsa yang digunakan yaitu
sisa-sisa tanaman atau rumpurrumput
kering. Caranya yaitu
mulsa diletakkan di
Pengajiran
Pengajiran untuk menghindari
agar tanaman tomat tidak rebah
dan memudahkan pemeliharaan.
Ajir dipasang pada saat tanaman
berumur 1 bulan atau tanaman
mencapai tinggi kira-kira 40 cm.
Ajir dapat digunakan seperti
banbu atau tali.
Pemangkasan
Pemangkasan dimaksudkan
agar dapat diperoleh buah yang
besar dan cepat masak.
Pemangkasan dilakukan sekali
atau dua kali sebulan yaitu
dengan cara memangkas bagian
237
pucuk atau cabang ketiga pada
batang pokok, atau cabang
kelima pada kedua cabang yang
dibiarkan hidup. Pemangkasan
tanaman tomat dapat dilakukan
dengan dua cara yaitu
pemangkasan tunas muda dan
pemangkasan batang. Tanaman
tomat yang telah mempunyai
lima dompolan buah harus
dipotong pucuk batangnya dan
tunas-tunasnya agar buah dapat
menjadi besar dan cepat masak.
Tinggalkan dua atau tiga tunas
yang berada di samping atau di
sebelah bawah dompolan buah
yang kelima itu.
Dompolan yang berdaun atau
berbuah lebih perlu dipangkas
dan dipetik agar tomat yang
dikehendaki (lima dompolan)
tidak terhalang pertumbuhannya.
Hama dan Penyakit
Adapun jenis hama dan penyakit
yang sering menyerang tanaman
tomat yaitu :
Hama
– Ulat tanah coklat:
Kumpulkan larva,
kemudian musnahkan
atau disemprot dengan
Diptrek 95 SL atau
Dusban 20 EC, dengan
dosis 0,1 %.
– Ulat buah: Semprot
dengan Diazinon 60 EC,
dengan dosis 0,2 %.
Penyakit dan Jenis Penyakit
Pengendalian
– Penyakit Lanas: Cabut
dan buang tanaman yang
terserang
– Rhizoetonia dan Phytium
sp.: Semprot dengan
Dithane M -45 0,2%.
Kutu kebul (Bemisia tabaci)
Niimffa dan sserrangga dewassa
mengiissap ccaiirran ssell pada daun..
Serrangga akktt iiff ssepanjjang harrii
dengan gejjalla sserrangan :: ttiimbull
berrccakk nekkrrottiikk pada daun..
Tanaman iinang :: ccabaii,, ttomatt,,
kkaccang panjjang,, ttembakkau,, dllll..
238
Bercak daun alternaria
(Alternaria solani)
Penyyebab :: jjamurr A.. ssollanii
Gejjalla sserrangan :: pada awall
sserrangan ttiimbull berrccakk–berrccakk
kkecciill berrwarrna ccokkllatt pada daun
bagiian bawah..
Tanaman iinang :: ccabaii,, ttomatt,,
ssemangkka,, kkenttang,, dllll..
Ulat buah
(Helicoverpa armigera)
Penyakit rebah kecambah
(Rhyzoctona solani dan
Phythium spp.
239
Penyyebab :: jjamurr R.. ssollanii dan
Phyytthiium sspp..
Gejjalla sserrangan :: tterrdapatt llukka
pada pangkkall battang yyang akkan
menyyebabkkan pattahnyya battang..
Tanaman iinang :: ccabaii,, ttomatt,,
ssemangkka,, dllll..
240
g.Panen dan Pasca Panen
Panen tomat dilakukan sesuai
dengan tujuan pemasarannya
sehingga perlu diperhitungkan
lama perjalanan sampai ke
tempat tujuan.
Sebaiknya tomat berada di
pasaran pada saat masak
penuh, tetapi tidak boleh terlalu
masak karena akan busuk.
Pada saat masak penuh itulah
tomat memperlihatkan
penampilannya yang terbaik.
Jika tujuan pemasaran adalah
pasar lokal yang jaraknya tidak
begitu jauh, dapat ditempuh
dalam beberapa jam, panen
sebaiknya dilakukan sewaktu
buah masih berwarna kekuningkuningan.
Sedangkan untuk pemasaran ke
tempat yang jauh atau untuk di
ekspor, buah sebaiknya dipetik
sewaktu masih berwarna hijau,
tetapi sudah tua benar. Atau 8-
10 hari sebelum menjadi masak
(berwarna merah).
Umur petik tergantung varietas
tomat yang ditanam dan kondisi
tanaman.
Umumnya buah tomat dapat
dipanen pertama pada waktu
berumur 2 atau 3 bulan setelah
tanam.
Panen dilakukan beberapa kali,
yaitu antara 10-15 kali pemetikan
buah dengan selang 2-3 hari
sekali.
Pemetikan dapat dilakukan pagi
atau sore hari. Dan, diusahakan
buah yang dipetik tidak jatuh
atau terluka.
Karena hal ini dapat menurunkan
kualitas dan dapat menjadi
sumber masuknya bibit penyakit.
241
9.6.3. Teknik Budidaya Cabai
a. Pendahuluan
Cabe (Capsicum Annum var
longum) merupakan salah satu
komoditas hortikultura yang
memiliki nilai ekonomi penting di
Indonesia.
Cabe merupakan tanaman perdu
dari famili terong-terongan yang
memiliki nama ilmiah Capsicum
sp. Cabe berasal dari benua
Amerika tepatnya daerah Peru
dan menyebar ke negara-negara
benua Amerika, Eropa dan Asia
termasuk Negara Indonesia.
Tanaman cabe banyak ragam
tipe pertumbuhan dan bentuk
buahnya. Diperkirakan terdapat
20 spesies yang sebagian besar
hidup di Negara asalnya.
Masyarakat pada umumnya
hanya mengenal beberapa jenis
saja, yakni Cabe besar, cabe
keriting, cabe rawit dan paprika.
Secara umum cabe memiliki
banyak kandungan gizi dan
vitamin. Diantaranya Kalori,
Protein, Lemak, Kabohidarat,
Kalsium, Vitamin A, B1 dan
Vitamin C.
Selain digunakan untuk
keperluan rumah tangga, cabe
juga dapat digunakan untuk
keperluan industri diantaranya,
Industri bumbu masakan, industri
makanan dan industri obatobatan
atau jamu.
Buah cabe ini selain dijadikan
sayuran atau bumbu masak juga
mempunyai kapasitas
menaikkan pendapatan petani.
Disamping itu tanaman ini juga
berfungsi sebagai bahan baku
industri, yang memiliki peluang
eksport, membuka kesempatan
kerja.
Gambar 97 Tanaman cabe
b. Jenis-jenis cabe
Saat ini telah banyak benih cabe
hibrida yang beredar di pasaran
dengan nama varietas yang
beraneka ragam dengan
berbagai keunggulan yang
dimiliki.
242
Beberapa jenis cabe yang telah
dirilis adalah: Jet set, Arimbi,
Buana 07, Somrak, Elegance
081, Horison 2089, Imperial 308
dan Emerald 2078.
Dan untuk cabe hibrida keriting
diantaranya, Papirus, CTH 01,
Kunthi 01, Sigma, Flash 03,
Princess 06 dan Helix 036, dan
untuk cabe rawit hibrida adalah
Discovery.
Tanjung-1
􀁸 Potensi hasil 18 ton/ha
􀁸 Warna buah merah
􀁸 Panjang buah 10 cm
􀁸 Cocok untuk dataran
rendah
􀁸 Toleran terhadap hama
pengisap daun
Tanjung-2
􀁸 Potensi hasil 12 ton/ha
􀁸 Cocok untuk dataran
rendah
Lembang-1
􀁸 Potensi hasil 9 ton/ha
􀁸 Cocok untuk dataran
tinggi
c.Syarat Tumbuh
Tanah
– Tanah berstruktur remah/
gembur dan kaya akan
bahan organik.
– Derajat keasaman (PH)
tanah antara 5,5 – 7,0
– Tanah tidak becek/ ada
genangan air
– Lahan pertanaman
terbuka atau tidak ada
naungan.
Iklim
– Curah hujan 1500-2500
mm pertahun dengan
distribusi merata.
– Suhu udara 16° – 32 ° C
– Saat pembungaan
sampai dengan saat
pemasakan buah,
243
keadaan sinar matahari
cukup (10 – 12 jam).
d.Pedoman Teknis Budidaya
Penyiapan Benih
Benih cabe dapat dibuat sendiri
dengan cara sebagai berikut:
– Pilih buah cabe yang
matang (merah)
– Bentuk sempurna, segar
– Tidak cacat dan tidak
terserang penyakit.
– Kemudian keluarkan
bijinya dengan mengiris
buah secara memanjang
– Cuci biji lalu dikeringkan.
– Kemudian pilih biji yang
bentuk, ukuran dan
warna seragam,
permukaan kulit bersih,
tidak keriput dan tidak
cacat.
Bila kesulitan membuat sendiri,
benih cabe dapat dibeli di toko
pertanian setempat.
Benih yang akan ditanam
diseleksi dengan cara merendam
dalam air, biji yang terapung
dibuang.
Persemaian
Sebelum tanam di tempat
permanen, sebaiknya benih
disemai dulu dalam wadah
semai yang dapat berupa bak
plastik atau kayu dengan
ketebalan sekitar 10 cm yang
dilubangi bagian dasarnya untuk
pengaturan air(drainase).
Persiapannya adalah sebagai
berikut:
1. Isikan dalam wadah
semai media berupa
tanah pasir, dan pupuk
kandang dengan
perbandingan 1 : 1.
Untuk menghilangkan
gangguan hama berikan
Curater 3 G takaran 10
10 gr/m2. Media ini
disiapkan 1 minggu
sebelum penyemaian
benih.
2. Benih yang akan
ditanam, sebelumnya
direndam dalam air
hangat (50 derajat
Celcius) selama
semalam. Lebih baik lagi
bila diberi zat pengatur
tumbuh seperti Atonik.
3. Tebarkan benih secara
merata di media
persemaian, bila mungkin
beri jarak antar benih 5 x
5 cm sehingga waktu
tanaman
dipindah/dicabut, akarnya
tidak rusak. Usahakan
244
waktu benih ditanam
diatasnya ditutup selapis
tipis tanah. Kemudian
letakkan wadah semai
tersebut di tempat teduh
dan lakukan penyiraman
secukupnya agar media
semai tetap lembab.
Pembibitan
1. Benih yang telah
berkecambah atau bibit
cabe umur 10-14 hari
(biasanya telah tumbuh
sepasang daun) sudah
dapat dipindahkan ke
tempat pembibitan.
2. Siapkan tempat
pembibitan berupa
polybag ukuran 8 x 9 cm
atau bumbungan dari
bahan daun pisang
sehingga lebih murah
harganya. Masukkan ke
dalamnya campuran
tanah, pasir dan pupuk
kandang serta
tambahkan Curater 3 G.
3. Pindahkan bibit cabe ke
wadah pembibitan
dengan hati-hati. Pada
saat bibit ditanam di
bumbungan, tanah di
sekitar akar tanaman
ditekan-tekan agar sedikit
padat dan bibit berdiri
tegak. Letakkan bibit di
tempat teduh dan sirami
secukupnya untuk
menjaga kelembabannya.
Pembibitan ini bertujuan untuk
meningkatkan daya adaptasi dan
daya tumbuh bibit pada saat
pemindahan ke tempat terbuka
di lapangan atau pada polybag
Pemindahan bibit baru dapat
dilakukan setelah berumur 30-40
hari.
Persiapan Media Tanam
dalam Polybag
1. Siapkan polybag tempat
penanaman yang berlubang
kiri kanannya untuk
pengaturan air.
2. Masukkan media tanam ke
dalamnya berupa campuran
tanah dengan pupuk
kandang 2 : 1 sebanyak 1/3
volume polybag. Tambahkan
Furadan atau Curater 3G 2-
4 gr/tanaman untuk
mematikan hama
pengganggu dalam media
tanah.
3. Masukkan campuran tanah
dan pupuk kandang ke
dalam polybag setinggi 1/3
nya.
4. Tambahkan pupuk buatan
sebagai pupuk dasar yaitu 10
gr SP 36, 5 gr KCl dan 1/3
bagian dari campuran 10 gr
Urea + 20 gr ZA per tanaman
(2/3 bagiannya untuk pupuk
susulan). Kemudian siram
dengan air agar pupuk larut
dalam tanah.
245
Penanaman di Lapangan
– Siapkan bedengan yang
dicampur dengan pupuk
kandang
– Jika pH tanah rendah (4-
5) maka lakukan terlebih
dahulu pengapuran.
Pengapuran dilakukan
bersamaan dengan
pembuatan bedengan
sebarkan kapur, aduk
rata, biarkan selama 3
minggu.
– Tutup bedengan dengan
mulsa plastik
– Gunakan kaleng yang
diberi arang untuk
melubanginya.
– Pindahkan hati-hati bibit
ke dalam lubang tanam.
Gambar 98 Penanaman cabe
pada lahan terbuka
dengan menggunakan
mulsa plastik
Penanaman
1. Pilih bibit cabe yang baik
yaitu pertumbuhannya tegar,
warna daun hijau, tidak
cacat/terkena hama penyakit.
2. Tanam bibit tersebut di
polybag penanaman. Wadah
media bibit harus dibuka dulu
sebelum ditanam.
Hati-hati supaya tanah yang
menggumpal akar tidak
lepas.
Bila wadah bibit memakai
bumbungan pisang langsung
ditanam karena daun
tersebut akan hancur sendiri.
Tanam bibit bibit tepat di
bagian tengah, tambahkan
media tanahnya hingga
mencapai sekitar 2 cm bibir
polybag.
3. Padatkan permukaan media
tanah dan siram dengan air
lalu letakkan di tempat
terbuka yang terkena sinar
matahari langsung.
Pemeliharaan
Penyiraman
Lakukan penyiraman
secukupnya untuk menjaga
kelembaban media tanah.
246
Pemupukan
Lakukan pemupukan susulan :
Umur 30 hari setelah tanam : 5
gr Kcl per tanaman.
Umur 30 dan 60 hari setelah
tanam : masing-masing 1/3
bagian dari sisa campuran Urea
dan ZA pada pemupukan dasar.
Perompesan
Perompesan adalah
pembuangan cabang daun di
bawah cabang utama dan buang
bunga yang pertama kali muncul.
Pengendalian hama,penyakit,
dan gulma
Hama
Untuk mengendalikan hama lalat
buah penyebab busuk buah,
pasang jebakan yang diberi
Antraxtan.
Sedang untuk mengendalikan
serangga pengisap daun seperti
Thrips, Aphid dengan insektisida
seperti Curacron.
Jenis-jenis hama yang banyak
menyerang tanaman cabai
antara lain kutu daun dan trips.
Kutu daun menyerang tunas
muda cabai secara bergerombol.
Daun yang terserang akan
mengerut dan melingkar. Cairan
manis yang dikeluarkan kutu,
membuat semut dan embun
jelaga berdatangan. Embun
jelaga yang hitam ini sering
menjadi tanda tak langsung
serangan kutu daun.
Pengendalian kutu daun (Myzus
persicae Sulz) dengan
memberikan Furadan 3G
sebanyak 60-90 kg/ha atau
sekitar 2 sendok makan/10 m2
area.
Apabila tanaman sudah tumbuh
semprotkan Curacron 500 EC,
Nudrin 215 WSC, atau Tokuthion
500 EC. Dosisnya 2 ml/liter air.
Serangan hama trips amat
berbahaya bagi tanaman cabai,
karena hama ini juga vektor
pembawa virus keriting daun.
Gejala serangannya berupa
bercak-bercak putih di daun
karena hama ini mengisap cairan
daun tersebut. Bercak tersebut
berubah menjadi kecokelatan
dan mematikan daun.
Serangan berat ditandai dengan
keritingnya daun dan tunas.
Daun menggulung dan sering
timbul benjolan seperti tumor.
Hama trips (Thrips tabaci) dapat
dicegah dengan banyak cara
yaitu:
– Pemakaian mulsa jerami
– pergiliran tanaman
– penyiangan gulma atau
rumputan pengganggu,
dan menggenangi lahan
247
dengan air selama
beberapa waktu.
– Pemberian Furadan 3 G
pada waktu tanam seperti
pada pencegahan kutu
daun mampu mencegah
serangan hama trip juga.
Akan tetapi, untuk
tanaman yang sudah
cukup besar, dapat
disemprot dengan Nogos
50 EC, Azodrin 15 WSC,
Nuracron 20 WSC,
dosisnya 2-3 cc/1.
Penyakit
Untuk penyakit busuk buah
kering (Antraknosa) yang
disebabkan cendawan, gunakan
fungisida seperti Antracol. Dosis
dan aplikasi masing-masing obat
tersebut dapat dilihat pada
labelnya.
Adapun jenis-jenis penyakit
yang banyak menyerang cabai
antara lain antraks atau patek
yang disebabkan oleh cendawan
Colletotricum capsici dan
Colletotricum piperatum, bercak
daun (Cercospora capsici), dan
yang cukup berbahaya ialah
keriting daun (TMV, CMVm, dan
virus lainnya).
Gejala serangan antraks atau
patek ialah bercak-bercak pada
buah, buah kehitaman dan
membusuk, kemudian rontok.
Gejala serangan keriting daun
adalah:
– bercak daun ialah
bercak-bercak kecil yang
akan melebar
– Pinggir bercak berwama
lebih tua dari bagian
tengahnya. Pusat bercak
ini sering robek atau
berlubang.
– Daun berubah
kekuningan lalu gugur.
– Serangan keriting daun
sesuai namanya ditandai
oleh keriting dan
mengerutnya daun, tetapi
keadaan tanaman tetap
sehat dan segar.
Selain penyakit keriting daun,
penyakit lainnya dapat dicegah
dengan penyemprotan fungisida
Dithane M 45, Antracol, Cupravit,
Difolatan. Konsentrasi yang
digunakan cukup 0,2-0,3%.
Bila tanaman diserang penyakit
keriting daun maka tanaman
dicabut dan dibakar.
Pengendalian keriting daun
secara kimia masih sangat sulit.
248
e. Panen dan Pasca Panen
Panen
Panen cabai yang ditanam
didataran rendah lebih cepat
dipanen dibandingkan dengan
cabai dataran tinggi.
Panen pertama cabai dataran
rendah sudah dapat dilakukan
pada umur 70-75 hari.
Sedang di dataran tinggi panen
baru dapat dimulai pada umur 4-
5 bulan.
Setelah panen pertama, setiap
3-4 hari sekali dilanjutkan
dengan panen rutin.
Biasanya pada panen pertama
jumlahnya hanya sekitar 50 kg.
Panen kedua naik hingga 100
kg. Selanjutnya 150, 200, 250,
hingga 600 kg per hektar.
Setelah itu hasilnya menurun
terus, sedikit demi sedikit hingga
tanaman tidak produktif lagi.
Tanaman cabai dapat dipanen
terus-menerus hingga berumur
6-7 bulan.
Cabai yang sudah berwama
merah sebagian berarti sudah
dapat dipanen.
Ada juga petani yang sengaja
memanen cabainya pada saat
masih muda (berwarna hijau).
Pemetikan dilakukan dengan
hati-hati agar
percabangan/tangkai tanaman
tidak patah. Kriteria panennya
saat ukuran cabai sudah besar,
tetapi masih berwama hijau
penuh.
Penentuan umur panen
Umur panen cabe biasanya 70-
90 hari tergantung varietasnya,
yang ditandai dengan 60% cabe
sudah berwarna merah. Untuk
dijadikan benih maka cabe
dipanen bila buah sudah menjadi
merah semua.
Pemanenan
Pemanenan cabe dengan cara
memetik buah beserta tangkai
buahnya dan sebaiknya
dilakukan pada saat cuaca cera.
Pemanenan pada saat hujan
akan menyebabkan kadar air
cabe menjadi lebih tinggi
sehingga cabe akan lebih cepat
busuk.
Pascapanen
Cabe yang telah dipetik
diletakkan dalam keranjang
bambu yang sudah dilapisi
dengan daun pisang. Dapat juga
digunakan goni yang terbuat dari
serat atau plastik. Hal ini untuk
mengurangi tercecernya cabe
dan menghindari kerusakan
mekanis.
Untuk selanjutnya siap diangkut
dan dipasarkan.
249
Bila cabe habis untuk
dikonsumsi, tidak perlu dilakukan
pengeringan dan sebaliknya bila
produksi cabe melimpah dimana
konsumen tidak mampu untuk
menampung cabe ini, maka
perlu dilakukan pengeringan.
Pembuatan Cabe kering
Cabe yang masak dipilih yang
sehat dan mulus, kemudian
tangkainya dibuang selanjutnya
dicuci bersih agar bebas kotoran
dan pestisida.
Setelah bersih direndam dalam
larutan Natrium Bisulfit 0,2 %
yaitu dengan melarutkan 2 gram
NaBisulfit dalam 1 liter air panas
selama kurang lebih 6 menit,
sampai betul-betul terendam.
Perendaman ini untuk
mempertahankan warna cabe
kering agar tetap seperti semula.
Selesai perendaman, cabe
diangkat dan dicelupkan dalam
air dingin untuk menghentikan
pemanasan, lalu tiriskan dalam
tampah atau niru atau rak
bambu.
Kemudian dijemur di panas
matahari selama 7-10 hari
sampai kadar air 10% (supaya
lebih tahan lama, kadar air dapat
diturunkan lagi).
Pengeringan juga dapat
dilakukan dengan oven atau alat
pengering buatan.
Setelah pengeringan maka cabe
kering bisa langsung dikemas
dalam kantong plastik atau
digiling untuk dijadikan bubuk.
Kemudian simpan atau dikirim ke
daerah yang kurang produksi
cabenya sehingga penumpukan
cabe di suatu daerah pada saat
panen dapat teratasi.
250
250
9.6.4. Teknik Budidaya
Paprika
a. Pendahuluan
Paprika (Capsicum annuum)
adalah sejenis cabai yang baru
dikenal dan diusahakan di
Indonesia.
Buahnya besar dan gendut
seperti buah kesemek, rasanya
tidak pedas tetapi sedikit manis.
Benihnya banyak didatangkan
dari luar negeri, antara lain
Jepang dan Taiwan.
b. Syarat Tumbuh
Di daerah tropis seperti
Indonesia, paprika hanya dapat
tumbuh dengan baik pada
dataran tinggi dengan ketinggian
sekitar 1.500 m dpl.
Suhu yang diperlukan berkisar
antara 18-23,5°C.
Tanah yang baik untuk
pertumbuhannya adalah tanah
subur dengan kelembapan
cukup dan pH 5,5-7.
Gambar 99 Buah cabe paprika
251
251
c. Pedoman Budidaya
Persemaian
Seperti halnya cabai lain, paprika
juga dikembangbiakkan dengan
biji.
Biji-biji itu harus disemaikan
terlebih dahulu pada kotak atau
bedengan persemaian sebelum
ditanam di lapang.
Umur benih di persemaian
antara 14-21 hari.
Pengolahan tanah dan
penanaman
Tanah yang akan digunakan
dicangkul atau dibajak,
kemudian digemburkan.
Tanah itu dibuat bedengan
selebar 90 cm, tinggi 20-30 cm,
dan jarak antar bedengan 35 cm.
Berikanlah pupuk dasar pada
setiap lubang tanam.
Penanaman dapat dilakukan
setelah bedengan siap ditanami.
Jarak tanam yang digunakan
ada bermacam-macam,
tergantung jenisnya. Umumnya
orang menggunakan jarak tanam
50 x 50 cm.
Pemeliharaan
Pemeliharaan dilakukan sama
seperti pemeliharaan pada cabai
besar lainnya. Hanya saja yang
perlu diperhatikan adalah
kelembaban tanahnya harus
dijaga.
Untuk mengurangi penguapan
dari dalam tanah, tanah perlu
ditutupi mulsa. Cara lain yang
biasa dilakukan petani di
Lembang adalah tanah ditutupi
plastik.
Panen dan Pasca Panen
Pada umur sekitar 18 minggu
sejak penyemaian hingga
penanaman, paprika sudah
dapat dipanen.
Namun, tidak menutup
kemungkinan umur panen lebih
singkat jika yang diusahakan
adalah jenis yang berumur
genjah.
252
9.6.5. Teknik Budidaya
Bawang Merah
a. Pendahuluan
Bawang merah (Allium cepa)
merupakan salah satu komoditas
hortikultura yang sangat
dibutuhkan oleh manusia.
Tanaman ini digunakan sebagai
rempah dan obat. Kandungan
minyak atsirinya diduga dapat
menyebuhkan beberapa
gangguan kesehatan.
Gambar 100. Bawang marah
yang sudah
dikeringkan siap
untuk dijual.
b.Syarat Tumbuh
Bawang merah dapat tumbuh
pada tanah sawah atau tegalan,
tekstur sedang sampai liat. Jenis
tanah Alluvial, Glei Humus atau
Latosol, pH 5.6 – 6.5, ketinggian
0-400 mdpl, kelembaban 50-70
%, suhu 25-320C.
Pengolahan Tanah
Pupuk kandang disebarkan di
lahan dengan dosis 0,5-1 ton/
1000 m2, diluku kemudian digaru
(biarkan + 1 minggu)
Dibuat bedengan dengan lebar
120 -180 cm. Diantara bedengan
pertanaman dibuat saluran air
(canal) dengan lebar 40-50 cm
dan kedalaman 50 cm.
Apabila pH tanah kurang dari 5,6
diberi Dolomit dosis + 1,5 ton/ha
disebarkan di atas bedengan
dan diaduk rata dengan tanah
lalu biarkan 2 minggu.
Untuk mencegah serangan
penyakit layu taburkan GLIO 100
gr (1 bungkus GLIO) dicampur
25-50 kg pupuk kandang
matang, diamkan 1 minggu lalu
taburkan merata di atas
bedengan. ‘
Pupuk Dasar
Berikan pupuk : 2-4 kg Urea + 7-
15 kg ZA + 15-25 kg SP-36
secara merata diatas bedengan
dan diaduk rata dengan tanah.
Atau jika dipergunakan Pupuk
253
Majemuk NPK (15-15-15) dosis
± 20 kg/ 1000 m2 dicampur rata
dengan tanah di bedengan.
c.Pedoman Teknis
Pemilihan Lahan dan
Pengolahan Tanah
1. Lahan Kering :
Tanah dibajak dan dicangkul
sedalam 20 cm kemudian
diratakan. Dibuat bedengan
dengan lebar 1 – 2 m tinggi
bedengan 25 cm dan jarak antar
bedengan 20-30 cm.
2. Lahan Sawah :
– Tanah dicangkul dan
dibalik dua kali dengan
jarak waktu antara 5-7
hari
– Sisa-sisa tanaman
sebelumnya (tanaman
padi) dimusnahkan
– Dibuat bedengan
dengan lebar 1,5-1,75 m,
dibuat saluran air
sedalam 50-60 cm
dengan lebar parit 40-50
cm.
– Untuk pH tanah < 5,5
diberikan Kaptan/Dolomit
2 minggu sebelum tanam
sebanyak 1,5 ton/ha
dengan cara disebar dan
diaduk rata diatas
bedengan.
Pemilihan bibit
Bibit bawang merah dipilih yang
sehat : warna mengkilat,
kompak/tidak keropos, kulit tidak
luka dan telah disimpan 2-3
bulan setelah panen).
Kultivar atau varietas yang
dianjurkan adalah :
– Dataran rendah :
Kuning, Bima Brebes,
Bangkok, Kuning
Gombong, Klon No. 33,
Klon No. 86.
– Dataran mediun atau
tinggi :
Sumenep, Menteng, Klon
No. 88, Klon No. 33,
Bangkok2.
Pembuatan bedengan
Pembuatan bedengan untuk
pertanaman bawang merah
dilakukan sebagai berikut :
– Pada Lahan bekas
sawah dibuat bedengan
dengan lebar 1.50-1.75m.
Diantara bedengan
dibuat parit dengan lebar
0.5 m dan kedalaman 0.5
m. Tanah di atas
bedengan dicangkul
sedalam 20cm sampai
gembur.
– Pada Lahan kering
Tanah dicangkul atau
dibajak sedalam 20 cm
sampai gembur. Dibuat
254
bedengan dengan lebar
1.20m dan tinggi 25 cm.
– Jarak tanam bawang
merah pada musim
kemarau 15×15 cm atau
15×20 cm, sedang pada
musim hujan 15×20 cm
atau 20×20 cm. Jika pH
tanah kurang dari 5.6,
dilakukan pengapuran
dengan menggunakan
Kaptan atau Dolomit
minimal 2 minggu
sebelum tanam dengan
dosis 1-1.5 ton/ha.
Penanaman
Kemudian umbi bibit ditanam
dengan cara membenamkan
seluruh bagian umbi.
Penyiraman dilakukan sesuai
dengan umur tanaman :
– umur 0-10 hari, 2 x/hari
(pagi dan sore hari)
– umur 11-35 hari, 1 x/hari
(pagi hari)
– umur 36-50 hari, 1 x/hari
(pagi atau sore hari)
Jarak tanam : 20 cm x 15 cm
Umbi bibit yang siap tanam
dipotong ujungnya 1/3 bagian
umbi. Kemudian ditanam dengan
cara membenamkan 2/3 bagian
umbi kedalam tanah. Sebelum
dan sesudah tanam dilakukan
penyiraman.
Pemupukan
Pupuk dasar diberikan 1 minggu
sebelum tanam yaitu 15-20
ton.ha pupuk kandang atau 5-10
ton/ha kompos matang ditambah
200 kg/ha TSP.
Pupuk disebar dan diaduk rata
sedalam lapisan olah.
Jika umur simpan bibit yang
akan ditanam kurang dari 2
bulan, dilakukan ‘pemogesan’
(pemotongan ujung umbi) kurang
lebih 0.5 cm untuk memecahkan
masa dormansi dan
mempercepat pertumbuhan
tunas tanaman.
Pemupukan susulan dilakukan
pada umur 10-15 hari dan umur
30-35 hari setelah tanam. Jenis
dan dosis pupuk yang diberikan
adalah : Urea 75-100 kg/ha, ZA
150-250 kg/ha, Kcl 75-100 kg/ha.
Pupuk diaduk rata dan diberikan
di sepanjang garitan tanaman.
Penyiangan minimal dilakukan
dua kali/musim, yaitu menjelang
dilakukannya pemupukan
susulan.
Penyiraman
􀁸 Umur 0-10 hst : 2 kali
sehari pagi dan sore
􀁸 Umur 11-35 hst : 1 kali
sehari pada pagi hari
􀁸 Umur 36-50 hst : 1 kali
sehari pada sore hari
􀁸 Umur 50 hst : 1 kali
sehari pagi atau sore hari
255
Pendangiran dan penyiangan
Dilakukan 2 kali pada umur 10-
15 hst dan 25-35 hst, bersamaan
dengan pemberian pupuk
susulan
Pengendalian OPT (Organisme
Pengganggu Tumbuhan)
Hama
a.Hama ulat bawang
(Spodoptera spp).
Serangan hama ini ditandai
dengan bercak putih transparan
pada daun.
Pengendaliannya adalah :
– Telur dan ulat
dikumpulkan lalu
dimusnahkan
– Pasang perangkap
ngengat (feromonoid
seks) ulat bawang 40
buah/ha
– Jika intensitas kerusakan
daun lebih besar atau
sama dengan 5 % per
rumpun atau telah
ditemukan 1 paket
telur/10 tanaman,
dilakukan penyemprotan
dengan insektisida
efektif, misalnya
Hostathion 40 EC,
Cascade 50 EC, Atabron
50 EC atau Florbac.
b. Hama trip (Thrips sp.)
Gejala serangan hama thrip
ditandai dengan adanya bercak
putih beralur pada daun.
Penanganannya dengan
penyemprotan insektisida efektif,
misalnya Mesurol 50 WP atau
Pegasus 500 EC.
Penyakit
Penyakit layu Fusarium
Ditandai dengan daun
menguning, daun terpelintir dan
pangkal batang membusuk. Jika
ditemukan gejala demikian,
tanaman dicabut dan
dimusnahkan.
Penyakit otomatis atau
antraknose
Gejalanya : bercak putih pada
daun, selanjutnya terbentuk
lekukan pada bercak tersebut
yang menyebabkan daun patah
atau terkulai. Untuk
mengatasinya, semprot dengan
fungisida Daconil 70 WP atau
Antracol 70 WP.
Penyakit trotol
Ditandai dengan bercak putih
pada daun dengan titik pusat
berwarna ungu. Gunakan
fungisida efektif, antara lain
Antracol 70 WP, Daconil 70 WP,
untuk membasminya.
256
Panen dan pascapanen
Panen
Kriteria panen adalah jika > 60-
90 % daun telah rebah, pada
daerah dataran rendah
pemanenan pada umur 55-70
hari, sedangkan pada dataran
tinggi umur panen sekitar 70 -
90 hari.
Waktu panen : udara cerah,
tanah tidak basah
Untuk konsumsi : ditandai
dengan kerebahan dan atau
perubahan warna daun menjadi
kekuningan mencapai 60-70%
dataran rendah umur 50-60 hari
setelah tanam, dataran medium
umur 70-75 hst
Untuk bibit : ditandai dengan
kerebahan daun lebih dari
90%,dataran rendah umur 65-70
hst, dataran medium 80-90 hst
Hasil rata-rata : 10-12 t/ha
Pemanenan dilakukan dengan
pencabutan batang dan daundaunnya.
Selanjutnya 5-10
rumpun diikat menjadi satu
ikatan (Jawa:dipocong).
Pasca Panen
Penjemuran dengan alas
anyaman bambu (Jawa : gedeg).
Penjemuran pertama selama 5-7
hari dengan bagian daun
menghadap ke atas, tujuannya
mengeringkan daun.
Penjemuran kedua selama 2-3
hari dengan umbi menghadap ke
atas, tujuannya untuk
mengeringkan bagian umbi dan
sekaligus dilakukan pembersihan
umbi dari sisa kotoran atau kulit
terkelupas dan tanah yang
terbawa dari lapangan.
Kadar air 89 85 % baru disimpan
di gudang. Penyimpanan, ikatan
bawang merah digantungkan
pada rak-rak bambu. Aerasi
diatur dengan baik, suhu gudang
26-290C kelembaban 70-80%,
sanitasi gudang.
Untuk bawang konsumsi, waktu
panen ditandai dengan 60-70%
daun telah rebah, sedangkan
untuk bibit kerebahan daun lebih
dari 90%.
Panen dilakukan waktu udara
cerah. Pada waktu panen,
bawang merah diikat dalam
ikatan-ikatan kecil (1-1.5 kg/ikat),
kemudian dijemur selama 5-7
hari).
Setelah kering ‘askip’
(penjemuran 5-7 hari), 3-4 ikatan
bawang merah diikat menjadi
satu, kemudian bawang dijemur
dengan posisi penjemuran
bagian umbi di atas selama 3-4
hari.
Pada penjemuran tahap kedua
dilakukan pembersihan umbi
bawang dari tanah dan kotoran.
Bila sudah cukup kering (kadar
air kurang lebih 85 %), umbi
bawang merah siap dipasarkan
atau disimpan di gudang.
257
Kriteria kualitas
Kriteria kualitas yang
dikehendaki oleh konsumen
rumah tangga adalah :
– Umbi berukuran besar
– Bentuk umbi bulat
– Warna kulit merah
keunguan
– Umbi kering askip
Sedangkan konsumen luar
(untuk ekspor) yang dikehendaki
adalah :
– Umbi berukuran besar
– Bentuk umbi bulat
– Wana kulit merah muda
– Umbi kering lokal
258
No. Jenis hama/penyakit Golongan Nama Dagang Konsentrasi
Anjuran
1. Layu Fusarium di gudang
di lapang
Mankozeb
Propineb
Benomil
Dithane M45
Antracol 70 WP
Benlate 50 WP
Antracol 70 WP
10 g/10 kg umbi
10 g/10 kg umbi
10 g/10 kg umbi
2. Bercak ungu Propineb
Klorotalonil
Maneb
Mankozeb
Daconil 70 WP
Polyram M
Dithane M45
Antracol 70 WP
Daconil 70 WP
2 g/l
3 g/l
2 g/l
2 g/l
3. Otomatis atau Antraknosa
Klorotalonil
Propineb
Maneb
Mankozeb
Polyram M
Dithane M45
Atabron 50 EC
Nomolt 50 EC
Cascade 50 Ec
Bactospeine WP
2 g/l
2 g/l
2 g/l
2 g/l
4. Ulat Bawang (Spodoptera
spp.)
Klorfluazuron
Teflubenzuron
Flufenokzurona
B.thuringiensis
idem
Piretroid
Dipel WP
Decis 25 EC
Pegasus 500 SC
Mesurol 50 WP
2 g/l
2 g/l
2 g/l
2 g/l
2 g/l
0,5-1 ml/l
5. Hama Thrips
(Thrips sp.)
Benzoil Urea
Merkaptodinetur
2 ml/l
2 g/l
Tabel 14. Jenis hama penyakit pada bawang
259
9.6.6. Teknik Budidaya Jahe
a.Pendahuluan
Jahe merupakan tanaman obat
berupa tumbuhan rumpun
berbatang semu. Jahe berasal
dari Asia Pasifik yang tersebar
dari India sampai Cina. Oleh
karena itu kedua bangsa ini
disebut-sebut sebagai bangsa
yang pertama kali
memanfaatkan jahe terutama
sebagai bahan minuman, bumbu
masak dan obat-obatan
tradisional.
Jahe termasuk dalam suku
temu-temuan (Zingiberaceae),
sefamili dengan temu-temuan
lainnya seperti temu lawak
(Cucuma xanthorrizha), temu
hitam (Curcuma aeruginosa),
kunyit (Curcuma domestica),
kencur (Kaempferia galanga),
lengkuas (Languas galanga) dan
lain-lain.
Nama daerah jahe antara lain
halia (Aceh), beeuing (Gayo),
bahing (Batak Karo), sipodeh
(Minangkabau), jahi (Lampung),
jahe (Sunda), jae (Jawa dan
Bali), jhai (Madura), melito
(Gorontalo), geraka (Ternate).
b.Deskripsi
Tanaman ini merupakan
tanaman terna berbatang semu,
dengan tinggi 30 cm sampai 1
m, rimpang bila dipotong
berwarna kuning atau putih.
Daunnya sempit, panjang daun
15 – 23 mm, lebar 8 – 15 mm ;
tangkai daun berbulu, panjang 2
– 4mm.
Bentuk lidah daun memanjang,
panjang 7,5 – 10 mm, dan tidak
berbulu; sedangkan seludang
agak berbulu.
Perbungaan berupa malai
tersembul dipermukaan tanah,
berbentuk tongkat atau bundar
telur yang sempit, 2,75 – 3 kali
lebarnya, sangat tajam.
Panjang malai 3,5 – 5 cm, lebar
1,5 – 1,75 cm.
Tangkai bunga hampir tidak
berbulu, panjang 25 cm, rahis
berbulu jarang
Sisik pada gagang terdapat 5 – 7
buah, berbentuk lanset, letaknya
berdekatan atau rapat, hampir
tidak berbulu, panjang sisik
sekitar 3 – 5 cm.
260
Daun pelindung berbentuk
bundar telur terbalik,
bundar pada ujungnya, tidak
berbulu, berwarna hijau cerah,
panjang 2,5 cm, lebarnya
sekitar 1 – 1,75 cm.
Mahkota bunga berbentuk
tabung 2 – 2,5 cm, helainya
agak sempit, berbentuk tajam,
berwarna kuning kehijauan,
panjang 1,5 – 2,5 mm, lebar 3 –
3,5 mm, bibir berwarna ungu,
gelap, berbintik-bintik berwarna
putih kekuningan, panjang 12 –
15 mm.
Kepala sari berwarna ungu,
dengan panjang 9 mm.
c. Jenis-jenis Jahe
Jahe dibedakan menjadi 3 jenis
berdasarkan ukuran, bentuk dan
warna rimpangnya.
Umumnya dikenal 3 varietas
jahe, yaitu :
1. Jahe putih/kuning besar
atau disebut juga jahe
gajah atau jahe badak
Rimpangnya lebih
besar dan gemuk, ruas
rimpangnya lebih
menggembung dari
kedua varietas lainnya.
Jenis jahe ini bias
dikonsumsi baik saat
berumur muda maupun
berumur tua, baik
sebagai jahe segar
maupun jahe olahan.
2. Jahe putih/kuning kecil
atau disebut juga jahe
sunti atau jahe emprit
Ruasnya kecil, agak
rata sampai agak
sedikit menggembung.
Jahe ini selalu dipanen
setelah berumur tua.
Kandungan minyak
atsirinya lebih besar
dari pada jahe gajah,
sehingga rasanya lebih
pedas, disamping
seratnya tinggi. Jahe ini
cocok untuk ramuan
obat-obatan, atau untuk
diekstrak oleoresin dan
minyak atsirinya.
3. Jahe merah
Rimpangnya berwarna
merah dan lebih kecil
dari pada jahe putih
kecil sama seperti jahe
putih, jahe merah selalu
dipanen setelah tua,
dan juga memiliki
kandungan minyak
atsiri yang sama
dengan jahe kecil,
sehingga cocok untuk
ramuan obat-obatan.
d. Manfaat Tanaman
Rimpang jahe dapat digunakan
sebagai bumbu masak, pemberi
aroma dan rasa pada makanan
seperti roti, kue, biskuit,
kembang gula dan berbagai
minuman. Jahe juga dapat
digunakan pada industri obat,
minyak wangi, industri jamu
tradisional, diolah menjadi
asinan jahe, dibuat acar, lalap,
bandrek, sekoteng dan sirup.
261
Dewasa ini para petani cabe
menggunakan jahe sebagai
pestisida alami.
Dalam perdagangan jahe dijual
dalam bentuk segar, kering, jahe
bubuk dan awetan jahe.
Disamping itu terdapat hasil
olahan jahe seperti: minyak astiri
dan koresin yang diperoleh
dengan cara penyulingan yang
berguna sebagai bahan
pencampur dalam minuman
beralkohol, es krim, campuran
sosis dan lain-lain.
Adapun manfaat secara
pharmakologi antara lain adalah
sebagai karminatif, anti muntah,
pereda kejang, anti pengerasan
pembuluh darah, peluruh
keringat, anti inflamasi, anti
mikroba dan parasit, anti piretik,
anti rematik, serta merangsang
pengeluaran getah lambung dan
getah empedu.
e. Syarat Tumbuh
Iklim
Tanaman jahe membutuhkan
curah hujan relatif tinggi, yaitu
antara 2.500-4.000 mm/tahun.
Pada umur 2,5 sampai 7 bulan
atau lebih tanaman jahe
memerlukan sinar matahari.
Dengan kata lain penanaman
jahe dilakukan di tempat yang
terbuka sehingga mendapat
sinar matahari sepanjang hari.
Suhu udara
Suhu optimum untuk budidaya
tanaman jahe antara 20-35 oC.
Media Tanam
Tanaman jahe paling cocok
ditanam pada tanah yang subur,
gembur dan banyak
mengandung humus.
Tekstur tanah yang baik adalah
lempung berpasir, liat berpasir
dan tanah laterik
Tanaman jahe dapat tumbuh
pada keasaman tanah (pH)
sekitar 4,3-7,4. Tetapi keasaman
tanah (pH) optimum untuk jahe
gajah adalah 6,8-7,0.
5.3.
Ketinggian Tempat
Jahe tumbuh baik di daerah
tropis dan subtropis dengan
ketinggian 0 – 2.000 m dpl.
Di Indonesia pada umumnya
ditanam pada ketinggian 200 -
600 m dpl.
f. Pedoman Budidaya
Pembibitan
Persyaratan Bibit
Bibit berkualitas adalah bibit
yang memenuhi syarat mutu
genetik, mutu fisiologik
(persentase tumbuh yang tinggi),
dan mutu fisik. Yang dimaksud
dengan mutu fisik adalah bibit
yang bebas hama dan penyakit.
262
Oleh karena itu kriteria yang
harus dipenuhi antara lain:
– Bahan bibit diambil
langsung dari kebun
(bukan dari pasar)
– Dipilih bahan bibit dari
tanaman yang sudah tua
(berumur 9-10 bulan).
– Dipilih pula dari tanaman
yang sehat dan kulit
rimpang tidak terluka
atau lecet.
Teknik Penyemaian Bibit
Untuk pertumbuhan tanaman
yang serentak atau seragam,
bibit jangan langsung ditanam
sebaiknya terlebih dahulu
dikecambahkan.
Penyemaian bibit dapat
dilakukan dengan peti kayu atau
dengan bedengan.
Penyemaian pada peti kayu
Rimpang jahe yang baru
dipanen dijemur sementara
(tidak sampai kering), kemudian
disimpan sekitar 1-1,5 bulan.
Patahkan rimpang tersebut
dengan tangan dimana setiap
potongan memiliki 3-5 mata
tunas dan dijemur ulang 1/2-1
hari.
Selanjutnya potongan bakal bibit
tersebut dikemas ke dalam
karung beranyaman jarang, lalu
dicelupkan dalam larutan
fungisida dan zat pengatur
tumbuh sekitar 1 menit
kemudian keringkan.
Setelah itu dimasukkan kedalam
peti kayu. Lakukan cara
penyemaian dengan peti kayu
sebagai berikut: pada bagian
dasar peti kayu diletakkan bakal
bibit selapis, kemudian di
atasnya diberi abu gosok atau
sekam padi, demikian
seterusnya sehingga yang paling
atas adalah abu gosok atau
sekam padi tersebut. Setelah 2-4
minggu lagi, bibit jahe tersebut
sudah disemai.
Penyemaian pada bedengan
Buat rumah penyemaian
sederhana ukuran 10 x 8 m
untuk menanam bibit 1 ton
(kebutuhan jahe gajah seluas 1
ha). Di dalam rumah
penyemaian tersebut dibuat
bedengan dari tumpukan jerami
setebal 10 cm.
Rimpang bakal bibit disusun
pada bedengan jerami lalu
ditutup jerami, dan di atasnya
diberi rimpang lalu diberi jerami
pula, demikian seterusnya,
sehingga didapatkan 4 susunan
lapis rimpang dengan bagian
atas berupa jerami.
Perawatan bibit
Perawatan bibitpada bedengan
dapat dilakukan dengan
penyiraman setiap hari dan
sesekali disemprot dengan
fungisida.
263
Setelah 2 minggu, biasanya
rimpang sudah bertunas. Bila
bibit bertunas dipilih agar tidak
terbawa bibit berkualitas rendah.
Bibit hasil seleksi itu dipatahpatahkan
dengan tangan dan
setiap potongan memiliki 3-5
mata tunas dan beratnya 40-60
gram.
Penyiapan Bibit
Sebelum ditanam, bibit harus
dibebaskan dari ancaman
penyakit dengan cara bibit
tersebut dimasukkan ke dalam
karung dan dicelupkan ke dalam
larutan fungisida sekitar 8 jam.
Kemudian bibit dijemur 2-4 jam,
barulah ditanam.
Pengolahan Media Tanam
Persiapan Lahan
Untuk mendapatkan hasil panen
yang optimal harus diperhatikan
syaratsyarat tumbuh yang
dibutuhkan tanaman jahe. Bila
keasaman tanah yang ada tidak
sesuai dengan keasaman tanah
yang dibutuhkan tanaman jahe,
maka harus ditambah atau
dikurangi keasaman dengan
kapur.
Pembukaan Lahan
Pengolahan tanah diawali
dengan dibajak sedalam kurang
lebih dari 30 cm dengan tujuan
untuk mendapatkan kondisi
tanah yang gembur atau remah
dan membersihkan tanaman
pengganggu.
Setelah itu tanah dibiarkan 2-4
minggu agar gas-gas beracun
menguap serta bibit penyakit
dan hama akan mati terkena
sinar matahari.
Apabila pada pengolahan tanah
pertama dirasakan belum juga
gembur, maka dapat dilakukan
pengolahan tanah yang kedua
sekitar 2-3 minggu sebelum
tanam dan sekaligus diberikan
pupuk kandang dengan dosis
1.500-2.500 kg.
Pembentukan Bedengan
Pada daerah-daerah yang
kondisi air tanahnya jelek dan
sekaligus untuk encegah
terjadinya genangan air,
sebaiknya tanah diolah menjadi
bedengan-bedengan engan
ukuran tinggi 20-30 cm, lebar 80-
100 cm, sedangkan anjangnya
disesuaikan dengan kondisi
lahan.
Pengapuran
Pada tanah dengan pH rendah,
sebagian besar unsur-unsur
hara didalamnya, Terutama
fosfor (p) dan calcium (Ca)
dalam keadaan tidak tersedia
atau sulit diserap.
Kondisi tanah yang masam ini
dapat menjadi media
perkembangan beberapa
cendawan penyebab penyakit
fusarium sp dan pythium sp.
Pengapuran juga berfungsi
menambah unsur kalium yang
sangat diperlukan tanaman
264
untuk mengeraskan bagian
tanaman yang berkayu,
merangsang pembentukan bulubulu
akar, mempertebal dinding
sel buah dan merangsang
pembentukan biji.
Adapun dosis kapur yang
dibutuhkan berdasarkan tingkat
kemasaman tanahnya adalah
sebagai berikut:
– Derajat keasaman < 4
(paling asam): kebutuhan
dolomit > 10 ton/ha.
– Derajat keasaman 5
(asam): kebutuhan
dolomit 5.5 ton/ha.
– Derajat keasaman 6
(agak asam): kebutuhan
dolomit 0.8 ton/ha.
6.3.
Teknik Penanaman dan
Pemeliharaan Tanaman
Penentuan Pola Tanaman
Pembudidayaan jahe secara
monokultur pada suatu daerah
tertentu memang dinilai cukup
rasional, karena mampu
memberikan produksi dan
produksi tinggi.
Namun di daerah,
pembudidayaan tanaman jahe
secara monokultur kurang dapat
diterima karena selalu
menimbulkan kerugian.
Penanaman jahe secara
tumpangsari dengan tanaman
lain mempunyai keuntungankeuntungan
sebagai berikut :
– Mengurangi kerugian
yang disebabkan naik
turunnya harga.
– Menekan biaya kerja,
seperti: tenaga kerja
pemeliharaan tanaman.
– Meningkatkan
produktivitas lahan.
– Memperbaiki sifat fisik
dan mengawetkan tanah
akibat rendahnya
pertumbuhan gulma
(tanaman pengganggu).
Praktek di lapangan, ada jahe
yang ditumpangsarikan dengan
sayursayuran, seperti ketimun,
bawang merah, cabe rawit,
buncis dan lain-lain. Ada juga
yang ditumpangsarikan dengan
palawija, seperti jagung, kacang
tanah dan beberapa kacangkacangan
lainnya.
Pembuatan Lubang Tanam
Untuk menghindari pertumbuhan
jahe yang jelek, karena kondisi
air tanah yang buruk, maka
sebaiknya tanah diolah menjadi
bedengan-bedengan.
Selanjutnya buat lubang-lubang
kecil atau alur sedalam 3-7,5 cm
untuk menanam bibit.
Cara Penanaman
Cara penanaman dilakukan
dengan cara melekatkan bibit
265
rimpang secara rebah ke dalam
lubang tanam atau alur yang
sudah disiapkan.
Periode Tanam
Penanaman jahe sebaiknya
dilakukan pada awal musim
hujan sekitar bulan September
dan Oktober. Hal ini
dimungkinkan karena tanaman
muda akan membutuhkan air
cukup banyak untuk
pertumbuhannya.
Pemeliharaan Tanaman
Penyulaman
Sekitar 2-3 minggu setelah
tanam, hendaknya diadakan
untuk melihat rimpang yang
mati. Bila demikian harus segera
dilaksanakan penyulaman gar
pertumbuhan bibit sulaman itu
tidak jauh tertinggal dengan
tanaman lain, maka sebaiknya
dipilih bibit rimpang yang baik
serta pemeliharaan yang benar.
Penyiangan
Penyiangan pertama dilakukan
ketika tanaman jahe berumur 2-4
minggu kemudian dilanjutkan 3-6
minggu sekali. Tergantung pada
kondisi tanaman pengganggu
yang tumbuh. Namun setelah
jahe berumur 6-7 bulan,
sebaiknya tidak perlu dilakukan
penyiangan lagi, sebab pada
umur tersebut rimpangnya mulai
besar.
Pembubunan
Tanaman jahe memerlukan
tanah yang peredaran udara dan
air dapat berjalan dengan baik,
maka tanah harus digemburkan.
Disamping itu tujuan
pembubunan untuk menimbun
rimpang jahe yang kadangkadang
muncul ke atas
permukaan tanah.
Apabila tanaman jahe masih
muda, cukup tanah dicangkul
tipis di sekeliling rumpun dengan
jarak kurang lebih 30 cm. Pada
bulan berikutnya dapat
diperdalam dan diperlebar setiap
kali pembubunan akan
berbentuk gubidan dan sekaligus
terbentuk sistem pengairan yang
berfungsi untuk menyalurkan
kelebihan air.
Pertama kali dilakukan
pembumbunan pada waktu
tanaman jahe berbentuk rumpun
yang terdiri atas 3-4 batang
semu, umumnya pembubunan
dilakukan 2-3 kali selama umur
tanaman jahe.
Namun tergantung kepada
kondisi tanah dan banyaknya
hujan.
Pemupukan
Pemupukan Organik
Pada pertanian organik yang
tidak menggunakan bahan kimia
termasuk pupuk buatan dan
obat-obatan, maka pemupukan
266
secara organik yaitu dengan
menggunakan pupuk kompos
organik atau pupuk kandang
dilakukan lebih sering
dibandingkan dengan kalau kita
menggunakan pupuk buatan.
Adapun pemberian pupuk
kompos organik ini dilakukan
pada awal pertanaman pada
saat pembuatan guludan
sebagai pupuk dasar sebanyak
60 – 80 ton per hektar yang
ditebar dan dicampur tanah
olahan.
Untuk menghemat pemakaian
pupuk kompos dapat juga
dilakukan dengan jalan mengisi
tiap-tiap lobang tanam di awal
pertanaman sebanyak 0.5 – 1kg
per tanaman.
Pupuk sisipan selanjutnya
dilakukan pada umur 2 – 3
bulan, 4 – 6 bulan, dan 8 – 10
bulan.
Adapun dosis pupuk sisipan
sebanyak 2 – 3 kg per tanaman.
Pemberian pupuk kompos ini
biasanya dilakukan setelah
kegiatan penyiangan dan
bersamaan dengan kegiatan
pembubunan.
Pemupukan Konvensional
Selain pupuk dasar (pada awal
penanaman), tanaman jahe
perlu diberi pupuk susulan kedua
(pada saat tanaman berumur 2-4
bulan).
Pupuk dasar yang digunakan
adalah pupuk organik 15-20
ton/ha. Pemupukan tahap kedua
digunakan pupuk kandang dan
pupuk buatan (urea 20
gram/pohon; TSP 10
gram/pohon; dan ZK 10
gram/pohon), serta K2O (112
kg/ha) pada tanaman yang
berumur 4 bulan.
Pemupukan juga dilakukan
dengan pupuk nitrogen (60
kg/ha), P2O5 (50 kg/ha), dan
K2O (75 kg/ha). Pupuk P
diberikan pada awal tanam,
pupuk N dan K diberikan pada
awal tanam (1/3 dosis) dan
sisanya (2/3 dosis) diberikan
pada saat tanaman berumur 2
bulan dan 4 bulan.
Pupuk diberikan dengan
ditebarkan secara merata di
sekitar tanaman atau dalam
bentuk alur dan ditanam di selasela
tanaman.
Pengairan dan Penyiraman
Tanaman Jahe tidak
memerlukan air yang terlalu
banyak untuk pertumbuhannya,
akan tetapi pada awal masa
tanam diusahakan penanaman
pada awal musim hujan sekitar
bulan September.
Waktu Penyemprotan Pestisida
Penyemprotan pestisida
sebaiknya dilakukan mulai dari
saat penyimpanan bibit yang
untuk disemai dan pada saat
pemeliharaan. Penyemprotan
pestisida pada fase
pemeliharaan biasanya
dicampur dengan pupuk organik
267
cair atau vitamin-vitamin yang
mendorong pertumbuhan jahe.
Hama dan penyakit
Hama
Hama yang dijumpai pada
tanaman jahe adalah:
1. Kepik, menyerang daun
tanaman hingga
berlubang-lubang.
2. Ulat penggesek akar,
menyerang akar
tanaman jahe hingga
menyebabkan tanaman
jahe menjadi kering dan
mati.
3. Kumbang.
Penyakit
Penyakit layu bakeri
Gejala:
Mula-mula helaian daun bagian
bawah melipat dan menggulung
kemudian terjadi perubahan
warna dari hijau menjadi kuning
dan mengering. Kemudian tunas
batang menjadi busuk dan
akhirnya tanaman mati rebah.
Bila diperhatikan, rimpang yang
sakit itu berwarna gelap dan
sedikit membusuk, kalau
rimpang dipotong akan keluar
lendir berwarna putih susu
sampai kecoklatan.
Penyakit ini menyerang tanaman
jahe pada umur 3-4 bulan dan
yang paling berpengaruh adalah
faktor suhu udara yang dingin,
genangan air dan kondisi tanah
yang terlalu lembab.
Pengendalian:
Jaminan kesehatan bibit jahe;
– karantina tanaman jahe
yang terkena penyakit;
– pengendalian dengan
pengolahan tanah yang
baik;
– pengendalian fungisida
dithane M-45 (0,25%),
Bavistin (0,25%)
Penyakit busuk rimpang
Penyakit ini dapat masuk ke bibit
rimpang jahe melalui lukanya. Ia
akan tumbuh dengan baik pada
suhu udara 20-25 derajat C dan
terus berkembang akhirnya
menyebabkan rimpang menjadi
busuk.
Gejala :
Daun bagian bawah yang
berubah menjadi kuning lalu layu
dan akhirnya tanaman mati.
Pengendalian:
– penggunaan bibit yang
sehat;
– penerapan pola tanam
yang baik;
– penggunaan fungisida.
Penyakit bercak daun
Penyakit ini dapat menular
dengan bantuan angin, akan
masuk melalui luka maupun
tanpa luka.
268
Gejala:
Pada daun yang bercak-bercak
berukuran 3-5 mm, selanjutnya
bercakbercak itu berwarna abuabu
dan ditengahnya terdapat
bintik-bintik berwarna hitam,
sedangkan pinggirnya busuk
basah. Tanaman yang terserang
bisa mati.
Pengendalian :
Tindakan pencegahan maupun
penyemprotan penyakit bercak
daun sama halnya dengan caracara
yang dijelaskan di atas.
Gulma
Gulma potensial pada
pertanaman temu lawak adalah
gulma kebun antara lain adalah
rumput teki, alang-alang,
ageratum, dan gulma berdaun
lebar lainnya.
Pengendalian hama/penyakit
secara organik
Dalam pertanian organik yang
tidak menggunakan bahanbahan
kimia berbahaya
melainkan dengan bahan-bahan
yang ramah lingkungan biasanya
dilakukan secara terpadu sejak
awal pertanaman untuk
menghindari serangan hama dan
penyakit tersebut yang dikenal
dengan PHT (Pengendalian
Hama
Terpadu) yang komponennya
adalah sbb:
– Mengusahakan
pertumbuhan tanaman
yang sehat yaitu memilih
bibit unggul yang sehat
bebas dari hama dan
penyakit serta tahan
terhadap serangan hama
dari sejak awal
pertanaman.
– Memanfaatkan
semaksimal mungkin
musuh-musuh alami.
– Menggunakan varietasvarietas
unggul yang
tahan terhadap serangan
hama dan penyakit.
– Menggunakan
pengendalian
fisik/mekanik yaitu
dengan tenaga manusia.
– Menggunakan teknikteknik
budidaya yang
baik misalnya budidaya
tumpang sari dengan
pemilihan tanaman yang
saling menunjang, serta
rotasi tanaman pada
setiap masa tanamnya
untuk memutuskan siklus
penyebaran hama dan
penyakit potensial.
– Penggunaan pestisida,
insektisida, herbisida
alami yang ramah
lingkungan dan tidak
menimbulkan residu
toksik baik pada bahan
tanaman yang dipanen
ma maupun pada tanah.
Disamping itu penggunaan
bahan ini hanya dalam keadaan
269
darurat berdasarkan aras
kerusakan ekonomi yang
diperoleh dari hasil pengamatan.
Beberapa tanaman yang dapat
dimanfaatkan sebagai pestisida
nabati dan digunakan dalam
pengendalian hama antara lain
adalah:
– Tembakau (Nicotiana
tabacum) yang
mengandung nikotin
untuk insektisida kontak
sebagai fumigan atau
racun perut. Aplikasi
untuk serangga kecil
misalnya Aphids
– Piretrum
(Chrysanthemum
cinerariaefolium) yang
mengandung piretrin
yang dapat digunakan
sebagai insektisida
sistemik yang menyerang
urat syaraf pusat yang
aplikasinya dengan
semprotan. Aplikasi pada
serangga seperti lalat
rumah, nyamuk, kutu,
hama gudang, dan lalat
buah.
– Tuba (Derris elliptica dan
Derris malaccensis) yang
mengandung rotenone
untuk insektisida kontak
yang diformulasikan
dalam bentuk hembusan
dan semprotan.
– Neem tree atau mimba
(Azadirachta indica) yang
mengandung
azadirachtin yang
bekerjanya cukup
selektif. Aplikasi racun ini
terutama pada serangga
penghisap seperti wereng
dan serangga pengunyah
seperti hama penggulung
daun (Cnaphalocrocis
medinalis). Bahan ini juga
efektif untuk
menanggulangi serangan
virus RSV, GSV dan
Tungro.
– Bengkuang (Pachyrrhizus
erosus) yang bijinya
mengandung rotenoid
yaitu pakhirizida yang
dapat digunakan sebagai
insektisida dan larvasida.
– Jeringau (Acorus
calamus) yang
rimpangnya mengandung
komponen utama asaron
dan biasanya digunakan
untuk racun serangga
dan pembasmi
cendawan, serta hama
gudang Callosobrocus.
Panen dan Pascapanen
Panen
Ciri dan Umur Panen
Pemanenan dilakukan
tergantung dari penggunaan
jahe itu sendiri.
Bila kebutuhan untuk bumbu
penyedap masakan, maka
tanaman jahe sudah bisa
ditanam pada umur kurang lebih
4 bulan dengan cara
270
mematahkan sebagian rimpang
dan sisanya dibiarkan sampai
tua.
Apabila jahe untuk dipasarkan
maka jahe dipanen setelah
cukup tua. Umur tanaman jahe
yang sudah bisa dipanen antara
10-12 bulan, dengan ciri-ciri
warna daun berubah dari hijau
menjadi kuning dan batang
semua mengering. Misal
tanaman jahe gajah akan
mengering pada umur 8 bulan
dan akan berlangsung selama
15 hari atau lebih.
Cara Panen
Cara panen yang baik, tanah
dibongkar dengan hati-hati
menggunakan alat garpu atau
cangkul, diusahakan jangan
sampai rimpang jahe terluka.
Selanjutnya tanah dan kotoran
lainnya yang menempel pada
rimpang dibersihkan dan bila
perlu dicuci. Sesudah itu jahe
dijemur di atas papan atau daun
pisang kira-kira selama 1
minggu. Tempat penyimpanan
harus terbuka, tidak lembab dan
penumpukannya jangan terlalu
tinggi melainkan agak disebar.
Periode Panen
Waktu panen sebaiknya
dilakukan sebelum musim hujan,
yaitu diantara bulan Juni –
Agustus.
Saat panen biasanya ditandai
dengan mengeringnya bagian
atas tanah. Namun demikian
apabila tidak sempat dipanen
pada musim kemarau tahun
pertama ini sebaiknya dilakukan
pada musim kemarau tahun
berikutnya.
Pemanenan pada musim hujan
menyebabkan rusaknya rimpang
dan menurunkan kualitas
rimpang sehubungan dengan
rendahnya bahan aktif karena
lebih banyak kadar airnya.
Perkiraan Hasil Panen
Produksi rimpang segar untuk
klon jahe gajah berkisar antara
15-25 ton/hektar, sedangkan
untuk klon jahe emprit atau jahe
sunti berkisar antara 10-15
ton/hektar.
Pascapanen
Penyortiran Basah dan
Pencucian
Sortasi pada bahan segar
dilakukan untuk memisahkan
rimpang dari kotoran berupa
tanah, sisa tanaman, dan gulma.
Setelah selesai, timbang jumlah
bahan hasil penyortiran dan
tempatkan dalam wadah plastik
untuk pencucian.
Pencucian dilakukan dengan air
bersih, jika perlu disemprot
dengan air bertekanan tinggi.
Amati air bilasannya dan jika
masih terlihat kotor lakukan
pembilasan sekali atau dua kali
lagi.
271
Hindari pencucian yang terlalu
lama agar kualitas dan senyawa
aktif yang terkandung didalam
tidak larut dalam air.
Pemakaian air sungai harus
dihindari karena dikhawatirkan
telah tercemar kotoran dan
banyak mengandung
bakteri/penyakit.
Setelah pencucian selesai,
tiriskan dalam tray/wadah yang
belubang-lubang agar sisa air
cucian yang tertinggal dapat
dipisahkan, setelah itu
tempatkan dalam wadah
plastik/ember.
Perajangan
Jika perlu proses perajangan,
lakukan dengan pisau stainless
steel dan alasi bahan yang akan
dirajang dengan talenan.
Perajangan rimpang dilakukan
melintang dengan ketebalan
kira-kira 5 mm – 7 mm. Setelah
perajangan, timbang hasilnya
dan taruh dalam wadah
plastik/ember. Perajangan dapat
dilakukan secara manual atau
dengan mesin pemotong.
Pengeringan
Pengeringan dapat dilakukan
dengan 2 cara, yaitu dengan
sinar matahari atau alat
pemanas/oven. pengeringan
rimpang dilakukan selama 3 – 5
hari, atau setelah kadar airnya
dibawah 8%. pengeringan
dengan sinar matahari dilakukan
diatas tikar atau rangka
pengering, pastikan rimpang
tidak saling
menumpuk.
Selama pengeringan harus
dibolak-balik kira-kira setiap 4
jam sekali agar pengeringan
merata. Lindungi rimpang
tersebut dari air, udara yang
lembab dan dari bahan-bahan
disekitarnya yang bisa
mengkontaminasi. Pengeringan
di dalam oven dilakukan pada
suhu 50oC – 60oC.
Rimpang yang
akan dikeringkan ditaruh di atas
tray oven dan pastikan bahwa
rimpang tidak saling menumpuk.
Setelah pengeringan, timbang
jumlah rimpang yang dihasilkan
Penyortiran Kering
Selanjutnya lakukan sortasi
kering pada bahan yang telah
dikeringkan dengan cara
memisahkan bahan-bahan dari
benda-benda asing seperti
kerikil, tanah atau kotorankotoran
lain. Timbang jumlah
rimpang hasil penyortiran ini
(untuk menghitung
rendemennya).
Pengemasan
Setelah bersih, rimpang yang
kering dikumpulkan dalam
wadah kantong plastik atau
karung yang bersih dan kedap
udara (belum pernah dipakai
sebelumnya).
Berikan label yang jelas pada
wadah tersebut, yang
272
menjelaskan nama bahan,
bagian dari tanaman bahan itu,
nomor/kode produksi,
nama/alamat penghasil, berat
bersih dan metode
penyimpanannya.
Penyimpanan
Kondisi gudang harus dijaga
agar tidak lembab dan suhu
tidak melebihi 30oC dan gudang
harus memiliki ventilasi baik dan
lancar, tidak bocor, terhindar dari
kontaminasi bahan lain yang
menurunkan kualitas bahan
yang bersangkutan, memiliki
penerangan yang cukup (hindari
dari sinar matahari langsung),
serta bersih dan terbebas dari
hama gudan
273
9.6.7. TEKNIK BUDIDAYA
SELEDRI
a.Klasifikasi
Kingdom: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Apiales
Famili: Apiaceae
Genus: Apium
Spesies: A. graveolens
b.Komposisi :
Seledri mempunyai banyak
kandungan gizi antara lain, (per
100 gr):
a. kalori sebanyak 20 kalori,
b. protein 1 gram
c. lemak 0,1 gram
d. hidrat arang 4,6 gram
e. kalsium 50 mg
f. fosfor 40 mg
g. besi 1 mg
h. Vitamin A 130 SI
i. Vitamin B1 0,03 mg
j. Vitamin C 11 mg Dan 63%
bagian dapat dimakan.
Daun seledri juga banyak
mengandung apiin, di samping
substansi diuretik yang
bermanfaat untuk menambah
jumlah air kencing.
c. Deskripsi
Terna tegak, tahunan, tinggi 25-
100 cm. Batang bersegi dan
beralur membujur. Bunga
banyak, kecil-kecil, berwarna
putih atau putih kehijauan.
Dapat dibudidayakan di manamana
dari dataran rendah
sampai dataran tinggi, menyukai
tempat yang lembab dan subur.
Sering ditanam dalam pot.
Gambar 101. Seledri daun yang
ditanam dalam pot
274
Ada tiga kelompok seledri yang
dibudidayakan:
􀁸 Seledri daun atau seledri
iris (A. graveolens
Kelompok secalinum)
yang biasa diambil
daunnya dan banyak
dipakai di masakan
Indonesia.
􀁸 Seledri tangkai (A.
graveolens Kelompok
dulce) yang tangkai
daunnya membesar dan
beraroma segar,
biasanya dipakai sebagai
komponen salad.
Seledri umbi (A. graveolens
Kelompok rapaceum), yang
membentuk umbi di permukaan
tanah; biasanya digunakan
dalam sup, dibuat semur, atau
schnitzel. Umbi ini kaya
provitamin A dan K
Gambar 102. Penampang
tangkai daun dari
seledri tangkai
d. Manfaat
Daun-daunnya digunakan
sebagai penambah aroma/rasa
pada masakan, juga sebagai
sayuran atau sebagai salad.
Selain itu, tanaman ini banyak
mengandung vitamin A, C, dan
zat besi., dan berkhasiat sebagai
obat rematik.
e.Syarat Tumbuh
Seledri merupakan tanaman
dataran tinggi yang dapat
tumbuh baik pada kisaran suhu
7-16° C. Tanah yang baik untuk
areal penanamannya adalah
yang subur dan gembur dengan
pH 5,5-6,8.
f.Pedoman Budidaya
Persemaian
Seledri dikembangbiakkan
dengan biji. Oleh karena itu,
untuk mendapat pertumbuhan
dan produksi yang baik, maka
harus ditunjang dengan benih
yang baik pula.
Beberapa jenis seledri seperti
parsley dan celery, bibitnya
umumnya didatangkan dari luar
negeri. Sebelum disemaikan,
sebaiknya biji seledri direndam
dalam air dengan suhu 50° C
selama 15 menit untuk
merangsang perkecambahan.
Benih-benih ini kemudian
ditaburkan pada alur-alur dalam
kotak atau bedeng persemaian.
Jarak antaralur 2 cm dan
dalamnya 1 cm. Alur lalu ditutup
275
setipis mungkin dengan tanah
agar mudah berkecambah.
Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah dilakukan
sebelum tanaman di persemaian
dipindahkan ke lahan.
Tanah dibajak atau dicangkul,
diberi pupuk kandang sebanyak
15 ton/ha, digemburkan, serta
dibuat bedengan-bedengan.
Lebar bedengan lm dan
panjangnya disesuaikan dengan
keadaan lahan.
Bedengan-bedengan itu
kemudian disiram dengan air
secukupnya, lalu didiamkan
selama seminggu sehingga
reaksi-reaksi di dalam tanah
menjadi stabil.
Penanaman
Setelah berumur 2 minggu, bibit
seledri sudah dapat dipindahkan
ke bedengan yang telah
disiapkan. Jarak tanam yang
digunakan tergantung jenisnya,
tetapi umumnya digunakan jarak
tanam (40 x 40) cm.
Pemeliharaan
Pemupukan
Selain penggunaan pupuk
kandang sebagai pupuk dasar,
tanah juga perlu diberi pupuk
susulan berupa pupuk buatan,
yaitu urea 435 kg/ha, TSP 400
kg/ha, dan KCl 300 kg/ha.
Hama dan Penyakit
Hama
Hama yang sering menyerang
pertanaman seledri adalah
sebagai berikut.
Nematoda
Bagian tanaman yang diserang
adalah akar sehingga tampak
berbintil-bintil besar atau kecil.
Keadaan ini akan mengganggu
aktivitas akar dalam penyerapan
air dan unsur-unsur hara yang
diperlukan tanaman. Serangan
yang berat pada saat tanaman
muda dapat menyebabkan
tanaman tumbuh kerdil. Hama ini
dapat dikendalikan dengan
insektisida Curacron dengan
dosis 1,3 cc/liter air.
Kutu Daun (Aphid)
Hama ini menimbulkan
kerusakan pada daun. Daun
muda yang terserang menjadi
kuning dan akhirnya mengering.
Akibatnya, pertumbuhan
tanaman terhambat. Hama ini
dapat diberantas dengan
insektisida Basudin 60 EC
dengan dosis 2 cc/1 air.
Penyakit
Penyakit pada seledri berupa
bercak-bercak klorosis dan
nekrosis yang bisa meluas pada
daun dan tangkai daun. Pada
bagian yang mengalami nekrosis
tampak bintik-bintik hitam.
Sedangkan pada tangkai daun
bercak cokelat tampak
memanjang. Penyakit ini
276
dinamakan late night yang
disebabkan oleh cendawan
Septoria sp.
Penyakit lain yang juga sering
menyerang adalah bakterial soft
rot yang disebabkan oleh
Erwinia carotovora. Penyakit ini
dapat dikendalikan dengan
penyemprotan Dhitane dengan
dosis 1,5 g/1 air.
Namun, jika tanaman telah
terserang, sebaiknya dicabut
dan dimusnahkan.
g.Panen dan Pasca Panen
Seledri mulai dapat dipanen
pada umur 6-8 minggu setelah
tanam.
Yang dipanen adalah daun yang
tidak terlalu tua dan tidak terlalu
muda.
Parsley dapat dipanen beberapa
kali hingga mencapai umur
maksimum 5 bulan, biasanya
satu tanaman dapat dipanen 6-
8.helai daun.
Sedangkan celery dipanen
dengan cara dipotong.
277
9.6.8. Teknik Budidaya Wortel
Family Apiaceae
a.Deskripsi
Sayuran ini sudah sangat
dikenal masyarakat Indonesia
dan populer sebagai sumber vit.
A karena memiliki kadar
karotena (provitamin A).
Selain itu, wortel juga
mengandung vit. B, vit. C, sedikit
vit. G, serta zat-zat lain yang
bermanfaat bagi kesehatan
manusia.
Sosok tanamannya berupa
rumput dan menyimpan
cadangan makanannya di dalam
umbi.
Mempunyai batang pendek,
berakar tunggang yang bentuk
dan fungsinya berubah menjadi
umbi bulat dan memanjang.
Umbi berwarna kuning kemerahmerahan,
berkulit tipis, dan jika
dimakan mentah terasa renyah
dan agak manis.
b.Syarat Tumbuh
Wortel merupakan tanaman
subtropis yang memerlukan
suhu dingin (22-24° C), lembap,
dan cukup sinar matahari.
Di Indonesia kondisi seperti itu
biasanya terdapat di daerah
berketinggian antara 1.200-
1.500 m dpl.
Sekarang wortel sudah dapat
ditanam di daerah berketinggian
600 m dpl. Dianjurkan untuk
menanam wortel pada tanah
yang subur, gembur dan kaya
humus dengan pH antara 5,5-
6,5.
Tanah yang kurang subur masih
dapat ditanami wortel asalkan
dilakukan pemupukan intensif.
Kebanyakan tanah dataran tinggi
di Indonesia mempunyai pH
rendah. Bila demikian, tanah
perlu dikapur, karena tanah yang
asam menghambat
perkembangan umbi.
Pedoman Budidaya
Pengolahan Tanah
Tanah yang akan ditanami
wortel diolah sedalam 30-40 cm.
Tambahkan pupuk kandang
sebanyak 1,5 kg/m2 agar tanah
cukup subur. Bila tanah
termasuk miskin unsur hara
dapat ditambahkan pupuk urea
100 kg/ha, TSP 100 kg/ha, dan
KCl 30 kg/ha.
278
Selanjutnya dibuatkan bedengan
selebar 1,5-2 m dan panjangnya
disesuaikan dengan lahan.
Tinggi bedengan di tanah kering
adalah 15 cm, sedangkan untuk
tanah yang terendam, tinggi
bedengan dapat lebih tinggi lagi.
Di antara bedengan perlu
dibuatkan parit selebar sekitar
25 cm untuk memudahkan
penanaman dan pemeliharaan
tanaman.
Penanaman
Kebutuhan benih wortel adalah
15-20 g/10 m2 atau 15-20 kg/ha.
Benih wortel yang baik dapat
dibeli di toko-toko tanaman atau
membenihkan sendiri dari
tanaman yang tua. J
ika membeli, pilihlah benih yang
telah bersertifikat. Benih wortel
dapat langsung disebarkan
tanpa disemai dahulu.
Sebelumnya, benih direndam
dalam air sekitar 12-24 jam
untuk membantu proses
pertumbuhan. Kemudian, benih
dicampur dengan sedikit pasir,
lalu digosok-gosokkan agar
benih mudah disebar dan tidak
melekat satu sama lain. Benih
ditabur di sepanjang alur dalam
bedengan dengan bantuan alat
penugal, lalu benih ditutupi tanah
tipis-tipis.
Berikutnya, bedengan segera
ditutup dengan jerami atau daun
pisang untuk menjaga agar
benih tidak hanyut oleh air.
Jika tanaman telah tumbuh
(antara 10-14 hari), jerami atau
daun pisang segera diangkat.
Pemeliharaan
Penyiraman
Setelah tanaman tumbuh segera
dilakukan pemeliharaan.
Pemeliharaan pertama adalah
penyiraman yang dapat
dilakukan sekali sehari atau dua
kali sehari jika udara sangat
kering.
Cara pemberian air yang lain
ialah dengan jalan menggenangi
parit di antara bedengan. Cara
seperti ini dapat dilakukan bila
terdapat saluran drainase.
Penjarangan
Tanaman yang telah tumbuh
harus segera diseleksi. Caranya
cabutlah tanaman yang lemah
atau kering, tinggalkan tanaman
yang sehat dan kokoh. Tindakan
ini sekaligus diikuti dengan
penjarangan yang berguna untuk
memberikan jarak dalam alur
dan menjaga tercukupinya sinar
matahari sehingga tanaman
tumbuh subur.
Penjarangan menghasilkan alur
yang rapi berjarak antara 5- 10
cm.
Pemupukan
Pemeliharaan selanjutnya
adalah pemupukan yang sudah
dapat dilakukan sejak tanaman
berumur dua minggu berupa 50
kg Urea/ha, disusul pemberian
279
kedua (1 atau 1,5 bulan
kemudian) berupa urea
sebanyak SO kg/ha dan KCl 20
kg/ha.
Dosis dapat berubah sesuai
kondisi tanah dan rekomendasi
pemupukan yang ada.
Cara pemupukan adalah dengan
menaburkan pupuk pada alur
sedalam 2 cm yang dibuat
memanjang berjarak sekitar 5
cm dari alur tanaman. Ketika
tanaman berumur satu bulan
perlu dilakukan penyiangan dan
pendangiran. Tujuannya agar
tanaman tidak terganggu oleh
gulma dan menjaga agar akar
tanaman tidak terkena sinar
matahari secara langsung.
Hama dan Penyakit
Hama
Ada beberapa hama yang
penting diketahui karena sering
menyerang tanaman wortel di
Indonesia, di antaranya sebagai
berikut.
Manggot-manggot (Psila rosae)
Umbi wortel yang terserang
memperlihatkan gejala
kerusakan (berlubang dan
membusuk) akibat gigitan pada
umbi.
Penyebab kerusakan ini adalah
sejenis lalat wortel yang disebut
manggot-manggot (Psila rosae).
Periode aktif perusakan adalah
saat larva lalat ini memakan
umbi selama 5-7 minggu
sebelum berubah menjadi
kepompong. Umbi yang telah
terserang tidak dapat di perbaiki,
sebaiknya dicabut dan dibuang.
Pencegahannya, saat tanaman
wortel masih muda disiram
dengan larutan Polydo120 g
dicampur air sebanyak 100 liter.
Untuk lebih meyakinkan
hasilnya, pemberian Polydol
diulangi lagi 10 hari kemudian.
Semiaphis dauci
Serangan hama ini ditandai
dengan terhentinya
pertumbuhan, tanaman menjadi
kerdil, daun-daun menjadi
keriting, dan dapat
menyebabkan kematian. Hama
ini umumnya menyerang
tanaman muda sehingga
menyebabkan kerugian besar.
Hama perusak ini adalah
serangga berwarna abu-abu
bernama Semiaphis dauci.
Pemberantasan dan
pengendaliannya dilakukan
dengan menyemprotkan Polydol
20 g dicampur air 100 liter. Atau
dapat pula menggunakan
Metasyttox 50 g dicampur air
100 liter.
Penyakit
Penyakit tanaman wortel yang
dianggap penting antara lain
sebagai berikut.
Bercak daun cercospora
Penyakit ini ditandai dengan
bercak-bercak bulat atau
memanjang yang banyak
280
terdapat di pinggir daun
sehingga daun mengeriting
karena bagian yang terserang
tidak sama pertumbuhannya
dibanding bagian yang sehat.
Penyebab penyakit ini adalah
jamur Cercospora carotae
(Pass).
Penyebarannya dibantu oleh
angin. Bagian tanaman yang
lebih dahulu terserang adalah
daun muda. Pengendaliannya
dengan menanam biji yang
sehat, menjaga sanitasi,
tanaman yang telah terserang
dicabut dan dipendam, serta
pergiliran tanaman.
Cara pengendalian yang lain
adalah dengan menyemprotkan
fungisida yang mengandung
zineb dan maneb, yaitu Velimex
80 WP sebanyak 2-2,5 g/1
dengan volume semprot 400-800
1/ha.
Busuk hitam (hawar daun)
Gejala penyakit ini ditandai
dengan bercak-bercak kecil
berwarna cokelat tua sampai
hitam bertepi kuning pada daun.
Bercak dapat membesar dan
bersatu sehingga mematikan
daun-daun (menghitam).
Tangkai daun yang terinfeksi
menyebabkan terjadinya bercak
memanjang berwarna seperti
karat. Gejala pada akar baru
tampak setelah umbi akar
disimpan. Pada akar timbul
bercak berbentuk bulat dan tidak
teratur, agak mengendap
dengan kedalaman sekitar 3
mm. Jaringan yang busuk
berwarna hitam kehijauan
sampai hitam kelam. Terkadang
timbul pula kapang kehitaman
pada permukaan bagian yang
busuk. Penyebab penyakit ini
adalah jamur Alternaria dauci
yang semula disebut
Macrosporium carotae.
Pengendaliannya dengan
pergiliran tanaman, sanitasi,
penanaman benih yang sehat,
dan membersihkan tanaman
yang telah terserang (dicabut
dan dipendam atau dibakar).
Dapat juga digunakan fungisida,
misalnya Velimex 80 WP
sebanyak 2-2,5 g/1 dengan
volume semprot 400-800 1/ha.
Panen dan Pasca Panen
Wortel dapat dipanen setelah
100 hari tergantung dari
jenisnya. Pemanenan tidak
boleh terlambat karena umbi
akan semakin mengeras
(berkayu) sehingga tidak disukai
konsumen.
Cara pemanenan dilakukan
dengan jalan mencabut umbi
beserta akarnya. Untuk
memudahkan pencabutan
sebaiknya tanah digemburkan
dahulu. Pemanenan sebaiknya
dilakukan pagi hari agar dapat
segera dipasarkan.
281
9.7 BUDIDAYA TANAMAN
BUAH-BUAHAN
a. PENDAHULUAN
Susunan morfologi buah-buahan
tropika sangat beraneka ragam.
Didalamnya termasuk 16 suku
untuk buah-buahan. Meskipn
pada hakekatnya hanya ada dua
tipe dasar buah-buahan
berdaging, yaitu buah buni dan
buah batu, namun dalam
susunan anatominya menjadi
lebih sulit, bila yang dihadapi
adalah buah majemuk.
b. Klasifikasi Buah-buahan
Perkembangan buah-buahan
berasal dari segregasi daun
daun buah yang terpisah-pisah
menjadi satu unit.
Tanaman buah-buahan dapat
diklasifikasikan atas beberapa
cara.
Berdasarkan botaninya tanaman
buah-buahan diklasifikasikan
atas dua kelompok yaitu
kelompok herba dan kelompok
tanaman berkayu.
Klasifikasi lainnya tanaman buah
adalah pembagian berdasarkan
tekstur buahnya yang terdiri dari
buah sukulen dan tidak sukulen.
Ada juga yang membagi
tanaman buah-buahan atas dua
kelompok yaitu buah berair dan
buah kering.
Meskipun adanya susunan
anatomi buah-buahan beraneka
ragam, generalisasi mengenai
sifat-sifat fisik, tekstur dan
anatominya masih mungkin
dilakukan. Beberapa dari sifatsifat
itu sangat khas untuk
daerah tropis seperti Indonesia,
seperti pada Tabel 12 berikut
282
Tabel 15 Klasifikasi buah-buahan menurut kedudukan sistematik, tipe
dan pemanfaatan
Suku Buah Nama
Ilmiah
Tipe deskripsi
Jambe mete Anacardi
um occi
dentale
L.
Buah
keras
Buah kurung berkayu
terdapat pada tangkai yang
membengkak
Anacardi
aceae
Mangga Mangifer
a indica.
L
Buah
batu
berda
ging
Kulit luar seperti belulang,
kulit tengah tebal
berdaging, kulit dalam
keras seperti batu dengan
membran tipis seperti
kertas di sebelah
dalamnya.
Srikaya Annona
squamo
sa L
Buah
Ganda
Tiap penyusun berupa
buah buni
Annonac
eae
S i r s a t A n n o n
a
m u r i c
a t a L
Buah
Ganda
Besar, berdaging dengan
kulit luar lunak berduri,
Buah ganda, tersusun atas
sejumlah buah buni yang
tergabung menjadi satu
disertai daun-daun
pelindung dan sumbu
bunganya
Bromelia
ceae
Nenas Ananas
comosus
Buah
maje
muk
semu
Kumpulan buah buni
menjadi satu, buah
termasuk daun-daun
pelindung dan daun-daun
tenda bunganya.
Bombaca
ceae
Durian Durio
zibethinu
s L
Buah
kotak
sejati
Besar, kulit tebal, berduri
keras, tajam. Pecah
dengan membelah ruang
C a r i c a
ceae
Papaya Carica
papa
ya L
Buah
b u n i
Kulit luar tipis,
daging buah tebal
dengan rongga besar
di tengah, berasal dari
bakal buah yang
menumpang.
283
Cucurbita
ceae
Semangka Citrullus
vulgaris
S c h r a
d
Buah
menti
mun
(pepo)
Modifikasi buah buni
yang bera s a l d a r i
b a k a l b u a h y a n g
t e n g gelam dengan
dinding daun buah yang
tebal berdaging, termasuk
sebagian jaringan dasar
buahnya.
Guttife
rae
Blewah,
garbis
Manggistan
Cucumis
melo L
Garcinia
mango
stana L.
Buah
buni
Kulit buah tebal namun
mudah dipecah, biji
dengan salut berdaging
yang rasanya manis
Luura
ceae
Alpukat Persea
ameri
cans
Buah
buni
Kulit luar agak tebal, kulit
tengah tebal berdaging
lunak dengan lapisan kulit
dalam tipis berbatasan
dengan kulit biji.
Langsat Lansium
domestic
um Corr.
Buah
buni
Kulit luar seperti belulang,
biji lunak berair
Melta
ceue
Sentul,
kecapi
Sandoric
um
koetja
Buah
buni
Kulit luar bersatu dengan
kulit tengah, biji dengan
salut berdaging dan
berserabut
Fig Ficus
carica L
Buah
semu
Maje
muk
Kulit luar dan tengah
menjadi satu dengan
salut biji berserabut.
Buah berasal dari ibu
tangkai bungs yang membengkok
dan berbentuk
periuk dengan biji-biji di
dalamnya.
Mora
ceae
Nangka Artocar
pus
Integra
L
Buah
maje
muk
Sangat besar, kulit luar
berduri, kulit tengah
clan kulit dalam
menjadi satu lapisan
tebal, berbau tajam, kaya
akan getah.
Musa
ceae
Pisang Musa
paradisia
ca L.var
sapien
tum
Buah
buni
Buah tersusun dalam
tandan
284
Duwet
jamblang
Syzigium
cuminum
Skeels.
Buah
buni
Buah berwarna ungu tua,
berkelompok, dengan
kadar zat penyamak dan
antosian yang tinggi.
Jambu biji Psidium
guajava
L
Buah
buni
Kulit luar buah tidak
nyata batasnya
Myrta
ceae
Jambu kaget Eugenia
javanica.
Lam
Buah
buni
Buah berbentuk kcrucut
dengan kulit luar berpori
Passijlor
aceue Buah negri,
markisah
Passiflor
a edulis
Sims.
Buah
buni
Kulit luar tebal,
dengan tepi seperti
cangkang yang rapuh
Ros
aceae
Artie Fragraria
vesca L.
Buah
semu
ganda
Kumpulan buah,
terutama ter diri alas
clasar bungs yang menjadi
tebal berdaging,
dengan di b a g i a n l u a r
banyak buah kurung
kecil-kecil
Rufaceae Jeruk manis Citrus
sinensis
Osb.
Buah
jeruk
Modifikasi buah buni
dengan kulit dalam yang
tebal.
Sapindac
eae
Rambutan Nephe
lium
lappaceum
L.
Buah
buni
Kulit buah seperti
belulang dengan dur i -
duri lunak, salut buah
berair.
Sapola
ceae
Kenitu, sawo
beludru
Chrysop
hyllum
cainito.L
Buah
buni
Kulit dalam
berdaging, berair, kaya
akan getah.
Sawo
manila
Achras
zapota
L.
Buah
buni
Kulit tengah clan kulit
dalam bersatu
285
9.7.1. Teknik Budidaya
Rambutan
a. Nama Lain Rambutan
– English: rambutan
– Thai: ngoh, phruan
– Malaysian Aborigine:
nert, gente
– Indonesia dan Malaysia:
rambutan
– Cambodia: saaw maaw
– Vietnam: chom chom, vai
tieu
– Chinese (Cantonese):
hooun mo daon;
(putonghua): shau tsz
-
Nama Ilmiah
Species: Nephelium lappaceum
L. var. lappaceum
Famili: Sapindaceae (Soapberry)
b. Mengenal Rambutan
Rambutan (Nephelii lappacei)
banyak ditanam sebagai pohon
buah, terkadang ditemukan
sebagai tumbuhan liar,terutama
di luar Jawa.
Tumbuhan tropis ini memerlukan
iklim lembab dengan curah hujan
tahunan paling sedikit 2000 mm.
rambutan merupakan tanaman
dataran rendah hingga
ketinggian 300-600 mdpl.
Biasanya tumbuhan ini tingginya
antara 15-25 m, bercabangcabang,
dan daunnya berwarna
hijau.
Buah bentuknya bulat lonjong,
panjang 3-5 cm dengan duri
temple (rambut) lemas sampai
kaku.
Kulit buah berwarna hijau, dan
menjadi kuning atau merah
kalau sudah masak. Dinding
buah tebal.
Biji berbentuk elips, terbungkus
daging buah berwarna putih
transparan yang dapat dimakan
dan banyak mengandung air.
Rasanya bervariasi dari masam
sampai manis. Kulit biji tipis
berkayu.
Umumnya rambutan berbunga
pada akhir musim kemarau dan
membentuk buah pada musim
hujan, sekitar November sampai
Februari.
Rambutan juga mempunyai
banyak jenis di antaranya
Ropiah, Si Macan, Si Nyonya,
Lebak Bulus dan Binjei.
Perbanyakan melalui biji,
tempelan tunas, dan
mencangkok.
286
c. Jenis-jenis Rambutan
Dari survey yang telah dilakukan
terdapat 22 jenis rambutan baik
yang berasal dari galur murni
maupun hasil okulasi atau
penggabungan dari dua jenis
dengan galur yang berbeda.
Ciri-ciri yang membedakan
setiap jenis rambutan dilihat dari
sifat buah (dari daging buah,
kandungan air, bentuk, warna
kulit, panjang rambut).
Gambar 103 Aneka jenis buah
rambutan berdasarkan
besar kecilnya biji
Dari sejumlah jenis rambutan
diatas hanya beberapa varietas
rambutan yang digemari orang
dan dibudidayakan dengan
memilih nilai ekonomis relatif
tinggi diantaranya:
– Rambutan Rapiah buah
tidak terlalu lebat tetapi
mutu buahnya tinggi, kulit
berwarna hijau-kuningmerah
tidak merata
dengan beramut agak
jarang, daging buah
manis dan agak kering,
kenyal, ngelotok dan
daging buahnya tebal,
dengan daya tahan dapat
mencapai 6 hari setelah
dipetik.
– Rambutan Aceh Lebak
bulus pohonnya tinggi
dan lebat buahnya
dengan hasil rata-rata
160-170 ikat per pohon,
kulit buah berwarna
merah kuning, halus,
rasanya segar manisasam
banyak air dan
ngelotok daya simpan 4
hari setelah dipetik, buah
ini tahan dalam
pengangkutan.
– Rambutan Cimacan,
kurang lebat buahnya
dengan rata-rata hasil 90-
170 ikat perpohon, kulit
berwarna merah
kekuningan sampai
merah tua, rambut kasar
dan agak jarang, rasa
manis, sedikit berair
tetapi kurang tahan
dalam pengangkutan.
– Rambutan Binjai yang
merupakan salah satu
rambutan yang terbaik di
Indonesia dengan buah
cukup besar, dengan kulit
berwarna merah darah
sampai merah tua rambut
buah agak kasar dan
jarang, rasanya manis
dengan asam sedikit,
hasil buah tidak selebat
aceh lebak bulus tetapi
daging buahnya ngelotok.
287
– Rambutan Sinyonya,
jenis rambutan ini lebat
buahnya dan banyak
disukai terutama orang
Tionghoa, dengan batang
yang kuat cocok untuk
diokulasi, warnakulit buah
merah tua sampai merah
anggur, dengan rambut
halus dan rapat, rasa
buah manis asam,
banyak berair, lembek
dan tidak ngelotok.
d. Kandungan dan Manfaat
Buah ini mengandung
karbohidrat, protein, lemak,
fosfor, besi, kalsium dan vitamin
C.
Kulit buah mengandung tanin
dan saponin. Biji mengandung
lemak dan polifenol.
Daun mengandung tannin dan
saponin.
Kulit batang mengandung
tannin, saponin, flavonida, pectic
substance, dan zat besi.
Bagian tumbuhan ini juga dapat
digunakan sebagai obat. Yang
dapat digunakan sebagai obat
adalah kulit buah digunakan
untuk mengatasi disentri dan
demam, kulit kayu digunakan
untuk mengatasi sariawan, daun
digunakan untuk mengatasi
diare dan menghitamkan rambut,
akar digunakan untuk mengatasi
demam, dan biji digunakan untuk
mengatasi kencing manis
(diabetes mellitus).
Rambutan ini ditanam untuk
diambil buahnya yang dapat
dikonsumsi dalam bentuk segar
atau dibuat sirop.
Daging buahnya mengandung
saponin yang dapat digunakan
sebagai obat demam, tunas
muda digunakan untuk
menghasilkan suatu warna hijau
pada sutera
e. Asal usul rambutan
Tanaman ini diduga berasal dari
daerah tropis mungkin Malaysia
atau Indonesia, yang kemudian
menyebar sampai ke China
(Yunnan dan Hainan).
Asal kata rambutan
Istilah rambutan diperoleh dari
bahasa Melayu kata ” rambut”,
yang artinya mengurai. Buahnya
beranekabentuk ada yang bulat,
oval dengan warna yang
menarik seperti, merah, oranye,
merah muda, atau kuning.
f. Status Produksi
Pada tahun 1987/88 luar areal
pertanaman rambutan mencapai
71,150 hektar di Thailand
(dengan produksi 448,500 ton);
43,000 hektar lebih di Indonesia
(dengan produksi 199,200 ton);
20,000 hektar di Malaysia (
dengan produksi 57,000 ton) dan
500 hektar di Filipina.
Umumnya rambutan masa
panennya pada bulan Februari
sampai September,dengan
panen rayanya (periode puncak)
antara bulan Mei dan Agustus.
288
Thailand telah mengekspor
rambutan segar dan rambutan
kalengan ke Asia dan Negara-
Negara Eropah. Pada tahun
1983 nilai ekspor buah ini sekitar
US$179,000 dibandingkan
dengan US$2,430,000 untuk
rambutan kalengan.
g. Komposisi buah rambutan
Kandungan 100 g daging
rambutan terdiri atas 82.1% air,
0.9% protein, 0.3% lemak,
0.3%serat kasar, 2.8 g glukosa,
3.0 g fructose, 9.9 g sucrose,
2.8 g serat, 0.05% asam malat,
0.31% vitamin C, 0.5 mg niacin,
15 mg zat kapur, 0.1 per 2.5 mg
besi, 70 mg vitamin C, 0.01 mg
thiamine, 0.07 mg riboflavin, 140
mg kalium, 2 mg natrium dan 10
mg magnesium.
h. Syarat Tumbuh
Ekologi
Rambutan adalah suatu pohon
buah-buahan tropis yang
tumbuh baik pada kisaran suhu
antara 22C ke 35C, dengan
curah hujan 2000 sampai 3000
mm.
Tanaman ini tidak teradaptasi
dengan suhu rendah, pada suhu
4C tanaman ini menggugurkan
daun . Jenis tanah yang disukai
adalah tanah liat dengan pH 5
sampai 6.5.
Iklim
Dalam budidaya rambutan angin
berperan dalam penyerbukan
bunga.
Intensitas curah hujan yang
dikehendaki oleh pohon
rambutan berkisar antara 1.500-
2.500 mm/tahun dan merata
sepanjang tahun
Sinar matahari harus dapat
mengenai seluruh areal
penanaman sejak dia
terbitsampai tenggelam,
intensitas pancaran sinar
matahari erat kaitannya dengan
suhu lingkungan. Tanaman
rambutan akan dapat tumbuh
berkembang serta berbuah
dengan optimal pada suhu
sekitar 250C yang diukur pada
siang hari.
Kekurangan sinar matahari
dapat menyebabkan penurunan
hasil atau kurang sempurna
(kempes).
Kelembaban udara yang
dikehendaki cenderung rendah
karena kebanyakan tumbuh di
dataran rendah dan sedang.
Apabila udara mempunyai
kelembaban yang rendah, berarti
udara kering karena miskin uap
air. Kondisi demikian cocok
untuk pertumbuhan tanaman
rambutan.
289
Media Tanam
Rambutan dapat tumbuh baik
pada lahan yang subur dan
gembur serta sedikit
mengandung pasir, juga dapat
tumbuh baik pada tanah yang
banyak mengandung bahan
organik ataui pada tanah yang
keadaan liat dan sedikit pasir.
Pada dasarnya tingkat/derajat
keasaman tanah (pH) tidak
terlalu jauh berbeda dengan
tanaman perkebunan lainnya di
Indonesia yaitu antara 6-6,7 dan
kalau kurang dari 5,5 perlu
dilakukan pengapuran terlebih
dahulu.
Kandungan air dalam tanah
idealnya yang diperlukan untuk
penanaman pohon rambutan
antara 100-150 cm dari
permukaan tanah.
Pada dasarnya tanaman
rambutan tidak tergantung pada
letak dan kondisi tanah, karena
keadaan tanah dapat dibentuk
sesuai dengan tata cara
penanaman yang benar
(dibuatkan bedengan) sesuai
dengan petunjuk yang ada.
Ketinggian Tempat
Rambutan dapat tumbuh subur
pada dataran rendah dengan
ketinggian antara 30-500 m dpl.
Pada ketinggian dibawah 30 m
dpl rambutan dapat tumbuh
namun tidak begitu baik
hasilnya.
Teknik perbanyakan ini
dilakukan dengan menyemai
terlebih dahulu benihnya yang
merupakan sumber batang
bawah, kemudian setelah 2
bulan ditempelkan mata tunas.
i. Pedoman Teknis Budidaya
1. Pembibitan
Persyaratan Benih
Benih yang diambil biasanya
dipilih dari benih-benih yang
disukai oleh masyarakat
konsumen antara lain:
Rambutan Rapiah, Rambutan
Aceh, Lebak bulus, Rambutan
Cimacan, Rambutan, Rambutan
Sinyonya.
Penyiapan Benih
Persiapan benih biji yang
dipergunakan sebagai pohon
pangkal setelah buah dikupas
dan diambil bijinya dengan jalan
fermentasi biasa (ditahan
selama 1-2hari) sesudah itu di
angin-anginkan selama 24 jam
(sehari semalam) dan biji siap
disemaikan.
Disamping itu dapat pula
direndam dengan larutan asam
dengan perbandingan 1:2 dari
air dan larutan asam yang terdiri
dari asam chlorida (HCl)25%
atau Asam Sulfat (H2S04) BJ =
1.84, caranya direndam selama
15 menit kemudian dicuci
dengan air tawar yang bersih
sebanyak 3 kali berulang dengan
air yang mengalir selama 10
290
menit dan dianginkan selama 24
jam.
Untuk menghidari jamur biji
dapat dibalur dengan larutan
Dithane 45, Attracol 70 WP atau
fungisida lainnya.
Teknik Penyemaian Benih
Tempat penyemaian benih
dipilih lahan yang gembur dan
mudah mendapat pengairan
serta mudah dikeringkan
disamping itu mudah diawasi.
Sebelum dilakukan penyemaian
terlebih dahulu dilakukan
persiapan tempat persemaian
seperti:
– Mencangkul tanah
sedalam 20-30 cm sambil
dibersihkan dari rumputrumput,
batu-batu dan
sisa pepohonan dan
benda keras lainnya.
– Kemudian tanah
dihaluskan sehingga
menjadi gembur dan
buatkan bedeng-bedeng
yang berukuran 1-1,5 m
lebar dan tinggi sekitar 30
cm, panjang disesuaikan
dengan luas
pekarangan/persawahan.
Letak bedengan
membujur dari Utara ke
Selatan, supaya
mendapatkan banyak
sinar matahari.
– Bagian atas bedeng
diberi atap pelindung
– Untuk menambah
kesuburan dapat diberi
pupuk hijau,
kompos/pupuk kandang
yang sudah matang.
Pemeliharaan
Pembibitan/Penyemaian
Setelah bibit berkecambah dan
telah berumur 1-1,5 bulan
kecambah dipindah ke bedeng
pembibitan.
Pada saat ini penyiraman cukup
1 kali tiap pagi hari dengan
menggunakan “gembor” supaya
merata dan tidak merusak
bedengan dan diusahakan air
dapat menembus sedalam 3-4
cm dari permukaan.
Kemudian dilakukan
pendangiran bedengan supaya
tetap gembur dan dilakukan
setiap 2-3 minggu sekali, rumput
yang tumbuh disekitarnya
supaya disiangi, hindarkan dari
serangan hama dan penyakit.
Jika umur bibit telah berumur
kurang lebih 1 tahun setelah itu
dapat dilakukan pengokulasian
dengan sistem Fokkert yang
sudah disempurnakan.
Caranya adalah:
– Daun-daun pada pohon
induk dirontokkan.
– Kemudian siapkan
tempat untuk
penempelan mata kulit,
291
dengan menyayat kulit
batang pohon induk
– Tempelkan mata pada
pohon induk, ikat dengan
tali rafia, biarkan sampai
mata kulit itu tumbuh
tunas
– Setelah tunas asli
tumbuh dan sehat maka
pohon induk yang telah
ditempel dipangkas,
kemudian rawat dengan
penyiraman 2 kali sehari
dan mendangir serta
membersihkan rumputrumput
yang ada disiangi,
kemudian dapat juga
diberi pupuk urea 10
gram untuk tiap 1 m²
untuk 25 tanaman
rambutan.
2. Pemindahan Bibit
Cara pemindahan bibit yang
telah berkecambah atau di
cangkok maupun diokulasi dapat
dengan cara sebagai berikut:
– mencungkil/membuka
plastik yang melekat
pada media penanaman
dengan cara hati-hati
jangan sampai akar
menjadi rusak.
– agar pertumbuhan akar
lebih banyak maka dalam
penanaman kembali akar
tunggangnya dipotong
sedikit
– Untuk menjaga
penguapan maka daun
dipotong separuh serta
keping yang menempel
dibiarkan sebab berfungsi
sebagai cadangan
makanan sebelum dapat
menerima makanan dari
tanah yang baru.
– Kemudian bibit ditanam
pada bedeng pembibitan
dengan jarak 30-40 cm
dan ditutupi dengan atap
yang dipasang miring
lebih tinggi di Timur
dengan harapan dapat
lebih banyak kena sinar
mata hari pagi.
3. Pengolahan Media Tanam
– Persiapan
Pilihlah tanah yang subur,
hindari tanah yang terlampau
liat dan tidak memiliki sirkulasi
yang baik, hendaknya
topografinya rata. Akan tetapi
pada daerah perbukitan (miring)
jika tanahnya subur dapat
digunakan dengan cara
membuat sengkedan (teras)
pada bagian yang curam.
Kemudian untuk
menggemburkan tanah perlu
dibajak atau cukup dicangkul
dengan kedalaman sekitar 30
cm secara merata.
– Pembukaan Lahan
Tanah yang akan dipergunakan
untuk kebun rambutan
dibebaskan dari tanaman
pengganggu seperti semaksemak
dan rerumputan dibuang
292
dan benda-benda keras
disingkirkan kemudian tanah
dibajak/dicangkul.
Bila bibit berasal dari cangkokan
pengolahan tanah tidak perlu
terlalu dalam tetapi kalau dari
hasil okulasi perlu pengolahan
yang cukup dalam.
Kemudian dibuatkan saluran air
selebar 1 meter dan kedalamnya
disesuaikan dengan kedalaman
air tanah. Hal ini berguna untuk
mengatasi sistem pembuangan
air yang kurang lancar.
Tanah yang kurus dan kurang
humus atau tanah cukup liat
diberikan pupuk organik.
-Pengapuran
Pada dataran yang berasal dari
tambak dan juga dataran yang
baru terbentuk tidak bisa
ditanami, selain tanah masih
bersifat asam juga belum terlalu
subur, setelah lobang-lobang itu
digali dengan ukuran
penanaman di pekarangan dan
dasarnya ditaburkan kapur
sebanyak 0,5 liter untuk setiap
lobang guna menetralkan pH
tanah hingga mencapai 6-6,7
sebagai syarat tumbuhnya
tanaman rambutan, setelah 1
minggu dari penaburan kapur
diberi pupuk kandang supaya
tanah menjadi subur.
Pemupukan
Setelah jangka waktu 1 minggu
dari pemberian kapur pada
lubang-lubang yang ditentukan
kemudian diberikan pupuk
kandang sebanyak 25 kg
(kurang lebih 1 blek) dan setelah
1 minggu lahan baru siap untuk
ditanami bibit rambutan yang
telah jadi.
4.Teknik Penanaman
– Penentuan Pola Tanaman
Penyiapan pohon pangkal
sebaiknya melalui proses
perkecambahan kemudian
ditanam dengan jarak 10 x 10
cm setelah berkecambah dan
berumur 1-1,5 bulan atau telah
tumbuh daun sebanyak 3 helai
maka bibit/zaeling dapat
dipindahkan pada bedeng ke
dua dengan jarak 1-14 meter.
Untuk menghindari sengatan
sinar matahari secara langsung
dibuat atap yang berbentuk
miring lebih tinggi ke Timur
dengan maksud supaya
mendapatkan sinar matahari
pagi hari secara penuh.
Persiapan lahan
Rambutan biasa ditanam di
pekarangan atau secara kebun.
Jarak tanam 10 – 14 m. Ukuran
lobang 60 x 60 x 60 cm. Waktu
membuat lobang tanah galian
bagian atas diangkat ke sebelah
kanan lobang, tanah galian
bagian bawah ke sebelah kiri
lobang.
Pembuatan Lubang Tanaman
Pembuatan lubang pada
bedeng-bedeng yang telah siap
untuk tempat penanaman bibit
293
rambutan yang sudah jadi
dilakukan setelah tanah diolah
secara matang kemudian dibuat
lobang-lobang dengan ukuran 1
x 1 x 0,5 m yang sebaiknya telah
dipersiapkan 3-4 pekan
sebelumnya dan pada waktu
penggalian tanah yang diatas
dan yang dibawah dipisahkan
yang nantinya dipergunakan
untuk penutup kembali lubang
yang telah diberi tanaman,
sedangkan jarak antar lubang
sekitar 12-14 m.
Cara Penanaman
Setelah berlangsung selama 2
pekan lubang ditutup dengan
susunan tanah seperti sedia kala
dan tanah yang bagian atas
dikembalikan setelah dicampur
dengan 3 blek (1 blek kurang
lebih 20 liter) pupuk kandang
yang sudah matang, dan kirakira
4 pekan dan tanah yang
berada di lubang bekas galian
tersebut sudah mulai menurun
baru rambutan ditanam dan tidak
perlu terlalu dalam secukupnya,
maksudnya batas antara akar
dan batang rambutan
diusahakan setinggi permukaan
tanah yang ada disekelilingnya.
Perawatan
Pada awal penanaman di kebun
perlu diberi perlindungan yang
rangkanya dibuat dari
bambu/bahan lain dengan
dipasang posisi agak tinggi
disebelah Timur, agar tanaman
mendapatkan lebih banyak sinar
matahari pagi dari pada sore
hari, dan untuk atapnya dapat
dibuat dari daun nipah,
kelapa/tebu.
Sebaiknya penanaman
dilakukan pada awal musim
penghujan, agar kebutuhan air
dapat dipenuhi secara alamiah.
5. Pemeliharaan Tanaman
Penjarangan dan Penyulaman
Karena kondisi tanah telah
gembur dan mudah tanaman lain
akan tumbuh kembali terutama
Gulma (tanaman pengganggu),
seperti rumput-rumputan dan
harus disiangi sampai radius 1-2
m sekeliling tanaman rambutan.
Apabila bibit tidak tumbuh
dengan baik segera dilakukan
penggantian dengan bibit
cadangan.
Perempalan Agar supaya
tanaman rambutan
mendapatkan tajuk yang rimbun,
setelah tanaman berumur 2
tahun segera dilakukan
perempelan/ pemangkasan pada
ujung cabang-cabangnya.
Disamping untuk memperoleh
tajuk yang seimbang juga
berguna memberi bentuk
tanaman, memperbanyak dan
mengatur produksi agar
tanaman tetap terpelihara.
Pemangkasan juga perlu
dilakukan setelah masa panen
buah berakhir dengan harapan
muncul tajuk-tajuk baru sebagai
tempat munculnya bunga baru
294
pada musim berikutnya dan hasil
berikutnya dapat meningkat.
Pemupukan
– Untuk menjaga agar
kesuburan lahan tanaman
rambutan tetap stabil perlu
diberikan pupuk secara
berkala dengan aturan: a)
Pada tahun ke 2 setelah
penanaman bibit diberikan
pada setiap pohon dengan
campuran 30 kg pupuk
kandang, 50 kg TSP, 100
gram Urea dan 20 germ ZK
dengan cara ditaburkan
disekeliling pohon/dengan
jalan menggali disekeliling
pohon sedalam 30 cm
selebar antara 40-50 cm,
kemudian masukkan
campuran tersebut dan
tutup kembali dengan
tanah galian sebelumnya.
– Tahun berikutnya perlu
dosis pemupukan perlu
ditambah dengan
komposisi 50 kg pupuk
kandang, 60 kg TSP, 150
gr Urea dan 250 gr ZK
dengan cara pemupukan
yang sama, apabila
menggunakan pupuk NPK
maka perbandingannya
15:15:15 dengan ukuran
diantara 75-125 kg untuk
setiap ha, dan bila ditabur
dalam musim hujan dan
dengan komposisi 250-350
kg apabila dilakukan saat
awal musim penghujan.
Pengairan dan Penyiraman
Selama dua minggu pertama
setelah bibit yang berasal dari
cangkokan/okulasi ditanam,
penyiraman dilakukan sebanyak
dua kali sehari, pagi dan sore.
Dan minggu-minggu berikutnya
penyiraman dapat dikurangi
menjadi satu kali sehari.
Apabila tanaman rambutan telah
tumbuh dan benar-benar kuat
frekuensi penyiraman bisa
dikurangi lagi yang dapat
dilakukan saat-saat diperlukan
saja.
Dan bila hujan turun terlalu lebat
diusahakan agar sekeliling
tanaman tidak tegenang air
dengan cara membuat lubang
saluran untuk mengalirkan air.
Pembentukan bentuk pohon:
Setelah tanaman berumur 2
tahun ujung-ujung tanaman
dipotong.
Pemotongan dimaksudkan untuk
menguatkan cabang yang akan
dijadikan batang pokok.
Selanjutnya tunas tunas yang
tumbuh tidak beraturan, tumbuh
ke dalam, harus dibuang.
Pemangkasan juga dilakukan
sesudah pemanenan buah.
295
6) Pengendalian Hama
penyakit dan Gulma
Guna mencegah kemungkinan
tumbuhnya penyakit/hama
karena kondisi cuaca/hewanhewan
perusak maka perlu
dilakukan penyemprotan
pestisida umumnya dilakukan
antara 15-20 hari sebelum
panen dan juga apabila
kelembaban udara terlalu tinggi
akan tumbuh cendawan, apabila
musim penghujan mulai tiba
perlu disemprot fungisida
beberapa kali selama musim
hujan pestisida dan insektisida
Hama pada Daun
Hama tanaman rambutan
berupa serangga seperti semut,
kutu, kepik, kalong dan bajing
serta hama lainya seperti,
keberadaan serangga ini
dipengaruhi faktor lingkungan
baik lingkungan biotik maupun
abiotik. Misal: ulat penggerek
buah (Dichocricic punetiferalis)
warna kecoklat-coklatan dengan
ciri-ciri buah menjadi
kering dan berwarna hitam.
Ulat penggerek batang
(Indrabela sp) membuat kulit
kayu dan mampu membuat
lobang sepanjang 30 cm.
Ulat pemakan daun (Ploneta
diducta/ulat keket) memakan
daun-daun terutama pada
musim kemarau.
Ulat Jengkal (Berta
chrysolineate) pemakan daun
muda sehingga penggiran daun
menjadi kering, keriting
berwarna cokelat kuning.
Penyakit
Penyakit tanaman rambutan
disebabkan organisme semacam
ganggang (Cjhephaleusos sp)
yang diserang umumnya daun
tua dan muncul pada musim
hujan dengan ciri-ciri adanya
bercak-bercak kecil dibagian
atas daun disertai seratserat
halus berwarna jingga yang
merupakan kumpulan sporanya.
Ganggang Chaphaleuros
Ganggang ini hidup bersimbiose
dengan lumut kerak (lichen) dan
dapat dijumpai pada daun dan
batang rambutan, yang nampak
seperti panu sehingga ranting
yang diserang dapat mati.
Penyakit akar putih yang
disebabkan oleh cendawan
(jamur) Rigidoporus Lignosus
dengan tanda rizom berwarna
putih yang menempel pada akar
dan apabila akar yang kena
dikupas akan nampak warna
kecoklatan.
7.3. Gulma
Segala macam tumbuhan
pengganggu tanaman rambutan
yang berbentuk rerumputan
yang berada disekitar tanaman
rambutan akan mengganggu
pertumbuhan dan
perkembangan bibit rambutan
oleh sebab itu perlu dilakukan
penyiangan secara rutin.
296
6) Pemeliharaan Lain
Untuk memacu munculnya
bunga rambutan diperlukan
larutan KNO3 (Kalsium Nitrat)
yang akan mempercepat 10 hari
lebih awal dari pada tidak diberi
KNO3 dan juga mempunyai
keunggulan memperbanyak
“dompolan” bunga (tandan)
rambutan pada setiap stadium
(tahap perkembangan) serta
mempercepat pertumbuhan
buah rambutan.
7. Panen
Ciri dan Umur Panen
Buah rambutan yang telah
matang dapat diamati dengan
melihat ciri-ciri warna buah yang
disesuikan dengan jenis
rambutan yang ada juga dengan
mencium baunya serta yang
terakhir dengan merasakan
rambutan yang sudah masak
dibandingkan dengan rambutan
yang belum masak.
Dapat dipastikan bahwa
pemanenan dilakukan sekitar
bulan Nopember sampai
Februari, juga dapat dipengaruhi
musim kemarau atau musim
penghujan.
Prakiraan Produksi
Apabila penanganan dan
pemeliharaan semenjak
pembibitan hingga panen
dilakukan secara baik dan benar
serta memenuhi aturan yang ada
maka dapat diperkirakan
mendapatkan hasil yang
maksimal.
Setiap pohonnya dapat
mencapai hasil minimal 0,10
kuintal, dan maksimal dapat
mencapai 1,75 kuintal setiap
pohonnya
Gambar 104. Rambutan
mengkal (belum
masak sempurna)
Gambar 105. Rambutan masak
297
Cara Panen
Cara pemanenan yang terbaik
adalah dipetik beserta
tungkalnya yang sudah matang
(hanya yang sudah masak)
sekaligus melakukan
pemangkasan pohon agar tidak
menjadi rusak.
Pemangkasan dilakukan
sekaligus panen agar dapat
bertunas kembali cepat berbuah
apabila pemetikan tidak
terjangkau dapat dilakukan
dengan menggunakan galah
untuk mengkait tangkai buah
rambutan secara benar.
8. Pascapanen
Pengumpulan
Setelah dilakukan pemanenan
yang benar buah rambutan
harus diikat secara baik,
biasanya dikumpulkan tidak jauh
dari lokasi pohon sehingga
selesai pemanenan
secara keseluruhan.
Penyortiran dan Penggolongan
Tujuan penyortiran buah
rambutan yang bagus agar
harga jualnya tinggi, biasanya
dipilih berdasarkan ukuran dan
mutunya, buah yang kecil tetapi
baik mutunya dapat dicampur
dengan buah yang besar dengan
sama mutunya, yang biasanya
dijual dalam bentuk ikatan dan
perlu diingat bahwa dalam 1
ikatan diusahakan sama besar
dan sama baik mutunya.
Dan dilakukan sesuai dengan
jenis rambutan, jangan dicampur
adukkan dengan jenis yang lain.
Penyimpanan
Penyimpanan yang terbaik untuk
mengawetkan buah rambutan
biasanya dilakukan
dengan jalan dibuat
asinan/manisan dan dimasukkan
dalam kaleng/botol atau dapat
juga dengan menggunakan
kantong plastik.
Hal ini dapat menjaga kesterilan
dan ketahanan serta lama
penyimpanannya.
Pengemasan dan Pengangkutan
Hasil jual dapat tinggi tidak
tergantung dari rasanya saja,
tetapi pada kenampakan dan
cara pengikatannya, apabila
akan dijual tidak jauh dari lokasi
maka cukup diikat dan kemudian
di angkut dengan
kendaraan/dimasukkan dalam
karung.
Untuk pengiriman dengan jarak
yang agak jauh (antar pulau)
yang membutuhkan waktu
hingga 2-3 hari lamanya
perjalanan rambutan.
Caranya di pak dengan
menggunakan peti sebelum
dipilih dan di pak sebaiknya
dicuci terlebih dahulu dengan air
sabun dan dibilas kemudian
dikeringkan, setelah dipisah dari
tangkainya, apabila ada yang
terkena jamur sebaiknya
direndam dulu dengan larutan
soda 1,5% selama 3-5 menit
298
kemudian disikat dengan sikat
yang lunak.
Setelah itu disusun berderet
berbentuk sudut terhadap sisi
peti, yang sebelumnya dialasi
dengan lumut/ sabut kelapa,
setelah itu dilapisi dengan kertas
minyak.
Setelah penuh lapisan atas
dilapisi lagi dengan kertas
minyak dan dengan sabut kelapa
yang terakhir ditutup dengan
papan, sebaiknya kedua sisi
panjang dibentuk agak
gembung, biasanya penempatan
peti bagian yang pendek
ditempatkan dibawah didalam
perjalanan.
299
9.7.2. TEKNIK BUDIDAYA
JERUK
a. Pendahuluan
Jeruk merupakan komoditas
buah-buahan yang mempunyai
nilai ekonomi penting dan nilai
kesehatan yang berarti karena
mengandung nilai gizi yang
tinggi ( Vitamin C dan A ) .
Buah jeruk dapat dikonsumsi
langsung sebagai buah segar
atau juice dan dapat pula diolah
menjadi sirup.
Gambar 106 Kebun jeruk
Berastagi
Produktivitas jeruk rata-rata di
Indonesia masih rendah, sekitar
16 t/ha/thn, sementara potensi
hasil bisa lebih dari 25 t/tha/thn.
Lagi pula ada indikasi bahwa
setelah berumur 7 tahun
produktivitas jeruk cenderung
menurun. Kemunduran
produktivitas diduga karena
kekurangan air, gangguan,
perakaran karena kondisi tanah,
hama, dan penyakit, dan lain-lain
b. Syarat Tumbuh
Iklim
Tanaman jeruk manis, juga jeruk
lainnya, dapat ditanam di daerah
anaara 400LS.
Namun, tanaman jeruk paling
banyak ditanam pada daerah 200
–400LU dan 200–400LS. Disekitar
laut tengah, daerah 44 derajat
LU, masih merupakan daerah
yang cocok untuk tanaman jeruk.
Pada daerah subtropis, tanaman
jeruk ditanam di dataran rendah
sampai ketinggian 650 m dpl.
Sedangkan di daerah
khatulistiwa sampai ketinggian
2.000 m dpl.
Didaerah subtropis, produksi
jeruk lebih tinggi dari daerah
tropis. Hal ini kemungkinan
disebabkan oleh iklim yang
berbeda atau karena faktorfaktor
lain yang dilakukan lebih
insentif, seperti pemupukan,
pengairan, pengendalian hama
penyakit dan lain-lain.
Produksi jeruk di daerah
subtropis bisa mencapai 36-40
ton per hektar, sedangkan di
daerah tropis hanya mencapai
13 – 22 ton per hektar.
Temperatur
Aktivitas pertumbuhan jeruk
akan sangat kurang bila
temperatur kurang dari 13
derajat celcius tetapi masih bisa
300
bertahan pada temperatur lebih
dari 380C.
Temperatur optimal untuk
pertumbuhan jeruk 250C dan
300C.
Diatas dan dibawah temperatur
optimal, pertumbuhannya akan
berkurang. Apabila temperatur
diatas 380C atau dibawah 130C
kemungkinan pertumbuhannya
akan terhenti. Namun, ada juga
tanaman jeruk yang masih bisa
bertahan sampai temperatur
500C atau sedikit dibawah 00C.
Jumlah panas tidak merupakan
ukuran yang penting, kecuali
ditempat yang tinggi. Waktu
yang diperlukan untuk pertumbuhan
dan masaknya buah di
daerah tropis lebih pendek bila
dibandingkan dengan di daerah
subtropis.
Kultivar yang berumur genjah
yang di daerah subtropis
buahnya masak dalam waktu 8
bulan, di daerah tropis menjadi 6
bulan, sedangkan kultivar
berumur panjang di daerah
subtropis buahnya masak dalam
waktu 11 bulan, di daerah tropis
menjadi 7 bulan.
Sinar Matahari
Tanaman jeruk memerlukan
sinar matahari yang penuh, bila
terlindung akan berkurang
produktivitasnya. Penurunan
produksi akibat kekurangan sinar
matahari ini bisa mencapai
setengahnya dibandingkan
dengan jeruk yang tidak
ternaungi.
Sinar matahari sangat
dibutuhkan tanaman jeruk dalam
proses pembentukan zat-zat
organik dalam daun yang
biasanya kita sebut fotosintesa
atau asimilasi karbon. Tanaman
memerlukan tenaga matahari
untuk pertumbuhan normal,
perkembangan buah dan
lainnya.
Intensitas sinar matahari
ditentukan oleh sinar langsung
dan sinar pantulan dari
sekitarnya.
Derajat intensitas sinar matahari
tergantung pada:
– Letak geografis
– Ketinggian dari
permukaan laut
– Ada atau tidak adanya
awan,
– Lamanya penyinaran.
Sinar yang tersebar mempunyai
peranan penting dalam
fotosintesa karena bekerjanya
bisa lebih lama daripada sinar
langsung. Sinar yang tersebar
dapat masuk ke dalam tajuk
tanaman dari segala penjuru
sehingga tersedia bagi semua
daun untuk fotosintesa.
Bagian luar tajuk tanaman
mendapat sinar 5 – 14 kali lebih
banyak dibandingkan dengan
bagian dalam tajuk. Oleh karena
itu, cabang dalam seringkali ada
yang mati atau mudah terserang
penyakit karena kekurangan
sinar matahari.
301
Semakin tinggi suatu tempat,
maka makin bertambah pula
intensitas sinar. Oleh karena itu
tanaman jeruk yang ditanam di
daerah pegunungan akan
mempunyai aroma yang baik,
warna lebih cerah, dan lebih
banyak mengandung gula bila
dibandingkan dengan tanaman
yang ditanam pada ketinggian
lebih rendah, untuk varietas
yang sama.
Jeruk yang ditanam terlalu rapat
maka cabangnya tumbuh
cenderung menuju ke atas.
Bila jeruk terlalu rimbun, perlu
dilakukan pemangkasan cabang
tanaman yang tak berguna.
Di daerah tropis, lamanya
penyinaran setiap bulan boleh
dikatakan hampir sama, yaitu 12
jam, atau antara 11 dan 13 jam.
Kemungkinan, dengan adanya
perbedaan lamanya penyinaran,
menyebabkan perbedaan
kualitas kecepatan pertumbuhan
dan lain-lain. Lamanya panjang
hari dari fajar sampai senja,
mungkin banyak pengaruhnya
terhadap pembungaan.
Didaerah subtropis, tanaman
jeruk manis pada umumnya
ditanam didaerah yang lebih
rendah. Sebagai contoh di
daerah California, jeruk ditanam
didaerah dengan ketinggian
kurang dari 700 m, di Spanyol
kurang dari 250 m, sedangkan di
Indonesia banyak ditanam di
daerah yang tinggi, misalnya di
Kabanjahe, Ngablak,
Tawangmangu yang tingginya
lebih dari 1.000 m.
Curah Hujan, Air, dan
Kelembaban
Air merupakan salah satu faktor
yang sangat penting untuk
pertumbuhan tanaman jeruk
manis, pembentukan buah,
fotosintesa, dan lain-lain.
Air juga sebagai komponen
semua jaringan tanaman.
Kandungan air pada daun dan
tunas sekitar 50-75%, pada buah
lebih kurang 85% dan pada akar
kira-kira 60-85%.
Air berfungsi untuk melarutkan
unsur hara dan membawanya ke
seluruh tubuh tanaman dan
aktivitas kehidupan sel-sel dalam
semua jaringan tanaman.
Bila tidak ada irigasi (pengairan)
maka sumber air berasal dari
curah hujan. Masa kering
menstimulasi terbentuknya
kuncup bunga, kemudian pada
musim hujan akan berbunga dan
berbuah.
Tanaman jeruk memerlukan
cukup air, kerperluan air yang
terbanyak yaitu pada waktu
mulai berbunga, pembentukan
dan pembesaran buah.
Pada kondisi kering kemudian
turun hujan, mengakibatkan
terjadinya fluktuasi suhu dan
kelembaban udara, hal ini
berakibat pada retaknya buah
jeruk.
302
Curah hujan yang baik untuk
pertumbuhan jeruk adalah
sekitar 700 mm setiap tahun.
Walaupun curah hujan 1.250 –
1.850 mm tetapi kalau turunya
tidak merata, maka perlu ada
tambahan pengairan.
Curah hujan yang terlalu tinggi
juga berakibat buruk pada jeruk
karena akan timbul penyakit
(misalnya jamur upas), atau
dapat merusak akar jeruk.
Air yang cukup turut
mempengaruhi warna buah.
Sedangkan di daerah yang
kelembabannya tinggi, akan
menyebabkan buah tetap
berwarna hijau walaupun sudah
masak.
Curah hujan yang ideal untuk
tanaman jeruk berkisar antara
1.000 – 2.000 mm, dan jeruk
menghendaki curah hujan yang
merata sepanjang tahun.
Tanah
Tanaman jeruk manis dapat
ditanam diberbagai jenis tanah,
dari tanah pasir kasar sampai
tanah liat berat dan tidak
menghendaki kondisi becek.
Pada tanah yang tergenang air,
harus dilakukan pengeringan
melalui pembuatan saluran
drainase atau menanamnya
pada tanah yang ditinggikan.
Drainase yang baik sangat
diperlukan untuk memperoleh
hasil yang maksimal.
Tanah yang baik untuk tanaman
jeruk yaitu tanah yang berasal
dari endapan yang subur, cukup
dalam dan tidak mengandung
salinitas yang tinggi.
Walaupun tanaman jeruk bisa
ditanam ditanah berat, tetapi
lebih baik bila ditanam di tanah
ringan sampai sedang, yang
aerasi (peredaran udara) cukup
baik, gembur, cukup dalam, air
bisa merembes, dan cukup
bahan organik.
Tanaman jeruk tidak mempunyai
banyak akar rambut atau boleh
dikatakan tidak mempunyai akar
rambut. Oleh karena itu, tanah
tempat tumbuhnya harus cukup
humus atau bahan organik.
Struktur fisik tanah sangat
penting untuk tanaman ini, tanah
harus bisa mengikat dan
merembeskan air, jangan
sampai tanah tergenang..
Tanaman jeruk manis yang
ditanam pada tanah yang cukup
bahan organik sampai lapisan
dalam lebih dari 50 cm, akan
lebih cepat baik
pertumbuhannya.
Tanaman jeruk sangat sensitif
bila tanah banyak mengandung
garam. Di Indonesia tanaman
jeruk bisa hidup baik pada pH 5-
6. Bila pH terlalu rendah, tanah
dapat ditambah kapur atau
dolomit (dolomit yaitu campuran
karbonat dan magnesium
karbonat).
303
c.Pedoman Teknis
Pengolahan Tanah
Bila tempat tanam telah
ditetapkan dan syarat-syarat
yang diperlukan telah terpenuhi
bisa dimulai mengadakan
persiapan sebagai berikut :
1. Tanah dibersihkan dari
tanaman-tanaman
penggangu.
2. Selanjutnya buatlah
batasan-batasan dengan
sebilah bambu (patok)
untuk menentukan
tempat tanam. Dalam
pembagian ini
diperhitungkan juga
pembagian jalan untuk
mengontrol tanaman
(bila luas areal tanah 1
ha dibagi menjadi 4). Bila
pembuangan air tidak
lancar, buatlah selokanselokan
pembuangan air.
Ini penting, terutama
untuk tempat-tempat
yang cekung dan
keadaaan tanahnya liat.
3. Bila bibit yang digunakan
berakar panjang,
usahakan agar tanah
digembur-gemburkan
lebih dalam. Tapi bila
bibit yang digunakan
berakar dangkal
(misalnya cangkokan,
atau stek), usahakan
agar tanah digemburkan
secara meluas.
4. Pada tanah yang letak air
tanahnya tinggi serta
sedang sebaiknya
ditanam bibit okulasi,
sedang pada areal yang
air tanahnya tidak dalam
penggunaan bibit
cangkokan adalah sangat
tepat.
5. Bila tanah tempat areal
tanam tidak banyak
mengandung humus,
kondisi tanah terlalu
kurus dan liar, sebaiknya
ditanami dulu dengan
tanaman pupuk hijau
selama 1 – 2 tahun.
Setelah itu batang dan
daun dibenamkan, agar
tanah menjadi lebih
subur.
6. Setelah tanah selesai
dikerjakan, mulailah
diajir. Pada tempat yang
akan ditanami pohon
ditancapkan sebuah ajir.
Yang terpenting pada
tahapan ini adalah jarak
ajir yang satu dengan
yang lain harus sama dan
lurus. Aturannya ada dua
macam, yaitu bujur
sangkar atau segitiga.
7. Setelah jalan induk, jalan
kontrol, dan tempat air
rampung diatur,
dimulailah pembuatan
lubang-lubang tempat
penanaman. Lubang
dibuat 3 – 4 minggu
sebelum bibit ditanam.
304
Pembuatan lubang tanam
Saat tanam yang baik untuk
menanam bibit jeruk adalah
pada permulaan musim hujan.
Bisa juga penanaman dilakukan
menjelang akhir musim hujan,
tetapi resikonya kita harus rajin
menyirami bibit muda setiap hari
agar tidak mati kekurangan air
pada musim kemarau.
Waktu terbaik untuk mulai
mengerjakan tanah adalah pada
bulan Juni – Agustus. Besarnya
lubang minimal 60 x 60 x 60 cm.
Lebih besar lebih baik,
umpamanya 80 x 80 x 70 cm
atau 1 x 1 x 0,5 m. Penggalian
lubang jangan terlalu dalam,
pengaruhnya kurang baik ( merugikan),
karena akan tanaman
akan mengumpul di lapisan yang
dalam dan lapisan atas kurang.
Selain itu lubang penanaman
yang terlalu dalam sering
menarik air dari tanah
sekelilingnya, hal itu akan
merusak akar tanaman dan
menghambat pertumbuhannya.
Lubang tanaman dibuat dengan
cara menggali lubang. Tanah
bagian atas yang subur (
berwarna kehitam-hitaman)
dipisahkan dari tanah bawah.
Tanah atas dibuang disebelah
kiri, tanah bawah ke sebelah
kanan. Selanjutnya lubang
dibiarkan menganga terjemur
matahari 2 – 4 minggu lamanya.
Tanah bagian bawah
dimasukkan dalam lubang,
letaknya tetap dibawah seperti
semula. Sedangkan tanah
bagian atas, sebelum
dimasukkan dalam lubang
dicampur dulu dengan 2 – 3
kaleng pupuk kandang/kompos
ditambah 1,5 kg pupuk fosfat.
Dalam keadaan serupa ini bibit
jeruk belum boleh ditanam.
Setelah tanah turun kembali,
hingga muka tanah diatas
lubang sedikit lebih tinggi dari
pada tanah disekelilingnya,
barulah bibit pohon ditanam.
Penanaman
Saat tanam yang baik untuk
menanam bibit jeruk adalah
pada permulaan musim hujan.
Sebelum bibit ditanam, tanah
dalam lubang harus betul-betul
basah dari atas sampai
kebawah.
Bila bibit terletak dalam
keranjang persemaian,
keranjangnya harus dilepas
terlebih dahulu, dan selain itu
perakarannya juga harus
diperiksa. Bibit yang akarnya
berbelit-belit dan melingkarlingkar
jangan dipakai, sebab
akan menggangu pertumbuhan
tanaman nantinya.
Atau kalau hendak dipakai juga,
letak akar dibenarkan dan
diluruskan terlebih dahulu arah
pertumbuhannya. Bila ada akar
yang panjangnya melebihi batas
lubang akar, sebaiknya dipotong
saja kelebihannya.
Janganlah menanam terlalu
dalam, tapi jangan pula terlalu
305
dangkal. Lebih-lebih untuk bibit
okulasi. Jangan sampai tanah
melampaui atau menutupi
batang okulasinya.
Untuk menghindari adanya
rongga-rongga antar akar dan
tanah, siramlah tanah dengan air
sebanyak mungkin. adanya
rongga dalam tanah akan
mengakibatkan akar mengering.
Setelah itu tanah dipadatkan
dengan tangan.
Setelah selesai menanam,
sekitar bibit tanaman diberi
jerami kering guna melindungi
tanah agar tidak kering oleh
panas sinar matahari atau
mengeras padat karena terkena
siraman air hujan.
Lebih bagus lagi kalau jauh
sebelumnya telah disiapkan
bahan perlindungan yang terbuat
dari bumbu dengan atap alangalang,
daun nipah atau kelapa.
Pemeliharaan
Tanaman belum menghasilkan
Langkah pemeliharaan yang
perlu dilakukan adalah:
– pelebaran terumbuk,
kegiatan ini dilakukan 2-3
kali setahun setelah
penyiangan dan
pemupukan. Kegiatan ini
bertujuan untuk
mencegah serangan
jamur pada akar
tanaman. Untuk jeruk
yang ditanam pada areal
pasang surut, pelebaran
terumbuk akan berfungsi
sebagai penambahan
bahan organik.
– Pembuatan parit drainase
tambahan, kegiatan ini
dilaksanakan pada
tanaman berumur 2
tahun.
– Pengairan, karena
tanaman jeruk banyak
membutuhkan air maka
pada kondisi kering
penyiraman perlu
dilakukan terutama
menjelang tanaman
berbunga sampai
berbuah.
– Pemupukan pada
tanaman jeruk yang
belum berbuah dilakukan
dua kali setahun yakni
pada wal dan akhir
musim hujan masingmasing
setengah dosis
yang ditentukan.
Sedangkan pemberian
pupuk kandang diberikan
pada awal musim
penghujan. Untuk
tanaman yang telah
berbuah dilakukan 3 kali
setahun, yakni sebelum
bunga muncul (2/5
bagian) pada saat
pemasakan buah (1/5
bagian), dan sisanya (2/5
bagian) setelah panen.
Tanaman jeruk juga
memerlukan zat pengatur
tumbuh yang diberikan
sebelum tanaman
berbunga hingga pentil
buah mulai terbentuk. Zat
306
pengatur tumbuh yang
dapat digunakan antara
lain Atonik, Dekamon,
dan Dharmasri.
– Penyiangan gulma dapat
dilakukan sebulan sekali
bersamaan dengan
waktu pemangkasan,
penjarangan, atau
pemetikan buah yang
tidak sehat
Tanaman menghasilkan
Tanaman jeruk mulai berbuah
pada umur 3 tahun. Dalam masa
ini pemeliharaan yang perlu
dilakukan adalah sebagai
berikut:
– pemangkasan tunas air,
cabang balik, cabang dan
ranting yang kering atau
lapuk
– penjarangan buah,
sebaiknya buah disisakan
dipohon hanya sebanyak
40%. Tujuan penjarangan
adalah agar kita
mendapatkan buah yang
besar dan bermutu baik.
Pelaksanaan dilakukan
ketika buah masih pentil
atau sekitar dua bulan
setelah berbunga.
Jumlah yang paling baik
bagi pertumbuhan buah
jeruk adalah 10 buah
setiap dompol.
– Pembersihan pentil atau
buah masak yang jatu di
bawah pohon, karena
dapat menjadi sumber
hama dan penyakit.
Hama dan penyakit
Hama
Hama yang biasa menyerang
tanaman jeruk adalah ulat
penggerek adaun, ulat bisul
buah jeruk, berbagai jenis kutu
yang menyerang daun, ranting,
batang dan buah jeruk, serta
lalat jeruk.
Akibat yang ditimbulkannya:
– rontoknya daun
– keringnya bagian yang
terserang dan kemudian
mati
Untuk mengatasinya:
Insektisida Azodrin, Novacron,
untuk lalat jeruk, Folidot-E 605
untuk berbagai serangan hama
kutu, dan Anthlo 33 EC, Azodrin
60 WSC, Sevin 85 untuk
penyakit ulat bisul buah.
Penyakit
Penyakit yang umum menyerang
jeruk adalam CVPD (citrus vein
phloem degeneration), penyakit
akar, embun tepung, antraks
buah, dan busuk buah.
Gejala yang timbul adalah:
– klorosis, atau daun
menjadi tebal dan kaku
– tanaman kerdil
307
– Rusaknya floem tulang
daun
Pengendalian penyakit yang
dilakukan adalah dengan
penyemprotan insektisida dan
akarisida seperti Dimecron 50
WC, Bayrusil, Diazinon, Sandoz
6538 atau Tamaron.
Tanaman yang sudah terserang
penyakit harus di eradikasi,
namun bila serangan masih
ringan atau baru menyerang
pengendalian dapat dilakukan
dengan penginfusan tanaman
menggunakan terramycin 21.6
SP dan Dithan M45-80WP.
Panen dan Pasca Panen
Panen
Cara panen dan waktu panen
buah jeruk sangat menentukan
kualitas buah yang dihasilkan.
Buah jeruk termasuk buah
nonklimatrik yaitu buah yang
tidak mengalami proses
pematangan setelah dipanen.
Adapaun tanda-tanda buah jeruk
yang mempunyai derajat
kematangan cukup antara lain:
– kulit buah kekuningkuningan
(orange)
– Buah tidak terlampau
keras jika dipegang
– Bagian bawah buah agak
empuk.
Cara pemanenan adalah dengan
tangan atau gunting.
Bila menggunakan tangan buah
dipegang kemudian diputar
sedikit dan ditarik ke bawah
sehingga lepas dari tangkainya.
Untuk buah yang terletak pada
tangkai yang tinggi sebaiknya
menggunakan tangga, dan tidak
melakukan pemanjatan pohon
karena dapat merusak pohon.
Waktu pemetikan yang baik
adalah pada pukul 9 pagi atau
pada sore hari.
Gambar 107 sampai 109
dibawah ini merupakan
gambaran proses perubahan
bentuk dan warna dari buah
jeruk Berastagi dari kecil sampai
jeruk siap untuk dipanen.
Gambar 107 Buah jeruk yang
masih pentil
308
Gambar 108 Buah jeruk yang
masih hijau
Gambar 109 buah jeruk siap
panen
Pascapanen
Buah jeruk yang sudah dipetik
dikumpulkan dalam keranjang
yang berkapasitas tidak lebih 10
Kg, agar mudah dibawa pada
waktu pemetikan.
Kemudian buah dapat
dimasukkan ke dalam keranjang
bambu berkapasitas 50-60Kg
yang diberi alas daun pisang
kering.
Sortasi dan Klasifikasi
Buah jeruk yang sudah dipetik
dibersihkan terlebih dahulu
sbelum dilakukan sortasi dan
klasifikasi.
Setelah dicuci buah dikeringkan
dengan menggunakan lap,
kemudian buah yang baik dan
sehat dipisahkan dari buah yang
rusak atau berpenyakit.
Klasifikasi buah jeruk yang
umum dilakukan adalah sebagai
berikut:
– Kelas A: 6 buah per Kg,
diameter buah rata-rata
7.6cm.
– Kelas AB : 8 buah per kg,
diameter buah rata-rata
6.7cm
– Kelas C: 10 kg buah per
kg, diameter buah ratarata
5.9 cm
– Kelas D: 12-14 buah per
kg, diameter buah ratarata
5.8cm.
Sedangkan buah yang akan
diekspor, kelas dan mutu
klasifikasinya adalah sebagai
berikut:
– kelas A: beratnya lebih
besar atau sama dengan
151g/buah diameternya
7.1cm.
– kelas B: beratnya 101-
150g/buah, diameter 6.1-
7.0cm.
309
– kelas C: beratnya 51-
100g/buah, diameter 5.1 -
6.0cm
– KelasD: beratnya lebih
kecil atau sama dengan
ro g/buah, diameter 4.0 –
5.0cm.
Pengemasan
Sebelum buah jeruk dikemas
terlebih dahulu dilakukan proses
penguningan untuk memperoleh
warna kuning yang seragam.
Proses penguningan dilakukan
dengan menggunakan gas etilen
atau asetilen.
Kemudian buah diberi lapisan
lilin untuk memperpanjang umur
kesegaran buah jeruk.
Dari hasil beberapa penelitian
diketahui bahwa buah jeruk yang
dilapisi lilin dapat
memperpanjang kesegaran buah
sekitar 18 hari, dengan susut
berat maksimum 10%,
sedangkan yang tidak dilapisi
lilin hanya bertahan 5 hari.
Selain itu daya simpan jeruk
dapat diperpanjang jika ditaruh
pada suhu ruang 18-320C.
310
9.7.3.Teknik Budidaya mangga
a. Jenis mangga
Mangga Duren
Deskripsi
Nama duren pada mangga ini
disebabkan oleh aroma buahnya
yang mirip durian. Mangga ini
dapat ditemukan di kebun
koleksi mangga Cukurgondang,
Pasuruan, Jawa Timur.
Buahnya berbentuk bulat. Kulit
buahnya tipis dan berwarna hijau
pada waktu masih muda, lalu
berubah menjadi kuning
kemerahan setelah buah
matang.
Gambar 110 Mangga Duren
Kelebihan mangga ini terletak
pada daging buahnya yang
tebal, kenyal, dan rasanya yang
manis segar karena
mengandung cukup banyak air.
Daging buahnya berwarna
kuning jingga dan berserat.
Ukuran buahnya termasuk
sedang, panjang antara 8 – 9 cm
dan berat rata-rata 300 g/buah.
Produksinya tergolong tinggi.
311
Mangga arumanis
Deskripsi
Mangga ini merupakan salah
satu varietas unggul yang telah
dilepas oleh Menteri Pertanian
yang berasal dari daerah
Probolinggo, Jawa Timur.
Buahnya berbentuk jorong,
berparuh sedikit, dan ujungnya
meruncing.
Pangkal buah berwarna merah
keunguan, sedangkan bagian
lainnya berwarna hijau kebiruan.
Kulitnya tidak begitu tebal,
berbintik-bintik kelenjar berwarna
keputihan, dan ditutupi lapisan
lilin.
Gambar 111 Mangga Arumanis
Daging buahnya tebal, berwarna
kuning, lunak, tak berserat, dan
tidak begitu banyak
mengandung air.
Rasanya manis segar, tetapi
pada bagian ujungnya
kadan:gkadang terasa asam.
Bijinya kecil, lonjong pipih, dan
panjangnya antara 13-14 cm.
Panjang buahnya dapat
mencapai 15 cm dengan berat
rata-rata per buah 450 g.
Produktivitasnya cukup tinggi,
dapat mencapai 54 kg/pohon.
312
b. Manfaat Mangga
Sebagai buah meja atau sebagai
minuman.
C. Syarat Tumbuh
Tanaman mangga termasuk
tanaman dataran rendah.
Tanaman ini dapat tumbuh dan
berkembang baik di daerah
dengan ketinggian antara 0-300
m di atas permukaan laut.
Meskipun demikian, tanaman ini
juga masih dapat tumbuh
sampai ketinggian 1.300 m di
atas permukaan laut.
Daerah dengan curah hujan
antara 750-2.250 mm per tahun
dan temperatur 24-27° C
merupakan tempat tumbuh yang
baik untuk tanaman buah ini.
Jenis tanah yang disukainya
adalah tanah yang gembur,
berdrainase baik, ber-pH antara
5,5-6, dan dengan kedalaman air
tanah antara 50-150 cm.
d. Pedoman Teknis Budidaya
Perbanyakan tanaman
Umumnya, tanaman mangga
diperbanyak dengan okulasi,
walaupun dapat pula dengan
sambung pucuk dan cangkok.
Sebagai batang bawah
digunakan semai mangga madu,
cengkir (indramayu), dan
bapang.
Penggunaan bibit dari biji tidak
dibenarkan, kecuali untuk batang
bawah.
Batang bawah yang tidak serasi
(inkompatibel) berpengaruh
kurang baik terhadap
pertumbuhan dan pembuahan
(produksi buah, bentuk buah,
dan rasa daging buah) batang
atas.
Pembuatan bibit (semaian dan
okulasi) biasanya langsung
dilakukan di kebun. Kemudian,
dipindahkan ke polibag setelah
tinggi tunas sekitar 20 cm.
Budi daya tanaman
– Bibit ditanam dalam
lubang tanam berukuran
60 cm x 60 cm x 50 cm
dengan jarak tanam 8-12
m.
– Setiap lubang diberi
pupuk kandang yang
telah jadi sebanyak 1-2
blek bekas minyak tanah
atau 20 kg.
– Bibit okulasi ditanam di
lahan setelah mencapai
ketinggian lebih dari 75
cm.
Pemupukan
Pupuk buatan yang diberikan
berupa campuran 200 kg urea,
500 kg TSP (667 kg SP-36), dan
150 kg KCl per hektar atau 200 g
urea, 500 g TSP, dan 150 g KCl
per tanaman.
313
Pemupukan dilakukan empat kali
dengan selang tiga bulan.
Dosisnya meningkat sesuai
dengan umur tanaman.
Pemangkasan
Setelah mencapai tinggi 1 m,
bibit dipangkas pada perbatasan
bidang pertumbuhan agar dapat
bercabang banyak.
Cabang ini dipelihara 2-3 tunas
per cabang. Pemangkasan
diulang setelah cabang baru
mencapai panjang 1 m, demikian
seterusnya hingga diperoleh
susunan 1-3-9 cabang.
Pemeliharaan
Pengendalian Hama dan
Penyakit
Hama
Hama yang merisaukan adalah
penggerek batang
(Cryptorrhynchus sp) dan
kumbang cicade (Idiocerus
niueosparsus).
Serangga hama pengisap
Idiocerus sangat merusak bunga
mangga hingga berguguran.
Jumlah bunga betina rendah
dengan pembuahan oleh tepung
sari yang lemah.
Serangan serangga (wereng)
menyebabkan produksi mangga
rendah. Hama ini dapat diatasi
dengan semprotan insektisida
sistemik Tamaron 0,2%.
Pemberian insektisida melalui
infus lebih dianjurkan untuk
menghindari pengaruh jelek
terhadap kumbang
penyerbuknya.
Penyakit
Penyakit yang sering
menyerang, terutama di daerah
beriklim basah adalah penyakit
blendok (lh’plodia sp.), mati
pucuk (Gloeosporium sp.), dan
penyakit pascapanen
(Botryodiplodia sp) yang
menyebabkan buah mangga
cepat membusuk pada bagian
pangkalnya.
Namun, penyakit ini juga dapat
menyerang batang sambungan
bibit mangga bila kondisi
lingkungan tanaman lembap dan
dingin.
Serangan Diplodia yang sangat
merusak batang dapat diatasi
dengan mengoleskan larutan
Benlate 0,3% atau lisol 20-50%
pada luka yang telah dibersihkan
lebih dulu.
Panen dan Pasca Panen
Buah mangga dipanen setelah
tua benar.
Cirinya adalah sebagai berikut:
– bagian pangkal buah
telah membengkak rata
– warnanya mulai
menguning.
Pemungutan buah yang belum
tua benar menyebabkan rasanya
agak asam dan kelat (mutu
rendah).
314
Umur buah dipanen kira-kira 4-5
bulan (110-150 hari) sejak bunga
mekar (anthesis).
Pemetikan harus hati-hati, tidak
boleh jatuh, dan getahnya tidak
boleh mengenai buah mangga
tersebut.
Umumnya, tanaman mangga
berbunga pada bulan Juli-
Agustus. Buah matang dapat
dipanen pada bulan September-
Desember.
Buah harus dibersihkan dari
kutu, jelaga, dan getah yang
menempel.
315
9.7.4. Teknik Budidaya Pepaya
a. Manfaat
Selain untuk konsumsi buah
segar, buah pepaya matang
dapat diolah menjadi saus
pepaya.
Buah yang setengah matang
biasanya dibuat manisan,
sedangkan buah muda disayur.
Daunnya yang masih muda serta
bunganya dibuat urap (lalap
masak) dan buntil.
Tanaman yang masih berdaun
3-5 helai dan buah muda dapat
diambil getahnya untuk papain.
Papain digunakan untuk
penyamak kulit serta
melunakkan daging dan bahan
kosmetik.
b. Jenis-jenis Pepaya
Pepaya Cibinong
Gambar 112 Pepaya Cibinong
Deskripsi
Warna kulit buah bagian ujung
biasanya kuning, sedangkan
bagian lainnya tetap hijau.
Pepaya cibinong memiliki ciri
tersendiri, yaitu buah yang
matang tampak pada warna kulit
buahnya. Bentuk buahnya
panjang dengan ukuran besar.
Bobot setiap buah rata-rata 2,5
kg.
Pangkal buah kecil kemudian
membesar di bagian tengah dan
melancip di bagian ujungnya.
Permukaan kulit buah agak
halus tetapi tidak rata. Daging
buah berwarna merah
kekuningan.
Keistimewaan lainnya pepaya ini
ialah rasanya manis segar,
teksturnya keras, dan tahan
selama pengangkutan
316
Pepaya Bangkok
Deskripsi
Pepaya bangkok bukan tanaman
asli Indonesia. Jenis pepaya ini
didatangkan dari Thailand
sekitar tahun 70-an.
Pepaya bangkok diunggulkan
karena ukurannya paling besar
dibanding jenis pepaya lainnya.
Beratnya dapat mencapai 3,5 kg
per buahnya.
Gambar 113 Pepaya Bangkok
Selain ukuran, keunggulan
lainnya ialah rasa dan ketahanan
buah.
Daging buahnya berwarna jingga
kemerahan, rasanya manis
segar dan teksturnya keras
sehingga tahan dalam
pengangkutan.
Rongga buahnya kecil sehingga
dagingnya tebal. Permukaan
kulit buah kasar dan tidak rata.
317
Pepaya Hawai
Deskripsi
Pepaya yang berasal dari
Kepulauan Hawaii ini merupakan
suatu jenis pepaya “solo”.
Pepaya “solo” artinya pepaya
yang habis dimakan hanya untuk
satu orang.
Oleh karena itu, dapat dipastikan
keistimewaan pepaya ini ialah
ukurannya yang kecil.
Gambar 114 Pepaya hawai
Bobot buahnya hanya sekitar 0,5
kg. Bentuknya agak bulat atau
bulat panjang.
Kulit buah yang telah matang
berwarna kuning cerah.
Daging buahnya agak tebal,
berwarna kuning, dan rasanya
manis segar.
Pepaya jingga
Deskripsi
Daging buah pepaya ini
berwarna merah jingga
Gambar 115 Pepaya Jingga
318
Pepaya Mas
Deskripsi
Pepaya ini berwarna kuning
keemasan
Gambar 116 Pepaya Mas
c. Syarat Tumbuh
Tanaman pepaya dapat tumbuh
di dataran rendah hingga
ketinggian 1.000 m dpl.
Tanaman ini lebih senang
tumbuh di lokasi yang banyak
hujan (cukup tersedia air), curah
hujan 1000-2000 mm per tahun
dan merata sepanjang tahun.
Tanaman ini lebih senang
tumbuh di lokasi yang banyak
hujan (cukup tersedia air), curah
hujan 1000-2000 mm per tahun
dan merata sepanjang tahun.
Di daerah yang beriklim kering,
musim hujannya 2-5 bulan, dan
musim kemaraunya 6-8 bulan,
tanaman pepaya masih mampu
berbuah, asalkan kedalaman air
tanahnya 50-150 cm.
Tanah yang subur dengan
porositas baik, mengandung
kapur, dan ber-pH 6-7 paling
disenangi oleh tanaman pepaya.
Tanaman pepaya lebih
menyukai daerah terbuka (tidak
ternaungi) dan tidak tergenang
air. Tanah yang berdrainase
tidak baik menyebabkan
tanaman mudah terserang
penyakit akar.
d. Pedoman Budidaya
1. Perbanyakan tanaman
Pepaya hanya diperbanyak
dengan bijinya yang berwarna
hitam. Biji yang berwarna putih
dibuang karena bersifat abortus,
yakni tidak mempunyai embrio
dan mati sejak buah pentil. Biji
diambil dari buah pepaya
sempurna yang telah matang
pohon.
Untuk menghasilkan tanaman
sempurna sebanyak banyaknya
maka biji yang akan dibiakkan
diambil dari bagian ujung buah
pepaya yang telah matang
pohon.
Biji-biji dari bagian ujung buah
akan menghasilkan tanaman
sempurna antara 70-80%,
sedangkan bagian pangkal
319
menghasilkan tanaman
sempurna antara 50-65%.
2. Persemaian
Biji disemaikan dulu atau
ditanam langsung. Budi daya
tanaman
Pepaya ditanam dari biji terpilih.
Biji disemai di polibag kecil dan
ditanam di kebun setelah
berumur tiga bulan.
Seleksi dilakukan saat tanaman
mulai berbunga. Dalam seleksi
ini dipilih tanaman yang hanya
berbunga sempurna. Seleksi ini
dapat dilakukan di kebun atau
saat di pot.
3. Penanaman
Lubang tanam dibuat berukuran
60 cm x 60 cm x 40 cm,
kemudian diisi pupuk kandang
yang telah matang sebanyak 20
kg/lubang. Jarak tanam dibuat 3
m x 3 m atau 13,5 m x 2 m.
Umumnya, tanaman mulai
berbunga setelah berumur tiga
bulan. Bunga sempurna muncul
setelah bunga ke-4.
Cara penanaman lain yang biasa
dilakukan petani adalah
menanam biji pepaya langsung
ke dalam lubang tanam, tiap
lubang ditanam 3-5 biji.
Setelah bibit berumur sekitar tiga
bulan, biasanya bunga jantan
mulai tumbuh.
Setelah itu, dilakukan seleksi,
yaitu membuang tanaman
berbunga jantan. Tiap lubang
disisakan satu bibit yang tumbuh
kekar, sehat, dan berbunga
sempurna. Bunga sempurna
(dalam satu bunga ada putik dan
benang sari fertill) -biasanya
baru muncul setelah bunga ke-4.
Bibit yang tidak terpilih dibuang
atau dipindahkan untuk sulaman
pada lubang lain yang bijinya
tidak tumbuh.
Pemindahan bibit harus hati hati,
disertai tanah yang
membungkus akar bibit.
Kerusakan akar bibit
mengakibatkan tanaman
layu/mati.
4. Pemeliharaan
Pemupukan
Pupuk buatan yang diberikan
berupa NPK sebanyak 25—-200
g per tanaman, tergantung
umurnya: Dosis pemupukan
mulai dari 25 g, kemudian
meningkat dengan interval 25 g
per tanaman.
Pupuk diberikan 3-4 bulan
sekali. Tanaman mulai berbunga
terus-menerus (tidak musiman),
tetapi perlu pemberian air
sekurang-kurangnya seminggu
sekali bila kekeringan (musim
kemarau).
320
Pengendalian gulma
Perawatan selanjutnya,
membersihkan gulma/alangalang.
Pembersihan kebun dengan
cangkul atau traktor harus hatihati,
jangan sampai merusak
akar.
Hama dan Penyakit
Hama
Hama yang sering menyerang
tanaman pepaya pada musim
kemarau adalah tungau merah
Tetranychus kansawai dan kutu
daun yang berwarna kuning
Myzus persicae.
Kutu daun inilah yang menjadi
vektor dan penyebar virus
keriting (mosaik) yang ditakuti
petani pepaya karena sukar
diberantas.
Penyakit
Penyakit yang biasa menyerang
tanaman pada kondisi lembap
dan suhu malam dingin adalah
bercak buah Colletotrichum
gloeosporioides dan penyakit
busuk akar Phytophthora
palmivora.
Selain itu, penyakit lain yang
sering menyerang tanaman
pepaya adalah layu bakteri
Bacterium papayae.
Tanaman yang terserang bakteri
layu akan menunjukkan gejala
layu mendadak, tanpa ditandai
dengan menguningnya daun.
Buah yang masih muda tampak
pucat dan getahnya encer sekaii.
Biasanya, buah yang masih
muda berguguran. Penyakit
busuk akar dan layu dapat
dicegah dengan drainase kebun
yang baik. Hama tungau merah
dan kutu daun dapat diatasi
dengan menyemprotkan
Kelthane 0,2%.
321
9.7.5. Teknik Budidaya Pisang
a.Pendahuluan
Salah satu buah yang digemari
oleh sebagian besar penduduk
dunia adalah pisang (Musa
Paradisiaca L).
Buah ini digemari karena
memiliki rasa yang enak,
kandungan gizinya tinggi, mudah
didapat, dan harganya relatif
murah.
Indonesia mempunyai prospek
yang baik untuk pengembangan
komoditas pisang kaena iklimnya
cocok untuk tanaman pisang,
ketersediaan lahan, dan tenaga
kerja yang melimpah.
b. Jenis-jenis Pisang
Pisang Ambon Lumut
Deskripsi
Pisang yang berasal dari
Temanggung, Jawa Tengah ini
warna kulit buahnya tetap hijau
walaupun sudah matang.
Gambar 117 Pisang ambon
lumut
Produksi buahnya tergolong
tinggi. Setiap pohon dapat
menghasilkan 7-10 sisir dengan
jumlah buah 140-200.
Panjang buah 20-23 cm dengan
diameter 4-5 cm. Bentuk buah
memanjang dengan pangkal
buah membengkok.
Kulit buahnya tipis. Daging buah
berwarna putih kekuningan
dengan rasa manis dan pulen.
Pisang ini termasuk genjah
karena biarpun umurnya baru
setahun, sudah mampu
menghasilkan buah.
Pisang kapok Kuning
Deskripsi
Pisang yang berasal dari
Temanggung, Jawa Tengah ini
warna kulit buahnya tetap hijau
walaupun sudah matang.
Gambar 118 Pisang Kapok
kuning
322
Produksi buahnya tergolong
tinggi. Setiap pohon dapat
menghasilkan 7-10 sisir dengan
jumlah buah 140-200.
Panjang buah 20-23 cm dengan
diameter 4-5 cm. Bentuk buah
memanjang dengan pangkal
buah membengkok. Kulit
buahnya tipis.
Daging buah berwarna putih
kekuningan dengan rasa manis
dan pulen.
Pisang ini termasuk genjah
karena biarpun umurnya baru
setahun, sudah mampu
menghasilkan buah.
Pisang Ambon Kuning
Deskripsi
Pisang ini berkulit kuning
keputihan. Keunggulannya
terletak pada rasa buah yang
manis dan beraroma harum.
Tanaman ini pertama kali
dikembangkan di daerah
Malang, Jawa Timur.
Panjang buahnya antara 15-20
cm. Satu pohon dapat
menghasilkan 7-10 sisir dengan
jumlah buah 100-150.
Bentuk buah melengkung
dengan pangkal meruncing.
Daging buah berwarna putih
kekuningan.
Umumnya buah pisang ini tidak
mengandung biji.
Gambar 119 Pisang Ambon
Kuning
Pisang Barangan Merah
Deskripsi
Pisang ini juga berasal dari
Medan. Sifatnya lebih baik
dibanding barangan kuning.
Buahnya diunggulkan karena
memiliki rasa sangat manis,
beraroma harum, dan tidak
berbiji.
Disebut barangan merah karena
daging buahnya berwarna
kuning kemerahan.
Produksi dan ukuran buahnya
tidak berbeda dengan pisang
barangan kuning.
Bentuk buah melengkung
dengan ujung meruncing. Kulit
buah tebal berwarna kuning
kemerahan berbintik cokelat.
323
Pisang Nangka
Deskripsi
Pisang ini kulit buahnya tetap
berwarna hijau walaupun sudah
matang.
Kulit buah ini agak tebal.
Buahnya berukuran besar,
panjangnya dapat mencapai 28
cm. Bentuk buah melengkung.
Gambar 120 Pisang Nangka
Walaupun berukuran agak
besar, pisang yang berasal dari
Malang, Jawa Timur, ini hanya
berbobot 150-180 g per buah.
Daging buah berwarna kuning
kemerahan dengan rasa manis
sedikit asam dan aroma harum.
Pisang Raja Bulu
Deskripsi
Pisang ini merupakan salah satu
jenis pisang raja yang ukurannya
sedang dan gemuk. Bentuk
buahnya melengkung dengan
pangkal buah agak bulat.
Kulitnya tebal berwarna kuning
berbintik cokelat.
Gambar 121 Pisang Raja Bulu
Daging buahnya sangat manis,
berwarna kuning kemerahan,
bertekstur lunak, dan tidak
berbiji. Panjang buah antara 12-
18 cm dengan bobot ratarata
110-120 g. Setiap pohon
biasanya dapat menghasilkan
rata-rata sekitar 90 buah.
c. Manfaat
Buahnya merupakan produk
utama pisang. Pisang
dimanfaatkan baik dalam
keadaan mentah, maupun
dimasak, atau diolah menurut
cara-cara tertentu. Pisang dapat
diproses menjadi tepung, kripik,
‘puree’, bir (Afrika), cuka, atau
didehidrasi.
Daun pisang digunakan untuk
menggosok lantai, sebagai alas
‘kastrol’ tempat membuat nasi
‘liwet’, dan sebagai pembungkus
berbagai makanan.
324
Serat untuk membuat kain dapat
diperoleh dari batang semunya.
Bagian-bagian vegetatif beserta
buah-buah yang tidak
termanfaatkan digunakan
sebagai pakan ternak; bagianbagian
vegetatif itu khusus
dimanfaatkan jika pakan ternak
dan air sulit diperoleh (batang
semu itu banyak mengandung
air).
Tanaman pisang (atau daun dan
buahnya) juga memegang
peranan dalam upacara-upacara
adat, misalnya di Indonesia,
untuk upacara pernikahan,
ketika mendirikan rumah, dan
upacara keagamaan setempat.
Dalam pengobatan, daun pisang
yang masih tergulung digunakan
sebagai obat sakit dada dan
sebagai tapal dingin untuk kulit
yang bengkak atau lecet.
Air yang keluar dari pangkal
batang yang ditusuk digunakan
untuk disuntikkan ke dalam
saluran kencing untuk mengobati
penyakit raja singa, disentri, dan
diare; air ini juga digunakan
untuk menyetop rontoknya
rambut dan merangsang
pertumbuhan rambut. Cairan
yang keluar dari akar bersifat
anti-demam dan memiliki daya
pemulihan kembali.
Dalam bentuk tepung, pisang
digunakan dalam kasus anemia
dan casa letih pada umumnya,
serta untuk yang kekurangan
gizi.
Buah yang belum matang
merupakan sebagian dari diet
bagi orang yang menderita
penyakit batuk darah
(haemoptysis) dan kencing
manis.
Dalam keadaan kering, pisang
bersifat antisariawan usus. Buah
yang matang sempurna
merupakan makanan mewah jika
dimakan pagi-pagi sekali.
Tepung yang dibuat dari pisang
digunakan untuk gangguan
pencernaan yang disertai perut
kembung dan kelebihan asam
d. Syarat Tumbuh
Dengan pertumbuhannya yang
sangat cepat dan terus-menerus,
yang akan mengakibatkan hasil
yang tinggi, pisang memerlukan
tempat tumbuh di iklim tropik
yang hangat dan lembap.
Walaupun begitu, pisang ini
sangat menarik sehingga orang
menanamnya juga persis di
batas daerah ekologinya, yang di
tempat itu kecepatan tumbuh
rata-ratanya hanya dapat
mendukung hasil yang minim
saja.
Suhu merupakan faktor utama
untuk pertumbuhan.
Di sentra-sentra produksi
utamanya suhu udara tidak
pernah turun sampai di bawah
15°C dengan jangka – waktu
yang cukup lama; suhu optimum
untuk pertumbuhannya adalah
sekitar 27°C, dan suhu
maksimumnya 38°C.
325
Kebanyakan pisang tumbuh baik
di lahan terbuka, tetapi kelebihan
penyinaran akan menyebabkan
terbakar-matahati (sunburn).
Dalam keadaan cuaca berawan
atau di bawah naungan ringan,
daur pertumbuhannya sedikit
panjang dan tandannya lebih
kecil.
Pisang sangat sensitif terhadap
angin kencang, yang akan
merobek-robek daunnya,
menyebabkan distorsi tajuk dan
dapat merobohkan pohonnya.
Diperlukan pasokan air yang
ajek; untuk pertumbuhan
optimalnya curah hujan
hendaknya 200-220 mm, dan
kelembapan tanahnya jangan
kurang dari 60-70% dari
kapasitas lapangan, jadi
sebagian besar lahan
memerlukan pengairan
tambahan.
Tanah yang paling baik untuk
pertumbuhan pisang adalah
tanah liat yang dalam dan
gembur, yang memiliki
pengeringan dan aerasi yang
baik.
Kesuburan yang tinggi akan
sangat menguntungkan dan
kandungan bahan organiknya.
hendaknya 3% atau lebih.
Tanaman pisang toleran
terhadap pH 4,5-7,5.
e.Pedoman Budidaya
Bibit
1. Bibit dari bonggol (bit)
2. Bibit dari anakan :
􀁸 Tunas rebung : belum
berdaun, tinggi 20-40 cm
􀁸 Anakan muda : tunas
daun telah keluar tetapi
masih menggulung, tinggi
41-100 cm
􀁸 Anakan sedang : tinggi
101-150 cm
􀁸 Anakan dewasa : daun
mekar lebih dari dua
helai, tinggi 151-175 cm
3. Bibit dari kultur jaringan
Untuk mendapatkan hasil yang
optimal, sebaiknya pisang
ditanam di dataran rendah,
dengan ketinggian kurang dari
1.000 m dpl. Iklim yang cocok
adalah iklim basah dengan curah
hujan merata sepanjang tahun,
maka pisang memberikan hasil
yang baik pada musim hujan dan
kurang baik pada musim
kemarau.
Tanah yang cocok adalah tanah
yang subur, tanah liat yang
mengandung kapur atau tanah
alluvial dengan pH antara 4,5-
7,5.
Selain itu jenis pisang juga
mempengaruhi keberhasilan
penanaman pisang.
326
1. Pembibitan
Pisang umumnya diperbanyak
dengan anakan. Anakan yang
berdaun pedang-lah yang lebih
disenangi petani, sebab pohon
pisang yang berasal dari anakan
demikian akan menghasilkan
tandan yang lebih besar pada
panen pertamanya (tanaman
induk).
Bonggol atau potongan bonggol
juga digunakan sebagai bahan
perbanyakan. Bonggol ini
biasanya dibelah dua dan
direndam dalam air panas (52°
C) atau dalam larutan pestisida
untuk membunuh nematoda dan
penggerek sebelum ditanamkan.
Kini telah dikembangkan kultur
jaringan untuk perbanyakan
secara cepat, melalui ujung
pucuk yang bebas-penyakit.
Cara ini telah dilaksanakan
dalam skala komersial, tetapi
adanya mutasi yang tidak
dikehendaki menimbulkan
kekhawatiran.
Rekayasa bioteknologi pisang
dengan kultur jaringan
mempunyai keunggulan sebagai
berikut:
– Bibit pisang bebas dari
infeksi penyakit seperti
virus dan nematoda
sehingga secara ekonomi
lebih menguntungkan
– Persentase hidup
tanaman relatif tinggi
(95%).
– Umur berbuah lebih
cepat 3-4 bulan
dibandingkan dengan
cara lain
– Tanaman lebih seragam
dan sesuai dengan sifat
induknya
– Waktu panen serentak
sehingga memudahkan
pemasaran
-
2. Penyiapan lahan
Lahan untuk tanaman pisang
harus disiapkan dengan baik
agar dapat menjadi media
pertumbuhan yang subur.
Pekerjaan pengolahan lahan
untuk tanaman pisang tersebut
antara lain:
– Pembajakan tanah, untuk
membongkar tanah
dengan kedalaman
kurang lebih 7rcm agar
menjadi media yang baik
untuk perakaran tanaman
– Penggaruan, yakni
penghancuran
bongkahan-bongkahan
tanah dan meratakan
tanah. Penggaruan
dilakukan setelah
pemotongan dan
pembalikan tanah.
Penggalian lubang tanam,
umumnya lubang tanam pisang
berukuran 60cm X 60cm X
60cm.
327
3. Penanaman
Penanaman pada umumnya
dilakukan pada awal musim
hujan.
Kebutuhan bibit pisang untuk
luas penanaman satu hektar
tergantung pada jarak tanamnya.
Untuk jarak tanam 6mX6m
dibutuhkan 1.700 bibit, jika jarak
tanam 5m x 5m dibutuhkan
2.000 bibit, sedangkan jarak
tanam 4m x 4m dibutuhkan
2.500 bibit.
Bahan perbanyakan biasanya
ditanamkan sedalam 30 cm.
Pisang dapat dijadikan tanaman
utama atau tanaman pencampur
pada sistem tumpang sari.
Pisang biasanya ditanam
sebagai tanaman perawat (nurse
drop) untuk tanaman muda
coklat, kopi, lada, dan
sebagainya. Juga dapat
digunakan sebagai tanaman sela
pada perkebunan karet atau
kelapa sawit yang baru
dibangun, atau ditanam di
bawah pohon-pohon kelapa
yang telah dewasa.
Jika ditanam sebagai tanaman
utama, pisang biasanya
ditumpangsarikan dengan
tanaman semusim.
3. Pemeliharaan
Penyiangan
Penyiangan berulang-uiang
diperlukan sampai pahon-pohon
pisang dapat menaungi dan
menekan gulma.
Gulma diberantas dengan caracara
mekanik (dibabat, dibajak, -
dan sebagainya) atau dengan
tangan: Herbisida pratumbuh
cukup efektif, dan jika tanaman
telah mencapai tinggi 1,5 m atau
lebih, dapat digunakan herbisida
kontak.
Pemupukan
Pisang memerlukan sejumlah
besar hara. Di pekarangan
pemakaian pupuk kandang dan
kompos dianjurkan, yang
dikombinasikan dengan 0,25 kg
urea dan kalium nitrat (muriate of
potash) setiap tiga bulan untuk
masing-masing rumpun.
Pengairan
Pengairan diperlukan di areal
yang memiliki musim kemarau
panjang, tetapi juga jika curah
hujannya kurang dari 200-220
mm bulan. Air dapat dialirkan
melalui parit atau disemprotkan;
kini pengairan-tetesan (drip
irrigation) telah banyak diterima.
Selama putaran pemangkasan
ringan, daun-daun yang layu
dipotong agar diperoleh mulsa
dan untuk menghindari sumber
infeksi melalui penyakit-penyakit
daun.
Pengurangan anakan
DI perkebunan skala komersial
beberapa tindakan lain dilakukan
untuk mempertahankan
produktivitas yang tinggi dan
328
untuk menjamin buah berkualitas
baik untuk pasatan (ekspor).
Tindakan-tindakan itu mencakup
pembuangan anakan,
pembuangan tunggui-tunggul,
pemotongan jantung pisang, dan
pengurangan tandan buah.
Setiap 6-12 minggu tanaman
pisang dibuangi anakannya,
hanya ditinggalkan satu tanaman
induk (yang sedang berbuah),
satu batang anakan (yang
tertua), dan dalam hal tanamansirung
(ratoons), satu tanaman
cucu.
Pada kepadatan yang rendah,
setiap rumpun dapat berisi 2
batang induk berikut 2
anakannya.
Jadi, untuk menghindari
berjejalnya batang, dan untuk
mengatur panen yang berurutan
dalam setiap rumpun, satu
anakan disisakan pada satu
pohon induk setiap 6-10 bulan
(atau lebih untuk daerah beriklun
sejuk) untuk menghasilkan
tandan berikutnya. Hanya
anakan yang sehat dan
tertancap dalam yang boleh
disisakan.
Penyangga atau tali dapat
memberikan dukungan
tambahan bagi tanaman yang
berisi tandan buah; topangan ini
akan menghindarkan tanarnan
dari patahnya batang karena
keberatan oleh tandan.
Jantung pisang hendaknya
segera dibuang setelah 2 sisir
terakhir dari tandan itu muncul.
Pada waktu yang bersamaan,
satu atau dua sisir terakhir
mungkin perlu dibuang untuk
meningkatkan panjangnya
masing-masing buah pisang
yang tersisa, dan tandan itu
mungkin perlu dikarungi.
Karung itu dapat berupa kantung
plastik yang telah diberi
insektisida, maksudnya untuk
menghindari kerusakan oleh
serangga, burung, debu, dan
sebagainya, dan untuk
menaikkan suhu tandan,
memajukan pertumbuhan buah,
terutama untuk daerah beriklim
dingin.
Pengendalian Hama dan
Penyakit
Penyakit
1.Sigatoka kuning atau bercak
daun merupakan salah satu
penyakit yang paling berbahaya.
Penyakit ini disebabkan oleh
Mycosphaerella musicola (tahap
konidiumnya disebut Cercospora
musae) yang endemik untuk
Asia Tenggara, dan hanya
dijumpai pada pisang.
Bercak daun ini menyebabkan
kematian dini sejumlah besar
daun pisang, menyebabkan
tandan buah mengecil dengan
sedikit sisiran, dan individu buah
pisang yang kurang penuh.
329
2. Penyakit layu Fusarium atau
penyakit Panama disebabkan ,
oleh Fusarium oxysporum f.
cubense.
Penyakit ini berupa jamur tanah
yang meriyerang akar kultivarkultivar
pisang yang rentan, dan
menyumbat sistem pembuluh,
sehingga tanaman akan layu.
Satu-satunya cara
pemberantasan ialah
penghancuran fisik atau kimiawi
(herbisida) pada tanaman yang
terserang dan tetanggatetangganya;
lahan hendaknya
dikosongkan dan dipagari, serta
dikucilkan dari penanaman dan
aliran pengairan.
Penyakit layu bakteri atau
penyakit Moko
Penyakit ini disebabkan oleh
Pseudomonas solanacearum,
dan dapat membunuh pohon
pisang yang terserang hanya
dalam jangka waktu satu-dua
minggu.
Bakteri ini dapat ditularkan
secara mekanik, tetapi biovar 1-
SFS adalah galur yang
ditularkan oleh serangga, dan
dianggap sebagai galur yang
paling berbahaya.
Pengendaliannnya mencakup
desinfeksi semua peralatan yang
digunakan dalam berbagai
pengolahan pertanian dan
penghancuran tanaman yang
terserang, beserta tetanggatetangganya.
Fumigasi dan pengkarantinaan
lahan yang terserang sangat
dianjurkan. Penyakit ini umum,di
belahan bumi barat; di Asia
Tenggara hanya ada di Filipina
(Mindanao).
Penyakit-penyakit virus
mencakup penyakit pucuk
menjurai (bunchy top), mosaik,
dan mosaik braktea. Penyakit
pucuk menjurai dan penyakit
mosaik ditularkan oleh afid [afid
pisang, (Pentalonia
nigronervosa), menyebabkan
pucuk pisang menjurai; afid
jagung (Rhopalosiphum maidis),
dan afid kapas (Aphis gossypii),
kesemuanya itu adalah vektorvektor
untuk penyakit mosaik].
Pernberantasan penyakitpenyakit
ini mencakup tindakan
karantina, pemeriksaan secara
teratur dan penghancuran
tanaman yang terserang,
penggunaan bahan perbanyakan
yang. bebas virus, pembuangan
inang alternatifnya, dan
pemberantasan vektorvektornya.
Hama
Serangga hama yang paling
berbahaya adalah kumbang
penggerek pisang (Cosmopolitis
sordidus).
Hama ini berasal dari Asia
Tenggara, tetapi telah tersebar
ke semua areal penanaman
pisang. Yang paling merusak
adalah Iarvanya: larva-larva itu
menggerek bonggol dan menjadi
pupa di lorong-lorong yang
dibuatnya. Sebagian besar
330
jaringan bonggol akan rusak,
akibatnya akan menurunkan
kemampuan pengambilan air
dan hara, juga kemampuan
tertancapnya tanaman.
Serangga dewasanya
meletakkan telur pada jaringanjaringan
bonggol atau di
sekitarnya.
Langkah pemberantasannya
mencakup pencacahan bonggol
dan batang semu agar
pembusukan berlangsung lebih
cepat, menjerat dan menangkap
serangga-serangga dewasa,
menggunakan bahan
perbanyakan yang tidak
terserang, merusak tempat
berlindung dan tempat makan
serangga dewasa dengan cara
menjaga kebersihan lahan di
sekitar tanaman, dan
menggunakan insektisida. Dua
macam ‘thrips’ menyerang
tanaman pisang. ‘Thrips’ bunga,
“thrips florum, berukuran kecil,
dapat memasuki buah yang
sedang berkembang ketika
brakteanya masih ada.
Serangga ini bertelur di situ dan
memakan buah-buah yang
muda, menyebabkan buah
berkulit kasar dan kadangkadang
menjadi pecah-pecah.
‘Thrips’ merah karat
(Chaetanaphothrips signipennis)
memakan bagian-bagian tempat
perlekatan buah pisang pada
tandannya, menimbulkan warna
kemerah-merahan.
Pemberantasan hama ini
dilakukan dengan insektisida
atau pembungkusan tandan;
membantu koloni semut berada
di sekitar tempat itu juga dapat
bermanfaat.
Nematoda pelubang
(Radopholus similis) adalah jenis
nematoda yang paling merusak.
Bercak-bercak atau bintik bintik
hitam pada akar menunjukkan
adanya serangan yang
kemudian diikuti oleh infeksi
jamur.
Tanaman yang terserang hebat
hanya tinggal berupa batang
berakar busuk, yang mudah
roboh jika telah terbentuk tandan
buah. Langkah-langkah
pemberantasannya mencakup
pembuangan tanaman yang
terserang,
4. Panen dan Pasca Panen
Panen
Buah pisang dipanen ketika
masih mentah. Pemetikan yang
dilakukan pada tingkat
kematangan yang tepat akan
menghasilkan buah pisang yang
prima.
Tanda-tanda buah pisang yang
mempunyai tingkat kematangan
cukup antara lain:
– Buah tampak berisi dan
bagian tepi buah sudah
tidak ada lagi
– Pada sisir buah bagian
atas sudah ada yang
matang sekitar 2-3buah
– Tangkai pada putik telah
gugur
331
Tingkat kematangan
diperkirakan dari adanya sikusiku
pada individu buah; buah
yang penampang melintangnya
lebih bulat berarti lebih matang.
Sewaktu berat buah meningkat
dengan cepat sejalan dengan
menghilangnya siku-siku pada
buah, buah pisang juga menjadi
lebih rentan terhadap kerusakan
selama pengangkutan, dan buah
itu tidak dapat bertahan lama,
karenanya harus dipetik lebih
awal.
Untuk memanen pisang
diperlukan 2 orang, si pemanen
dan si pengumpul. Si pengumpul
menyandang bantalan bahu
untuk menahan jatuhnya tandan
setelah si pemanen menusuk
batang pisang dengan parang,
sehingga bagian atas pohon
beserta tandannya merunduk.
Diperlukan satu galah bambu
untuk menopang tandan sampai
menyentuh bantalan di bahu:
Setelah tandan itu merendah
dengan cara begitu, si pemanen
memotong gagang tandan
dengan menyisakan sebagian
gagang yang masih berada pada
tandan, yang digunakan sebagai
pegangan.
Tandan-tandan itu kemudian
diangkut dengan hati-hati ke
ruangan pengepakan melalui
sistem kabel atau dengan
gerobak yang ditarik oleh traktor.
Penanganan pasca panen
– Pengumpulan
Pisang yang telah dipanen
dikumpulkan ditempat yang
terlindung sinar matahari. Daun
pisang dapat digunakan sebagai
alas agar buah tidak luka.
Sebelum dilakukan sortasi,
tandan pisang disisir dahulu
dengan menggunakan pisau
yang tajam agar tidak terjadi
luka. Kemudian buah pisang
dibersihkan dan disemprot
dengan fungisida untuk
mencegah timbulnya bahaya
penyakit selama saat
penyimpanan.
– Sortasi dan Klasifikasi
Sortasi dan Klasifikasi dilakukan
menurut ukuran besar dan
kecilnya buah, kerusakan atau
cacat buah, derajat kematangan,
bobot buah dan keseragaman
warna.
– Pengemasan
Pengemasan bertujuan agar
memudahkan pengangkutan dan
melindungi buah dari kerusakan
mekanis yang terjadi selama
pengangkutan.
Hal yang perlu diperhatika dalam
pengemasan adalah kapasitas
alat kemasan dan cara
menyusun buah pisang dalam
kemasan.
Untuk pengangkutan jarak dekat
dapat menggunakan keranjang
bambu dengan kapasitas 3-4
332
sisir . Ada pula pedagang yang
menggunakan kotak kayu yang
berisi 150 pisang per kotak.
Pengemasan untuk ekspor
memerlukan penamnganan yang
lebih banyak dan cermat.
Setelah dipetik buah harus dicuci
bersih dan dicelupkan ke dalam
larutan fungisida. Kemudian
buah pisang disortasi dan
ditimbang serta diberi perlakuan
untuk mempertahankan
kesegarannya. Pengemasan
disesuaikan dengan alat
transportasi yang digunakan.
Kotak kemasan yang digunakan
untuk perdagangan internasional
mempunyai kapasitas 18.14
lb(40 lb) dan 12 Kg.
Daya simpan pisang mentah
berkisar antara 21-30 hari pada
suhu 13-15° C. Kalsium karbida
(CaC2) atau larutan etefon dapat
digunakan untuk mematangkan
buah tua-mentah.
Pada perlakuan kalsium karbida,
buah pisang dikenai bahan ini
selama 24-36 jam dalam sebuah
wadah tertutup, sedangkan pada
perlakuan etefon, pencelupan
selama 5 menit sudah cukup
efektif.
Pada pengusahaan secara
komersial besar-besaran
digunakan gas etilena.
Pisang diperlakukan selama 24
jam dalam kamar tertutup yang
berisi etilena dan suhunya
dipertahankan 14-18°C. Setiap
24 jam sekali kamar dibuka
untuk ventilasi sampai buahbuah
pisang itu mencapai warna
yang disenangi konsumen.
333
9.8. TEKNIK BUDIDAYA
TANAMAN HIAS
a. Pendahuluan
Kelompok tanaman hias
merupakan salah satu bagian
dari ilmu hortikultura. Tanaman
hias dapat dibudidayakan
didalam ruangan maupun di
ruang terbuka.
b. Klasifikasi
Tanaman hias dapat
diklasifikasikan berdasarkan
morfologi, siklus hidup, bentuk
daun, ataupun karakteristik
lainnya.
1.Golongan Herba
Tanaman hias herba adalah
tanaman yang batangnya tidak
berkayu, pada umumnya jenis ini
banyak digunakan untuk
tanaman indoor.
Kelompok herba ini dapat
dikelompokkan lagi, yaitu:
a.Siklus hidup
a. Annual, tanaman hias
annual (semusim) adalah
tanaman hias yang siklus
hidupnya kurang dari
setahun.
b. Biannual, yang termasuk
kedalam kelompok ini
adalah tanaman hias
yang pertumbuhan
vegetatifnya terjadi pada
tahun pertama dan masa
reproduktifnya
(berkembang biak) pada
tahun berikutnya.
c. Perenial (tahunan), yang
termasuk kedalam
kelompok ini adalah
tanaman hias yang siklus
hidupnya sangat panjang.
Salah satu contoh
tanaman hias kelompok
ini adalah adalah lidah
mertua (Sansevieria spp).
B Berdasarkan fungsi
Kelompok tanaman hias herba
dapat dibagi berdasarkan
fungsinya yaitu:
a. Bedding Plant, yaitu
tanaman yang digunakan
sebagai selimut
(pelindung) tanaman
lainnya. Tanaman ini
berfungsi untuk
melindungi tanaman
lainnya terhadap fluktuasi
suhu ekstrim, hal ini
banya dilakukan pada
daerah sub-tropis.
Contoh nya adalah:
Petunia spp, dan
marigold (Tagetes spp).
b. Hanging plant (tanaman
gantung), tanaman yang
penanamannya dalam
pot gantung misalnya
geranium, pakis.
334
Gambar 122. Tanaman yang
diletakkan pada pot
gantung
c. Houseplant (tanaman
indoor atau tanaman
rumah) , adalah tanaman
hias yang adaptif pada
kondisi didalam ruangan.
Mereka ditanam pada
wadah tertentu, dan pada
umumnya kelompok ini
pertumbuhannya relatif
lebih lambat. Kelompok
ini dapat berupa tanaman
berbunga atau tanaman
hias daun. Misalnya
adalah lidah mertua
(Sansevieria spp) ,
rambung merah (Ficus
elastica)
Gambar 123. Tanaman hias
yang diletakkan dalam ruangan
2. Golongan Tanaman Hias
Berkayu
Tanaman hias kelompok ini
berbeda dalam ukuran dan pola
pertumbuhannya.
Beberapa jenis dapat
menggugurkan daunnya jika
terjadi perubahan cuaca, yang
disebut decidous, dan kelompok
kedua adalah tanaman yang
tidak menggugurkan daunnya
disebut evergreen.
Kelompok ini ada yang
berbentuk semak, menjalar,
ataupun pohon.
Tanaman berkayu dapat
digabungkan penanamannya
dengan kelompok herba akan
tetapi jika menggabung
keduanya perlu diperhatikan
kebiasaan hidup masing masing
jenis, warna, tekstur, luas
kanopi, dan kemampuan
adaptasinya.
335
Gambar 124 Penggabungan
golongan tanaman
berkayu dan herba
dalam satu lanskap
c. Tanaman Indoor dan
outdoor
Penanaman bunga dalam
ruangan (indoor)
Beberapa jenis bunga dapat
ditanam di dalam ruangan,
asalkan seluruh kebutuhan
pertumbuhannya terpenuhi.
Faktor yang Mempengaruhi
Kemampuan Tanaman di dalam
Ruangan
Kemampuan tanaman untuk
hidup dalam ruangan tertutup,
tergantung pada jenisnya.
Pemilihan akan jenis tanaman
yang akan dibudidayakan di
dalam ruangan ini tergantung
pada:
Efek individual
Ada beberapa orang lebih
tertarik pada kaktus
dibandingkan dengan mawar.
Oleh karenanya penanaman
dalam ruangan sangat
tergantung pada siapa penghuni
ruangan tersebut.
Kondisi tempat tumbuh
Ruangan dapat juga digunakan
untuk menanam tanaman hias.
Akan tetapi keberhasilan
pertanaman di dalam ruangan
ini tergantung pada kondisi
ruangan dan jenis tanaman
hiasnya. Ruangan yang tidak
cukup cahaya mataharinya
tidak mencukupi syarat untuk
tempat penanaman tanaman,
kecuali diberi cahaya lampu
selama 24 jam.
Akan tetapi ada beberapa jenis
tanaman yang adaptif di dalam
ruangan yang terbatas sinar
mataharinya misalnya: lidah
mertua (Sansevieria trifascita),
rambung merah (Ficus elastica),
dan sebagainya
Dekorasi
Tanaman juga dapat digunakan
untuk menghias ruangan, yang
pemilihan tanamannya
tergantung pada besar kecilnya
ruang, warna, dan tekstur bunga.
Karakteristik tanaman
Beberapa alasan pemilihan jenis
tanaman tertentu yang
digunakan sebagai tanaman
indoor disebabkan oleh:
Daya pikatnya
Tanaman yang terpilih sebagai
tanaman indoor adalah tanaman
yang mempunyai nilai aestetika.
336
Nilainya dapat terletak pada
keindahan daun ataupun
bunganya.
– Penampilannya
Pada umumnya orang jarang
menggunakan satu jenis
tanaman indoor sepanjang masa
hidup tanaman tersebut,
tanaman akan segera digantikan
jika tanaman itu tua (tidak
menarik). Beberapa jenis
tanaman dapat berubah
penampilannya pada waktu
muda dan tua, tanaman yang
indah hanya pada waktu muda,
akan segera digantikan, jika
tanaman tua.
Itu sebabnya tanaman indoor
selalu diganti, berdasarkan
bagaimana penampilannya
dalam mendukung keindahan
dekorasi ruangan.
– Siklus hidup
Beberapa jenis tanaman hanya
menarik pada saat dia berbunga,
dan menjadi tidak menarik pada
saat pertumbuhan vegetatif.
Sebaliknya ada beberapa jenis
tanaman hias daunnya lebih
menarik dibandingkan dengan
bunganya.
-Laju pertumbuhan
Beberapa jenis tanaman laju
pertumbuhanya relatif lebih
cepat sedangkan jenis lainnya
lebih lambat. Misalnya kelompok
tanaman hias annual (tanaman
semusim) pertumbuhan lebih
cepat dibandingkan dengan
kelompok palma.
Penanaman di Luar Ruangan
(outdoor)
Untuk tanaman outdoor jenis
dan keindahannya sangat
banyak, tergantung pada pilihan
lanskapnya. Lanskap memiliki
makna penggunaan tanaman
outdoor yang berfungsi untuk
menambah keindahan atau
lainnya. Penanaman di luar
ruangan dapat menggabungkan
beberapa jenis tanaman,
ataupun hanya satu jenis.
Tujuan dari pengaturan lanskap
adalah;
– Peningkatan keindahan
suatu areal
– Peningkatan nilai tanah
dan bangunan
– Menggabungkan konsep
alami pada bangunan
– Memberi kepuasan pada
khalayak ramai
– Kontrol bagi pengendara
dan pejalan kaki
– Memodifikasi lingkungan
– Tempat rekreasi
– Meningkatkan
perlindungan terhadap
semberdaya alam
– Mengurangi polusi suara
337
d. Teknik Budidaya tanaman
hias secara umum
a. Media tanam
Hampir semua tanaman hias
memerlukan media yang
gembur, pouros, subur, cukup
mengadung, bahan organik,
bebas dari hama, aerasi dan
drainese yang baik.
Untuk menciptakan kondisi
tersebut maka media tanam
yang ideal adalah campuran
bahan organik dan bahan
anorganik.
Bahan organik dapat berupa
cacahan pakis, kompos, humus,
serutan kayu, arang sekam,
cocopeat, dan sebagainya
Sedangkan bahan anorganik
berupa tanah atau pasir.
Komposisi media yang
digunakan untuk setiap nursery
pasti berbeda-beda tergantung
dari kondisi iklim setempat,
campuran media tanam yang
dapat digunakan diantaranya :
1. sekam bakar dan
cacahan pakis dengan
perbandingan 4 : 1 untuk
pupuk bisa menggunakan
dekastar atau osmokot
atau bisa juga pupuk
kandang yang telah di
fermentasi.
2. sekam bakar, andam (
kaliandra) dan pupuk
kadang yang telah steril
dengan perbandingan
1:1:1.
3. humus, pupuk kandang
steril dan pasir malang
yang telah diayak halus
dengan perbandingan
5:5:2
Untuk menjaga kelembaban
media dan mengatur drainase
yang baik maka pertama-tama
pot diisi terlebih dahulu dengan
pecahan bata merah, pecahan
genting, Styrofoam, dice coco (
sabut kelapa yang dipotong
dadu ), sampai ¼ pot setelah itu
baru media tanamnya diisi
hingga penuh.
Untuk menjaga tanaman
terhindar dari jamur, cendawan
dan bakteri sebaiknya media
harus dikukus setidaknya 1 jam
b. Teknik Budidaya Bunga
Potong
Bunga potong adalah bunga
yang dianfaatkan sebagai bahan
rangkaian bunga untuk berbagai
keperluan manusia.
Penggunaan bunga potong ini
dimulai dari kelahiran,
perkawinan sampai kematian,
oleh karenanya bunga potong ini
memiliki prospek yang cerah.
Banyak jenis bunga potong yang
dibudidayakan untuk memenuhi
kebutuhan seperti: krisan,
mawar, anthurium, gladiol, dan
lain-lain.
338
Prinsip budi daya bunga potong
pada dasarnya meliputi:
– Penyiapan bibit
– Penyiapan lahan
– Penanaman
– Pemeliharaan
– Panen dan
Pascapanen
Faktor-faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan
Beberapa aspek yang perlu
diperhatikan dalam budidaya
bunga potong ini adalah: aspek
ekologi produksi, aspek teknik
hortikultura, dan teknik budidaya.
Unsur ekologi
Unsur yang terpenting dari
aspek ini adalah iklim (ketinggian
tempat cahaya matahari, dan
curah hujan), tanah (struktur dan
pH tanah), air tanah (kedalaman
air tanah). Aspek ini demikian
penting terutama jika hendak
menanam bibit jenis bunga
impor.
Kendala yang dihadapi jika
menanam bunga impor adalah
kendala lingkungan. Akan tetapi
kendala ini dapat diatasi dengan
berbagai teknik hortikultura yang
dilaksanakan secara intensif.
Sebagai contoh keadaan tanah
yang buruk dapat dimbangi
dengan pemupukan,
pengapuran ataupun
penambahan bahan organik.
c. Aspek teknik hortikultura
Aspek teknik hortikultura penting
dalam hal perbaikan mutu bunga
potong melalui perbanyakan
vegetatif dan generatif. Cara
perbanyakan vegetatif maupun
generatif sangat perlu
diperhatikan untuk pengadaan
bibit unggul. Teknik perbanyakan
dengan penyambungan dapat
membantu memperbaiki
pertummbuhan bunga terhadap
kondisi lingkungan yang buruk
dan dapat memperbaiki
kemampuan berbunga.
Aspek penanaman
Aspek ini perlu diperhatikan
menyangkut ketersediaan
sumber daya lahan dan
lingkungan yang dapat
mendukung pertumbuhan bunga
potong.
Kondisi suhu dan kesuburan
tanah akan mempengaruhi
jumlah populasi yang terdapat
pada satu areal tertentu. Pada
suhu tinggi misalnya maka dapat
digunakan jarak tanam yang
lebih rapat, begitu juga untuk
tanah-tanah yang subur.
Pemangkasan batang maupun
akar, pengerdilan tanaman, dan
pemaksaan berbunga dapat
membantu mengatasi kendala
ekologi yang kurang cocok.
339
Aspek teknik budidaya
Dalam memelihara tanaman dan
teknik budidaya kadang-kadang
ditemui permasalahan karena
adanya perubahan kebiasaan
masyarakat setempat dari
bertanam secara tradisional ke
modern. Umumnya cara bertani
tradisional menghasilkan mutu
bunga yang kurang baik
dibandingkan dengan cara
modern.
Pemberian paranet pada
budidaya Aglonema memberikan
hasil warna daun yang lebih
menarik dibandingkan dengan
tanpa paranet.
Peningkatan mutu bunga juga
dapat dilakukan dengan
pengaturan pembungaan
(memperbesar ukuran bunga,
memperlebat jumlah bunga,
memperpanjang masa
berbunga).
Memperbesar ukuran bunga
dapat dilakukan dengan metode
pemangkasan, yang hanya
menyisakan beberapa kuntum
bunga yang potensial bermutu
tinggi.
Pascapanen
Mutu bunga potong bergantung
pada penampilan dan daya
tahan kesegarannya. Bunga
dengan mutu prima mempunyai
nilai jual lebih tinggi
dibandingkan dengan bunga
potong berkualitas rendah.
Untuk memertahankan mutu
bunga dari panen sampai ke
tangan konsumen perlu
memperhatikan:
– Penyimpanan
– pengemasan
– pengangkutan
Penyimpanan
Cara penyimpanan bunga
potong ditentukan berdasarkan
jenis bunganya. Cara
penyimpananya antara lain
dengan merendam tangkai
bunga di dalam air, perlakuan
kimia, dan dengan cara
pendinginan.
Teknologi penyimpanan
sederhana yan sering dilakukan
petani adalah merendam tangkai
bunga dalam air bersih, bunga
krisan sering diberi perlakuan
perendaman dengan chrysal
sebanyak 5 g/air.
Bunga Gladiol sering diberi
perlakuan 4 ppm GA 60 ppm,
magnesium sulfat 40 ppm atau
air suling agar bunga ini tetap
awet.
Pengemasan
Pengemasan yang paling
sederhana adalah dengan
membungkus bunga dengan
kertas koran. Salah satu bagian
dibiarkan terbuka, kemudian
dibungkus dengan kantong
polietilen (PE) yang diberi lubang
dan dikemas lagi dalam kantong
tanpa lubang pada kelambaban
340
80%, metode ini sering
digunakan petani Thailand
dalam pengemasan bunga
mawar.
Pengangkutan
Pengangkutan bunga potong
menjadi perhatian khusus
karena erat kaitannya dengan
ketahanan bunga untuk tetap
segar sampai ke tangan
konsumen.
341
9.8.1. Teknik Budidaya
Anggrek
a.Pendahuluan
Indonesia mempunyai lebih dari
4,000 jenis anggrek, tanaman ini
hampir terdapat diseluruh
kepulauan di Indonesia.
Anggrek dapat ditemukan mulai
dataran rendah sampai
ketinggian 3000 mdpl.
Kisaran suhu untuk hidup
anggrek ini juga bervariasi mulai
dari 8.7ºC sampai 32ºC.
Tanaman ini juga dapat
ditemukan diberbagai tempat
misalnya pada cabang pohon
Tamarindus (asam jawa) pada
pinggir jalan di kota besar besar
seperti Jakarta, Bandung atau
Bogor, atau dibawah tegakan
hutan hujan tropis (misalnya
Aerides odorata dan
Rhynchostylis retusa).
Tanaman anggrek Dendrobium,
Phalaenopsis, Oncidium, dan
Vanda beserta kerabatnya serta
tanaman anggrek jenis lain telah
banyak diusahakan.
Tanaman anggrek merupakan
salah satu kelompok tanaman
hias yang mempunyai nilai
ekonomi tinggi.
Banyaknya variasi bentuk dan
warna bunga anggrek
merupakan salah satu
keunggulan dari bunga anggrek.
Hal ini sangat mendorong
terciptanya varietas-varietas
baru yang dapat dikembangkan
dan dibudidayakan secara baik
di Indonesia, karena kondisi iklim
yang sesuai.
Pertumbuhan tanaman anggrek
baik vegetatif maupun generatif
tidak hanya ditentukan oleh
faktor genetik. Namun lebih
banyak ditentukan oleh faktor
lingkungan seperti:
– Cahaya
– suhu
– kelembaban
– pemeliharaan tanaman
seperti: penyiraman,
pemupukan, media tumbuh,
dan pengendalian hama dan
penyakit.
Berdasarkan tipe pertumbuhan
batangnya, maka anggrek dapat
dikelompokkan menjadi 2
kelompok yaitu:
1. anggrek simpodial yaitu
anggrek yang
mempunyai pertumbuhan
batang terbatas seperti:
Dendrobium, Cattleya,
dan Oncidium
2. anggrek tipe monopodial
yaitu anggrek yang
mempunyai pertumbuhan
batang yang tidak
terbatas seperti: Vanda
dan kerabatnya.
342
Berdasarkan habitatnya tanaman
anggrek dibagi dalam 2
golongan yaitu
1. Epifit, anggrek epifit
adalah anggrek yang
hidup menumpang pada
batang pohon atau
sejenisnya, namun tidak
merugikan tanaman yang
ditumpanginya dan
membutuhkan naungan.
2. Terestrial, anggrek
terestrial adalah anggrek
yang hidup dan tumbuh
di atas permukaan tanah
dan membutuhkan
cahaya matahari
langsung.
b.Syarat Tumbuh
Intensitas cahaya
Intensitas cahaya yang
dibutuhkan anggrek di dalam
pertumbuhan dan
perkembangannya sangat
berbeda, tergantung pada jenis,
ukuran dan umurnya.
Misalnya anggrek epifit
membutuhkan intensitas cahaya
matahari berkisar antara 1500–
3000 fc.
Sedangkan anggrek terestrial
membutuhkan intensitas cahaya
matahari 4000 – 5000 fc.
Suhu
Kebutuhan suhu pada tanaman
anggrek sangat tergantung pada
jenisnya. Anggrek yang tumbuh
di dataran rendah membutuhkan
suhu siang berkisar 24–33oC
dan suhu malam 21–27oC.
Sedangkan untuk anggrek yang
tumbuh di dataran tinggi
membutuhkan suhu siang
berkisar antara 18– 27oC dan
suhu malam berkisar antara 13–
18oC.
Kelembaban
Pada umumnya anggrek
membutuhkan kelembaban tinggi
yaitu berkisar antara 60-80%.
Pada malam hari kelembaban
tidak terlalu tinggi karena dapat
mengakibatkan busuk akar dan
busuk tunas.
Kelembaban yang terlalu rendah
pada siang hari dapat diatasi
dengan cara pemberian
semprotan kabut (mist) di sekitar
tempat pertanaman.
c. Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam budidaya
anggrek
Aspek lingkungan
Secara alami anggrek (Famili
Orchidaceae) hidup epifit pada
pohon dan ranting-ranting
tanaman lain, namun dalam
pertumbuhannya anggrek dapat
ditumbuhkan dalam pot yang
diisi media tertentu. Ada
beberapa faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan
tanaman, seperti faktor
lingkungan, antara lain sinar
matahari, kelembaban dan
temperatur serta pemeliharaan
seperti : pemupukan,
343
penyiraman serta pengendalian
OPT.
Pada umumnya anggrekanggrek
yang dibudidayakan
memerlukan temperatur 28 + 2°
C dengan temperatur minimum
15° C. Anggrek tanah pada
umumnya lebih tahan panas dari
pada anggrek pot. Tetapi
temperatur yang tinggi dapat
menyebabkan dehidrasi yang
dapat menghambat
pertumbuhan tanaman.
Kelembaban nisbi (RH) yang
diperlukan untuk anggrek
berkisar antara 60–85%. Fungsi
kelembaban yang tinggi bagi
tanaman antara lain untuk
menghindari penguapan yang
terlalu tinggi. Pada malam hari
kelembaban dijaga agar tidak
terlalu tinggi, karena dapat
mengakibatkan busuk akar pada
tunas-tunas muda. Oleh karena
itu diusahakan agar media dalam
pot jangan terlampau basah.
Sedangkan kelembaban yang
sangat rendah pada siang hari
dapat diatasi dengan cara
pemberian semprotan kabut
(mist) di sekitar tempat
pertanaman dengan bantuan
sprayer.
Berdasarakan pola
pertumbuhannya, tanaman
anggrek dibedakan menjadi dua
tipe yaitu, simpodial dan
monopodial. Anggrek tipe
simpodial adalah anggrek yang
tidak memiliki batang utama,
bunga ke luar dari ujung batang
dan berbunga kembali dari anak
tanaman yang tumbuh. Kecuali
pada anggrek jenis Dendrobium
sp. yang dapat mengeluarkan
tangkai bunga baru di sisi-sisi
batangnya. Contoh dari anggrek
tipe simpodial antara lain :
Dendrobium sp., Cattleya sp.,
Oncidium sp.,dan Cymbidium sp.
Anggrek tipe simpodial pada
umumnya bersifat epifit.
Anggrek tipe monopodial adalah
anggrek yang dicirikan oleh titik
tumbuh yang terdapat di ujung
batang, pertumbuhannnya lurus
ke atas pada satu batang.
Bunga ke luar dari sisi batang di
antara dua ketiak daun. Contoh
anggrek tipe monopodial antara
lain : Vanda sp., Arachnis sp.,
Renanthera sp., Phalaenopsis
sp., dan Aranthera sp.
Habitat tanaman anggrek
dibedakan menjadi 4 kelompok
sebagai berikut :
> Anggrek epifit, yaitu
anggrek yang tumbuh
menumpang pada pohon
lain tanpa merugikan
tanaman inangnya dan
membutuhkan naungan
dari cahaya matahari,
misalnya Cattleya sp.
memerlukan cahaya
+40%, Dendrobium sp.
50–60%, Phalaenopsis
sp. + 30 %, dan
Oncidium sp. 60 – 75 %.
> Anggrek terestrial, yaitu
anggrek yang tumbuh di
tanah dan membutuhkan
cahaya matahari
langsung, misalnya
Aranthera sp.,
344
Renanthera sp., Vanda
sp., dan Arachnis sp.
Tanaman anggrek
terestrial membutuhkan
cahaya matahari 70 –
100 %, dengan suhu
siang berkisar antara 19
– 380C, dan malam hari
18–210C. Sedangkan
untuk anggrek jenis
Vanda sp. yang berdaun
lebar memerlukan sedikit
naungan.
> Anggrek litofit, yaitu
anggrek yang tumbuh
pada batu-batuan, dan
tahan terhadap cahaya
matahari penuh, misalnya
Dendrobium
phalaenopsis.
> Anggrek saprofit, yaitu
anggrek yang tumbuh
pada media yang
mengandung humus
atau daun-daun kering,
serta membutuhkan
sedikit cahaya matahari,
misalnya Goodyera sp.
Persilangan Anggrek
Persilangan ditujukan untuk
mendapatkan varietas baru
dengan warna dan bentuk yang
menarik, mahkota bunga
kompak dan bertekstur tebal
sehingga dapat tahan lama
sebagai bunga potong, jumlah
kuntum banyak dan tidak ada
kuntum bunga yang gugur dini
akibat kelainan genetis serta
produksi bunga tinggi.
Oleh karena itu untuk
mendapatkan hasil yang
diharapkan, sebaiknya dan
seharusnya pedoman
persilangan perlu dikuasai,
antara lain :
> Persilangan sebaiknya
dilakukan pada pagi hari
setelah penyiraman.
Kuntum bunga dipilih
yang masih segar atau
setelah membuka penuh.
> Sebagai induk betina
dipilih yang mempunyai
bunga yang kuat, tidak
cepat layu atau gugur.
> Mengetahui sifat-sifat
kedua induk tanaman
yang akan disilangkan,
agar memberikan hasil
yang diharapkan,
misalnya sifat dominasi
yang akan terlihat atau
muncul pada turunannya
seperti : warna, bentuk,
dan lain-lain.
> Bunga tidak terserang
OPT terutama pada
polen dan stigma.
> Setiap mendapatkan
varietas baru yang baik,
sebaiknya didaftarkan
pada “Royal Horticultural
Society” di London,
dengan mengisi formulir
pendaftaran anggrek
hibrida dengan beberapa
persyaratan lainnya.
345
Langkah-langkah yang dilakukan
dalam melakukan penyerbukan
(polinasi) adalah sebagai berikut:
> Sediakan sehelai kertas
putih dan sebatang lidi
kecil atau tusuk gigi atau
sejenisnya yang bersih.
> Cap polinia yang terdapat
pada ujung column
dibuka, dimana akan
terlihat di dalamnya
polinia yang berwarna
kuning.
> Ujung lidi/tusuk gigi
dibasahi dengan cairan
yang ada di dalam lubang
putih atau dengan sedikit
air.
> Polinia diambil dengan
hati-hati. Pegang kertas
putih sebagai wadah di
bawah bunga untuk
menghindari bila polinia
jatuh pada waktu diambil.
> Polinia kemudian
dimasukkan ke dalam
stigma (kepala putik).
> Beri label yang diikatkan
pada tangkai kuntum
(pedicel) bunga yang
berisi catatan tentang
tanggal penyerbukan dan
nama bunga yang diambil
polinianya.
Beberapa hari kemudian bunga
yang telah diserbuki akan layu.
Apabila penyerbukan berhasil,
dan bila tidak ada OPT, maka
bakal buah tersebut akan terus
berkembang menjadi buah.
Buah anggrek ada yang masak
setelah tiga bulan sampai enam
bulan atau lebih. Buah yang
masak akan merekah dengan
dicirikan adanya perubahan
warna buah dari hijau menjadi
hijau kekuning-kuningan.
Dalam memilih biji anggrek yang
akan disemaikan dalam botol
perlu diperhatikan sebagai
berikut :
> Biji yang berwarna
keputih-putihan dan
kosong adalah biji yang
kurang baik.
> Biji yang baik yaitu
yang bulat penuh berisi,
berwarna kuning atau
kecoklat-coklatan
3. Perbanyakan Anggrek
Perbanyakan tanaman anggrek
pada umumnya dilakukan
melalui dua cara yaitu,
konvensional dan dengan
metoda kultur in vitro.
Perbanyakan tanaman yang
dilakukan secara konvensional
adalah sebagai berikut :
Perbanyakan vegetatif melalui
beberapa cara seperti:
– Pemecahan/pemisahan
rumpun seperti
Dendrobium sp.,
Oncidium sp., Cattleya
sp., dan Cymbidium sp.
346
– Pemotongan anak
tanaman yang ke luar
dari batang seperti
Dendrobium sp.
– Pemotongan anak
tanaman yang ke luar
dari akar dan tangkai
bunga seperti
Phalaenopsis sp., yang
selanjutnya ditanam ke
media yang sama seperti
pakis, mos serabut
kelapa, arang, serutan
kayu, disertai campuran
pecahan genting atau
batu bata.
Perbanyakan secara vegetatif ini
akan menghasilkan anak
tanaman yang mempunyai sifat
genetik sama dengan induknya.
Namun perbanyakan
konvensional secara vegetatif ini
tidak praktis dan tidak
menguntungkan untuk tanaman
bunga potong, karena jumlah
anakan yang diperoleh dengan
cara-cara ini sangat terbatas.
Perbanyakan generatif yaitu
dengan biji. Biji anggrek sangat
kecil dan tidak mempunyai
endosperm (cadangan
makanan), sehingga
perkecambahan di alam sangat
sulit tanpa bantuan jamur yang
bersimbiosis dengan biji
tersebut.
Secara generatif, benih tanaman
diperoleh melalui biji hasil
persilangan yang secara genetis
biji-biji tersebut bersifat
heterozigot. Sehingga benihbenih
yang dihasilkan
mempunyai sifat tidak mantap
dan beragam.
Untuk menghasilkan bunga
dalam jumlah banyak dan
seragam diperlukan tanaman
dalam jumlah banyak pula. Oleh
karena itu peningkatan produksi
bunga pada tanaman anggrek
hanya dapat dicapai dengan
usaha perbanyakan tanaman
yang efisien.
Pada saat ini metode kultur in
vitro merupakan salah satu cara
yang mulai banyak digunakan
dalam perbanyakan klon atau
vegetatif tanaman anggrek.
Kultur in vitro pertama kali
dicoba oleh Haberlandt pada
tahun 1902, karena adanya sifat
tanaman yang disebut totipotensi
yang dicetuskan oleh kedua
orang sarjana Jerman Schwann
dan Schleiden pada tahun 1830.
Metode kultur in vitro yaitu
menumbuhkan jaringan-jaringan
vegetatif (seperti :
– akar
– daun
– batang
– mata tunas
– jaringan-jaringan
generatif (seperti : ovule,
embrio dan biji).
Jaringan ini kemudian
ditumbuhkan pada media buatan
berupa cairan atau padat secara
aseptik (bebas mikroorganisme).
347
Dengan metode ini dapat
diharapkan perbanyakan
tanaman dapat dilakukan secara
cepat dan berjumlah banyak,
serta sama dengan induknya.
Penanaman dan pemeliharaan
Persiapan Lahan
Tanaman anggrek dapat ditanam
di sekitar rumah atau
pekarangan atau di kebun yaitu
di bawah pohon atau dengan
naungan yang diberi paranet
atau sejenisnya dengan
pengaturan intensitas cahaya
tertentu atau di lahan terbuka.
Oleh karena tanaman anggrek
mempunyai potensi ekonomis
yang tinggi, maka untuk jenisjenis
tertentu dapat ditanam di
dalam rumah kaca (green
house). Selain untuk melindungi
tanaman dari gangguan alam,
juga akan mengurangi intensitas
serangan OPT.
Persiapan Media Tumbuh
Media tumbuh yang baik harus
memenuhi beberapa
persyaratan, yaitu tidak lekas
melapuk, tidak menjadi sumber
penyakit, mempunyai aerasi
baik, mampu mengikat air dan
zat-zat hara secara baik, mudah
didapat dalam jumlah yang
diinginkan dan relatif murah
harganya.
Sampai saat ini belum ada
media yang memenuhi semua
persyaratan untuk pertumbuhan
tanaman anggrek.
Untuk pertumbuhan tanaman
anggrek, kemasaman media
(pH) yang baik berkisar antara
5–6. Media tumbuh sangat
penting untuk pertumbuhan dan
produksi bunga optimal,
sehingga perlu adanya suatu
usaha mencari media tumbuh
yang sesuai.
Media tumbuh yang sering
digunakan di Indonesia antara
lain : moss, pakis, serutan kayu,
potongan kayu, serabut kelapa,
arang dan kulit pinus.
Pecahan batu bata banyak
dipakai sebagai media dasar pot
anggrek, karena dapat menyerap
air lebih banyak bila
dibandingkan dengan pecahan
genting.
Media pecahan batu bata
digunakan sebagai dasar pot,
karena mempunyai kemampuan
drainase dan aerasi yang baik.
Moss yang mengandung 2–3%
unsur N sudah lama digunakan
untuk medium tumbuh anggrek.
Media moss mempunyai daya
mengikat air yang baik, serta
mempunyai aerasi dan drainase
yang baik pula.
Pakis sesuai untuk media
anggrek karena memiliki daya
mengikat air, aerasi dan
drainase yang baik, melapuk
secara perlahan-lahan, serta
mengandung unsur-unsur hara
yang dibutuhkan anggrek untuk
pertumbuhannya.
348
Serabut kelapa mudah melapuk
dan mudah busuk, sehingga
dapat menjadi sumber penyakit,
tetapi daya menyimpan airnya
sangat baik dan mengandung
unsur-unsur hara yang
diperlukan serta mudah didapat
dan murah harganya.
Dalam menggunakan serabut
kelapa sebagai media tumbuh,
sebaiknya dipilih serabut kelapa
yang sudah tua.
Media tumbuh sabut kelapa,
pakis, dan moss merupakan
media tumbuh yang baik untuk
pertumbuhan tanaman anggrek
Phalaenopsis sp. Namun bila
pakis dan moss yang tumbuh di
hutan ini diambil secara terusmenerus
untuk digunakan
sebagai media tumbuh,
dikhawatirkan keseimbangan
ekosistem akan terganggu.
Serutan kayu atau potongan
kayu kurang sesuai untuk media
anggrek karena memiliki aerasi
dan drainase yang baik, tetapi
daya menyimpan airnya kurang
baik, serta miskin unsur N.
Proses pelapukan berlangsung
lambat, karena kayu banyak
mengandung senyawa-senyawa
yang sulit terdekomposisi seperti
selulosa, lignin, dan
hemiselulosa.
Media serutan kayu jati
merupakan media tumbuh yang
baik untuk pertumbuhan anggrek
Aranthera James Storie.
Pecahan arang kayu tidak lekas
lapuk, tidak mudah ditumbuhi
cendawan dan bakteri, tetapi
sukar mengikat air dan miskin
zat hara. Namun arang cukup
baik untuk media anggrek.
Penggunaan media baru
(repotting) dilakukan antara lain
sebagai berikut :
> Bila ditanam dalam
pot (wadah) sudah
terlalu padat atau
banyak tunas.
> Medium lama sudah
hancur, sehingga
menyebabkan
medium bersifat
asam, bisa menjadi
sumber penyakit.
Penyiraman
Tanaman anggrek yang sedang
aktif tumbuh, membutuhkan lebih
banyak air dibandingkan dengan
yang sudah berbunga.
Frekuensi dan banyaknya air
siraman yang diberikan pada
tanaman anggrek bergantung
pada jenis dan besar kecil
ukuran tanaman, serta keadaan
lingkungan pertanaman. Sebagai
contoh adalah tanaman anggrek
Vanda sp., Arachnis sp., dan
Renanthera sp., yaitu anggrek
tipe monopodial yang tumbuh di
bawah cahaya matahari
langsung, sehingga
membutuhkan penyiraman lebih
dari dua kali sehari, terutama
pada musim kemarau.
349
Pemupukan
Seperti tumbuhan lainnya,
anggrek selalu membutuhkan
makanan untuk
mempertahankan hidupnya.
Kebutuhan tanaman anggrek
akan nutrisi sama dengan
tumbuhan lainnya, hanya
anggrek membutuhkan waktu
yang cukup lama untuk
memperlihatkan gejala-gejala
defisiensi, mengikat
pertumbuhan anggrek sangat
lambat.
Dalam usaha budidaya tanaman
anggrek, habitatnya tidak cukup
mampu menyediakan unsurunsur
yang dibutuhkan oleh
tanaman untuk pertumbuhan.
Untuk mengatasi hal tersebut,
biasanya tanaman diberi pupuk
baik organik maupun anorganik.
Pupuk yang digunakan
umumnya pupuk majemuk yaitu
yang mengandung unsur makro
dan mikro.
Kualitas dan kuantitas pupuk
dapat mengatur keseimbangan
pertumbuhan vegetatif dan
generatif tanaman. Pada fase
pertumbuhan vegetatif bagi
tanaman yang masih kecil
perbandingan pemberian pupuk
NPK adalah 30:10:10, pada fase
pertumbuhan vegetatif bagi
tanaman yang berukuran sedang
perbandingan pemberian pupuk
NPK adalah 10:10:10.
Sedangkan pada fase
pertumbuhan generatif yaitu
untuk merangsang pembungaan,
perbandingan pemberian pupuk
NPK adalah 10:30:30.
Jika dilakukan pemupukan ke
dalam pot maka hanya pupuk
yang larut dalam air dan kontak
langsung dengan ujung akar
yang akan diambil oleh tanaman
anggrek dan sisanya akan tetap
berada dalam pot.
Pemupukan pada sore hari
menunjukkan respon
pertumbuhan yang baik pada
anggrek Dendrobium sp.
d.Pedoman teknis
Penanaman anggrek
Anggrek tumbuh menumpang di
batang, cabang pohon atau
bahan lain tanpa merugikan
tanaman inangnya.
Karena terbiasa dibawah
naungan, anggrek ini tidak tahan
terkena sinar matahari terik dan
membutuhkan naungan dengan
persentase tertentu, tergantung
jenisnya.
Kisaran naungan antara 25 –
75%. Sebagai contoh misalnya
anggrek epifit, Cattleya sp,
Cymbidium sp, Dendrobium sp,
Oncidium sp dan Phalaenopsis
sp, serta Vanda daun lebar alias
vanda daun .
Untuk menanam anggrek epifit
digunakan media berupa pakis,
350
moss, sabut kelapa, arang, dan
kulit kayu atau sejenisnya. Bisa
juga menggunakan lebih dari
satu jenis, tergantung kondisi
linggan setempat.
Sebagai wadah dapat dipilih pot
bahan plastik, tanah atau yang
terbuat dari kayu.
Ada 3 cara penanaman anggrek
epifit yaitu : pot, pohon, dan di
tanah
– Penanaman di pot
Pedoman teknis:
Sebelum ditanami, dasar pot diisi
dengan pecahan batu
bata/genting 1/3 dari tinggi pot
Kemudian pada bagian atasnya
diisi dengan arang.
Tanam anggrek dengan bagian
bulbnya yang muda berada
disebelah dalam, hal ini
dilakukan agar anakan
berikutnya dapat mengisi pot
bagian tengahnya.
Untuk menghindari agar anggrek
tetap tegak, anggrek dapat diikat
dengan kawat.
Setelah itu, isi seluruh pot
dengan media.
Untuk tanaman di pot sebaiknya
diletakkan di atas rak-rak atau
digantung.
351
– Penanaman di pohon
Letakkan bibit anggrek pada
akar pakis, ikat dengan kawat
atau tali rafia.
Sebelum meletakkan anggrek
muda ada baiknya terlebih
dahulu menyemprot pakis
dengan pesitida, agar terbebas
dari semut atau serangga
lainnya.
Kemudia rendam dengan sedikit
dengan larutan pupuk hyponex,
selama 24 jam. Hal ini dilakukan
agar media tempat tumbuh
anggrek muda mengandung
hara.
Jika akar sudah kuat, tali dapat
dilepas.
Tanaman yang sudah siap
ditanam diletakkan ditempat
yang telah disiapkan, tergantung
pada jenisnya.
Berikut ini adalah salah atu
contoh anggrek epifit yang sudah
berkembang sempurna.
352
Tanaman ditempatkan di tempat
yg diberi naungan sesuai dengan
kebutuhan jenis anggreknya.
Misalnya:
1. Cattleya butuh naungan
dengan penerimaan
cahaya matahari sekitar
25-45%
2. Dendrobium 55-65%
3. Oncidium 55-75%
4. Phalaenopsis 25-35%
5. Vanda 65-75%
– Penanaman di Tanah
Anggrek Terestrial
Anggrek terestrial yaitu anggrek
yang tumbuh diatas permukaan
tanah. Ada yang membutuhkan
sinar matahari penuh dan ada
yg perlu sedikit naungan.
Contoh yg butuh sinar matahari
penuh (100%):
– Arachnis
– Renanthera
– Aranthera
– Vanda teret ( berdaun
pensil) seperti: vanda
teres dan Vanda
hookeriana.
Anggrek ini membutuhkan media
lain seperti: serutan kayu, sabut
kelapa dan dicampur dengan
kompos dan pupuk kandang yg
sudah matang.
Anggrek terestrial umumnya
ditanam dengan sistem
bedengan, tetapi dapat juga
ditanam dalam pot tanah.
Bedengan
Jika ingin menanam anggrek di
tanah pertama yang harus kita
lakukan adalah membuat
bedengan. Bedengan dibuat
tidak dengan meninggikan tanah
seperti kalau kita membuat
bedengan untuk tanaman
lainnya, akan tetapi kita
membuat bedengan yang
tepinya dibatasi dengan
batubata, seperti gambar
dibawah ini.
353
Pada bagian dasar bedengan
ditaruh pecahan genting atau
batubata kira-kira sepertiga dari
tinggi batu bata. Diatasnya diberi
serutan kayu atau sabut kelapa,
baru diatasnya lagi diberi
kompos dan pupuk, seperti
gambar berikut.
Pemeliharaan
Penyiraman
Penyiraman pada umumnya
dilakukan 2 kali sehari yaitu pagi
hari, sekitar pukul 6.00– 7.00
dan sore hari sekitar pukul 17.00
– 18.00. Pada musim kemarau
dapat dilakukan lebih dari 2 kali
sehari yaitu dengan cara
penyemprotan pada seluruh
bagian tanaman terutama bagian
bawah permukaan daun.
Tak ada salahnya berhati-hati
saat melakukan penyiraman di
rumpun anggrek.
Penyiraman yang kurang hatihati
dapat menyebabkan
pembusukan pada tunas
anakan.
Tunas anakan anggrek,
khususnya pada golongan
dendrobium saat tumbuh akan
membentuk kuncup daun yang
menyerupai mahkota pada
bagian atasnya. Tunas ini amat
peka terhadap perubahan
lingkungan, terutama
kelembaban.
Gambar Daun anggrek yang
busuk
354
Kuncup yang menyerupai
mahkota ini tak lain adalah
ujung-ujung daun muda yang
belum membuka sempurna dan
posisi ujung daun tegak keatas
dengan membentuk suatu
cekungan/rongga sempit di
bagian tengahnya, persis
menyerupai mahkota.
Kuntum bunga juga akan rontok
jika kita salah dalam penyiraman
Pemupukan
Pupuk Organik
Pupuk Kompos
Seringkali apabila kita
memelihara anggrek jenis
terestrial, litofit, saprofit atau
semi terestrial untuk
menambahkan pupuk organik
kedalam media tanamnya
sebagai sumber unsur hara
makro dan mikro dan juga dapat
untuk memperbaiki sifat kimia,
biologi dan fisik tanah disekitar
perakaran anggrek
Air kelapa
Air kelapa ternyata memiliki
manfaat untuk meningkatkan
pertumbuhan tanaman.
Air kelapa yang sering dibuang
oleh para pedagang di pasar
tidak ada salahnya untuk kita
manfaatkan sebagai penyubur
tanaman.
Selama ini air kelapa banyak
digunakan di Laboratorium
sebagai nutrisi tambahan di
dalam media kultur jaringan.
Pemberian pupuk majemuk
dilakukan 2 kali seminggu
dengan dosis 0,2% atau sesuai
dosis anjuran. Pemberian pupuk
dilakukan melalui daun dengan
cara penyemprotan di seluruh
bagian tanaman, terutama di
bagian bawah permukaan daun.
Pupuk majemuk yang diberikan
sebaiknya lebih dari 2 jenis
pupuk yang diaplikasikan secara
bergantian. Komposisi unsur N,
P dan K yang diberikan
tergantung pada besar kecilnya
tanaman.
Perlu dibedakan pemberian
pupuk untuk bibit, tanaman
remaja, dan untuk merangsang
pembungaan.
3. Pengendalian hama dan
Penyakit
Penyemprotan pestisida seperti:
insektisida, fungisida dan
bakterisida dapat dilakukan 1 kali
seminggu secara bergantian
atau sesuai dosis anjuran dan
355
tergantung juga pada berat
ringannya tingkat serangan.
Bioinsektisida (organik)
Serangan hama merupakan
salah satu faktor pembatas untuk
peningkatkan produksi pertanian
yang dalam kasus ini adalah
pemeliharaan anggrek.
Untuk megendalikan hama
seringkali digunakan pestisida
kimia dengan dosis yang
berlebih. Padahal akumulasi
senyawa-senyawa kimia
berbahaya dapat menimbulkan
dampak negatif terhadap
kelestarian lingkungan dan
kesehatan manusia.
Ditengah maraknya budidaya
pertanian organik, maka upaya
pengendalian hama yang aman
bagi produsen/petani dan
konsumen serta menguntungkan
petani, menjadi prioritas utama.
Salah satu alternatif
pengendalian adalah
pemanfaatan jamur penyebab
penyakit pada serangga
(bioinsectisida), yaitu jamur
patogen serangga Beauveria
bassiana.
Jamur Beauveria bassiana
adalah jamur mikroskopik
dengan tubuh berbentuk
benang-benang halus (hifa).
Kemudian hifa-hifa tadi
membentuk koloni yang disebut
miselia.
Gambar Insektisida hayati
Jamur ini tidak dapat
memproduksi makanannya
sendiri, oleh karena itu jamur ini
bersifat parasit terhadap
serangga inangnya.
Laboratorium BPTPH Propinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta
telah mengembangkan dan
memproduksi secara massal
jamur patogen serangga B.
bassiana sebagai insektisida
alami.
Berdasarkan kajian jamur B.
bassiana efektif mengendalikan
hama walang sangit, wereng
batang coklat, dan kutu (Aphids
sp).
356
Akan tetapi, bukan tidak mungkin
akan efektif bila diuji coba pada
serangga-serangga hama
anggrek seperti kutu gajah.
Sistem kerjanya yaitu spora
jamur B. bassiana masuk
ketubuh serangga inang melalui
kulit, saluran pencernaan,
spirakel dan lubang lainnya.
Selain itu inokulum jamur yang
menempel pada tubuh serangga
inang dapat berkecambah dan
berkembang membentuk tabung
kecambah, kemudian masuk
menembus kutikula tubuh
serangga.
Penembusan dilakukan secara
mekanis dan atau kimiawi
dengan mengeluarkan enzim
atau toksin.
Jamur ini selanjutnya akan
mengeluarkan racun beauverin
yang membuat kerusakan
jaringan tubuh serangga. Dalam
hitungan hari, serangga akan
mati. Setelah itu, miselia jamur
akan tumbuh ke seluruh bagian
tubuh serangga.
Serangga yang terserang jamur
B. bassiana akan mati dengan
tubuh mengeras seperti mumi
dan tertutup oleh benangbenang
hifa berwarna putih.
Dilaporkan telah diketahui lebih
dari 175 jenis serangga hama
yang menjadi inang jamur B.
bassiana.
Berdasarkan hasil kajian jamur
ini efektif mengendalikan hama
walang sangit (Leptocorisa
oratorius) dan wereng batang
coklat (Nilaparvata lugens) pada
tanaman padi serta hama kutu
(Aphids sp.) pada tanaman
sayuran.
Beberapa keunggulan jamur
patogen serangga B. bassiana
sebagai pestisida hayati yaitu :
􀁸 Selektif terhadap
serangga sasaran
sehingga tidak
membahayakan
serangga lain bukan
sasaran, seperti predator,
parasitoid, serangga
penyerbuk, dan serangga
berguna lebah madu.
􀁸 Tidak meninggalkan
residu beracun pada hasil
pertanian, dalam tanah
maupun pada aliran air
alami.
􀁸 Tidak menyebabkan
fitotoksin (keracunan)
pada tanaman
􀁸 Mudah diproduksi
dengan teknik
sederhana.
Teknik aplikasinya cukup mudah,
yaitu dengan mengambil 2-3
gram formulasi dan
disuspensikan dalam 1 ltr air,
tambahkan 3 sendok gula pasir
per tangki, waktu semprot sore
hari.
Dalam satu kemasan formulasi
B. bassiana, berisi 100 gram
357
formulasi padat. Itupun dapat
dikembangbiakan secara
konvensional, sehingga lebih
menghemat pengeluaran.
Akhirnya, walaupun keberhasilan
dari insektisida biologis dari
jamur ini memberikan dampak
positif terhadap pengendalian
serangga hama tanaman dan
keselamatan lingkungan. Namun
dalam penerapannya di
masyarakat masih minim,
sehingga memerlukan upaya
sosialisasi yang lebih intensif.
Insektisida
Budidaya anggrek tentunya akan
mengalami interaksi baik dari
lingkungan abiotik (tak hidup)
dan lingkungan biotik (hidup).
Salah satu bentuk interaksi biotik
yaitu parasitisme, dimana
anggrek berada sebagai
organisme yang dirugikan,
sedangkan hama sebagai
organisme yang diuntungkan.
Fungisida adalah zat kimia yang
digunakan untuk mengendalikan
cendawan (fungi).
Fungisida umumnya dibagi
menurut cara kerjanya di dalam
tubuh tanaman sasaran yang
diaplikasi, yakni fungisida
nonsistemik, sistemik, dan
sistemik local.
Pada fungisida, terutama
fungisida sistemik dan non
sistemik, pembagian ini erat
hubungannya dengan sifat dan
aktifitas fungisida terhadap jasad
sasarannya.
Insektisida secara umum adalah
senyawa kimia yang digunakan
untuk membunuh serangga
pengganggu (hama serangga).
Insektisida dapat membunuh
serangga dengan dua
mekanisme, yaitu dengan
meracuni makanannya
(tanaman) dan dengan langsung
meracuni si serangga tersebut.
Pengamatan Hama dan Penyakit
Hama
a. Tungau Merah Tennuipalvus
orchidarum Parf
Ordo : Acarina
Famili : Tetranychidae
1. Tanaman Inang : Jenisjenis
yang dapat diserang
hama ini adalah
Phalaenopsis sp.,
Dendrobium sp., Orchidium
sp., Vanda sp. dan
Granatophyllium sp.,
kapas, kacang-kacangan,
jeruk, dan gulma terutama
golongan dikotil.
2. Gejala Serangan : Tungau
ini sangat cepat
berkembang biak dan
dalam waktu singkat dapat
menyebabkan kerusakan
secara mendadak. Bagian
tanaman yang diserang
antara lain tangkai daun
dan bunga. Tangkai yang
diserang akan berwarna
seperti perunggu. Pada
358
permukaan atas daun
terdapat titik/bercak
berwarna kuning atau
coklat, kemudian meluas
dan seluruh daun menjadi
kuning. Pada permukaan
bawah berwarna putih
perak dan bagian atas
berwarna kuning semu.
Pada tingkat serangan
lanjut daun akan berbercak
coklat dan berubah menjadi
hitam kemudian gugur.
Pada daun Phalaenopsis
sp. mula-mula berwarna
putih keperakan kemudian
menjadi kuning. Hama ini
dapat berjangkit baik pada
musim hujan maupun
musim kemarau, namun
umumnya serangan
meningkat pada musim
kemarau, sedangkan pada
musim hujan serangan
berkurang karena terbawa
air. Kerusakan dapat
terjadi mulai dari
pembibitan.
3. Biologi :Tungau berwarna
merah, berukuran sangat
kecil yaitu 0,2 mm
sehingga sukar untuk
dilihat dengan mata
telanjang. Tungau dapat
dijumpai pada daun,
pelepah daun dan bagianbagian
tersembunyi
lainnya. Telur tungau
berwarna merah, bulat dan
diletakkan membujur pada
permukaan atas daun.
b. Kumbang Gajah
Orchidophilus aterrimus
(Acythopeus)
Ordo : Coleoptera
Famili : Curculionidae
1) Tanaman Inang: Jenis
anggrek yang diserang
adalah anggrek epifit antara
lain Arachnis sp., Cattleya
sp., Coelogyne sp.,
Cypripedium sp.,
Dendrobium sp., Cymbidium
sp., Paphiopedilum sp.,
Phalaenopsis sp.,
Renanthera sp., dan Vanda
sp.
2) Gejala Serangan : Kumbang
bertelur pada daun atau
lubang batang tanaman.
Kerusakan terjadi karena
larvanya menggerek daun
dan memakan jaringan di
bagian dalam batang
sehingga mengakibatkan
aliran air dan hara dari akar
terputus serta daun-daun
menjadi kuning dan layu.
Kerusakan pada daun
menyebabkan daun
berlubang-lubang. Larva
juga menggerek batang
umbi, pucuk dan batang
untuk membentuk
kepompong, sedangkan
kumbang dewasa memakan
epdermis/permukaan daun
muda, jaringan/tangkai
bunga dan pucuk/kuntum
sehingga dapat
mengakibatkan kematian
bagian tanaman yang
359
dirusak. Serangan pada titik
tumbuh dapat mematikan
tanaman. Pada pembibitan
Phalaenopsis sp. dapat
terserang berat hama ini.
Seangan kumbang gajah
dapat terjadi sepanjang
tahun, tetapi paling banyak
terjadi pada musim hujan,
terutama pada awal musim
hujan tiba.
3) Biologi : Kumbang berwarna
hitam kotor/tidak mengkilap
dengan ukuran bervariasi
3,5-7 mm termasuk
moncong. Kumbang bertelur
pada daun atau lubang pada
batang tanaman. Larva
menggerek ke jaringan
batang atau masuk ke
pucuk/kuncup dan tangkai
sampai menjadi pupa. Fase
larva (ulat), pupa
(kepompong) sampai
dewasa (kumbang)
berlangsung dalam
pseudobulb. Larva yang baru
menetas menggerek
pseudobulb, makan dan
tinggal di dalam pseudobulb
tersebut. Pupa terbungkus
oleh sisa makanan dan
terletak di rongga bekas
gerekan di dalam
pseudobulb.
c. Kumbang Penggerek
Omobaris calanthes Mshl.
Ordo : Colepotera
Famili : Curculionidae
1) Tanaman Inang :Jenis
anggrek yang diserang
terutama adalah anggrek
tanah terutama jenis
Calanthe sp. dan Phajus sp.
2) Gejala Serangan : Berbeda
dengan kumbang gajah,
larva kumbang ini
menggerek masuk ke
jaringan akar/umbi, pucuk
dan tangkai bunga sehingga
dinding gerekan menjadi
hitam. Sedangkan kumbang
dapat dijumpai di bagian
tengah tanaman di antara
daun bawah. Serangga
membuat sejumlah lubang,
seringkali berbaris di daun
dan juga tunas utama yang
masih terlipat yang kemudian
dapat patah dan mati. Pada
tahap awal seringkali
merusak akar tanaman dan
pada saat bunga masih
kuncup. Serangan berat
menyebabkan tanaman
terlihat merana dan dapat
mematikan tanaman anggrek
secara keseluruhan.
3) Biologi :Pertumbuhan larva
dapat mencapai panjang 5
mm.
d. Kumbang Penggerek Akar
Diaxenes phalaenopsidis
Fish.
Ordo : Coleoptera
Famili : Cerambycidae
1) Tanaman Inang :Larva
maupun kumbang ini dapat
menyerang tanaman anggrek
Renanthera sp., Vanda sp.,
Dendrobium sdp., Oncidium
360
sp. dan lebih khusus anggrek
Phalaenopsis sp.
2) Gejala Serangan :Larva
menggerek akar sehingga
akar mengering dan dapat
mengakibatkan kematian.
Larva juga menyerang
bunga. Kerusakan yang
diakibatkan oleh hama ini
akan sangat berat jika tidak
segera dikendalikan.
3) Biologi :Telur berwarna hijau
terang dengan panjang 2,4
mm dan diletakkan di bawah
kutikula akar. Larva
berwarna kuning dan
membentuk pupa dalam
suatu kokon yang
berserabut/berserat padat.
Kumbang dapat hidup
sampai 3 bulan dan daur
hidup mencapai 50-60 hari.
Pada siang hari kumbang ini
bersembunyi dan pada
malam hari memakan daun
bagian atas dan
meninggalkan
potongan/bekas gerekan
yang tidak beraturan di
permukaan.
e. Kumbang Penggerek Oulema
(= Lema) pectoralis Baly.
Ordo : Coleoptera
Famili : Chrysomelidae
1) Tanaman Inang :Arachnis
sp., Grammatophyllum
sp., Vanda sp.,
Phalaenopsis sp.,
Calanthes sp. dan
kadang-kadang
menyerang Dendrobium
sp.
2) Gejala Serangan :Larva
membuat lubang pada
daun, akar, kuntum
bunga dan bunga.
Serangga dewasa juga
dapat memakan daun.
3) Biologi :Kumbang
berwarna hijau
kekuningan. Tubuhnya
diselubungi busa yang
berwarna hijau tua.
Larvanya membuat
lubang pada daun, akar,
kuntum bunga dan
bunganya. Kumbang
mempunyai tipe criocerin
sepanjang punggung dan
pronotum yang sempit.
Serangga dari famili ini
berasosiasi dengan
rumput-rumputan dan
monokotiledon lain. Larva
yang semula berwarna
abu-abu, dengan
meningkatnya umur,
akan berubah menjadi
kuning. Tubuh larva
senantiasa tertutup oleh
kotorannya sendiri. Telur
diletakkan terpisah-pisah
pada bunga dan petiola.
Telur berwarna kuning
kehijauan dengan
panjang 1,25 mm. Larva
yang baru menetas
membawa kulit telur di
punggungnya. Daur
hidup mencapai 30 hari.
361
f. Kutu Perisai Parlatoria proteus
Curt.
Ordo : Hemiptera
Famili : Diaspididae
1) Tanaman Inang : Kutu
ini tersebar luas dan
terutama dijumpai pada
tanaman anggrek
Dendrobium sp.,
Renanthera sp., Vanda
sp. dan jenis-jenis
anggrek tanah, dan
palem.
2) Gejala Serangan
:Tanaman yang
terserang berwarna
kuning merana, kadangkadang
daun
berguguran.
3) Biologi : Kutu
mempunyai perisai
berwarna coklat merah
berukuran + 1,5 mm,
kutu dewasa berwarna
gelap berbentuk bulat,
pipih, melekat pada
bagian tanaman
terserang. Telurnya
diletakkan di bawah
perisai/tempurung,
sehingga tidak terlihat
dari atas. Larva tidak
bertungkai, berbentuk
bulat. Kutu dewasa
betina tidak bersayap
sedangkan yang jantan
bersayap.
g. Pengerekk Daun Gonophora
xanthomela ( = Agonita
spathoglottis)
Ordo : Coleoptera
Famili : Chrysomelidae
1) Tanaman Inang :Hama
ini menyerang jenis-jenis
anggrek Phalaenopsis
amabilis, Vanda tricolor,
V. coerulea, Arundina sp.
dan Aspathoglottis sp.
2) Gejala Serangan Larva
mengorok bagian dalam
daun dan meninggalkan
bagian epidermis
sehingga daun tampak
transparan. Serangan
berat terjadi pada musim
hujan.
3) Biologi :Kumbang
berukuran 6 mm,
terdapat tanda hitam dan
oranye. Telur diletakkan
pada permukaan bawah
daun dan ditutupi
kotoran.
h. Ulat Bunga Chliaria othona
Ordo : Lepidoptera
Famili : Lycaenidae
1) Tanaman Inang : Ulat ini
menyerang jenis-jenis
anggrek Dendrobium sp.,
Phalaenopsis sp.,
Arundina sp., Phajus sp.
2) Gejala Serangan :Ulat
memakan bunga atau
pucuk anggrek. Setelah
menetas dari telur segera
362
masuk dan merusak ke
dalam pucuk sampai ke
bunga.
3) Biologi :Ulat berbentuk
pipih. Larva yang baru
menetas dari telur masuk
ke dalam pucuk sampai
bunga. Stadia pupa
terjadi di daun dan umbiumbian
dalam lapisan
anyaman dan pupa
berbalut lapisan sutera.
i. Pemakan Daun Negeta
chlorocrota Hps.
Ordo : Lepidoptera
Famili : Noctuidae
1) Tanaman Inang
:Kerusakan paling
banyak pada
Dendrobium sp., dan
Arachnis sp.. dan
serangga juga dijumpai
pada Phalaenopsis sp.
dan aneka anggrek liar.
2) Gejala Serangan :Larva
memakan daun muda
dan meninggalkan
potongan-potongan daun
yang putih dan
transparan. Kerusakan
disebabkan oleh instar
selanjutnya pada daun
yang lebih tua. Pucukpucuk
muda juga
diserang. Pada populasi
tinggi larva
menggerogoti daun,
potongan oval dari daun
yang tertinggal di atas
dan digunakan untuk
membentuk tempat
pupa.
3) Biologi :Ulat merupakan
semi penggulung daun
anggrek. Ulat instar
lanjut berwarna hijau
pudar dengan garis
gelap membujur dan
empat tanda di
punggung. Seta (bulu)
panjang tumbuh dari
kecil dan hitam. Panang
larva + 35 mm. Ngengat
muda tidak terbang
sangat jauh. Telur
berduri dan dijumpai di
daun, pucuk dan bunga.
Di Bogor siklus hidup
mencapai 38 hari.
j. Kutu Putih Pseudococcus sp.
Ordo : Hemiptera
Famili : Pseudococcidae
1) Tanaman Inang : Hama
ini tersebar luas dan
merupakan hama penting
pada tanaman buahbuahan
dan tanaman
hias.
2) Gejala Serangan :Pada
Dendrobium sp., kutu
menyerang ujung akar,
bagian daun sebelah
bawah dan batang.
Bagian tanaman
terserang akan berwarna
kuning dan akhirnya mati
karena hama ini
mengisap cairan sel.
Pada Phalaenopsis sp.,
kutu menyerang ketiak
daun di sekitar titik
tumbuhnya, sehingga
363
menyebabkan tanaman
mati.
3) Biologi :Seluruh tubuh
tertutup oleh lilin
termasuk tonjolan pendek
yang terdapat pada
tubuhnya. Kutu berwarna
coklat kemerahan,
panjang 2 mm, dan
memproduksi embun
madu sehingga menarik
bagi semut untuk
berkumpul. Kutu
memperbanyak diri
melalui atau tanpa
perkawinan
(partenogenesis).
Perkembangan satu
generasi memerlukan
waktu selama 36 hari.
k. Siput Setengah Telanjang
(Slug) Parmarion pupillaris
Phyllum : Mollusca
1) Tanaman Inang :
Bersifat polifag, selain
menyerang anggrek juga
pada kol, sawi, tomat,
kentang, tembakau, karet
dan ubi jalar.
2) Gejala Serangan :Siput
memakan daun dan
membuat lubang-lubang
tidak beraturan.
Seringkali ditandai
dengan adanya bekas
lendir sedikit mengkilat
dan kotoran. Akar dan
tunas anakan juga
diserang. Seringkali
merusak pesemaian atau
tanaman yang baru saja
tumbuh. Siput juga
makan bahan organik
yang telah membusuk
atauun tanaman yang
masih hidup.
3) Biologi :Siput tidak
memiliki cangkok,
berukuran panjang 5 cm,
berwarna coklat
kekuningan atau coklat
keabuan. Rumah pada
punggungnya kerdil dan
sedikit menonjol. Siput
tidak beruas, badannya
lunak, bisa mengeluarkan
lendir, berkembang biak
secara hermaprodit
namun sering juga terliha
mereka mengadakan
perkawinan dengan
sesama. Siput menyukai
kelembaban. Telur
diletakkan pada tempattempat
yang lembab.
Siput biasanya pada
waktu siang hari
bersembunyi di tempat
yang teduh dan aktif
mencari makan pada
malam hari. Alat untuk
makan berbentuk seperti
lidah yang kasar seperti
parut yang disebut
radula.
l. Siput Telanjang Vaginula
bleekeri atau Filicaulis bleekeri
Phyllum : Mollusca
1) Tanaman Inang : Selain
menyerang anggrek, juga
merusak pesemaian
sayuran seperti kol,
sawi, tomat dan
tembakau.
364
2) Gejala Serangan :Gejala
serangan mirip
Parmarion. Siput
menyerang tanaman
pada waktu malam hari.
Bagian tanaman yang
diserang adalah daun
dan pucuk-pucuknya
3) Biologi :Bentuk siput
seperti lintah, berwarna
coklat keabuan, pada
punggungnya terdapat
bercak-bercak coklat tua
yang tidak teratur dan
ada sepasang garis
memanang, panjang
tubuh + 5 cm.
m. Bekicot Achatina fulica atau
A. variegata
Phyllum : Mollusca
1) Tanaman Inang :Bekicot
selain merusak tanaman
anggrek, juga tanaman
bunga bakung, bunga
dahlia, pepaya, tomat
2) Gejala Serangan :
Bekicot banyak merusak
seluruh bagian tanaman
dengan memakan daun
dan bagian tanaman
lain. Selain itu juga
makan tanaman yang
telah mati.
3) Biologi : Bekicot
mempunyai cangkok
(rumah), dengan ukuran
panjang + 10-13
cm. Pada waktu siang
hari bekicot ini sering
istirahat pada batang
pepaya, pisang dan
dinding rumah. Pada
waktu malam hari
mencari makanan. Siang
hari mencari tempat
perlindungan di lubang
tanah, kaleng atau
bambu. Bila diganggu
mereka akan menarik
kepalanya ke dalam
rumahnya. Kadangkadang
dapat
mengeluarkan suara.
Pada waktu musim
kemarau yang panjang
dan udara panas, kepala
dan seluruh badan
dimasukkan dalam rumah
dan lubangnya ditutup
dengan suatu lapisan
membran yang tebal
hingga ia dapat bertahan
hidup selama musim
kemarau + 6 bulan.
Bila musim hujan tiba
dalam beberapa jam
mereka dapat segera
mengakhiri masa
istirahatnya dan mulai
mencari makanan.
Bekicot yang baru saja
menetas bisa tahan tidak
makan selama 1 bulan.
Bekicot yang besar bisa
tahan terendam air tawar
selama 12 jam, tetapi
kalau air mengandung
garam bekicot akan mati
dengan pelan-pelan.
Telurnya berwarna kuning
dengan diameter + 5 mm,
biasanya terdapat dalam
kelompok telur yang
jumlahnya 100-500 butir
gumpalan telur yang
diameternya bisa sampai
365
+ 5 cm. Biasanya terletak
di bawah batu, tanaman
atau dalam tanah
gembur. Telur ini akan
menetas dalam 10-14
hari.
n. Tungau Jingga Anggrek
Pseudoleptus vandergooti (Oud)
Ordo : Acarina
Famili : Tertranychidae
1) Tanaman Inang :Anggrek
Dendrobium sp. sangat
peka terhadap serangan
tungau jingga.
2) Gejala Serangan
:Serangan hama ini
mengakibatkan daun dan
jaringan batang berubah
warna.
3) Biologi :Tungau
berukuran 0,3 mm, hidup
berkoloni pada daundaun
yang mati.
o. Thrips Anggrek
Dichromothrips (= Eugniothrips)
smithi (Zimm)
Ordo : Thysanopter
Sub Ordo : Terebrantia
1) Tanaman Inang :Thrips
anggrek dari P. Jawa
ditemukan pula di
Taiwan. Thrips
mengakibatkan
kerusakan serius pada
pembibitan anggrek
Arachnis sp., Cattleya
sp., Dendrobium sp.,
Renanthera sp., dan
Vanda sp.
2) Gejala Serangan :
Serangan hama ini
mengakibatkan
pertumbuhan tanaman
terhambat, bunga
berguguran, daun
berubah bentuk dan
berwarna keperakan.
Pada musim kemarau
serangan thrips dapat
mengakibatkan
penurunan produksi
bunga.
3) Biologi :Hama ini sangat
kecil, dan berwarna abuabu,
ada juga yang
berwarna kecoklatan.
Panjangnya kira-kira 1-
1½ mm. Trips
mempunyai tiga pasang
kaki, dan berbadan
ramping.
p. Kepik Anggrek Mertila
malayensis Dist.
Ordo : Hemiptera
Famili : Miridae
1) Tanaman Inang :Kepik
ini memiliki daerah
penyebaran meliputi
wilayah Asia Selatan dan
Timur. Kepik dapat
ditemukan pada anggrek
Phalaenopsis sp.,
Bulbophyllum sp.,
Renanthera sp., Vanda
sp.
2) Gejala Serangan :
Serangan kepik
menimbulkan gejala
366
bintik-bintik putih kuning
pada permukaan atas
dan bawah daun
anggrek. Kadangkadang
titik-titik tersebut
sangat rapat sehingga
merupakan bercak
putih. Tanaman yang
terserang lama-lama
menjadi gundul.
3) Biologi :Kepik berwarna
merah kehitaman. Telur
diletakkan di daun, dan
nimfa yang baru
menetas berwarna
merah mirip dengan
tungau. Serangga
biasanya hidup
berkelompok, jika
diganggu maka akan
melarikan diri dengan
cepat. Di Salatiga siklus
hidup sekitar 4 minggu,
dan serangga dewasa
dapat hidup selama 2
bulan.
q. Kutu Daun Anggrek
Cerataphis oxhidiarum (West)
Ordo : Homoptera
Famili : Aphidoidea
1) Tanaman Inang :Kutu ini
tersebar luas dan
terutama dijumpai pada
tanaman anggrek
Dendrobium sp.,
Renanthera sp., Vanda
sp. dan jenis-jenis
anggrek tanah.
2) Gejala Serangan :Kutu
daun menempel pada
daun, dan menyebabkan
daun yang terserang
berubah menjadi kuning,
kemudian coklat,
akhirnya mati.
3) Biologi :Spesies kutu
daun ini berwarna coklat
gelap sampai hitam.
Pada waktu masih muda,
serangga berwarna
hijau. Penyebaran
meliputi di daerah tropis.
r. Kutu Tempurung Aspidiotus
sp.
Ordo : Homoptera
Famili : Diaspididae
1) Tanaman Inang : Di
daerah Bogor kutu
tempurung ditemukan
pada anggrek
Renanthera sp. dan
Vanda sp., kelapa,
kelapa sawit, pisang,
mangga, alpukat, jambu
biji, kakao, karet, keluwih,
dan jahe.
2) Gejala Serangan :
Serangga ini mengisap
cairan daun di bagian
permukaan bawah
sehingga meninggalkan
bercak-bercak dan
menyebabkan daun
berwarna kuning
kecoklatan. Kutu
mengisap cairan daun,
sehingga makin lama
cairan daun habis dan
jaringan di sekelilingnya
terjadi nekrosis. Pada
serangan berat seluruh
daun menjadi kering dan
kemudian rontok.
367
3) Biologi : Serangga
dewasa berwarna merah
coklat gelap berukuran
panjang 1,5 mm. Kutu
betina dapat
menghasilkan telur 20-30
butir. Telur diletakkan di
dalam perisai di bawah
badannya. Nimfa yang
baru menetas akan ke
luar dari perisai,
berkelompok di
permukaan bawah daun.
Periode telur sampai
dewasa mencapai 1,5-2
bulan. Aktivitas puncak
terjadi pada musim
kering.
s. Siput Kecil Lamellaxis (=
Opeas) gracilis (Hutt.) dan
Subulina octona Brug.
Phyllum : Mollusca
1) Tanaman Inang :Di
daerah Deli (Sumatera)
sering ditemukan pada
bedengan pembibitan
tembakau, dan di daerah
lain di Indonesia
ditemukan menyerang
sayuran di rumah kaca.
2) Gejala Serangan :Siput
ini tinggal pada tanaman
anggrek di antara media
tumbuh dalam pot dan
menyerang bagian akar.
Malam hari siput naik ke
permukaan pot dan
menyerang bagian daun.
Serangan berat terjadi
pada musim hujan.
3) Biologi :Tempurung hama
panjangnya 11 mm dan
berwarna kuning terang.
Kedua spesies hama ini
di alam sering
bercampur.
2. Penyakit
a. Busuk Hitam
Phytopthora spp.
1) Tanaman Inang :Penyakit
ini terutama dijumpai
pada anggrek Cattleya
sp., Phalaenopsis sp.,
Dendrobium sp.,
Epidendrum sp. dan
Oncidium sp.
2) Gejala Serangan :
Infeksinya tampak
dengan adanya nodanoda
hitam yang
menjalar dari bagian
tengah tanaman hingga
ke daun. Dalam waktu
relatif singkat seluruh
daun sudah berjatuhan.
Cendawan ini menyerang
pucuk tanaman dan titik
tumbuh. Bagian pangkal
pucuk daun terlihat basah
dan bila ditarik mudah
terlepas. Bila menyerang
titik tumbuh,
pertumbuhan akan
terhenti. Penyebaran
penyakit ini sangat cepat
bila keadaan lingkungan
lembab. Pada Cattleya
penyakit dapat timbul
pada daun, umbi semu,
akar rimpang dan kuncup
bunga. Penyakit ini juga
dapat timbul pada
pesemaian sebagai
penyakit busuk rebah.
368
Pada daun terjadi bercak
besar, berwarna ungu
tua, coklat keunguan,
atau hitam. Bercak
dikelilingi halo
kekuningan. Dari daun
penyakit berkembang ke
umbi semu, akar
rimpang, bahkan
mungkin ke seluruh
tanaman. Jika penyakit
mula-mula timbul pada
umbi semu, maka umbi
ini akan menjadi hitam
ungu, dan semua yang
terletak di atasnya akan
layu. Seringkali daun
menjadi rapuh dengan
goyangan sedikit saja
daun akan terlepas
sedikit di atas umbi
semu. Infeksi yang
terjadi pada permukaan
tanah dapat
menyebabkan busuk
kaki. Pada Vanda, mulamula
pada pangkal daun
terjadi bercak hitam
kecoklatan tidak teratur,
dengan cepat meluas ke
seluruh permukaan daun
dan pada daun-daun
sekitarnya. Pada
umumnya penyakit timbul
di daerah pucuk
tanaman. Pada bagian
ini daun-daun berwarna
hitam coklat kebasahbasahan
dan mudah
sekali gugur. Kadangkadang
penyakit juga
timbul pada batang dan
daerah perakaran.
3) Morfologi/Epidemiologi :
Cendawan membentuk
sporangium, mudah
terlepas, bulat telur atau
jorong, pangkalnya
membulat, mempunyai
tangkai pendek dan
hialin. Spora
Phytophthora dapat
dipencarkan oleh angin,
dan percikan air. Akar
rimpang dapat dapat
terinfeksi karena patogen
yang terbawa oleh pisau
yang dipakai untuk
memotong (memisahkan
tanaman). Penyakit juga
berkembang oleh
kelembaban yang tinggi,
karena air membantu
pembentukan,
pemencaran, dan
perkecambahan spora.
b. Antraknosa. Colletotrichum
gloeosporioides (Penz.) Sacc.
(Stadium Sempurna :
Glomerella cingulata)
1) Tanaman Inang :Penyakit
ini dijumpai pada anggrek
jenis Dendrobium sp.,
Arachnis sp., Ascocendo
sp., Phalaenopsis sp.,
Vanda sp. dan Oncidium
sp.
2) Gejala Serangan : Pada
daun atau umbi semu
mula-mula timbul bercak
bulat, mengendap,
berwarna kuning atau
hijau muda. Akhirnya
bercak menjadi coklat
dan mempunyai bintikbintik
hitam yang terdiri
369
dari tubuh buah
(aservulus) cendawan.
Pada umumnya bintikbintik
ini teratur pada
lingkaran-lingkaran yang
terpusat. Dalam
keadaan yang lembab
tubuh buah
mengeluarkan massa
spora (konidium) yang
berwarna merah jambu
atau jingga. Daun yang
terserang akan gugur
akhirnya umbi akan
gundul. Pada bunga,
penyakit menyebabkan
terjadinya bercak-bercak
coklat kecil yang dapat
membesar dan bersatu
sehingga dapat meliputi
seluruh bunga.
Cendawan dapat
mempertahankan diri
dengan hidup secara
saprofitik pada sisa
tanaman sakit. Pada
cuaca menguntungkan
(lembab), cendawan
membentuk konidium
yang apabila terbentuk
dalam massa yang lekat,
konidium dipencarkan
oleh percikan air hujan/air
siraman, mungkin juga
oleh serangga.
Cendawan adalah parasit
lemah, yang hanya dapat
mengadakan infeksi pada
tanaman yang
keadaannya lemah,
terutama melalui lukaluka,
termasuk luka
karena terbakar
matahari. Terjadinya
penyakit juga dibantu
oleh pemberian pupuk
nitrogen yang terlalu
banyak.
3) Morfologi/Epidemiologi :
C.gloeosporioides
berbentuk aservulus
pada bagian yang mati
(nekrosis) yang berbatas
tegas, biasanya berseta,
kadang-kadang berseta
sangat jarang atau tidak
sama sekali. Aservulus
berbentuk bulat,
memanjang atau tidak
teratur, garis tengahnya
dapat mencapai 500 􀂗m.
Seta mempunyai panjang
yang bervariasi, jarang
lebih dari 200 􀂗m,
dengan lebar 4-8 􀂗m,
bersekat 1-4, berwarna
coklat, pangkalnya agak
membengkak, mengecil
ke ujung, pada ujungnya
kadang-kadang
berbentuk konidium.
Konidium berbentuk
tabung, ujungnya tumpul,
pangkalnya sempit
terpancung, hialin, tidak
bersekat, berinti 1,9-24 x
3,6 􀂗m. Konidiofor
berbentuk tabung, tidak
bersekat, hialin atau
coklat pucat. C.
gloeosporioides tersebar
luas, sebagai parasit
lemah pada bermacammacam
tumbuhan inang,
bahkan ada yang hanya
hidup sebagai saprofit.
Cendawan dapat
mempertahankan diri
dengan hidup secara
saprofitis pada
bermacam-macam sisa
370
tanaman sakit. Pada
cuaca menguntungkan
jamur membentuk
konidium. Karena
terbentuk dalam massa
yang lekat, konidium
dipencarkan oleh
percikan air, dan mungkin
oleh serangga.
Pembentukan konidium
dibentuk oleh cuaca yang
lembab, sedang
pemencaran konidium
dibantu oleh percikan air
hujan maupun siraman.
c. Layu Sklerotium rolfsii Sacc.
(Stadium Sempurna : Corticium
rolfsii Curzi)
1) Tanaman Inang :Selain
menyerang anggrek,
penyakit ini diketahui
menyerang pada
tanaman pertanian
lainnya. Pada anggrek
terutama menyerang
jenis-jenis terestrial,
seperti Vanda sp.,
Arachnis sp. dan
sebagainya.
2) Gejala Serangan :
Tanaman yang
terserang menguning
dan layu. Infeksi terjadi
pada bagian-bagian
yang dekat dengan
tanah. Bagian ini
membusuk, dan pada
permukaannya terdapat
miselium cendawan
berwarna putih, teratur
seperti bulu. Miselium
ini membentuk
sklerotium, yang semula
berwarna putih, kelak
berkembang menjadi
butir-butir berwarna
coklat yang mirip
dengan biji sawi. Pada
Phalaenopsis penyakit
menyebabkan busuk
akar dan pangkal daun.
Jaringan menjadi
berwarna kuning krem,
berair, yang segera
berubah menjadi coklat
lunak karena adanya
bakteri dan cendawan
tanah. Sklerotium
bentuknya hampir bulat
dengan pangkal yang
agak datar, mempunyai
kulit luar, kulit dalam
dan teras. Di daerah
tropis S. rolfsii tidak
membentuk spora.
Cendawan dapat
bertahan lama dengan
hidup secara saprofitik,
dan dalam bentuk
sklerotium yang tahan
terhadap keadaan yang
kurang baik. S. rolfsii
umumnya terdapat
dalam tanah.
Cendawan terutama
terpencar bersamasama
dengan tanah
atau bahan organik
pembawanya.
Sklerotium dapat
terpencar karena
terbawa oleh air yang
mengalir. S. rolfsii
terutama berkembang
dalam cuaca yang
lembab. Cendawan
dapat menginfeksi
tanaman anggrek
melalui luka ataupun
tidak, bila melalui luka
371
infeksi akan
berlangsung lebih
cepat. Di Indonesia
Oncidium sp. dan
Phalaenopsis sp.
sangat rentan terhadap
S. rolfsii, Cattleya sp.
agak tahan, sedangkan
Dendrobium sp. sangat
tahan.
3) Morfologi/Epidemiologi :
S. rolfsii adalah
cendawan yang
kosmopolit, dapat
menyerang bermacammacam
tumbuhan,
terutama yang masih
muda. Cendawan itu
mempunyai miselium
yang terdiri dari
benang-benang
berwarna putih,
tersusun seperti bulu
atau kipas. Cendawan
tidak membentuk
spora. Untuk
pemencaran dan
mempertahankan diri
cendawan membentuk
sejumlah sklerotium
yang semula berwarna
putih kelak menjadi
coklat dengan garis
tengah kurang lebih 1
mm. Butir-butir ini
mudah sekali terlepas
dan terangkut oleh air.
Sklerotium mempunyai
kulit yang kuat sehingga
tahan terhadap suhu
tinggi dan kekeringan.
Di dalam tanah
sklerotium dapat
bertahan selama 6-7
tahun. Dalam cuaca
yang kering sklerotium
akan mengeriput, tetapi
justru akan
berkecambah dengan
cepat jika kembali
berada dalam
lingkungan yang
lembab.
d. Layu Fusarium oxysporum
1) Tanaman Inang :Penyakit
layu Fusarium dapat
dijumpai pada anggrek
jenis Cattleya sp.,
Dendrobium sp. dan
Oncidium sp. Selain itu
juga menyerang kubis,
caisin, petsai, cabai,
pepaya, krisan, kelapa
sawit, lada, kentang,
pisang dan jahe.
2) Gejala serangan :
Patogen menginfeksi
tanaman melalui akar
atau masuk melalui luka
pada akar rimpang yang
baru saja dipotong,
menyebabkan batang
dan daun berkerut.
Bagian atas tanah
tampak merana seperti
kekurangan air,
menguning, dengan
daun-daun yang keriput,
umbi semu menjadi
kurus, kadang-kadang
agak terpilin. Perakaran
busuk, pembusukan pada
akar dapat meluas ke
atas, sampai ke pangkal
batang.
372
3) Jika akar rimpang
dipotong akan tampak
bahwa epidermis dan
hipodermis berwarna
ungu, sedang phloem
dan xylem berwarna
ungu merah jambu muda.
Akhirnya seluruh akar
rimpang menjadi
berwarna ungu.
4) Epidemiologi :Patogen
dapat bertahan secara
alami di dalam media
tumbuh dan pada akarakar
tanaman sakit.
Apabila terdapat tanaman
peka, melalui akar yang
luka dapat segera
menimbukan infeksi.
Penyakit ini mudah
menular melalui benih,
dan alat pertanian yang
dipakai.
e. Bercak Daun Cercospora
spp.
1) Tanaman inang :Semua
jenis anggrek terserang
oleh penyakit ini,
terutama yang ditanam di
tempat terbuka, seperti
Vanda sp., Arachnis sp.,
Aranda sp., Aeridachnis
sp. dan sebagainya.
2) Gejala serangan :
Penyakit timbul hanya
apabila keadaan
lingkungan lembab. Mulamula
pada sisi bawah
daun yang masih muda
timbul bercak kecil
berwarna coklat. Bercakbercak
dapat
berkembang melebar dan
memanjang, dan dapat
bersatu membentuk
bercak yang besar. Pada
pusat bercak yang
berwarna coklat
keputihan, cendawan
membentuk kumpulankumpulan
konidiofor
dengan konidium, yang
bila dilihat dengan kaca
pembesar (loupe) tampak
seperti bintik-bintik hitam
kelabu. Pusat bercak
akhirnya mengering dan
dapat menjadi berlubang.
Gejala ini lebih banyak
terdapat pada daun-daun
tua.
3) Morfologi/Epidemiologi :
Konidium cendawan ini
berbentuk gada panjang
bersekat 3-12. Konidiofor
pendek, bersekat 1-3,
cendawan dapat terbawa
oleh benih dan bertahan
pada sisa-sisa tanaman
sakit selama satu
musim. Cuaca yang
panas dan basah
membantu
perkembangan penyakit.
Penyakit dapat timbul
pada tanaman muda,
meskipun cenderung
lebih banyak pada
tanaman tua.
f. Bercak Coklat Ralstonia
(Pseudomonas) cattleyae (Pav.)
Savul
1) Tanaman Inang :Penyakit
terutama menyerang
373
Phalaenopsis sp. dan
Catleya sp.
2) Gejala serangan :
Penyakit ini terutama
merugikan Phalaenopsis
sp. Bagian tanaman yang
terserang yaitu daun dan
titik tumbuh. Penyakit
sangat cepat menjalar,
dan pada daun yang
terserang terjadi bercak
lunak, kebasah-basahan
dan berwarna kecoklatan
atau hitam. Penyakit
meluas dengan cepat.
Jika penyakit mencapai
titik tumbuh, tanaman
akan mati. Bagian yang
sakit mengeluarkan lendir
(eksudat), yang dapat
menularkan penyakit ke
tanaman lain, melalui
penyiraman. Pada daun
Cattleya sp. penyakit
tampak sebagai bercakbercak
mengendap,
hitam dan kebasahbasahan.
Pada
umumnya penyakit hanya
terbatas pada satu atau
dua daun, dan tidak
mematikan tanaman.
3) Epidemiologi : Massa
bakteri sering muncul di
permukaan jaringan
tanaman sakit. Penyakit
ini berkembang pada
kondisi lingkungan yang
basah dan suhu yang
tinggi. Penyakit dapat
menular melalui alat-alat
pertanian, air, media
tumbuh dan benih yang
terinfeksi.
g. Busuk Lunak
Erwinia spp.
1) Tanaman Inang :Penyakit
ini dapat menyerang
semua jenis anggrek
bahkan tanaman lain
yang lunak jaringannya.
2) Gejala Serangan :
Penyakit ini menyerang
tanaman anakan dalam
kompot. Daun-daun
anakan terlihat berair dan
warna daun berubah
kecoklatan. Pada
pseudobulb atau bagian
lunak lainnya terjadi
pembusukan disertai bau
yang tidak enak. Bakteri
ini menimbulkan
pembusukan pada
jaringan yang lunak dan
pada jaringan yang bekas
digigit serangga.
3) Morfologi/Epidemiologi :
Sel bakteri berbentuk
batang, tidak mempunyai
kapsul, dan tidak
berspora. Bakteri
bergerak dengan
menggunakan flagela
yang terdapat di
sekeliling sel bakteri.
Bakteri patogen mudah
terbawa oleh serangga,
air, media tumbuh dan
sisa tanaman yang
terinfeksi, serta alat-alat
pertanian. Suhu optimal
untuk perkembangan
bakteri adalah 27° C.
Pada kondisi suhu
rendah dan kelembaban
374
rendah bakteri terhambat
pertumbuhannya.
h. Rebah Bibit Pythium ultinum,
Phytohpthora cactorum dan
Rhizoctonia solani.
1) Tanaman Inang :
Penyakit ini dijumpai
pada tanaman muda
dalam kompot pada
anggrek jenis Cymbidium
sp., Dendrobium sp.,
Oncidium sp. dan
sebagainya.
2) Gejala Serangan :Pada
tanaman muda ditandai
dengan gejala damping
off, yaitu tanaman mati
dan roboh. Bagian
pangkal tanaman
membusuk, sehingga
tidak kuat berdiri tegak.
Penyakit berkembang ke
atas ke bagian-bagian
lunak lainnya.
3) Epidemiologi : Patogen
tersebut terpencar
malalui air. R. solani
bertahan lama di dalam
tanah (media tumbuh).
h. Bercak Daun
Pestalotia sp.
1) Tanaman Inang :
Penyakit ini dijumpai
pada anggrek jenis
Vanda sp., Arachnis sp.,
Dendrobium sp. dan
Oncidium sp.
2) Gejala Serangan Pada
daun-daun tua dijumpai
bercak dengan titik-titik
hitam di bagian
tengahnya. Mula-mula
bercak berwarna kuning
agak coklat.
3) Epidemiologi Patogen
memencar dengan spora
yang terjadi apabila ada
perubahan yang
mendadak dari keadaan
basah kemudian kering
dan disertai angin.
i. Bercak
Botryodiplodia sp.
1) Tanaman Inang :Penyakit
ini dijumpai pada anggrek
jenis Vanda sp. dan
Arachnis sp.
2) Gejala Serangan :Pada
anggrek Vanda sp.
penyakit ditandai dengan
bercak memanjang
berwarna coklat sampai
hitam. Gejala terjadi baik
di daun maupun
batangnya. Bercak tidak
terbatas pada bagianbagian
yang tua saja
tetapi yang mudapun
terserang.
3) Epidemiologi :Penyakit
memencar dengan
sporanya yang berada di
dalam badan buahnya.
Spora memencar bila
terjadi perubahan cuaca
yang mendadak dari
basah ke kering.
375
k. Bercak Bunga Botrytis
cenerea
1) Tanaman Inang :Penyakit
ini terutama menyerang
bunga pada anggrek
jenis Phalaenopsis sp.
dan Cattleya sp.
2) Gejala Serangan Pada
mahkota bunga mulamula
terdapat bintik-bintik
hitam. Bila penyakit telah
berkembang lebih lanjut
dengan bintik yang
sangat banyak, bunga
akan busuk dan
menghitam.
3) Epidemiologi; Penyakit ini
berkembang bila
kelembaban sangat
tinggi. Pemencaran
penyakit dilakukan
dengan sporanya yang
sangat mudah
diterbangkan angin.
l. Karat Uredo sp.
1) Tanaman Inang :Penyakit
karat dijumpai pada
Oncidium sp. dan jenisjenis
lainnya.
2) Gejala Serangan : Pada
permukaan daun terdapat
pustul berwarna kuning.
Setiap pustul dikelilingi
oleh jaringan daun
klorotik. Serangan yang
hebat menyebabkan
daun mengering.
3) Epidemiologi :Spora
patogen mudah melekat
pada kaki serangga dan
oleh tiupan angin.
Kondisi lingkungan yang
lembab sangat
membantu
perkembangan penyakit.
m. Virus Mosaik Cymbidium
(Cymbidium mosaic virus=
CyMV).
Virus mosaik cymbidium dikenal
juga dengan nama “Cymbidium
black streak virus” atau “Orchid
mosaic virus”.
1) Tanaman Inang : Virus ini
dijumpai pada 8 genera,
yaitu Aranthera sp.,
Calanthe sp., Cattleya
sp.,Cymbidium sp.,
Gromatophyllum sp.,
Phalaenopsis sp.,
Oncidium sp., dan Vanda
sp.
2) Gejala Serangan : Pada
Cymbidium sp. gejala
mosaik akan tampak
lebih jelas pada daundaun
muda berupa garisgaris
klorotik memanjang
searah serat daun.
Bunga pada tanaman
Cattleya sp. yang
terinfeksi biasanya
memperlihatkan gejala
bercak-bercak coklat
nekrosis pada petal dan
sepalnya. Bunga
biasanya berukuran lebih
kecil dan mudah rontok
dibandingkan dengan
bunga tanaman sehat.
376
3) Morfologi/Epidemiologi :
Partikel CyMV berbentuk
filamen memanjang
berukuran 13 x 475 nm.
Virus ini menular secara
mekanik melalui cairan
atau ekstrak bagian
tanaman sakit, tetapi
tidak menular melalui biji
ataupun serangga vektor.
n. Virus Mosaik Tembakau
Strain Orchid (Tobacco Mosaic
Virus-Orchid = TMV-O)Virus ini
dikenal juga dengan nama virus
bercak bercincin odontoglossum
(odontoglossum ringspot virus =
ORSV).
1) Tanaman Inang : Jenisjenis
anggrek lain yang
dapat terserang virus ini
mencakup Dendrobium
sp., Epidendrum sp.,
Vanda sp., Cattleya sp.,
Oncidium sp. Cymbidium
sp. dan Phalaenopsis sp.
2) Gejala Serangan :Pada
beberapa jenis anggrek
seperti Cattleya sp.,
gejala infeksi virus ini
bervariasi, yaitu berupa
garis-garis klorotik,
bercak-bercak klorotik
sampai nekrotik atau
bercak-bercak berbentuk
cincin. Pada Oncidium
sp. bercak-bercak
nekrotik berwarna hitam
tampak nyata pada
permukaan bawah daun.
Di lapang persentase
tanaman anggrek
Oncidium sp. terinfeksi
virus ini dapat mencapai
100 %. Gejala pada
bunga, misalnya pada
anggrek Cattleya sp.,
berupa mosaik pada
sepal dan petal. Bagian
tepi bagian bunga ini
biasanya bergelombang.
3) Morfologi/Epidemiologi :
Partikel virus berbentuk
batang berukuran 18 x
300 nm. TMV-O mudah
ditularkan secara
mekanik melalui ekstrak
bagian tanaman sakit,
tetapi tidak menular
melalui serangga vektor
ataupun biji.
Pengendalian OPT Anggrek
a Fisik
Media tumbuh disucihamakan
dengan uap air panas agar
tanaman bebas dari OPT yang
dapat ditularkan melalui media
tumbuh.
Untuk menghindari penularan
virus, usaha sanitasi harus
dilakukan meliputi sterilisasi alatalat
potong.
Setelah dicuci bersih alat-alat
potong dipanaskan dalam oven
pada suhu 149 ° C selama 1
jam.
b. Mekanis
Pengendalian secara mekanis
dilakukan bilamana serangga
hama dijumpai dalam jumlah
terbatas. Misalnya pada pagi dan
377
sore hari kumbang gajah dapat
dijepit dengan jari tangan dan
dimatikan.
Demikian pula kutu tempurung
pada daun anggrek dapat
didorong dengan kuku, tetapi
harus dilakukan secara hati-hati
lalu dimatikan. Keong besar atau
yang kecil dengan mudah dapat
ditangkap pada malam hari dan
dimusnahkan.
Dengan membersihkan sampah
dan gulma, maka keong tidak
mempunyai kesempatan untuk
bersarang dan bersembunyi.
Pengendalian secara mekanis
juga dilakukan pada bagian
tanaman yang menunjukkan
gejala serangan penyakit, yaitu
dengan memotong dan
memusnahkan bagian tanaman
yang terserang.
c.Kultur Teknis
Pemeliharaan tanaman yang
baik dapat meningkatkan
kesehatan tanaman, sehingga
tanaman dapat tumbuh lebih
subur.
Penyiraman, pemupukan dan
penambahan atau penggantian
media tumbuh dapat
meningkatkan pertumbuhan
tanaman. Secara tidak langsung
pemeliharaan yang
berkelanjutan dapat memantau
keadaan tanaman dari serangan
OPT secara dini.
Penyiraman dilakukan apabila
diperlukan dan dilakukan pagi
hari sehingga siang harinya
sudah cukup kering.
Pelihara tanaman dari serangan
atau kehadiran serangga yang
dapat menjadi pembawa atau
pemindah penyakit. Udara dalam
pertanaman sebaiknya dijaga
agar tidak terlalu lembab,
sehingga penyakit tidak mudah
berkembang.
Tanaman yang baru atau
diketahui menderita penyakit
diisolasi selama 2-3 bulan,
sampai diketahui bahwa
tanaman tersebut betul-betul
sehat.
Tanaman yang akan
dibudidayakan sebaiknya juga
berasal dari induk yang telah
diketahui bebas penyakit.
d. Kimiawi
Untuk pengendalian OPT
anggrek dapat dipilih jenis
pestisida yang tepat sesuai
dengan organisme pengganggu
tumbuhan yang akan
dikendalikan.
Formulasi pestisida dapat
berupa cairan (emulsi), tepung
(dust) pasta ataupun granula.
Konsentrasi dan dosis
penggunaan biasanya
dicantumkan pada tiap
kemasan.
Jenis-jenis pestisida yang dapat
digunakan untuk mengendalikan
OPT pada tanaman anggrek
tercantum dalam Lampiran 1.
378
Sebagai pencegahan, pot atau
wadah lainnya, alat-alat seperti
pisau dan gunting stek,
sebaiknya setiap kali memakai
alat-alat tersebut, disucihamakan
dengan formalin 2 % atau
desinfektan lainnya.
e. Hayati
Dilakukan dengan menggunakan
: Predator tungau : Phytoseiulus
persimilis Athias Heniot dan
Typhodiromus sp.
(Phytoseiidae)
Predator kutu daun : kumbang
koksi (Coccinelidae), lalat
Syrpidae, dan laba-laba Lycosa
sp.
Predator kutu putih : Scymnus
apiciflavus.
Predator bekicot Achatina fulica
: Gonaxis sp., Euglandina sp.,
Lamprophorus sp., dan bakteri
Aeromonas liquefacicus.
Parasitoid Thrips : Famili
Eulophidae
Parasitoid kutu daun : Aphidius
sp. dan Encarsia sp.
Parasitoid pengorok daun
Gonophora xanthomela :
Achrysocharis promecothecae
(Eulophidae).
Pemanfaatan agens antagonis
Trichoderma sp., Gliocladium sp.
dan Pseudomonas fluorescens
untuk penyakit layu Fusarium sp.
dan Ralstonia (Pseudomonas )
solanacearum.
Panen dan Pascapanen
Keistimewaan tanaman anggrek
terletak pada penampilannya
saat konsumsi, sehingga usaha
untuk mempertahankan mutu
penampilan selama mungkin
menjadi tujuan utama
penanganan pasca panen dan
pasca produksi.
Untuk melaksanakan upaya
tersebut perlu dipahami berbagai
faktor yang dapat mempengaruhi
mutu pasca panen atau pasca
produksi tanaman anggrek.
Faktor yang mempengaruhi mutu
pasca panen anggrek bunga
potong adalah:
– tingkat ketuaan bunga
– suhu
– pasokan air dan makanan
– etilen
– kerusakan mekanis dan
penyakit.
Sedangkan yang mempengaruhi
untuk anggrek pot yang
mempengaruhi mutunya antara
lain:
– kultivar
– stadia pertumbuhan
– cahaya,
– medium, pemupukan
– ,temperatur
– lama pengangkutan.
e. Bunga Anggrek Potong
Ketuaan Bunga
Selama ini bunga anggrek
dipanen setelah 75%-80% bunga
379
telah mekar terutama pada
anggrek Dendrobium sp.
Adakalanya pada jenis anggrek
tertentu, seperti Cattleya sp.,
bunga dipanen 3 sampai 4 hari
setelah mekar, karena bunga
yang dipotong prematur akan
gagal untuk mekar.
Saat pemanenan perlu
diperhatikan penularan penyakit
virus dari satu pohon ke pohon
lain.
Sebaiknya alat pemotong
hendaknya disterilkan lebih dulu
sebelum digunakan lagi pada
pohon berikutnya.
Temperatur
Bunga potong Cymbidium sp.
dan Paphiopedilum sp. dapat
bertahan selama 3 minggu pada
temperatur 330–350 F (10 C) dan
6 sampai 7 minggu bila tetap di
pohon.
Jenis Cymbidium sp., Cattleya
sp., Vanda sp., Paphiopedilum
sp. dan Phalaenopsis sp.
umumnya bisa bertahan sampai
2 minggu kalau disimpan pada
suhu 5–70 C, sedangkan
Dendrobium sp. potong cukup
disimpan pada temperatur 10–
130 C.
Pasokan Air dan Hara
Bunga anggrek potong peka
terhadap kekeringan. Air yang
hilang setelah bunga dipanen
harus segera diimbangi dengan
larutan perendam yang
mengandung air dan senyawa
lain yang diperlukan.
Penggunaan berbagai senyawa
kimia pengawet yang dilarutkan
dalam air dianjurkan untuk
memperpanjang kesegaran
bunga potong.
Etilen dan Kerusakan Mekanis
Usahakan untuk menjauhkan
bunga anggrek potong dari
sumber/tempat kebocoran gas,
asap, pemeraman buah dan
kumpulan bunga yang sudah
rusak dan layu.
Ruangan untuk penanganan
pasca panen (sortasi/grading
dan pengemasan) hendaknya
berventilasi baik.
Kepekaan terhadap gas etilen
dapat dikurangi dengan
pemberian suhu dingin, baik
setelah panen maupun setelah
pengiriman.
Bunga potong harus segera
dikeluarkan dari wadah
pengemasnya dan diletakkan
pada ruangan dingin yang
bersuhu cocok untuk bunga
anggrek.
Penyakit
Bunga anggrek potong peka
terhadap penyakit, tidak saja
karena berpetal agak rapuh,
tetapi juga terdapatnya cairan
madu yang bergizi yang sangat
baik untuk pertumbuhan
patogen.
380
Kerusakan akibat penyakit ini
dapat dihindari dengan
melakukan:
– Kebersihan baik di
rumah kaca
maupun di kebun
– Pengendalian
temperatur, dan
minimalisasi
terjadinya
kondensasi pada
bunga potong.
– Pengamatan
populasi hama dan
penyakit
Bunga anggrek makin diminati.
Pada saat ini makin banyak
dihasilkan varietas baru anggrek
didalam negeri.
Tantangannya adalah menjaga
agar bunga anggrek potong
dapat tetap segar dalam waktu
cukup lama.
Pengiriman bunga anggrek
potong tanpa pengawet
kesegaran bunga, dikhawatirkan
menurunkan umur peragaan
bunga dan diameter bunga.
Biasanya dilakukan pulsing, yaitu
mencelupkan tangkai bunga
potong sedalam 4 cm kedalam
larutan nutrisi selama 16 jam
dalam ruang sejuk (21 derajat
celcius).
Perlakuan ini bertujuan untuk
memberi bekal nutrisi cadangan
sekaligus dapat melindungi
tangkai bunga dari serangan
mikroorganisme penyumbat
pembuluh tangkai.
Selama ini dipergunakan larutan
pulsing berupa sukrosa 50 g/l,
perak nitrat 25 ppm, asam sitrat
200 ppm.
Jenis-jenis anggrek
Paphiopedilum
chamberlainianum
381
Phragmipedium pearcei
Dendrobium affine
Si Raja Tanduk dari Papua
Begitulah sebutan bagi anggrek
yang memiliki nama latin
Dendrobium sutiknoi P.O’bryne.
Anggrek ini dideskripsikan dan
dipublikasikan untuk pertama kali
pada Mei 2005 di Jurnal fur den
Orchideenfreund.
Nama sutikno ini sendiri diambil
dari nama seorang hobiis dan
pedagang anggrek di Tretes,
382
Prigen, Pasuruan, Jawa Timur
yang kemudian dideskripsikan
untuk pertama kali oleh Mr. Peter
O’bryne di Singapura.
Sejarahnya, ternyata anggrek ini
ditemukan secara tidak sengaja
oleh beliau di antara batangbatang
D. lasianthera, namun
tiba saat berbunga tampaklah
perbedaan tersebut.
Oleh karena karakter bunganya
yang unik maka beliau yakin
bahwa anggrek ini berpotensi
menjadi species baru.
Species ini berasal dari Papua
dan Kepulauan Morotai
(Indonesia). Sejauh ini telah
ditemukan dua varian warna,
yaitu oranye tembaga dan hijau
kekuningan.
Sosok tanamannya mirip dengan
anggrek-anggrek section
Spatulata lainnya. Batangnya
cukup tinggi mencapai 1-1,5
meter.
Bentuk daunnya elips agak bulat
telur, semakin kearah ujung atas
ukuran daunnya semakin
mengecil. Karakter unik dari
anggrek ini adalah petal nya
yang sangat panjang (mirip petal
D.stratiotes) serta bentuk ujung
labellumnya yang sempit dan
melengkung dan hampir
menyerupai labellum
Dendrobium tobaense.
Kelebihan anggrek section
Spatulata ini adalah sifat
dominan nya yang sangat kuat
pada hybrid-hybrid
keturunannya. Tidak seperti
pada D.tobaense yang bentuk
labellumnya bersifat resesif
sehingga akan mudah
terdegradasi oleh hybridisasi.
Saat ini, hybrid-hybrid maupun
hasil selfing dari D.sutiknoi telah
banyak beredar di pasaran
anggrek di Asia tenggara.
Namun menurut informasi dari
seorang rekan hobiis senior dari
Malaysia, setelah sekian lama
D.sutiknoi dimanfaatkan sebagai
parent/induk silangan, ternyata
anggrek ini kurang begitu
diminati oleh para penyilang
sebagai parent karena sifatnya
genetiknya yang sangat
dominan, sehingga selalu
mengalahkan karakter dari
induknya yang lain, akibatnya
hybrid yang terbentuk juga
terlalu condong ke arah
karakteristik D.sutiknoi.
Namun hal ini tidak begitu
dipersoalkan oleh para
penggemar dan konsumen
anggrek hybrid, sehingga tidak
mengurangi minat para
penggemar anggrek pada
umumnya untuk tetap
mengkoleksi hybrid-hybrid
turunan D.sutiknoi, karena tetap
saja hybridnya cantik dan unik
dipandang.
Di Indonesia sendiri, anggrek ini
maupun hybridnya belum begitu
tersosialisasi secara luas,
sehingga tak heran bila
harganya melambung sangat
tinggi.
383
Meskipun demikian, anggrek ini
merupakan harta genetis yang
tak ternilai. Sehingga langkahlangkah
serius untuk menjaga
kelestarian genetisnya perlu
segera dilakukan.
Pohon Anggrek Terbesar dan
Terberat di Dunia
Ini adalah si jawara kelas berat
dari dunia anggrek. Jawara ini
bernama Grammatophyllum
speciosum atau seringpula
disebut-sebut dengan nama G.
papuanum yang diyakini sebagai
salah satu variannya.
Tanaman ini tersebar luas dari
Sumatera, Kalimantan, Jawa,
hingga Papua. Oleh karena itu,
tidak heran bila banyak
ditemukan varian-varian nya
dengan bentuk tanaman dan
corak bunga yang sedikit
berbeda.
Dalam satu rumpun dewasa,
tanaman ini dapat mencapai
berat lebih dari 1 ton dan
panjang malai bunga hingga 3
meter dengan diameter malai
sekitar 1,5-2 cm. Itulah sebabnya
malai bunganya mampu
menyangga puluhan kuntum
bunga berdiameter 7-10 cm.
Dari corak bunganya penduduk
lokal sering menjulukinya
dengan sebutan anggrek macan,
akan tetapi sebutan ini sering
rancu dengan kerabatnya,
Grammatophyllum scriptum yang
memiliki corak serupa.
Oleh sebab itu, anggrek ini
populer juga dengan sebutan
sebagai anggrek tebu, karena
sosok batang tanamannya yang
menyerupai batang pohon tebu.
Meskipun persebarannya cukup
luas anggrek ini justru
menghadapi ancaman serius
dari perburuan tak terkendali
serta kerusakan habitat.
Sosok pohonnya yang sangat
besar mudah terlihat oleh para
pemburu, terlebih lagi saat
memunculkan bunganya yang
mencolok.
Belum lagi perkembangbiakan
alami di habitat dengan biji
sangatlah sulit diandalkan
karena lambatnya laju
pertumbuhan dari fase biji
hingga mencapai tanaman
dewasa yang siap berbunga.
Mungkin hal inilah yang
mendasari kenapa anggrek ini
menjadi salah satu species
anggrek yang dilindungi.
Sebagai pecinta anggrek, pasti
anggrek ini akan menjadi salah
satu “most wanted” dalam daftar
koleksi.
384
Agar perburuan liar terhadap
anggrek ini di habitatnya dapat
dikendalikan, maka langkahlangkah
budidaya secara
vegetatif maupun generatif harus
segera diberdayakan. Apalagi
anggrek ini terkenal sangat
mudah menumbuhkan tunas dari
stek bulbnya.
Setidaknya, dengan
membudidayakannya secara
vegetatif atau membeli bibit
anggrek tebu hasil
perkembangbiakan vegetatif
(tunas dari stek bulb) dapat
menjadi salah satu upaya
memelihara kelestarian anggrek
alam Indonesia.
Coelogyne celebensis si Jelita
dari Celebes
Anggrek ini memiliki nama ilmiah
Coelogyne celebensis. Kata
celebensis diambil dari nama
Celebes atau Sulawesi. Dari
namanya, kita tahu jika tanaman
ini memiliki habitat asal di
Sulawesi.
Morfologi tanamannya sekilas
nampak serupa dengan kerabat
dekatnya Coleogyne speciosa.
Bahkan tipe bunga nya pun
tampak tak ada beda. Namun
bagi yang jeli, perbedaan yang
cukup mencolok dapat dikenali
lewat bentuk labellum serta
tonjolan-tonjolan yang berada
diatas labellum tersebut.
Bunga ini mampu merekah
sempurna selama 5-7 hari,
setelah itu bunga akan layu dan
segera digantikan dengan tunas
bunga selanjutnya.
Tandan bunganya berukuran
kecil dan panjang, sehingga
tidak proporsional jika
dibandingkan dengan ukuran
bunganya yang cukup besar.
Itulah sebabnya, saat bunga nya
mekar, maka tandannya akan
terkulai kebawah, sehingga
bunganya tampak menunduk.
Anggrek ini memiliki daun yang
lebar, berbentuk bulat telur, dan
permukaannya bergelombang.
Seperti kebanyakan anggrek
lainnya, tanaman ini juga
memiliki bulb/umbi semu yg
menggembung untuk
menyimpan air dan cadangan
makanan.
Anggrek ini termasuk anggrek
dataran rendah yang rajin
berbunga dan cepat beradaptasi.
385
Dendrobium insigne
Dendrobium fimbriatum
Dendrobium litoreum
Paphiopedilum liemianum,
mungil nan tangguh
Phalaenopsis kunstleri
Anggrek ini akrab disebut
sebagai anggrek kantong,
karena labellumnya yang
menyerupai kantung kecil.
Sosok tanaman anggrek ini
cukup pendek (tinggi tanaman
sekitar 5-7 cm) dengan posisi
daun yang berselang seling.
Daunnya melebar dengan ujung
membulat.
Lebar daun sekitar 3-6 cm
dengan panjang daun bervariasi
antara 15-20 cm. Tanaman ini
386
termasuk anggrek terestrial,
artinya anggrek ini memiliki
habitat tumbuh di tanah, dengan
mengandalkan organ akarnya
sebagai alat untuk menyerap air
dan unsur hara.
Anggrek ini senang dengan
kondisi media yang cukup
lembab, akan tetapi jika terlalu
lembab bisa menyebabkan
pembusukan pada pangkal
batangnya. Anggrek yang dahulu
diisukan sebagai anggrek yang
sulit dipelihara ini, ternyata justru
memiliki kelebihan lain, yaitu
toleran terhadap kekeringan dan
toleran dengan rentang suhu
yang lebar.
Selain itu, dalam satu tandan
bunga bisa memunculkan lebih
dari 3 kali bunga. Bunganya
yang unik muncul bergantian
satu per satu dengan masa
mekar tiap kuntum bunga lebih
dari 1 minggu.
Pemeliharaan anggrek ini cukup
mudah, hanya dengan menjaga
kelembaban media dan
melakukan pemberian pupuk
organik pada media tanamnya.
Satu hal yang cukup penting
yaitu tempatkan anggrek ini pada
tempat yang ternaungi, misal
dibawah paranet 50 % atau di
bawah tajuk pepohonan.
Meskipun bunganya unik dan
indah, sayangnya pertumbuhan
anggrek ini termasuk sangat
lambat.
Media tumbuh anggrek ini dapat
berupa campuran tanah
(usahakan yang kadar
lempungnya rendah) dan pupuk
organik. Atau media kombinasi
seperti cacahan
pakis/arang/kerikil + potongan
sabut, pupuk organik + sedikit
moss.
2. Tanaman Anggrek Pot
Berbunga Indah
a. Kultivar
Berbagai karakter morfologi,
seperti warna bunga, jumlah
kuntum bunga dan waktu
berbunga telah digunakan untuk
mengevaluasi kultivar baru
industri bunga. Kriteria tersebut
merupakan faktor-faktor penting
dalam menciptakan kultivar
baru. Pada masa yang akan
datang kriteria toleransi terhadap
kondisi pengangkutan, tingkat
cahaya interior yang rendah,
etilen dan pendinginan perlu pula
dimasukkan ke dalam penilaian.
b. Stadia Pertumbuhan
Stadia pertumbuhan (umur)
tanaman pot anggrek berbunga
indah pada saat dipasarkan
merupakan faktor utama yang
mempengaruhi penampilan
tanaman tersebut di dalam
ruangan. Perlu diperhatikan
bahwa stadia yang tepat untuk
pemasaran tergantung dari
waktu yang diperlukan untuk
memperoleh tanaman.
Umumnya tanaman dengan
banyak bunga mekar lebih sulit
dalam pengangkutan, lebih peka
terhadap etilen dan lebih mudah
rusak dari pada tanaman yang
387
diangkut dalam stadia yang
bunganya masih kuncup atau
persentase bunga yang mekar
masih rendah.
c. Temperatur
Temperatur perlu diturunkan
selama siklus 2–3 minggu
terakhir untuk memperkuat
warna bunga dan meningkatkan
kandungan karbohidrat tanaman,
sehingga dapat mengakibatkan
ketahanan simpan. Semua
tanaman pot berbunga indah
akan lebih tahan pada
temperatur yang lebih rendah
dan kisarannya sangat
tergantung pada jenis tanaman.
Selanjutnya tanaman berbunga
yang ditempatkan pada
temperatur 270 C atau lebih
tinggi, umumnya mempunyai
warna bunga lebih pudar,
batang/tangkai lebih tinggi, daun
cepat menguning dan rontok.
d. Media
Media berstruktur remah yang
mudah dibasahi kembali oleh
konsumen atau penata ruang
sangat penting untuk
menghasilkan penampilan
optimum dari tanaman berbunga
indah di dalam ruangan.
Sejumlah gel polimer dapat
digunakan untuk
mempertahankan kelembaban
media dan mencegah tanaman
dalam ruangan menjadi kering.
Irigasi dengan menggunakan
wetting agent pada saat
pemasaran berguna untuk
memudahkan pembasahan
kembali media.
e. Pemupukan
Nisbah N : K yang dianjurkan 1 :
1 sampai 3 minggu sebelum
pembungaan, diubah menjadi
0,5 : 1. Nisbah ini mencegah
masalah keracunan amonia dan
meningkatkan masa simpan.
f. Kepekaan Terhadap Etilen
Tanaman pot anggrek berbunga
indah peka terhadap etilen.
Gejala yang ditimbulkan adalah
kerontokan daun, kuncup dan
bunga, dan kelayuan bunga,
epinasti, peningkatan kerentaan
terhadap mikroba dan aborsi
bunga / kuncup.
Salah satu cara efektif untuk
mengurangi kepekaan terhadap
etilen, yaitu dengan menurunkan
temperatur selama
pengangkutan.
Cara lain yang digunakan secara
komersial adalah dengan
penyemprotan daun
menggunakan senyawa
antagonis terhadap etilen,
sehingga dapat menekan
produksi etilen dalam bunga,
serta mengurangi pengaruh
buruk etilen.
g. Pengairan
Kurangnya penyiraman tanaman
yang berbunga indah serta
membiarkannya layu akan
menurunkan umur peragaan.
Sebaliknya kelebihan air akan
menyebabkan rusaknya akar,
sehingga tanaman cepat rusak.
Sebaiknya tanaman diairi tiap
388
hari atau tiap dua hari sekali,
tergantung pada tingkat cahaya,
temperatur dan kelembaban,
juga ukuran dan media tumbuh.
Pengairan dilakukan terhadap
media tanpa membasahi bunga
dan daun.
h. Cahaya
Cahaya optimum yang
diperlukan oleh tiap tanaman
harus dipertahankan untuk
menghasilkan tanaman yang
mempunyai masa penampilan
yang lebih baik, jumlah bunga
maksimum, pembentukan daun
yang sempurna, warna bunga
indah, dan tinggi tanaman yang
memadai. Umumnya tanaman
pot berbunga indah akan
membentuk bunga dalam jumlah
maksimum dengan warna yang
indah pada kondisi ruang
bercahaya tinggi, meskipun
cahaya matahari langsung
dihindari
389
9.8.2. Teknik Budidaya Mawar
a. Pendahuluan
Mawar merupakan tanaman
bunga hias berupa herba
dengan batang berduri.
Mawar yang dikenal nama
bunga ros atau “Ratu Bunga”
merupakan simbol atau
lambang kehidupan religi dalam
peradaban manusia.
Mawar berasal dari dataran
Cina, Timur Tengah dan Eropa
Timur. Dalam
perkembangannya, menyebar
luas di daerah-daerah beriklim
dingin (sub-tropis) dan panas
(tropis).
Gambar 125. Mawar kampung
b. Jenis-jenis mawar
Beberapa varietas mawar yang
digemari adalah:
– Hybrid tea; jenis bunga
potong bertangkai
panjang bunga
tunggalnya diujung
sehingga tampak megah
dan cantik
– Floribunda; jenis bunga
potong dan tanaman
taman yang bunganya
cukup besar dengan
warna bervariasi dan
tangkai tegak panjang
– Grandiflora; bunganya
berukuran raksasa
dengan diameter dapat
mencapai 7.5-12.5cm
– Climbing rose; diameter
bunga berkisar antara 5-
15cm dan tumbuh
merunduk karena
beratnya cabang serta
tersusun dalam tandan
yang jarang. Kelompok
mawar ini
pertumbuhannya sangat
lambat dibandingkan
dengan kelompok lainnya
dan rata-rata baru dapat
berbunga setelah
umurnya lebih dari dua
tahun
– Polyantha; jenis mawar
ini warna bunganya
sangat beraneka ragam,
bunganya kecil dengan
garis tengah sekitar 5 cm
dan didekat pucuk
cabangnya terdapat
banyak ranting yang
masing-masing memiliki
sekuntum bunga.
– Hybrid perpetual; jenis
mawar yang dimater
bunganya sangat lebar
(15cm) dan juga
390
merupakan kelopak
mawar yang sudah sulit
ditemukan
– Mawar tea; merupakan
nenek moyang mawar,
disebut juga mawar kuno,
aromanya sangat wangi
– Special purpose; mawar
yang dibedakan atas 3
golongan yaitu mawar
pohon, mawar perdu dan
mawar mini.
c. Syarat Tumbuh
Iklim
Bunga mawar dapat tumbuh
sampai ketinggian 900mdpl.
Dbawah ketinggian ini kuncup
bunga menjadi lebih kecil.
Kisaran tumbuh bunga mawar
adalah 700-1200 mdpl.
Suhu dan kelembaban udara
Bunga mawar membutuhkan
suhu berkisar 15-300C, dengan
kelembaban udara rata-rata 50-
60%.
Sinar matahari
Tanaman mawar membutuhkan
cahaya/penyinaran matahari
penuh sepanjang hari, karena
bila tempatnya terlindung akan
mudah terserang cendawan dan
pertumbuhannya kurang baik.
Tanah
Lingkungan tumbuh mawar yang
cocok adalah tanah bertekstur
dan drainase yang baik, gembur,
cukup bahan organik dan tidak
terlalu masam (pH6-7).
d.Pedoman teknis budidaya
Pembibitan
Bibit bunga mawar dapat berasal
dari perbanyakan vegetatif dan
generatif (biji).
Umumnya di Indonesia
perbanyakan mawar dengan
menggunakan okulasi, cangkok,
sambung, maupun stek.
Perbanyakan generatif jarang
dilakukan karena disamping
tanaman baru yang diperoleh
sering tidak sama dengan
induknya, juga karena
pengerjaannya cukup sukar.
Perbanyakan Cepat Bibit Mawar
Dengan Cara Okulasi Mata
Berkayu
Bahan dan Peralatan
1.Bahan
Batang bawah, batang atas,
sekam, pupuk organik dan non
organik, pestisida, polybag
diameter 10-15 cm, parafilm,
varietas mawar, galur yang ada,
paranet sungkup dari kawat,
kaso-kaso
2.Peralatan
Pisau okulasi, gunting stek,
sprayer
391
3.Cara kerja
a. Persiapan Media
– Tanah dicampur dengan
pupuk kandang dan
pasir, dengan
perbandingan 1:1:1 dan
disterilkan.
– Paranet sungkup dari
kawat, ukuran 1,2×2 m
(jumlahnya tergantung
kebutuhan) dan naungan
paranet atau rumah
kaca/plastik
b. Persiapan batang bawah
– Ambil batang mawar
pagar yang cukup tua,
dan buang daun-daunnya
– Potong bagian pucuk (ñ
1/3 panjang batang) lalu
batang stek dipotong
dengan panjang 15 cm
– Tanam dipersemaian
(media) yang sudah
disiapkan kemudian
diberikan sungkup kasa
dengan tinggi 60 cm dan
intensitas cahaya 60%
c. Persiapan batang atas
Siapkan tangkai bunga yang
sedang makar dari varietas yang
diinginkan, dan buang semua
daunnya
d. Pelaksanaan okulasi mata
berkayu
– batang mawar yang akan
diokulasi dibuang durinya
lalu dibersihkan
– buat keratan untuk batas
okulasi bawah
– buat irisan kearah bawah
dengan mengikuti sedikit
jaringan kayu, lalu dibuat
irisan yang berukuran
kira-kira lebarnya 4-5
mm, panjang 1,5-2 cm
dan tebal 1-2 mm
– ambil mata tunas dari
entres dan buat irisan
berupa kepingan dengan
mata tunas terletak di
tengah-tengah ukuran
irisan sama dengan irisan
batang bawah
– tempelkan kepingan mata
tunas ke celah yang telah
dibuat pada batang
bawah
– Ikat dengan
menggunakan parafilm
atau tali rafia
– simpan bibit di bawah
naungan
Penanaman
Bibit dapat ditanam di lapang
sekitar 2 bulan setelah dilakukan
okulasi mata berkayu.
Penanaman bunga mawar dapat
392
dilakukan pada pot atau di
lapangan. Kedua metode ini
prinsipnya sama, menyediakan
tempat tumbuh yang paling
sesuai untuk pertumbuhan
mawar.
Persiapan Media
Penanaman di pot
Campurkan pupuk kandang,
sekam padi dan tanah dengan
perbandingan 1:1:1.
Media dimasukkan kedalam pot,
pada tahap awal tanaman dapat
diletakkan dibawah naungan
(intensitas cahaya matahari
60%), setelah tanaman kuat
baru diberi sinar matahari penuh.
Penanam di tanah
Untuk penanaman di tanah,
maka terlebih dahulu dibuat
bedengan, tujuannya adalah
agar tanah menjadi gembur.
Penggunaan kompos sangat
dianjurkan untuk memperbaiki
struktur tanah. Jika pH tanah
sangat rendah maka dilakukan
pengapuran.
Pemeliharaan
Pemeliharaan mawar meliputi
penyiraman, penyiangan,
pemangkasan dan pemupukan,
serta pengendalian hama dan
penyakit.
Penyiraman dilakukan dua kali
sehari, yang disesuaikan dengan
jumlah curah hujan.
Pemangkasan merupakan faktor
penting dalam pemeliharaan
karena dapat mendorong
pertumbuhan dan pembentukan
bunga yang lebih banyak
dengan kualitas yang lebih baik.
Pemangkasan dilakukan secara
periodik setiap musim bunga
berakhir.
Pemupukan dilakukan dengan
menggunakan pupuk kandang
maupun pupuk buatan. Pupuk
majemuk anorganik NPK
diberikan dengan dosis 15-20
gram/tanaman. Interval
pemupukan dapat dilakukan 2-3
bulan sekali disesuaikan dengan
tingkat kesuburan tanahnya
393
9.8.3. Teknik Budidaya
Anthurium
Gambar 127 Salah satu jenis
anthurium
a.Pendahuluan
Anthurium disebut juga bunga lilin.
Tanaman ini merupakan tanaman
tahunan, umumnya tumbuh di
tempat-tempat yang terlindung
dari cahaya matahari. Bentuk
bunganya sangat dekoratif,
menarik, dan menawan dengan
bunganya yang tahan lama.
Anthurium adalah tanaman hias
tropis, memiliki daya tarik tinggi
sebagai penghias ruangan,
karena bentuk daun dan
bunganya yang indah.
Anthurium yang berdaun indah
adalah asli Indonesia, sedangkan
yang untuk bunga potong berasal
dari Eropa.
b.Jenis Anthurium
Di Indonesia tidak kurang terdapat
7 jenis anthurium, yaitu
– Anthurium cyrstalinum
(kuping gajah)
– Anthurium pedatoradiatum
(wali songo)
– Anthurium andreanum
– Anthurium rafidooa,
– Anthurium hibridum (lidah
gajah),
– Anthurium makrolobum
– Anthurium scherzerianum.
c.Teknik Budidaya
Perbanyakan
Anthurium dapat diperbanyak
dengan 2 cara, yaitu generatif (biji)
dan vegetatif (stek).
Perbanyakan dengan cara
generatif (biji)
Tanaman anthurium memiliki 2
macam bunga yaitu bunga jantan
dan bunga betina.
Bunga jantan ditandai oleh
adanya benang sari, sedangkan
bunga betina ditandai oleh adanya
lendir.
Biji diperoleh dengan
menyilangkan bunga jantan dan
bunga betina. Dengan
menggunakan jentik, bunga sari
diambil dan dioleskan sampai rata
di bagian lendir pada bunga
betina.
Sekitar 2 bulan kemudian, bunga
yang dihasilkan sudah masak, di
dalamnya terdapat banyak biji
anthurium.
Biji-biji tersebut di kupas, dicuci
sampai bersih dan dianginanginkan,
kemudian ditabur pada
394
medium tanah halus. Persemaian
ditempatkan pada kondisi lembab
dan selalu disiram.
Perbanyakan dengan cara
vegetatif (stek)
Ada 2 cara perbanyakan secara
vegetatif, yaitu stek batang dan
stek mata tunas.
Cara perbanyakan dengan stek
batang adalah
– memotong bagian atas
tanaman (batang) dengan
menyertakan 1 – 3 akar
– bagian atas tanaman ‘yang
telah dipotong kemudian
ditanam, pada medium
tumbuh yang telah
disiapkan
Sebaliknya perbanyakan dengan
mata tunas adalah mengambil
satu mata pada cabang, kemudian
menanam mata tunas pada
medium tumbuh yang telah
disiapkan.
Persiapan media tumbuh
Berdasarkan kegunaannya,
medium tumbuh dibagi menjadi 2
macam, yaitu medium tumbuh
untuk persemaian dan untuk
tanaman dewasa.
Medium tumbuh terdiri dari
campuran humus, pupuk kandang
dan pasir kali.
Humus atau tanah hutan dan
pupuk kandang yang sudah jadi di
ayak dengan ukuran ayakan 1 cm,
sedangkan pasir kali di ayak
dengan ukuran ayakan 3 mm.
Humus, pupuk kandang dan pasir
kali yang telah di ayak, dicampur
dengan perbandingan 5 : 5 : 2.
Untuk persemaian, medium
tumbuh perlu disterilkan dengan
cara mengukus selama satu jam.
Penyiapan pot
Untuk menanam bunga anthurium,
dapat digunakan pot tanah, pot
plastic atau pot straso. Pot yang
paling baik adalah pot tanah
karena memiliki banyak pori-pori
yang dapat meresap udara dari
luar pot.
Apabila digunakan pot yang masih
baru, pot perlu direndam dalam air
selama 10 menit. Bagian bawah
pot diberi pecahan genting/pot
yang melengkung, kemudian di
atasnya diberi pecahan batu
merah setebal 1/4 tinggi pot.
Medium tumbuh berupa campuran
humus, pupuk kandang dan pasir
kali dimasukkan dalam pot.
Pemeliharaan
Setelah tanam, tanaman
dipelihara dengan menyiram 1 – 2
kali sehari. Daun yang sudah tua
atau rusak karena hama dan
penyakit, dipotong agar tanaman
tampak bersih dan menarik.
Sebaiknya tanaman ini dipelihara
di tempat teduh karena tanaman
tidak tahan sinar matahari
langsung.
395
9.8.4. Teknik Budidaya
Adenium Socotranum
Gambar 128 Adenium
a.Pendahuluan
Setiap spesies punya beberapa
keunikan tersendiri yang
membedakan satu dengan yang
lainnya baik itu bentuk bunga,
warna bunga, bentuk daun,
bentuk akar dan lainnya.
Karena tanaman adenium ini
unik dan menarik dari akar
sampai bunga maka
kepopulerannya sulit pudar.
b.Asal-usul
Asal Adenium sp. socotranum
adalah pulau Socotra di negara
Yaman. Pulau ini juga terkenal
dengan beberapa tanaman unik
seperti Dorstenia Gigas dan
Dracaena cinnabari. Karena
pulau ini berada di Jazirah Arab,
maka daerahnyapun mirip gurun.
Adenium ini banyak tumbuh baik
diperbukitan maupun di lembah.
Kadang juga ada yang tumbuh di
bukit karang yang menghadap
ke laut.
Lingkungan daerah ini cukup
ekstrim walau kelihatannya tidak
seektrim gurun pasir di arab dan
afrika
c.Ciri-ciri umum
Batang kokoh dan Bunga Indah
Menurut referensi online batang
adenium ini kokoh dan berbunga
indah.
Diameter batangnya bisa lebih
dari 2 meter sedangkan
tingginya bisa mencapai 3
meteran (Gambar 128).
Untuk bisa mencapai bentuk itu
mungkin diperlukan waktu lebih
dari 20 tahun. Usia 4 tahun
adenium ini baru bisa mencapai
diameter bonggol 5cm.
Sedangkan waktu berbunga
pertama kalinya ada yang harus
menunggu 7 tahunan. Perlu
kesabaran tinggi menunggu
berbunganya adenium ini.
Bentuk bunganya sebenarnya
mirip adenium multiflorum,
hanya warna merahnya tidak
terpusat dipinggir kelopak
bunga.
396
Daun yang Indah
Warnanya didominasi pink muda
keputihan. Biasanya adenium ini
dapat dikenali dari daunnya yang
punya urat berwarna putih
menonjol.
Saat baru tumbuh daun, warna
daunnya coklat keemasan.
Bandingkan dengan adenium
biasa yang dari pucuk sudah
berwarna hijau segar.
Warna daun cenderung lebih
gelap dan kecoklatan dari
adenium jenis lain. Sedangkan
batangnya dapat dikenali dari
gurat-gurat garis yang kuat
bekas daun yang gugur seperti
batang pohon tua.
Warna batang yang kontras
Warna batangnyapun cenderung
berwarna coklat keputihan.
d. Pedoman teknis
Pembibitan
Bila sumber bibit berasal dari
impornya dari luar negeri,
sesampainya dari pengiriman
sebaiknya beri tambahan vitamin
B1 dan hormon pertumbuhan
akar takaran secukupnya.
Pada awal proses adaptasi
letakkan Adenium sp ini
ditempat terlindung selama 2
minggu sampai sebulan
bergantung kondisi kemampuan
adaptasi tanamannya.
Pengenalan terhadap tanaman
yang sudah mampu beradaptasi
adalah batangnya yang kelihatan
kokoh dan segar, serta
tumbuhnya tunas baru.
Perawatan
Sebenarnya perawatan adenium
ini sama seperti Adenium
spesies lainnya.
Akan tetapi jenis adenium ini
memerlukan kesabaran khusus
dalam merawatnya. Perawatan
merupakan syarat utama agar
tanaman ini berbunga.
Perawatan sehari-hari sama saja
dengan adenium lainnya. Hanya
karena tanaman ini berharga,
bisa juga dibuatkan mini
greenhouse agar
perkembangannya dapat
dikendalikan sekaligus aman
dari jangkauan tangan jahil.
Sebaiknya tanaman ini jangan
terkena air hujan secara
langsung, karena takut air hujan
(khususnya di kota besar) dapat
mengurangi imunitas dari
adenium ini sehingga bisa timbul
penyakit baik dari jamur, bakteri
maupun yang lain. Kondisi yang
kering dan panas cukup
disenangi adenium jenis ini.
Pemberian pupuk berimbang
juga diperlukan. Ketika berusia
lebih dari 5 tahun (kalau belum
berbunga) dapat diberikan pupuk
yang memacu pertumbuhan
bunga. Pupuk pemacu bunga
dapat juga diberikan dibawah
usia 5 tahun.
397
9.8.5. Teknik Budidaya
Begonia
Gambar 129 Salah satu jenis
begonia
a.Ciri-ciri umum
Sekilas, beberapa jenis tanaman
ini daun berbentuk agak oval
dengan serat yang tegas. Jika
melihatnya, kita jadi teringat oleh
sosok lidah. Namun bulu
daunnya menyerupai permadani
yang halus dan tebal laiknya
sutera. Maka tak jarang,
beberapa penggemar tanaman
hias menyebutnya tanaman lidah
yang halusnya-sehalus
permadani berbahan sutera.
Bentuknya imut, namun tetap
berkarakter, baik di warna
maupun di struktur daunnya
yang banyak ditumbuhi rambut
halus.
Daunnya agak oval, dengan ruas
jari-jari yang tegas, dan corak
warna yang khas, warna
dasarnya di atas dan sebagian
lagi merah (di bawah).
Selain berambut, beberapa jenis
Begonia yang lain juga terbentuk
dengan permukaan daun yang
berlilin dan lembut, ada juga
yang kasar dan penuh kerutan.
Hampir semua Begonia daunnya
menghasilkan rizoma yang
menjalar ataupun berada di
dalam tanah.
Pertumbuhan tanaman ini
biasanya menyemak maupun
menjalar, ada juga yang tumbuh
vertikal.
b. Syarat Tumbuh
Begonia daun tidak menyukai air
yang berlebihan dan sinar
matahari langsung. Mereka
membutuhkan kondisi yang
hangat. Begonia kelompok ini
hanya mampu bertahan selama
1-2 tahun. Namun tanaman ini
sangat mudah dan cepat
diperbanyak.
Begonia merupakan tumbuhan
liar yang tumbuh di hutan-hutan
basah atau kadang ditanam
sebagai tanaman hias.
Begonia bisa tumbuh dengan
baik di tempat-tempat lembab,
tanah berhumus, dan di tempat
yang sedikit ternaungi, mulai dari
ketinggian 900 – 2.300 m di atas
permukaan laut.
Biasanya Begonia akan
berbunga pada bulan Juni
sampai bulan September. Waktu
panen yang tepat adalah bulan
September hingga bulan
November.
398
c. Perawatan
Dalam hal perawatan, tanaman
ini hanya memerlukan panas
dan air yang cukup.
Namun jika ingin tanaman
Begonia tumbuh maksimal, tak
ada salahnya diberi perawatan
khusus.
Pada dasarnya, tanaman yang
bibitannya berasal dari kota
Malang ini berhabitat asli di alam
liar dan hutan belantara. Untuk
itu, dalam hal perawatan,
tanaman ini sudah biasa bila
tidak mendapatkan perhatikan.
Namun jika ingin tumbuh
maksimal, sebaiknya
pencahayaan dan pengairan
diperhatikan, karena hal ini akan
berpengaruh pada warna daun
dan kelangsungan kehidupan
tanaman itu sendiri.
Tanaman ini tidak menyukai
panas, maka sebaiknya jangan
menaruh tanaman ini langsung
pada terpaan sinar matahari.
Jika hal itu terjadi, sebaiknya
beri paranet untuk mengurangi
efek dari sinar UV (Ultra Violet)
yang masuk ke area tanaman
Begonia.
Selain itu, tanaman yang satu ini
juga tergolong tanaman yang
suka air, sehingga proses
penyiraman yang dianjurkan
pada tanaman Begonia biasanya
bisa dilakukan dua kali sehari,
yaitu pada pagi dan sore hari.
Untuk meningkatkan keindahan
permukaan daun, maka dapat
menggunakan beberapa bahan
yang bisa mengkilapkan daun,
misalnya dengan menggunakan
susu segar, air, atau leaf
shinner untuk performa daun
yang lebih berkualitas.
Kita dapat juga melap daun,
setiap kali daun terlihat kusam,
namun jangan terlalu
keseringan, karena pengelapan
terlalu sering akan merusak
struktur daun.
d. Teknik Budidaya
Tanaman ini relatif mudah
dibudidayakan. Cara
budidayanya umumnya dengan
menggunakan setek batang.
Media yang dibutuhkan adalah
gembur, dan cukup air.
399
9.8.6. TEKNIK
BUDIDAYA BONSAI
a.Pendahuluan
Gambar 130 Tanaman yang
dibonsai
Bonsai merupakan salah satu
seni pemangkasan tumbuhan
atau pohon yang berasal dari
Jepang.
Perlakuan pemangkasan atau
penghambatan pertumbuhan ini
bertujuan untuk membiasakan
tumbuhan atau pohon tersebut
tumbuh dalam keadaan yang
kerdil/cebol.
Dalam bahasa Jepang,bonsai
berarti “tanaman di pot”.
Biasanya akan berasosiasi
dengan sebuah miniatur pohon
yang ditanam di dalam pot atau
kontainer.
Pohon yang di bonsai umumnya
berupa pohon berkayu (misalnya
pohon beringin, dll) atau pohon
buah-buahan dan kadang
berupa pohon bunga. Bonsai
yang baik dapat diletakkan diluar
pekarangan sepanjang tahun.
Effek artistik dari bonsai dapat
dilihat dari keseimbangan dalam
ukuran batang daun, ranting
bunga atau buah dan pot yang
digunakan. Pot yang dipakai
haruslah yang mendukung
suasana pohon yang ditanam.
Keunikan dari bonsai adalah
tanaman tumbuh dan menjadi
tua namun tidak berkembang
menjadi tinggi. Sebuah
kekerdilan alam yang menjadi
suatu keindahan bentuk
tanaman menarik, menantang
untuk selalu
mempertahankannya.
Untuk menghasilkan bonsai ada
yang membutuhkan waktu yang
panjang sampai berpuluh tahun,
dan sebagian lainnya hanya
membutuhkan waktu yang
singkat.
Akan tetapi pembuatan dan
perawatan bonsai yang
membutuhkan waktu yang lama
juga memberikan imbalan yang
cukup sepadan.
Imbalan itu berupa sebuah
keindahan dari alam liar
tanaman yang terminiatur dan
nilai ekonomi yang cukup
lumayan.
400
b. Ukuran Bonsai
Ada 4 ukuran bonsai yang umum
digunakan, yaitu
– miniatur
– kecil
– sedang
– rata-rata.
Umumnya bonsai miniatur
disiapkan dalam waktu sekitar 5
tahun.
Bonsai kecil biasanya
mempunyai tinggi antara 5
sampai 15 cm dan memerlukan
persiapan sekitar 5-10 tahun.
Bonsai ukuran sedang
mempunyai tinggi antara 15
sampai 30 cm, dan bonsai ratarata
mempunyai tinggi 60 cm
dengan waktu persiapan sekitar
3 tahun.
c. Asesoris bonsai
Untuk industri bonsai sisi
asesoris adalah penghasilan
yang terbesar dibandingkan
dengan menjual bibit bonsai
maupun bonsai itu sendiri.
Asesoris bonsai ini meliputi:
– pot
– bebatuan penghias
– alas bonsai
– dan lain sebagainya.
Pot
Bonsai pada dasarnya adalah
tanaman hias dan untuk lebih
menonjolkan keindahannya
dibutuhkan pendukungnya yaitu
pot. Pot yang terbuat dari
keramik akan semakin membuat
tampilan bonsai anda lebih
eksklusif.
Gambar 131 berikut ini
memperlihatkan berbagai bentuk
pot
Gambar 131 Aneka bentuk pot
bonsai
Untuk kondisi bonsai yang
penempatannya ditaman
memerlukan pot yang terbuat
dari bahan semen yang
mempunyai nilai artistik
tersendiri.
Ada juga bentuk pot yang
menyerupai hewan dan
sebagainya seperti pada dua
gambar berikut ini.
401
Gambar 132 Beberapa pot
bonsai bentuk gajah (A)
dan naga (B)
Batuan penghias
Dalam memperindah bonsai ada
banyaknya sarana yang dapat
dilakukan, diantaranya dengan
memberikan bebatuan yang
indah akan bentuknya.
Jenis bebatuan granit dapat
memberikan kesan bonsai yang
kuat saat menghiasi kaki
batangnya.
Gambar 133 Batu penghias
bonsai
Alas pot
Pot bonsai akan lebih tahan
lama pemakaiannya bila dilapisi
oleh alas.
Alas yang terbuat dari kayu dan
berbentuk meja sangat digemari
para perawat bonsai dalam
ruangan.
Meja yang diperuntukan bagi
alas bonsai umumnya
mempunyai kekuatan yang
cukup. Selain meja alas yang
terbuat dari bahan yang sama
dengan pot juga banyak
A
B
402
digunakan. Artinya pot dan
alasnya tersedia secara
berpasangan.
d. Bentuk Bonsai
Bentuk bonsai yang telah
manjadi main stream dikalangan
para penggemar bonsai terdapat
lima macam bentuk yaitu:
– bentuk batang yang
tegak lurus teratur
– tegak lurus tidak teratur
– tersapu angin
– anak air terjun,
– bentuk semi air terjun.
Bentuk bonsai yang terdiri dari 2
hingga 3 tanaman didalam satu
pot juga cukup digemari oleh
para perawat bonsai selain dari
lima mainstream diatas.
Disamping kelima bentuk diatas
juga diciptakan beberapa bentuk
variasi bonsai lainnya.
Bonsai tegak lurus
Dasar bentuk bonsai ini adalah
tegak lurus dan terdapat bentuk
lancip dibagian paling atasnya
dimana membentuk suatu
bangunan kerucut.
Bentuk macam ini biasanya lebih
cocok untuk tanaman yang
berusia muda karena bentuk ini
akan membutuhkan kekuatan
batang, cabang, dan ranting.
Para pemula perawat bonsai
biasanya menggunakan jenis ini
untuk memulai keterlibatannya
dalam merawat bonsai, karena
tidak terlalu dibutuhkan
banyaknya eksperimen namun
membutuhkan ketelitian, menjadi
alasan yang tepat bagi para
pemula perawat untuk memakai
bentuk bonsai ini.
Jenis tegak lurus terbagi lagi
menjadi dua kategori yaitu yang
teratur dan tidak teratur.
Bonsai tegak lurus teratur
Tegak lurus teratur merupakan
tanaman bonsai yang terlihat
simple namun mempunyai
tingkat kesulitan pembentukan
yang cukup signifikan.
Gambar 134 Bonsa bentuk tegak
lurus teratur
403
Keadaan lingkungan seperti
suhu ruangan, jumlah cahaya
matahari, serta pemilihan
pemakaian tanah sebagai dasar
perkembangannya turut
menentukan keberhasilan
pembentukan bonsai ini.
Pastikan perkembangan
cabangnya berkembang kearah
vertikal bukan horizontal.
Cabang pertama hendaknya
terdapat pada setengah dari
tinggi batang utama.
Jarak antara permukaan tanah
dengan adanya permulaan
cabang, diharapkan memberikan
keindahan utama dalam bentuk
tegak lurus.
Untuk kelurusan batang
setidaknya harus dapat dilihat
jelas sehingga memberikan
kesempurnaan bentuk suatu
bonsai tegak lurus teratur.
Umumnya jenis tanaman
cemara, apel liar, delima dan
berbagai macam tanaman hias
tanpa buah lainnya cocok untuk
dijadikan bonsai tegak lurus ini.
Bonsai tegak lurus
tidak teratur
Untuk bonsai tegak lurus tidak
teratur, bentuknya tidak jauh
berbeda dengan tegak lurus
beraturan hanya pada umumnya
batang utama dari tegak lurus
tidak beratur terdapat lekukan,
dimana cabang dan daunnya
menjadi penyeimbang agar
terjadi sebuah pemandangan
tanaman yang menjulang tinggi
namun agak tidak beraturan
yang memberikan kesan alamiah
dan natural.
Gambar 135 Bonsai tegak lurus
tidak teratur
Kelompok bonsai jenis ini
menghendaki perkembangan
daun maupun cabang yang
seimbang, kondisi yang tidak
seimbang akan memberi kesan
miring, dan tentunya akan
mengurangi keindahan bonsai.
Kemiringan ini membuat bentuk
bonsai terlihat kurang baik.
Jenis pohon yang cocok untuk
bonsai bentuk tegak lurus teratur
404
cocok juga untuk bonsai
kelompok ini.
Bonsai tersapu angin (condong)
Bentuk bonsai ini mempunyai
kemiringan yang terlihat seperti
tanaman akan roboh. Bonsai
golongan ini sedikit mempunyai
kesamaan dengan bentuk tegak
lurus hanya mempunyai
perbedaan di sisi kelurusannya
yang mengarah horizontal.
Bentuk bonsai condong ini
merupakan jenis bentuk
peralihan dari bentuk tegak lurus
dan anak air terjun.
Gambar 136 Bentuk bonsai
tersapu angin
Kecondongannya dapat dibentuk
kearah kanan atau kiri sesuai
sesuai selera perawat tanaman.
Peletakan batang utama awal
tumbuhnya tanaman, akan lebih
baik bila ditempatkan pada
bagian tengah pot. Peletakan
pada tengah pot membuat
bentuk condongnya lebih terlihat
sehingga lebih terlihat
keindahannya. Tanaman yang
digunakan untuk jenis bonsai ini
adalah dari kelompok tanaman
hias.
Bonsai anak air terjun
Bentuk anak air terjun ini batang
utamanya agak tegak lalu
berbengkok jatuh kebawah
dengan berbagai lekukan
selanjutnya hingga sejajar
dengan alas pot untuk
menimbulkan bentuk jatuhnya air
pada anak air terjun.
Gambar 137 Bonsai anak air
terjun
Bentuk pot berbentuk bulat atau
segi enam lebih cocok untuk
jenis bentuk ini, diawal
pertumbuhan tanaman lebih baik
diletakan pada bagian pinggir
pot.
Penempatan awal batang utama
dibagian pinggir pot bertujuan
untuk mempermudah
pembengkokan awal.
405
Penggunaan kawat akan
banyak digunakan dalam proses
pembentukannya sehingga
diperlukan keahlian yang cukup
untuk mengembangkannya.
Bentuk anak air terjun
membutuhkan suatu kecermatan
dalam melakukan pemangkasan
maupun perawatan.
Keseimbangan antara dahan
dan ranting menjadi suatu tujuan
bentuk bonsai anak air terjun
dimana agar terlihat lebih
alamiah.
Jenis pohon cemara dari
berbagai macam speciesnya
cocok untuk dijadikan bonsai
dalam bentuk anak air terjun.
Bonsai semi anak air terjun
Bentuk semi anak air terjun ini
lekukan batang utamanya tidak
merupakan bagian yang
penting, melainkan kekuatan
batang dibagian yang
mendatarlah yang harus
diperhatikan karena beban
gravitasi akan tertumpu disana
dan tentunya mempengaruhi
perkembangan tanaman.
Dibutuhkan pengikatan kawat
yang sangat banyak untuk
pembentukannya.
Pengikatannya juga harus
dilakukan dengan hati–hati, dan
hindari pengkawatan yang terlalu
lama, agar tanaman tidak
terluka.
Menarik tidaknyanya bonsai
bentuk semi air terjun ini sangat
tergantung pada ketepatan dan
teknik pemangkasan yang
khusus.
Beberapa jenis cemara dengan
berbagai spesiesna cocok untuk
dibentuk bonsai golongan ini.
Bonsai berkelompok
Tanaman bonsai berkelompok
merupakan penempatan dua
hingga tiga bahkan lima
tanaman bonsai didalam satu
pot.
Pot yang digunakan untuk
bentuk bonsai ini akan lebih baik
bila digunakan bentuk pot
bundar.
Gambar 138 Bonsai
berkelompok
406
Karena terdiri dari lebih dari satu
tanaman dalam satu pot maka
perawat bonsai harus
memperhatikan kebutuhan
pertumbuhan dari masing
masing jenis.
Ukuran untuk bonsai kelompok
ini umumnya tidak lebih dari
60cm. Jenis pohon cemara dan
apel liar cocok untuk bentuk
bonsai jenis ini
e. Pedoman teknis budidaya
Bertanam bonsai ini memerlukan
kesabaran yang tinggi.
Berikut akan dijabarkan langkahlangkah
utama dalam memulai
teknik pengkerdilan tanaman
melalui seni pemangkasan.
Pemilihan tanaman
Pemilihan tanaman yang akan
anda jadikan bonsai merupakan
suatu awal kesuksesan dalam
pembentukan bonsai.
Bakal bonsai dapat kita temukan
di toko tanaman hias disekitar
daerah tempat tinggal atau
mancarinya dari tanaman liar.
Pilihlah tanaman yang
mempunyai batang utama yang
cukup kuat karena ini dibutuhkan
sebagai awal dari pemangkasan.
Untuk bahan tanaman liar,
proses pemindahan bibit
tanaman ke dalam pot
hendaknya dikerjakan dengan
hati-hati agar akarnya tidak
mengalami kerusakan.
Beberapa alat yang dibutuhkan
dalam bertanam bonsai ini
adalah sebagai berikut
Gambar 139 beberapa alat
bantu yang
digunakan dalam
bertanam bonsai
Pemindahan tanaman
Langkah pertama yang harus
dilakukan adalah menentukan
tanaman yang akan dibonsai,
kemudian pemindahan tanaman
yang akan dijadikan bonsai dari
alamnya kedalam sebuah pot
dengan menggunakan
pengungkit akar.
Tanamlah pohon calon bonsai
ke dalam pot dengan hati-hati.
Bersamaan dengan proses
pemindahan tersebut, perhatikan
perakarannya jika ditemukan
akar-akar yang sudah mati atau
407
tidak berkembang lagi maka
akar tersebut dipotong.
Gambar 140 Tahapan
pembuangan akar
Pangkas serabut akar maupun
batang akar yang telah tidak
berkembang karena akar yang
telah mati hanya akan
memperlambat perkembangan
akar yang lainnya. Pemeriksaan
pada batang, cabang maupun
akar ini juga harus dilakukan
secara berkala.
Perkembangan akar diharuskan
tetap terjadi dengan tidak
melebihi pot sebagai pijakannya.
Calon bonsai dapat diambil dari
alam langsung atau melalui
cangkok, okulasi maupun setek.
Pembentukan bonsai
Langkah berikutnya yang
dilakukan setelah penanaman,
dan tanaman sudah kuat, adalah
pembentukan bonsai.
Pertama sekali buatlah kerangka
dasar bentuk bonsai sesuai
temanya. Untuk melakukan
pembentukan batang maupun
cabang yang dikehendaki, bisa
dengan menggunakan kawat
yang dibantu oleh alat
pembengkok yang tersedia
ditoko tanaman hias.
Pengkawatan yang baik untuk
membentuk alur bonsai bisa
anda lakukan dengan
menggunakan plastik sebagai
pelapisnya sebelum diikat oleh
kawat.
Gambar 141 Pengkawatan pada
proses pembentukan
bonsai
Periksalah lekuk batang maupun
cabang secara berkelanjutan
agar perkembangannya tidak
menjadi liar.
Lepaskanlah kawat dari batang
diwaktu yang tepat dan
diharapkan jangan sampai
meninggalkan suatu luka bekas
kawat dibatang maupun cabang.
Lakukanlah pemangkasan
dengan seperlunya periksa
secara berkala bentuk ranting
408
sesuai tema bentuk yang akan
kita tuju.
Gambar 142. Beberapa teknik
pemangkasan pada
pembentukan bonsai
Untuk langkah selanjutnya
lakukanlah pemeliharan yang
berkelanjutan agar bonsai yang
akan anda pelihara mempunyai
bentuk yang indah dan sehat.
Pemilihan bentuk Bonsai
Bentuk yang umum digunakan
oleh sebahagian pemula adalah
bentuk tegak lurus. Karena dari
bentuk bonsai ini akan dipelajari
dasar apa saja yang akan
diperlukan dalam merawat
bonsai.
Kawat dapat digunakan dalam
pembentukan alur
perkembangan tanaman.
Gambar 143 Pengikatan pada
pangkal batang
sehingga batang
membengkak
Periksa pertumbuhan cabang
dan ranting secara seksama dan
berkala karena akan
menentukan keberhasilan kita
dalam membentuk bonsai.
Setelah berhasil pada bentuk
tegak lurus maka dapat
diteruskan dengan bentuk
bonsai lainnya.
Pada dasarnya perbedaan
antara bentuk tegak lurus dan
tegak lurus tidak beraturan,
hanya pada bentuk lengkungan
yang terjadi dibatang utamanya.
Adanya lengkungan dibentuk
409
tegak lurus tidak beraturan
hanya sebagai variasi bukan
penghilang bentuk utamanya
yaitu ujung yang lancip dan
memberikan kesan bangunan
kerucut.
Gambar 144 Pembentukan
cabang bonsai
Selanjutnya kita bisa memulai
membuat bonsai dengan jenis
yang agak memerlukan keahlian
yaitu anak air terjun dan bentuk
tersapu angin. Pembentukan
bonsai jenis ini merupakan
bentuk kreativitas yang dapat
dijabarkan secara bebas dan
tidak ada aturan baku pada
perkembangannya.
Pemilihan tanah
Tanah merupakan bagian yang
penting dalam memulai
pembentukan bonsai karena
ditanahlah perkembangan
dahan, batang, dan ranting
ditentukan.
Pilihlah tanah yang kadar humus
tidak terlalu tinggi dikarenakan
kadar humus yang terlalu tinggi
akan memberikan kegemburan
tanah yang berlebihan.
Kemudian aturlah agar
kelembaban tanah selalu terjaga
dimana kelembapan tanah
mempunyai pengaruh pada suhu
tubuh bonsai.
Perhatikan kondisi kadar air
tanah saat melakukan
penyiraman, hindari
penumpukan air hanya pada
satu bagian saja. Kelebihan air
tentunya dapat membahayakan
kesehatan tanaman.
Perawatan Bonsai
Dalam perawatan bonsai
diperlukan kesabaran. Langkah
utama yang paling diperlukan
untuk merawat bonsai adalah
pemberian air, pupuk,
pemangkasan perkembangan
cabang maupun ranting,
banyaknya cahaya, dan
pencegahan hama bagi tanaman
bonsai.
Yang utama dalam merawat
bonsai ini adalah mengerti
kebutuhan tanaman.
Kontinuitas pemberian
kebutuhan tanaman yang tepat,
merupakan suatu awal
keberhasilan pembentukan
bonsai.
410
Perlu diingat bahwa setiap jenis
tanaman kebutuhan akan faktorfaktor
tumbuhnya berbeda.
Pengairan
Ketelitian merupakan kata yang
paling tepat untuk melakukan
pengairan terhadap tanaman
bonsai.
Tidak hanya rutinitas pengairan
yang dituntut disini tapi
pengetahuan tentang keperluan
tanaman akan air merupakan
suatu keharusan yang tentunya
membutuhkan sebuah
pengalaman dan keahlian
tersendiri dalam melakukan
pengairan.
Ada beberapa hal penting yang
harus diperhatikan dalam
pengairan. Jenis tanah adalah
bagian yang harus
diperhitungkan dalam pengairan,
artinya kita akan mengukur
tingkat kadar pH dalam air demi
memperoleh kecocokan yang
berkesinambungan dengan
tanah untuk memudahkan
perkembangan akar.
Penentuan kapan waktu yang
tepat tanaman memerlukan air
memerlukan pengetahuan
tersendiri dari masing-masing
jenis tanaman.
Bentuk pot
Bentuk pot juga harus
diperhatikan karena bentuk pot
akan menjadi bahan
pertimbangan dari mana kita
akan mengucurkan air dan
kemana air akan jatuh agar
penyiramannya menyeluruh dan
merata.
Suhu udara dan keadaan cuaca
juga cukup mempengaruhi
kapan waktu yang sangat tepat
untuk melakukan penyiraman.
Penyiraman yang berlebihan
akan menyebabkan kerusakan
pada bonsai, dan dapat
menyebabkan berbagai hama
dan penyakit. Begitu juga
sebaliknya kekurangan air akan
menyebabkan tanaman
menderita dan dapat berakibat
pada kematian.
Peralatan yang digunakan untuk
menyirami tanaman dapat
menggunakan gembor kecil dan
alat ini umumnya tersedia ditoko
penjualan tanaman hias.
Pemupukan
Pemberian pupuk pada bonsai
bukan diperuntukkan untuk
memacu pertumbuhannya akan
tetapi yang terpenting untuk
menjaga kesehatan tanaman.
Pada dasarnya berbagai jenis
pupuk dapat digunakan, namun
yang perlu diperhitungkan
adalah kandungan zat didalam
pupuk tersebut. Bonsai seperti
tanaman lainnya membutuhkan
hara N, P dan K.
Jumlah dan jenis hara yang akan
ditambahkan sebagai pupuk
pada perawatan bonsai
411
tergantung pada jenis
tanamannya.
Nitrogen diperlukan oleh bonsai
karena zat ini mampu
memberikan kesejukan bagi
akar. Perubahan kadar oksigen
dalam tanah dapat berkurang
dikarenakan adanya perubahan
panas suhu ruangan atau
terjadinya kelembapan tanah
yang berlebihan, maka
dibutuhkan nitrogen sebagai
keseimbangan kadar oksigen
didalam tanah.
Untuk fosfor zat ini mempunyai
kegunaan utama yaitu sebagai
zat senyawa yang dibutuhkan
bagi kesehatan perkembangan
tanaman, dan kegunaan kalium
bagi bonsai adalah sebagai
pelengkap sinergi antara
nitrogen dan fospor.
Vitamin
Selain pupuk bonsai dapat juga
diberi vitamin. Kegunaan dari
vitamin ini untuk menambah
daya tarik dari bonsai itu sendiri
seperti mengkilapnya daun,
kuatnya ranting dan sebagainya.
Pemangkasan perkembangan
ranting dan dahan
Seorang penanam bonsai dapat
menemukan keasyikannya
dalam merawat bonsai disaat
perawatan ranting dan daun.
Saat perawatan ranting dan
daun inilah yang merupakan
perwujudan sisi kreatif manusia,
yang tentunya tanpa
menghentikan perkembangan
tanaman itu sendiri.
Pemangkasan yang baik
memerlukan alat pemangkasan
yang tepat.
Untuk pemakaian alat yang
dibutuhkan tergantung dengan
apa yang hendak dipangkas
karena pemangkasan untuk
ranting, daun, pucuk, maupun
serabut akar diperlukan alat
tersendiri.
Pemangkasan pada ranting
biasakanlah untuk memangkas
bagian bawah ranting yang tidak
diinginkan, karena pemotongan
pada bagian itu akan
menghentikan pertumbuhan
ranting yang kita tidak inginkan.
Memangkas bagian daun juga
harus dilakukan tepat pada
bagian awal tumbuhnya daun.
Pemangkasan serabut akar
harus dilakukan untuk mencegah
pertumbuhan serabut akar yang
liar. Cara memangkas yang baik
adalah dengan tidak
menimbulkan bentuk luka yang
permanen pada bagian yang
dipangkas. Untuk alat
pemangkasnya dapat anda
peroleh dari toko tanaman hias
di sekitar anda.
Cahaya
Seberapa banyaknya cahaya
yang diberikan, tergantung pada
jenis tanamannya.
Untuk bonsai yang dberada di
dalam ruangan maka setidaknya
412
setidaknya setiap pagi sinar
matahari dari arah jendela dapat
digunakan untuk keperluan
cahayanya.
Jika keberadaan jendela juga
tidak memungkinkan maka
sebagai pengganti cahaya
matahari dapat digunakan
cahaya lampu yang telah
dirancang khusus untuk
keperluan tanaman bonsai.
Keperluan untuk cahaya buatan
dapat disesuaikan dengan
keadaan iklim udara dimana
perawatan tanaman ini
dilakukan.
Pengendalian hama dan
penyakit
Pada dasarnya pencegahan
hama akan sangat terbantu
apabila pemberian air, pupuk,
dan pemotongan ranting
dilakukan dengan teratur dan
terukur. Bukan berarti juga
keteraturan tersebut
menghilangkan serangan hama,
akan tetapi setidaknya dapat
menghindar dari seranganya
Tanaman yang dirawat secara
baik, akan berkurang serangan
hama dan penyakitnya karena
tanam nya sehat, sehingga
ketahanannya juga meningkat.
Beberapa senyawa organik
maupun anorganik, dapat
digunakan untuk mengendalikan
hama dan penyakit, yang
dosisinya disesuaikan dengan
jenis dan fase pertumbuhan
tanaman.
413
9.8.7. TEKNIK
BUDIDAYA RUMPUT
a. Pendahuluan
Rerumputan mempunyai struktur
tersendiri yang memungkinkan
untuk bersaing di alam bebas
dengan tumbuhan lain dan
menang.
Rumput banyak digunakan
sebagai penutup tanah pada
lapangan bola, golf, tempat
tinggal, super mall dan
sebagainya.
Lapangan rumput merupakan
bagaian yang amat penting dari
suatu lanskap untuk mendukung
keindahannya.
Disamping itu lapangan rumput
ini juga dapat digunakan untuk
mencegah terjadinya erosi.
Lapangan hijau ini bertindak
sebagai “karpet alami yang
melindungi tanah dari kondisi
lingkungan yang jelek (suhu,
curah hujan, dan angina).
Kesehatan dan keindahan suatu
padang rumput sangat
tergantung pada bagaiman
teknik budidaya yang
dilakukannya.
Gambar 145 Lapangan rumput
pada halaman rumah
b. Perkembangbiakan Rumput
Rumput umumnya membiak
dengan dua cara yaitu generatif
(biji) dan vegetatif.
Generatif (Biji)
Perbanyakan tanaman melalui
biji, akan menghasilkan individu
baru yang bergantung pada sifat
kedua induknya.
Perkembangbiakan dengan cara
ini kadang-kadang menghasilkan
anak yang tidak menyerupai
induknya.
Untuk penanaman rumput yang
berasal dari biji maka terlebih
dahulu harus disemai pada
petak semaian atau bak
kecambah.
414
Ukuran petak semaian beraneka
ragam bergantung dari berapa
luasan yang akan ditanami dan
jenis rumputnya.
Ada baiknya meletakkan tanah
top soil dan bahan organik
dengan ketebalan 2 inchi, bahan
organik ini akan membantu
pertumbuhan dan meningkatkan
porositas tanah sehingga
memudahkan pindah tanam.
Tanaman rumput baru dapat
dipindah tanam, setelah berumur
lebih kurang 2 (dua) bulan.
Vegetatif
Perkembangbiakan secara
vegetatif dapat dilakukan melalui
bahagian-bahagian tertentu
rumput tersebut. Biasanya stolon
atau rhizome. Cara ini biasa
dilakukan untuk rumput-rumput
hybrid yang biasanya
menghasilkan bunga dan tidak
dapat menghasilkan biji (steril
atau mandul). Cara ini akan
menghasilkan tumbuhan anak
yang mempunyai sifat sama
dengan induknya.
Gambar 146 Bibit rumput gajah
Stolon ialah sejenis akar yang
menjalar di atas permukaan
tanah, sedangkan rhizom ialah
akar yang menjalar di bawah
permukaan tanah.
Tiap jenis rumput akan
mempunyai sifat “stoloniferous”
atau “rhizomatous” yang akan
menunjukkan bagaimana ia
paling mudah dibiakkan. Pucuk
daun atau akar akan keluar dari
buku
Gambar 147 Stolon rumput
Gambar 148 Bagian-bagian
rumput
415
Jika stolon atau rhizom yang
mempunyai buku ini jatuh pada
habitat yang sesuai, maka akan
tumbuh akar untuk memulai
kehidupan sebagai suatu
tumbuhan yang baru.
Penanaman juga dapat
dilakukan dengan cara
memisahkan anakan.
c. Jenis-jenis Rumput
Rumput gajah
Rumput gajah merupakan jenis
rumput yang paling banyak
digunakan. Jenis ini juga
terbilang cepat tumbuh begitu
menyentuh tanah.
Harganya yang lebih terjangkau
membuatnya banyak dibeli
orang. Dijual sekitar Rp 5.000
per meter persegi, rumput gajah
bukan berarti remeh
pemeliharaannya. Mereka yang
memilih rumput gajah sebagai
penutup tanah harus siap-siap
repot. Karena rumput ini cepat
bertambah tingginya, dan harus
dipangkas agar kelihatan indah.
Gambar 149 Rumput gajah
Rumput gajah mini
Sejak tahun 2000-an, rumput
gajah mini mulai dikenal publik.
Awalnya, rumput gajah mini
dikembangkan di Bandung,
Jawa Barat.
Karakteristiknya yang lebih
‘bandel’ ketimbang
pendahulunya rumput gajah
biasa membuat gajah mini cepat
merebut hati masyarakat.
Berbeda dengan rumput gajah
biasa, rumput gajah mini akan
tumbuh baik di tempat teduh. Di
area sekitar bawah pohon
sekalipun.
Hingga kini, rumput gajah mini
masih terus digemari. Untuk
memperoleh satu meter persegi
rumput gajah mini, peminat
harus merogoh uang senilai Rp
25 ribu. Itu sudah termasuk jasa
pemasangan.
Jasa tersebut ditawarkan
lantaran rumput gajah mini
memerlukan perlakuan khusus
dalam penanamannya.
Hal tersulit dalam pemasangan
rumput gajah mini ialah
menentukan kerapatan
tanamnya. Jika terlampau dekat,
ia akan tumbuh menebal di
bagian tertentu. Alhasil,
permukaan tanah yang ditutupi
tak tampak mulus seperti
permadani hijau.
416
Rumput jepang
Rumput jepang dijual dengan
kisaran harga Rp 10 ribu per
meter persegi. Daunnya yang
kurus tumbuh rapat. Kalau tidak
dipangkas sebulan sekali,
bagian bawahnya akan
berwarna kekuningan. Daun
yang kuning ini disebabkan
karena sinar matahari tidak
dapat menembus sampai ke
bagian bawah.
Rumput jepang perlu pupuk urea
yang lebih banyak dibandingkan
dengan rumput gajah mini.
Dalam satu bulan, ia harus
dipupuk dua kali.
Rumput peking
Sebelum tahun 2000, rumput
peking sempat menjadi idola.
Meski pesonanya mulai redup,
harga per meter perseginya
masih bertahan di angka Rp 10
ribu.
Penampilannya mirip rumput
jepang namun lebih jarang
daunnya.
Rumput golf
Yang satu ini jarang
diaplikasikan untuk rumah
tinggal. Karena rumput ini
tergolong rumput ”manja”.
Rumput golf ini cepat busuk jika
tergenang air, dan memerlukan
resapan yang baik berupa
tumpukan ijuk, pasir, batu, serta
pipa untuk mengalirkan air di
bawah permukaan tanam.
Rumput golf ditawarkan seharga
Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu.
Gambar 150 Padang golf
d. Pedoman Teknis
Persiapan lahan
Lahan yang dibutuhkan untuk
bertanam rumput dapat
merupalan lahan yang rata
ataupun bergelombang
tergantung tanah yang tersedia.
Kemudian kita dapat membuat
saluran air, agar lahan rumput
tidak tergenang air.
Persipan media Tanam
Analisa tanah (Soil test)
Tujuan utama dari analisa tanah
ialah untuk mengetahui unsur
apa yang kurang untuk tanah
yang digunakan dan untuk
menentukan rumput jenis apa
yang paling sesuai untuk tanah
tersebut.
417
Analisa tanah dapat dilakukan di
laboratorium-laboratorium yang
melaksanakan analisa hara
tanah.
Pengairan
Untuk halaman yang luas, park,
padang bola atau golf, yang
harus diperhatikan adalah tata
air tanah.
Beberapa saluran dibuat untuk
mengatur kelebihan air pada
musim penghujan, dan
pemberian air pada musim
kemarau.
Pertanaman rumput yang
tergenang air akan
menyebabkan rumput
menguning dan akhirnya mati.
Untuk lapangan rumput yang
luas disamping saluran irigasi
juga dibantu dengan sprinkles,
agar seluruh sudut padang
rumput terairi pada musim
kemarau.
Pengolahan tanah
Lakukan pengolahan tanah
untuk menyediakan media
tanam yang gembur.
Untuk penanaman rumput yang
luas, misalnya untuk lapangan
golf atau bola, dapat di semprot
dengan herbisida untuk
mematikan gulma.
Pembajakan
Untuk kawasan yang luas
pengolahan tanah dapat
menggunakan mesin, akan
tetapi untuk kawasan kecil
misalnya halaman rumah atau
mal kita dapat menggunakan
cangkul.
Pengolahan tanah ini berfungsi
untuk:
– membongkar dan
membalikkan tanah
– meratakan pemberian
kapur pertanian
– meratakan permukaan
tanah
Penggaruan
Penggaruan bermaksud untuk
meratakan permukaan tanah
dan membuang kotoran-kotoran
seperti ranting pohon, batu,
gulma dari permukaan tanah.
Pembentukan lanskap
Sebelum dilakukan penanaman
maka terlebih dahulu dilakukan
pembentukan lanskap sesuai
dengan keinginnan. Pengaturan
lanskap ini memberikan peta
pada bagian mana yang akan
dilakukan penanaman rumput.
Penanaman
Penanaman rumput dapat
menggunakan 4 cara yaitu: bici,
sod, sprig, dan stolon.
418
Biji/benih
Benih rumput dapat dibeli di
kebanyakkan supermarket dan
di beberapa nursery.
Jenis rumput yang selalu
ditanam melalui biji adalah
spesis Bermudagrass.
Sod/lempengan rumput
Yaitu lempengan rumput
bersama selapis tanah.
Biasanya lempengan rumput ini
dijual dalam ukuran 30 x 30 cm,
1 x 1 m, atau dalam bentuk
gulungan seperti permadani.
Cara ini lebih sering digunakan
karena pertumbuhan rumput
relatif lebih cepat dibandingkan
dengan metoda lainnya.
Rumpun
Cara ini sama seperti bertanam
padi di sawah.
Bibit rumput dipisahkan atas
beberapa rumpun dan kemudian
mencucukkannya ke tanah pada
jarak tertentu.
Kita dapat membeli bibit rumput
dalam bentuk sod kemudian
memisah-misahkannya menjadi
beberapa rumpun.
Gambar 151 Bibit rumput dalam
bentuk rumpun(A)
penanaman rumpun
rumput di lapangan (B)
B
A
419
Gambar 152 Bibit rumput dalam
bentuk sod/lempengan
Gambar 153 Cara penanaman
bibit di lapangan
Rumput yang baru ditanam
dalam bentuk lempengan. perlu
disiram dan dipukul-pukul agar
akarnya menyatu dengan tanah.
Pada tahap awal pindah tanam
tanaman ini, jangan diinjak dulu
supaya cepat tumbuhnya.
Pasca penanaman, rumput perlu
disiram tiga kali sehari. Guyuran
air di pagi, siang, dan sore hari
selama satu minggu pertama
membantunya mendapatkan
kesegaran dan mempercepat
proses pertumbuhan.
Stolon
Stolon merupakan bahagianbahagian
rumput yang dapat
tumbuh, termasuk juga rhizome
dan batang rumput yang
mempunyai nod/buku untuk
tumbuh pucuk yang akan
menjadi suatu tumbuhan baru.
Cara paling mudah untuk
menanam rumput ialah dengan
menggunakan stolon.
Tetapi harus diingat bahawa
stolon atau sprig harus segera
ditanam setelah diambil dari
sumber pembibitan.
Laju pertumbuhan bahan
vegetatif ini turun drastis kalau
tidak segera ditanam.
Pemeliharaan
Pengendalian Gulma
Semua jenis rumput tak ada
yang bebas gulma. Tanaman
pengganggu ini bisa tumbuh di
diantara rumput.
Sebelum merusak rumput, maka
pengendalian dapat dilakukan
secara mekanis dengan
mencabut tumbuhan
pengganggu tersebut ataupun
dengan menyemprot dengan
herbisida.
420
Pemangkasan
Pekerjaan memotong rumput turf
adalah membuat rumput ini dari
panjang menjadi pendek.
Pemotongan rumput ini dapat
menggunakan salah satu alat
pemotong rumput seperti
Gambar 154 dibawah ini.
Gambar 154 Beberapa jenis alat
pemotong rumput
Pemupukan
Keperluan unsur hara dari
masing-masing tanaman
berbeda satu sama lain.
Umumnya tanah-tanah daerah
tropis memiliki pH yang rendah
(dibawah 6) dan bersifat masam,
kondisi ini membutuhkan
pengapuran yang jumlahnya
bergantung tinggi rendahnya pH
tersebut.
Umumnya kita dapat
menggunakan kapur pertanian
sebanyak 5-10kg/100m persegi.
Pemberian hara pada tanaman
rumput mutlak diperlukan agar
pertumbuhannya indah.
Terdapat sekitar 16-17 unsur
hara yang dibutuhkan rumput.
Hilangnya hara pada rumputan
dapat disebabkan oleh terbawa
panen, diambil tanaman,
pencucian, penguapan dan
sebagainya yang menyebabkan
berkurangnya hara dari dalam
tanah.
Peningkatan produktivitas tanah
ini dapat dilakukan dengan
penambahan berbagai hara.
Kapan kita harus melakukan
pemupukan tergantung pada:
– Kebutuhan tanaman
– Kondisi hara pada tanah
421
Jumlah pupuk yang diberikan
pada tanah tergantung pada:
– Analisa tanah
– Analisa tanaman
Penambahan pupuk urea akan
melancarkan proses adaptasi
rumput gajah ke lingkungan
barunya cukup satu kali dalam
sebulan pertama. Selanjutnya,
berikan pupuk urea tiga bulan
sekali.
Belakangan ini dikenal soil
conditioner (kondisioner tanah)
sebagai campuran media tanah.
Untuk luasan 2m2 tanah
dicampur 1 kg kondisioner tanah
berbahan copolymer asam
acrylamide dan acrylic.
Pertumbuhan rumput menjadi
prima selama 2 tahun.
Pemberian kondisioner tanah
membantu rumput beradaptasi
pada kondisi kekeringan.
Kondisioner tanah ialah bahan
yang mampu membuat kondisi
tanah atau media menjadi lebih
baik. Umumnya sifat tanah yang
diperbaiki meliputi: struktur
tanah, aerasi dan drainase
tanah, serta kemampuan
memegang air dan hara tanah
Dewasa ini tujuan utama
konsumen memakai kondisioner
untuk menstabilkan struktur
tanah
Pengairan/Penyiraman;
Pada awal penanaman rumput
disiram 3 kali sehari, setelah itu,
cukup disiram dua kali sehari.
Teknik pengairan yang betul
berdasarkan pada:
– Jumlah air yang di siram
tidak menyebabkan air
tergenang, dan
sebaiknya dilakukan per
periodik yang
disesuaikan dengan fase
pertumbuhan dan jenis
rumput yang ditanam.
– Waktu penyiraman paling
baik dilakukan sewaktu
suhu masihg rendah,
sebaik-baiknya waktu
awal pagi, atau sore hari
Penyiraman jangan diberikan
secara langsung, akan tetapi
hendaknya menggunakan alat
(gembor) sehingga tanah tidak
padat.
Lakukan penyiraman jarangjarang
akan tetapi jumlahnya
banyak. Hal ini akan
merangsang akar rumput untuk
tumbuh panjang karena
berusaha untuk mencari air.
Topdressing
Topdressing adalah menabur
pasir, tanah, atau campuran
bahan-bahan lain (contohnya
zeolite atau bahan organik) ke
atas permukaan rumput dan di
masukkan ke dalam celah-celah
rumput dengan
menyiramkannya. Perlakuan ini
dapat dilakukan sebulan sekali
atau dua minggu sekali
bergantung keadaan tanaman
rumput.
422
e. Rumput dan
Permasalahannya
Rumput merupakan tanaman
yang manja, sifat kemanjaan
rumput ini salah satu
penyebabnya adalah akarnya
Untuk menentukan apakah
tanaman kita cukup kebutuhan
hara atau sedang mengalami
cekaman maka berikut ini
beberapa contoh dan cara untuk
mengatasinya. yang pendek dan
sebarannya tidak luas.
Terkena tumpahan zat kimia
Pupuk,
racun atau
minyak.
Jika tertumpah
pupuk minyak,
atau racun
lakukan
pencucian agar
racunnya
terlarut, jika
masih dapat
dikutip kutiplah
tumpahan tadi.
Kotoran Kawasan ini
akan mati dan
kelilingnya
berwarna hijau.
Siram dengan air
bagian yang
terkena kotoran
atau kencing ini.
Pemadatan
tanah
karena
sering
dipijak
Lahan rumput
yang tanahnya
sudah pada
akibat pijakan
dan sebagainya
memerlukan
pengudaraan.
Gunakan
cangkul dan
tambahkan
bahan organik ,
lalu lakukan
penanaman
kembali jika
rumput tidak
pulih setelah
diberi perlakuan.
Potonga
terlalu
rendah
Akan
menyebabkan
daun rumput
terpotong hingga
nampak batang
atau akar.
Kurangi
pemotongn.
Stres
Kelebihan
atau
kekurangan
air
Kurangi
penyiraman jika
curah hujan
tinggi.
Kelebihan
atau
kekurangan
pupuk
Terlalu banyak
pupuk,
pertumbuhan
terlalu cepat.
Jika terlalu
sedikit akan
menyebabkan
rumput kurus.
423
Terlalu
banyak
racun
Racun kimia
yang banyak
dapat
‘membakar’
rumput.
Kekurangan hara (defisiensi)
NitrogenDaun tua akan
berwarna hijau muda.
Pertumbuhan lambat .
Penambahan pupuk N
sedikit akan kelihatan
perbedaannya
dibandingkan dengan
tidak dipupuk. Untuk
rumput taman, stadium
atau padang golf;
pemupukan dilakukan
sesuai dengan anjuran.
Zat besi Kekurangan hara ini
akan menyebabkan
daun muda berwarna
kuning. Pertumbuhan
lamban.
Air Rumput mengering.
Bila di pijak atau di
tekan, rumput lambat
untuk kembali ke bentuk
semula kondisi ini
disebut ‘footprinting’ ,
segera lakukan
penyiraman
Gambar 155 Dua jenis rumput
yaitu rumput golf (kiri)
dan rumput gajah
(kanan)

A1
DAFTAR PUSTAKA
Abidin. 1990. Dasar-Dasar
Pengetahuan tentang
Zat Pengatur Tumbuh,
Angkasa, Jakarta.
Access South Bonsai
information. Perawatan
sederhana Bonsai.
Diakses 25 Februari
2008
Access South Bonsai
information. Memualai
Bertanam Bonsai.
Diakses 25 Februari
2008
Aggangan, N.S. B.Dell and N.
Malajczuk, 1998.
Effects of chromium
and nickel on growth
of the ectomycorrizal
fungus Pisolithus and
formation of
ectomycorrizas on
Eucalyptus urophylla
S.T. Blake.
Geoderma 84 : 15-27.
Anggrek@yahoogroups.com.
Vanda Metusalae
Anggrek Baru dari
Indonesia. Diakses
23 januari 2008
Agustina, L., 2004.Dasar Nutrisi
Tanaman, PT
Rineka Cipta,
Jakarta.
Agroklimat, Badan Litbang
Pertanian.
Asahi Chemical MFG.Co
ltd.1980. Atonik a
New Plant Stimulant.
Japan.
Al-Kariki, G.N., 2000. Growth of
mycorrhizal tomato
and mineral
acquisition under salt
stress. Mycorrhiza J.
10/2 : 51-54.
Ali, G.M., E.F. Husin, N. Hakim
dan Kusli, 1997.
Pemberian mikoriza
vesikular asbuskular
untuk meningkatkan
efisiensi pemupukan
fosfat tanaman padi
gogo pada tanah
Ultisols dengan
perunut 32P. p. 597-
605 dalam Subagyo
et al (Eds). Prosiding
Kongres Nasional VI
HITI, Jakarta, 12-15
Desmber 1995.
Suprapto SS. 2007. Budidaya
Tembakau.

http://72.14.235.104/se

arch?q=cache:k-
UhXqs_TKkJ:www.ekol
ogi.litbang.depkes.go.id
/data/vol%25202/SSupr
apto2_3.pdf+Budidaya+
tembakau&hl=id&ct=cln
k&cd=6&gl=id. Diakses
tanggal 19 September
2007. 1 page.

http://id.Wikipedia.org/wiki.

bawang Merah. Diakses
24 januari 2008
A2

http://72.14.235.104/search?q=c

ache:k-
UhXqs_TKkJ:www.ekolo
gi.litbang.depkes.go.id/da
ta/vol%25202/SSuprapto
2_3.pdf+Budidaya+temba
kau&hl=id&ct=clnk&cd=6
&gl=id2007. Budidaya
Tembakau.. Diakses
tanggal 19 September
2007. 1 page.

http://warintek.bantul.go.id/web.p

hp?mod=basisdata&kat=
1&sub=2&file=32b.,
2007. Budidaya
Tembakau Virginia.
.
Diakses tanggal 19
September 2007. 1 page.
http://www.boyolali.go.id 2007.
Kebun. Diakses tanggal
19 September 2007. 1
page.
Acquaah G. 199. Horticulture
Principles and Practices.
Prentice-Hall, Inc. United
States of America.
Azcon, R. and F. El-Atrash,
1997. Influence of
arbuscular mycorrhizae
and phosphorus
fertilization on growth,
nodulation an N2 fixation
(15N) in Medicago sativa
at four salinity level. Biol.
Fertil. Soils 24 : 81-86.
Ba, A.M., K.B. Sanon , R.
Doponnois, and J.
Dexheimer, 2000. Growth
response of Afselia
africana Sm. seedlings to
ectomycorrhizal
inoculation in a nutrientdeficient
soil. Mycorrhiza
J. 9/2 : 91-95.
Badan Agribisnis Departemen
Pertanian bekerjasama
Penerbit Kanisius. 1999.
Kelayakan Investasi
Agribisnis I (Pisang,
Durian, jeruk, alpukat).
Kanisius. Yogyakarta
Badan Penelitian dan
Pengembangan
Pertanian. 1992.
Baharsyah, J.S. 2007. Mengonveri Air
dengan Limbah Pabrik Gula.
Fakultas Pertanian IPB. www.
google.com
Baharsyah, J.S. 2007.
Mengonveri Air dengan
Limbah Pabrik Gula.
Fakultas Pertanian IPB.
www. google.com
Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian ( BPTP )
Sulawesi Selatan :

http://sulsel.litbang.depta

n.go.id/
Online version:

http://sulsel.litbang.depta

n.go.id/mod.php?mod=bu
letin&op=viewarticle&cid=
1&artid=17
A3
Baon, J.B. 1996. Blotong
Sebagai Bahan Organik
dan Hara Bagi
Pertanaman Kakao,
Balai Penelitian
Perkebunan Jember.
Bertanaman Rambutan. Panebar
Swadaya.
Bonus Trubus no. 342. 1998.
Analisis Komoditas Kebal
Resesi.
BPPT, Gd.1 – Lt.16 , Jl. M.H.
Thamrin 8, Jakarta 10340
Telpon : (021) 3168701 -
02, Fax. (021)3149058
BPPT, Gd.1 – Lt.16 , Jl. M.H.
Thamrin 8, Jakarta 10340
Technical Support
(021)71112109;
Customer Care
081389010009; Fax.
(021)3149058
bptp-jatim@litbang.deptan.go.id;
bptp_jatim@yahoo.com.
Buckman, H.O dan N.C Brady. 1982.
Ilmu Tanah. Terjemahan
Soegiman.Bratara Karya
Aksara Jakarta.
Budi Samadi, Ir. 1997. Usaha
Tani Kentang. Penerbit
Kanisius. Yogyakarta
Budidaya Tanaman Anthurium.
Balai Pengkajia
Teknologi Pertanian
KarangplosoInstalasi
Penelitian Dan
PengkajianTeknologi
Pertanian Wonocolo
Cahyono, B., 1998. Tembakau :
Budidaya dan Analisis
Usaha Tani. Kanisius,
Yogyakarta.
Chan, E. (2000). Tropical fruits of
Malaysia & Singapore.
Hong Kong: Periplus
Editions. (Call no.:
RSING 581.95957 CHA)
Purdue University, Centre
for new crops & plant
products. (1995). New
crop factsheet:
Rambutan. Retrieved on
February 11, 2003.
Chang, S-t, J.A. Bushwell & S-w.
Chiu. 1993. Mushroom
Biology and Mushroom
Products. Nam Fung
Printing Co., Ltd.
Contributor Francis T. Zee, 1995.
Nephellium Sp. USDAARS,
National Clonal
Germplasm Repository,
Hilo, HI. Pardue Uiversity
(center for New crops &
Plant product.
Cruz, 1995. Mechanism of
drought resistance in
Pterocarpus indicus
enhanced by inoculation
with VA mycorriza and
Rhizobium. Biotrop Spec.
Publ.No56 : 131-137.
Biology and
Biotechnology of
Mycorrhizae.
A4
Cruz, A.F., T. Ishii, and K.
Kadoya., 2000. Effect of
arbuscular mycorrhizal
fungi on tree growth, leaf
water potential, and
levels of 1-
aminocyclopropane-1-
carboxylic acid and
ethylene in the roots of
papaya under water
stress conditions.
Mycorrhiza J. 10/3 : 121-
123.
C.T. Wheeler, I.M. Miller, R.
Narayanan,
D.Purushothaman
Daswir dan L, Panjaitan. 1981.
Perkembangan Kelapa
Sawit diIndonesia.
Prosiding Konp.Budidaya
Karet dan Kelapa Sawit.
BPPM.p189-198.
Departemen Pertanian. 2005.
Organisme
Pengganggu Utama
Tomat
Dinas Pertanian dan Kehutanan
Kabupaten Bantul Jalan
KH. Wahid Hasyim 210
Palbapang Bantul 55713
Telp. 0274-367541
Duriat AS. Budidaya cabai
Sehat. Balai penelitian
tanaman Sayuran
lembang. Bandung.
Endang, S. R. 2001.
FORKOMIKRO.e-mail
:endangyk@yogya.wasan
tara.net.id
Graham H. N.; Green tea
composition,
consumption, and
polyphenol chemistry;
Preventive Medicine
21(3):334-50 (1992).
Gandjar, I. 1993. Microbial
utilization of agricultural
waste for food. UNESCO
Regional Training
Workshop on Advances
in Microbial Processings
for th Utilization of
Tropical Raw Materials in
the Production of Food
Products. Los Banos,
The Philippines. October
11-20, 1993.
Februari 2000 Editor : Kemal
Prihatman
Fleibach, A.R. Martens and H.H.
Reber, 1994. Soil
microbial biomass and
microbial activity in soil
treated with heavy metal
contaminated sewage
sludge. Soil Biol.
Biochem. 26 (9) : 1201 -
1205.
Fitter AH dan Hay RKM. Fisiologi
Lingkungan
Tanaman.Gadjah mada
Universiy Press.
Yogyakarta
Fragrant Orchids.mht. Orchid of
Indonesia
A5
Hakim,N;M.Y.Nyakpa;A.M.Lubis;
S.G.Nugraha;M.R.
Saul;M.A. Diha;Go Ban
Hong dan H.H. Beiley.
1986. Dasar-Dasar Ilmu
Tanah. Universitas
Lampung, Lampung.
Heddy, S. 1996. Hormon
Pertumbuhan, Program
Penulisan Proyek Pelita
DEPDIKBUD dan
Pelaksanaan Pendidikan
Diploma (DIII) Universitas
Brawijaya. Rajawali
Press. Jakarta.
Heddy Suwasono. 1987. Biologi
Pertanian (Tinjauan
singkat tentang anatomi,
fisiologi, sistematika, dan
genetika dasar tumbuhtumbuhan.
Rajawali pers.
Jakarta.
Hong Kong.Desmeth, P. 1999.
Microorganisms
Sustainable Use and
Access Regulation
International Code of
Conduct. MOSAICC.
Directorate General XII
Science, Research and
Development of the
Commission of
theEuropean Union.
Belgian Coordinated
Collections of
Microorganisms,
Brussels, Belgium.

http://www.anisorchid.com.

Anggrek Lain. Diakses 15
Januari 2008
http://www.my normas.com//
Rumput apa?. Diakses
15 januari 2008
http://www.my normas.com//
cara-cara Rumput
membiak Diakses 15
januari 2008
http://www.my normas.com//
Jenis-jenis Rumput Turf.
Diakses 15 januari 2008
http://www.my normas.com//
Masalah-masalah
Rumput Turf. Diakses 15
januari 2008
http://www.my normas.com//
Nama Scientifik. Diakses
15 januari 2008
http://www.my normas.com//
Penanaman . Diakses 15
januari 2008
http://www.my normas.com//
Penyediaan Tapak
Diakses 15 januari 2008.

http://warintek.bantul.go.id/web.p

hp?mod=basisdata&kat=
1&sub=2&file=32., 2007.
Budiaya Tembakau
Virginia. Diakses tanggal
19 September 2007. 1
page.

http://www.boyolali.go.id/isi/isi_pt

s.asp?isi=kebun. 2007.
Kebun. Diakses tanggal
19 September 2007. 1
page.

http://en.wikipedia.org/wiki/Hydro

ponics Diakses 15 januari
2008
A6

http://id.wikipedia.org/wiki/Fotosi

ntesis” Diakses 15
januari 2008

http://tabloidgallery.wordpress.co

m/2007/09/29/begonia/
Diakses 15 januari 2008

http://warintek.bantul.go.id/web.p

hp?mod=basisdata&kat=
1&sub=2&file=32
September 2000
http:// warintek.progressio.or.id/-
by rans, 2006. Diakses
15 januari 2008
http://whatcom.wsu.edu/ Diakses
15 januari 2008
http://www.deptan. .go-id/
Diakses 15 januari 2008
http://www.orchid.or.jp/ Diakses
15 januari 2008
http://www.ristek.go.id Diakses
15 januari 2008

http://www.votawphotography.co

m.com.teknik

http://id.wikipedia.org/wiki/Bunga

_matahari” Diakses 23
Januari 2008

http://agrolink.moa.my/doa/bdc/b

ungaros.html. diakses 23
Januari 2008

http://www.agromedia.net/compo

nent/option.com_banner//
Itemid,o/task,click.bid,3.
Membentuk Bonsai
Adenium. Diakses 23
januari 2008.
http://id.wikipedia.org/wiki/Bons
ai” diakses 18 Februari
2008
http://www.mynormas.com/ caracara
Rumput membiak.
Diakses 25 Februarai
2008

http://www.mynormas.com/

Amalan Kultura Diakses
25 Februarai 2008
http://www.mynormas.com/ jenisjenis
Rumpurt Turf.
Diakses 25 Februarai
2008
http://www.mynormas.com masalahmasalah
Rumputr Turf.
Diakses 25 Februarai
2008
http://www.mynormas.com.
Penanaman. Diakses 25
Februarai 2008

http://www.mynormas.com.

Penyediaan tapak.
Diakses 25 Februarai
2008

http://www.mynormas.com/

Diakses 25 Februarai
2008
A7
http://www.mynormas.com/ Top
dressing. Diakses 25
Februarai 2008

http://ms.wikipedia.org/wiki/Hidro

ponik. Diakses 25
Februarai 2008

http://groups.yahoo.com/group/a

gromania/BUDIDAYA
TANAMAN KAKAO,
Persiapan Naungan dan
Pangkasan Bentuk.

http://www.pustakadeptan.

go.id/agritek/ppua
0148.pdf. Budidaya
Tanaman karet Diakses
25 Februarai 2008
http://id.wikipedia.org/wiki/Ercis&#8221;
Diakses 25 Februarai
2008
Pusat penelitian &
Pengembangan
Hortikultura.
Pengeringan Sayuran.
Diakses 25 Februarai
2008
Pusat Penelitian &
Pengembangan
Hortikultura. Jenis
kentang. Diakses 23
januari 2008.
Pusat Penelitian &
Pengembangan
Hortikultura. Budidaya
Bawang Merah. Diakses
23 januari 2008.
Pusat Penelitian &
Pengembangan
Hortikultura. Jenis Tomat.
Diakses 23 januari 2008.
Pusat penelitian &
Pengembangan
Hortikultura. Budidaya
Tanaman Buncis rambat.
Diakses 23 januari 2008
Pusat penelitian &
Pengembangan
Hortikultura.tanaman
Sayur Cabai.. Diakses 23
januari 2008
Indonext.com. Budidaya Cabe
dalam Polybag. Diakses
23 Januari 2008.
IPTEKnet. All rights reserved
Office : BPPT, Gd.1 -
Lt.16 , Jl. M.H. Thamrin
8, Jakarta 10340
Technical Support
(021)71112109;
Customer Care
081389010009; Fax.
(021)3149058 Seledri.
Diakses 23 januari 2008
IPTEKnet. Bawang merah rights
reserved
Office : BPPT, Gd.1 -
Lt.16 , Jl. M.H. Thamrin
8, Jakarta 10340
Technical Support
(021)71112109;
Customer Care
081389010009; Fax.
(021)3149058
A8
Imas, T., R.S. Hadioetomo, A.W.
Gunawan dan Y. Setiadi,
1989. Mikrobiologi Tanah
II. Depdikbud Ditjen Dikti,
Pusat Antar Universitas
Bioteknologi, IPB.
Interstate publisher. 1998.
Western Fertilizer
Handbook. United Stated
Amerika.
Indonext.com. Teknik Budidaya
Bawang Merah. Diakses
12 Januari 2008
Isroi, S.Si, M.SiPeneliti Mikroba
Balai Penelitian
Bioteknologi Perkebunan
Indonesia Lembaga Riset
Perkebunan Indonesia
Jalan Taman Kencana
No. 1 Bogor 16151 Telp.
0251 324048/327449
Fax. 0251 328516
Email:mailto:ipardboo@in
do.net.id;
mailto:isroi@ipard.com
info@duniaflora.com. 2007.
Hijau Rumput berkat
kondisioner. Diakses 27
Januari 2008
Jana Arcimovi􀃾ová, Pavel
Valí􀃾ek (1998): V􀄤n􀄌
􀃾aje, Start Benešov.
ISBN 80-902005-9-1 (in
Czech) Jahe (Zingiber
Officinale) Sumber:
Sistim Informasi
Manajemen
Pembangunan di
Perdesaan, BAPPENAS,
Jakarta,
Joner, E.J. and C. Leyval, 2001.
Influence of arbuscular
mycorrhiza on clover and
ryegrass grown together
in a soil spiked with
polycyclic aromatic
hydrocarbons.
Mycorrhiza J. 10/4 : 155-
159.
Joiner, J.N. 1981. Foliage Plant
Production, Prent
Production. Prentice- Hall
Englewood Cliffs, New
Jersey.
Jumin HB, 1994, dasar-dasar
Agronomi. PT Rja
Gafindo persada.
Jakarta.
Jana Arcimovi􀃾ová, Pavel
Valí􀃾ek (1998): V􀄤n􀄌
􀃾aje, Start Benešov.
ISBN 80-902005-9-1 (in
Czech)
Kabirun, S. and J. Widada, 1995.
Response of soybean
grown on acid soil to
inoculation of vesiculararbuscular
mycorrhizal
fungi. Biotrop Spec.
Publ.No56 : 131-137.
Biology and
Biotechnology of
Mycorrhizae.
Kanisius an badan Agribisnis
Departemen pertanian.
Kelayakan investasi
Agribisnis 1 (Pisang,
Durian, Jeruk Alpukat).
Jakarta
A9
Kantor Wilayah Departemen
Pertanian Propinsi
Maluku. 1996.Pertanian
Maluku dalam Prospek
Agribisnis. Kantor
Wilayah. Departemen
Pertanian Propinsi
Maluku, Ambon. hlm 4.
Kantor Statistik Propinsi Maluku.
2000. Maluku dalam
Angka.
Kantor Statistik Propinsi Maluku,
Ambon. hlm 246.
Kartasapoetra AG. Dan Mulyani
Sutedjo. Teknologi
Pengairan Pertanian
Irigasi.1994. Bumi
Aksara. Jakarta.
Khan, A.G., 1993. Effect of
various soil environment
stresses on the
occurance, distribution
and effectiveness of VA
mycorrhizae. Biotropia 8 :
39-44.
Khan, M.H., 1995. Role of
mycorrhizae in nutrient
uptake and in the
amelioration of metal
toxicity. Biotrop Spec.
Publ.No56 : 131-137.
Biology and
Biotechnology of
Mycorrhizae.
Killham, K, 1994. Soil ecology.
Cambridge University
Press
Kim, K.Y., D. Jordan, and
McDonald, 1998. Effect
of phosphate-solubilizing
bacteria and vesiculararbuscular
mycorrhizae
on tomato growth and soil
microbial activity. Biol.
Fertil. Soils 26 : 79-87.
Kirsop B.E. & J.J. Snell (eds.).
1982. Maintenance of
Microorganisms. A
Manual of Laboratory
Methods. Academic
Press, Inc. London.
Komagata, K. 1994. Background
of Microbial Industry in
Japan. In: Komagata, K.,
T. Yoshida, T. Nakase, H.
Osada. (eds.).
Proceedings of the
International Workshop
on Application and
Control of
Microorganisms in Asia,
pp. 1-11. March 14-18,
1994, Science and
Technology Agency,
Tokyo, Japan.
Kusumo, S. 1990. Zat Pengatur
TumbuhTanaman. Jasa
Guna, Jakarta.
Lamina. 1989. Kedelai dan
Pengembangannya. CV
Simplex, Jakarta.
A10
Lembar Informasi Pertanian
(LIPTAN) LPTP Koya
Barat, Irian Jaya No. 02/99
Lembar Informasi Pertanian
(LIPTAN) BIP Irian Jaya
No. 109/92 Diterbitkan
oleh: Balai Informasi
Pertanian Irian Jaya Jl.
Yahim – Sentani –
Jayapura Budidaya
Tanaman Karet.
Lima TahunPenelitian dan
Pengembangan
Pertanian 1987-1991.
BadanPenelitian dan
Pengembangan
Pertanian, Jakarta. hlm.
14.
Lingga, P. 1994. Petunjuk
Penggunaan Pupuk.
Penebar Swadaya,
Jakarta.
Loka Pengkajian Teknologi
Pertanian Koya Barat
Lozano, JMR., and R. Azcon,
2000. Symbiotic
efficiency and effectivity
of an autochthonous
arbuscular mycorrhizal
Glomus sp. from saline
soils and Glomus
deserticola under salinity.
Mycorrhiza 10/3 : 137-
143.
Mahisworo, Kusno Susanto dan
Agustinus Anung,
Bertanam Rambutan;
Jakarta:
Malaysian Agricultural Research
and Development
Institute, MARDI, G.P.O.
Box 12301, Kuala
Lumpur, 50774 Malaysia
Chanthaburi Horticultural
Research Center,
Amphur Kloong,
Chanthaburi, Thailand
USDA/ARS, National
Clonal Germplasm
Repository, P.O. Box
4487, Hilo, Hawaii 96720,
U.S.A.
Masiworo, Sutanto K dan Anung
A. 1990. Lembar
Informasi Pertanian
(LIPTAN) BIP Irian Jaya
No. 136/93 Diterbitkan
oleh: Balai Informasi
Pertanian Irian Jaya Jl.
Yahim – Sentani –
Jayapura.
Matnawi, H., 1997. Budidaya
Tembakau Bawah
Naungan Karet
Matsuo T dan Hoshikawa. 1993.
Science of The Rice
Plant. Morphology.
Nosan Gyoson Bunka
Kyokai. Tokyo
McGonigle, T.P.M. and M.H.
Miller, 1993. Mycorrhizal
development and
phosphorus absorption in
maize under conventional
and reduced tillage. Soil
Sci. Soc. Am. J. 57 (4) :
1002-1006.
A11
Morte, A., C.Lovisolo and A.
Schubert, 2000. Effect of
drought stress on growth
and water relations of the
mycorrhizal association
Helianthemum
almeriense – Tervesia
claveryi. Mycorrhiza J.
10/3 : 115-119.
Munyanziza, E., H.K. Kehri, and
D.J. Bagyaraj, 1997.
Agricultural
intensification, soil
biodeversity and agroecosystem
function in the
tropics : the role of
mycorrhiza in crops and
trees. Applied Soil
Ecology 6 : 77-85.
Nakase, T. 1998. Asian Network
on Microbial Researckes
(ANMR): Promotion of
Microbiology and
Biotechnology in Asian
Region. International
Conference on Asian
Network on Microbial
Researches. Gadjah
Mada University,
Yogyakarta, February 23-
25.
Nuhamara, S.T., 1994. Peranan
mikoriza untuk reklamasi
lahan kritis. Program
Pelatihan Biologi dan
Bioteknologi Mikoriza.
Oliveira, R.S., JC. Dodd and
PML. Castro, 2001. The
mycorrhizal status of
Pragmites australis in
several polluted soils and
sediments of an
industrialised region of
Northern Portugal.
Mycorrhiza J. 10/5 : 241-
247.
Pracaya. 1989. Bertanam
mangga. Penebar
Swadaya. Jakarta
Prada@com. Rumput
penutup tanah yang
paling ideal
Penebar Swadaya, 1991, cet ke-
3. 80p; 21 cm.
Pierce LC. 1987. Vegetables
characteristics,
production, and
Marketing. John Wiley
and Sons. United States
of America.
pn8.co.id. Budidaya Teh
Poedjiwidodo Y. 1996. Sambung
Samping Kakao.Trubus
Agriwidya Ungaran
Pusposutarjo S. 2001.
Pengembangan irigasi
(Usaha tani berkelanjutan
dan gerakan hemat air.
Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi
Departemen Pendidikan
nasional.
A12
Rahardi F.; Rina Nirwan S. dan
Iman Satyawibawa,
Agribisnis tanaman
perkebunan. Jakarta:
Penebar Swadaya, 1994.
Vi + 67p; ilus.; 21 p.
Rambutans set to become
mainstream fruit
Copyright © 2001-6, The
Australian Nutrition
Foundation Inc (Nutrition
Australia is the
registered business name
for the Australian
Nutrition Foundation Inc)
– All rights reserved
Disclaimer – Privacy
Policy
Rani, D.B.R., S. Ragupathy and
A. Mahadevan, 1991.
Incidence of vesicular -
arbuscular mycorrhizae
(VAM) in coal waste.
Biotrop Special Publ. 42 :
77-81 in Soerianegara
and Supriyanto (Eds)
Proceedings of Second
Asean Conference on
Mycorrhiza.
Rao, N.S Subha, 1994.
Mikroorganisme tanah
dan pertumbuhan
tanaman. Edisi Kedua.
Penerbit Universitas
Indonesia.
Ratledge, C. 1992.
Biotechnology: the socioeconomic
revolution? A
synoptic view of the world
status of biotechnology.
In : DaSilva, E.J., C.
Ratledge, A. Sasson
(eds.). Biotechnoloy,
economic and social
aspects. Issues for
developing countries.
Cambridge University
Press.
Saono, S. 1994. Non-medical
application and control of
microorganisms in
Indonesia. In: Komagata,
K. , T. Yoshida, T.
Nakase & H. Osada.
(eds.). Proceedings of the
International Workshop
on Application and
Control of
Microorganisms in Asia,
pp 39-60. March 14-18,
1994. Science and
Technology Agency,
Tokyo, Japan.
Sasson, A. 1998.
Biotechnologies in
developing countries:
present and future
Volume 2: International
co-operation. UNESCO
Publishing Imprimerie
PUF, France. Steinkraus,
K. H. (ed.) 1996.
Handbook of indigenous
fermented foods. 2nd
revised and expanded
edition. Marcel Dekker.
New York.
A13
Singh, S., and K.K. Kapoor,
1999. Inoculation with
phosphate-solubilizing
microorganisms and a
vesicular-arbuscular
mycorrhizal fungus
improves dry matter yield
and nutrient uptake by
wheat grown in a sandy
soil. Biol. Fertil. Soils 28 :
139-144.
Soepardi.1979. Sifat dan Ciri
Tanah I. IPB.Bogor
T. Yamamoto, M Kim, L R Juneja
(editors): Chemistry and
Applications of Green
Tea, CRC Press, ISBN 0-
8493-4006-3
Solaiman, M.Z., and H. Hirata,
1995. Effect of
indigenous arbuscular
mycorrhizal fungi in
paddy fields on rice
growth and NPK nutrition
under different water
regimes. Soil Sci. Plant
Nutr., 41 (3) : 505-514.
Splittstoesser WE. 1984.
Vegetables Growing
Handbook. Van Nostrand
Reinhold Company.New
York.
Sudarmo, S., 1991. Tembakau :
Pengendalian Hama dan
Penyakit. Kanisius,
Yogyakarta.
Sumarno. 1993. Teknik
pemuliaan kedelai. Dalam
S. Somaatmadja, M.
Ismusnadji, Sumarno, M.
Syam, S.O. Manurung, dan
Yuswadi (Ed.). Kedelai.
Pusat Penelitian dan
Pengembangan Tanaman
Pangan, Bogor. hlm. 243-
261.
Surono, I.S. & A. Hosono. 1994.
Microflora and their
enzyme profile in terasi
starter. Biosc. Biotech.
Biochem. 58 (6): 1167-
1169.
Thomas, R.S., R.L. Franson, and
G.J. Bethlenfalvay, 1993
Separation of arbuscular
mycorrhizal fungus and
root effect on soil
aggregation. Soil Sci. Soc.
Am. J. 57 : 77-81.
Van Wambake A. 1991. Soil of
the Tropic (properties and
apprasial) McGraw-Hill,
Inc.Toronto.
Widada, J, dan S. Kabirun, 1997.
Peranan mikoriza vesikular
arbuscular dalam
pengelolaan tanah mineral
masam. p. 589-595 dalam
Subagyo et al (Eds).
Prosiding Kongres
Nasional VI HITI, Jakarta,
12-15 Desmber 1995.
Widyawan R dan Prahastuti S.
1994. Bunga Potong. Pusat
dokumentasi dan Informasi
Ilmiah. LIPI. Jakarta
A14
Wright, S.F. and A. Upadhyaya,
1998. A survey of soils for
aggregate stability and
glomalin, a glycoprotein
produced by hyphae of
arbuscular mycorrhizal
fungi. Plant and Soil 198 :
97 – 107.
http://www.hort.purdue.edu/newcrop/cr
opfactsheets/Rambutan.ht
ml
http://www.irwantoshut.com
http://www.irwantoshut.com
http://www.naturalnusantara.,co.id.
2008 Budidaya karet.
Diakses 23 Januari 2008
http://www.perkebunan.litbang.deptan.
go.id.2007. Tembakau.
Diakses tanggal 15
November 2007. 1 page.
http://www.wikipedia.org. 2007.
Tembakau. Diakses
tanggal 15 November
2007. 1 page.
http://www.warintek.com. 2007.
Tembakau (Nicotiana
tabacum L.). Diakses
tanggal 15 November
2007. 4 pages.
http://www.perkebunan.litbang.deptan.
go.id., 2007. Tembakau.
Diakses tanggal 15
November 2007. 1 page.
http://www.wikipedia.org. 2007.
Tembakau. Diakses
tanggal 15 November
2007. 1 page.
http://www.warintek.com. 2007.
Tembakau (Nicotiana
tabacum L.). Dikutip dari:
Diakses tanggal 15
November 2007. 4
pages.
http://www.balittas.info/index.php?opti
on=isi&task=view&id=16
&Itemid=50 – 75k -
Cached. 2007. Balittas.
Diakses tanggal 20
September 2007. 1 page
Zaini, Z., T. Sudarto, J. Triastoro,
E. Sujitno dan Hermanto,
1996. Usahatani lahan
kering : Penelitian dan
Pengembangan. Proyek
Penelitian Usahatani lahan
Kering. Pusat Penelitian
Tanah dan Agroklimat.
Bogor
Zarate, J.T. and R.E. Dela Cruz,
1995. Pilot testing the
effectiveness of arbuscular
mycorrhizal fungi in the
reforestation of marginal
grassland. Biotrop Spec.
Publ.No56 : 131-137.
Biology and Biotechnology
of Mycorrhizae.
Zedan, H. 1992. The economic
value of microbial diversity.
Key note paper presented
at the VIIth International
Conference for Culture
Collections. Beijing, China.
October 1992.
B1
GLOSARIUM
Analisa hara pupuk : menyatakan berapa jumlah relatif dari N,
P2O5,dan K2O dalam pupuk tersebut
ATP (Adenosine
Triposfat)
: satuan pertukaran energi dalam sel.
Aerasi : Tata udara tanah
Allelopati :
Auksin : zat tumbuh yang pertama ditemukan yang
bekerja pada proses perpanjangan atau
pembesaran sel.
Bekerjanya pupuk : adalah waktu yang diperlukan sejak saat
pemberian pupuk hingga pupuk tersebut dapat
diserap tanaman
:
Curah hujan :
Daur air : adalah perubahan yang terjadi pada air secara
berulang dalam suatu pola tertentu.
Diferensiasi : proses pertumbuhan tanaman disebut
Derajat peresapan air Angka yang menyatakan derajat meresapnya
air pengairan ke dalam tanah dan keseragaman
peresapannya ke dalam lapisanlapisan
bawah tanah
Derajat
ketebakan
kebasahan
merupakan pernyataan yang menyatakan
berapa besar pembasahan tanah, yang
seharusnya segera dilakukan setelah kurun
waktu pemberian air pengairan.
Difusi : adalah pergerakan molekul atau ion dari
dengan daerah konsentrasi tinggi ke daerah
dengan konsentrasi rendah
Embrio : Calon individu baru
Epidermis : Kulit luar organ berupa lapisan lilin yang
mencegah kehilangan air secara berlebihan
Epigeal : Proses perkecambahan yang hipokotilnya
tumbuh memanjang akibatnya kotiledon dan
plumula terdorong ke permukaan tanah,
sehingga kotiledon berada diatas tanah
Fotosintesis : Pengubahan bentuk tanaga matahari menjadi
bentuk lain
Fotosisitem I : Molekul klorofil yang menyerap cahaya pada
panjang gelombang 700 nM.
Fotosistem II : Terdiri dari molekul klorofil yang menyerap
B2
cahaya pada panjang gelombang 680nM
Fototropisme : merupakan peristiwa pembengkokan ke arah
cahaya
Flooding (Cara
penggenangan)
adalah cara pemberian air ke lahan pertanian
sehingga menggenangi permukaan tanahnya.
Gen : faktor pembawa sifat menurun yang terdapat
di dalam makhluk hidup
Giberelin : Hormon yang bekerja hanya merangsang
pembelahan sel. Terutama untuk merangsang
pertumbuhan primer
Gravity irrigation
atau irigasi gaya
berat
Sistem ini menggunakan cara di mana
pemberian/ penyaluran air pengairan ini
sepenuhnya dengan memperhatikan gaya
berat
ground water, yaitu air tanah atau jelasnya air permukaan
yang meresap ke dalam tanah dan berkumpul
di bagian lapisan bawah tanah yang kemudian
sedikit demi sedikit akan ke luar melalui mata
air
Habitat : Tempat tinggal makluk hidup
Higroskopisitas
pupuk
: adala sifat mudah tidaknya pupuk bereaksi
dengan uap air.
Hipogeal : Pada perkecambahan ini terjadi pertumbuhan
memanjang dari epikotil yang menyebabkan
plumula keluar menembus kulit biji dan muncul
diatas tanah kotiledon tetap berada di dalam
tanah
Hormon (zat tumbuh) : suatu senyawa organik yang dibuat pada
suatu bagian tanaman dan kemudian diangkut
ke bagian lain, yang konsentrasinya rendah
dan menyebabkan suatu dampak fisiologis
Hiposonik : Suatu larutan yang mempunyai tekanan
osmosis lebih rendah daripada larutan lain
Indeks garam : merupakan gambaran perbandingan kenaikan
tekanan osmotik karena penambahan 100 g
pupuk dengan kenaikan tekanan osmotik
karena penambahan 100 g NaNO3
Irigasi Isecara umum didefinisikan sebagai
pemberian air kepada tanah dengan maksud
untuk memasok kelembaban tanah esensial
bagi pertumbuhan tanaman
interflow, yaitu aliran air yang meresap ke lapisan tanah
permukaan dan kemudian mengalir kembali ke
luar dari lapisan tanah permukaan tersebut ke
B3
permukaan tanahnya
Isotonik atau isomosi : Suatu larutan yang mempunyai tekanan
osmosis yang sama dengan larutan lain
Kelarutan pupuk : menyatakan mudah tidaknya suatu pupuk larut
dalam air, dan diserap akar tanaman.
Kekeringan dapat dinyatakan sebagai suatu keadaan
dimana berkurangnya jumlah air disebabkan
oleh menurunnya daya dukung tanah terhadap
ketersediaan air
Kekeringan hidrologi, adalah kekeringan yang berasosiasi dengan
efek periode singkat dari curah hujan
Kekeringan
meteorology
, adalah cekaman kekeringan yang
disebabkan keterbatasan curah hujan yang
berkepanjangan
Kekeringan sosial
ekonomi,
adalah keadaan perubahan sosial ekonomi
masyarakat yang disebabkan oleh
keterbatasan air
Kadar unsur pupuk Banyaknya unsur hara yang dikandung oleh
sutatu pupuk
Kemasaman pupuk : Reaksi fisiologis masam dari pupuk yang
diberikan ke tanah
Karbohidrat : Zat gula
Klorofil : Atau biasa disebut zat hijau daun. zat ini
sangat berguna untuk mengubah zat yang
diserapnya menjadi zat-zat makanan
Kloroplas :
Kinin atau sitokinin : Zat hormone yang bekerja mempercepat
pembelahan sel, membantu pertumbuhan
tunas dan akar, dan dapat menghambat
proses penuaan (senescence).
Kutikula : Lapisan dari lilin yang melindungi permukaan
daun dari teriknya cahaya matahari atau
lingkungan yang kurang menguntungkan
Kualitas air
pengairan
Adalah jumlah kandungan ion yang
berbahaya, ataupun hara yang berguna
bagi tanaman
Kohesi : Gaya tarik menarik Molekul air dengan
molekul air lainnya
Layu permanen : Tanaman yang kekurangan air dan apabila
disiram tidak dapat pulih kembali.
Mesofil : Sel-sel pada bagian daun yang banyak
mengandung kloroplas (lebih kurang
setengah juta kloroplas setiap milimeter
B4
perseginya)
Meiosis : pembelahan sel kelamin
Meristem : Jaringan muda yang senantiasa membelah
(meristematis)
Mitosis : pembelahan dari sel tubuh
Multiselluler : makhluk hidup bersel banyak
:
nilai ekivalen
kemasaman,
: yang artinya berapa jumlah Kg kapur (CaCO3)
yang diperlukan untuk meniadakan
kemasaman yang disebabkan oleh
penggunaan 100 Kg suatu jenis pupuk
Nutrisi : Mineral yang dibutuhkan tanaman
Osmosis : peristiwa bergeraknya pelarut antara dua
larutan yang dibatasi membran semi
permiable dan (selaput permiable diffrensial)
berlangsung dari larutan yang konsentrasinya
tinggi ke konsentrasi rendah
Pertumbuhan : didefinisikan sebagai peristiwa perubahan
biologis yang terjadi pada makhluk hidup
berupa perubahan ukuran yang bersifat
irreversible (tidak berubah kembali ke asal
atau tidak dapat balik)
Pertumbuhan primer : adalah pertumbuhan ukuran panjang pada
bagian batang tumbuhan karena adanya
aktivitas jaringan meristem primer.
Pertumbuhan
sekunder
: adalah pertambahan besar dari organ
tumbuhan karena adanya aktivitas jaringan
meristem sekunder yaitu kambium pada kulit
batang, kambium batang, dan dan akar.
Perkembangan : proses menuju pencapaian kedewasaan atau
tingkat yang lebih sempurna pada makhluk
hidup
Perkecambahan : merupakan proses pertumbuhan dan
perkembangan embrio
:
Phloem : pembuluh tempat transport makanan
Plasmolisis : Peristiwa lepasnya plasma sel dari dinding sel
:
Potensi air : energi potensial air yang terkandung dalam
tubuh tanaman
Pupuk buatan Pupuk buatan merupakan pupuk yang dibuat
oleh pabrik dengan kandungan unsur hara
tertentu
Pupuk asam Pupuk dapat menurunkan pH disebut
Pupuk basa Pupuk yang dapat menaikkan pH
B5
Pupuk tunggal : Pupuk yang hanya mengandung satu unsur
Pupuk majemuk : Pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur
Reaksi terang : reaksi fotosintesis yang memerlukan cahaya
Reaksi gelap : reaksi fotosintesis yang tidak memerlukan
cahaya
Respirasi : merupakan proses perombakan senyawa
organik menjadi senyawa anorganik dan
menghasilkan energi
Respirasi aerob : suatu proses metabolisme tanaman dengan
menggunakan oksigen yang
Respirasi anaerob : reaksi pemecahan karbohidrat untuk
mendapatkan energi tanpa menggunakan
oksigen
Run off aliran air permukaan
Stomata : Mulut daun
Suhu minimum : Suhu paling rendah dimana organisme masih
dapat melaksanakan metabolismenya
Suhu maksimum : Suhu paling tinggi dimana organisme masing
dapat melaksanakan metabolisme
Suhu optimum : Suhu paling baik untuk kelangsungan
metabolisme pada makhluk hidup
Sugar sink : Tempat penerima gula, tempat gula disimpan
atau dikonsumsi
Supertonik : Suatu larutan yang mempunyai tekanan
osmosis lebih tinggi daripada larutan lain
Sprinkle Irigation air pengairan secara pancaran
Stomata : merupakan celah yang dibatasi oleh dua sel
penjaga
Tumbuhan hijau : Tumbuhan yang mengandung zat hijau daun
(klorifil)
Tekanan turgor. : Tekanan hidrostatik dalam sel disebut
Top dressing Pembeian pupuk melalui disebar di atas
permukaan tanah.
Transpirasi : adalah proses penguapan air melalui stomata
Uniselluler : Organisme ber sel tunggal
Xylem : Merupakan jaringan pengangkutan air
Zigot : Sel hasil penyatuan sel betina (ovum)
dengan sel kelamin jantan
C1
INDEKS
A
Absorbsi,106
Agregat 550
agroindustri,
1
Aglonema
351
agroekosiste
m, 167
Aerasi 537
Anggrek 353
Arumanis 323
Air, 30,31
Air tanah, 120
Air
permukaan
tanah,117
Air sungai,
119
Air hujan,119
Amonifikasi,
49
Ambon
kuning 334
an organik,87
Antraknose
267,380
Aspek
pisiologi, 4
Aspek
ekologi, 4
Apatit, 55
Aspek
pemuliaan
tanaman, 4
Abiotik, 4
Ajir 248
Akar
rambut.157
Akar
serabut,157
Akar
tajuk,158
Akar tinggal
216
Alternaria 250
Aktinomicetes
539
Amonia,88,90
Amonium.88
Amonium
nitrat,91
Amonium
sulfat,92
Amofos,95
Analisis, 6
Analisa
kebutuhan
hara,66
Analisa
tanah,66
Analisa
tanaman,67,1
14
Anhidrous
ammonia, 89
Anual 345
Angin,171
Anatomi
beras,169
Anggrek 353
Ambon lumut,
117
Amonium
sulfat
nitrat,94
Akar primer,
11
Akar
sekunder, 11
aplikasi,107
Aphids sp,
367
Al, 45
Aerasi, 13
Autotrop, 19
Asam
superfospat,
97
Asimilasi 18
Asupan 178,
ATP, 23
Anthurium,
407
Adenium, 409
Alas pot, 415
Analisa
tanah, 430
Aeroponik,
510
B
Bahan
pangan, 1.
Bahan
organik
tanah,78
Bakteri 539
Bakteri
fotosintetik,
24
Badan
bendung,143
Bajak tanah
194
Bak
kecambah
213
Batu
fospat,96
Batu bata
522,523
Batang 226
Bawang
merah 264
Barangan
merah 334
Bendungan,1
43
Bedding
system,148
Bedding plant
345
Bedengan
234, 364
Bercak daun
384, 386
Bercak coklat
384
Bercak bunga
387
Bassiana,
367
Benih 210,
512
Budidaya,
tanaman, 1
Biannual 345
Bulir padi,
160
Biotik, 4
Bioinsektisida
367
Bibit,177,246
Bunga, 5,226
Bunga potong
349
Buah 226
Benih, 5,512
Berta
chrysolineate,
307
Besi, 59
Bekicot 376
Bibit, 5
Biji 227
Bibit 234
Biji-bijian,108
Biologis,7
Bobot kering,
8
Boron,62
Buah-buahan
205
Bundel
vascular, 21
Buah
padi,162
Bunga
padi,161
Busuk lunak
385
Busuk daun
238
Busuk umbi
238
Busuk
rimpang 279
Busuk hitam,
39, 379
Batang
bawah, 403
Batang atas,
403
Bunga
matahari, 405
Begonia, 411
Batuan
penghias,
415
Bentuk
bonsai, 416
Bonsai, 413
Bonsai tegak
lurus, 416
Bonsai tegak
lurus
beraturan,
416
Bonsai tegak
lurus tidak
teratur, 416
Bonsai
tersapu
angin, 418
Bonsai anak
air terjun, 418
Bonsai semi
anak air
terjun, 418
Bonsai
berkelompok,
419
C
Cabe 253
Cabe kering
261
Cacahan
pakis 349
Cahaya, 19,
28,400,
425,529
Cangkok 218
Cattleya 364
Cercospora
Carote, 292
Curah hujan,
13, 313
Cu,45
Clostridium
sp 547
Cross slope
ditch,148
C2
CVPD 318
Catlea 234
Climbing
rose, 401
Cangkok, 511
D
Daerah aliran
sungai
(DAS),122
Daya pikat
347
Daun 226
Difusi,32
Diferensiasi,
10
Dekorasi 347
Dendrodium
264, 353
Deskripsi 327
Determinate,
198
Distribusi, 13
Dichocricic
punetiferalis
307
Dolomit 55
Dormansi 211
Defisiensi
kalsium,
55,57
Def.magnesiu
m, 59
Def-besi, 59
Defmangan,
62
Drainase.123,
146,147
E
Ekologi 300
tanaman, 4
Endosperm,
163
Endo
mikoriza 547
Ekto mikoriza
547
Eksternal, 7
Epidermis,
10,20
Embrio, 10,11
EM4 554
Epikotil, 11
Epifit 355
Epoh 244
Elektron, 23
F
G
Ganggang
307
Gulma,5,307
Genotip,7
Genetik, 12
Generatif
358, 407, 427
Geragih 217
Gaminae,
158
Gravitasi, 35
Glukosa, 40
Gejala
kekurangan
boron, 63
Gravity
irrigation, 133
Ground
water,119
Gulma, 280,
433
H
Hama 5.
249, 332, 341
Ha.peng.
umbi 237
Hama trip
237
Hanging plant
345
Hara 525
Herba, 239,
345
Herring bone
system,151
helai daun,
159
Hidrogen, 44
Hidrolisa,
30,212
Higroskopisit
as,85
hortikultura,1,
205,206
Houseplant
346
Hipokotil, 11
Hipogeal, 12
Hara, 13
Hara mikro,
59
Hara makro,
44
Hara mikro,
44
Hayati,390
Hybrind tea,
401
Hybrind
prepertual,
401
Hypa 548
Hidroponik,
509
Hidroponok
rakit apung,
510,517,519
I
Ilmu tanah
ionisasi. 23
Intensitas
cahaya,
26,170, 354
Indeks
garam,85
Indrabela 5p,
307
Inditerminate,
198
insektisida
369
insektisida
hayati 367
Ingenhausz,
29
Inokulum 368
Internal, 44
Inter cropping
228
Inter flow.119
Interception,1
49
Interception
system,151
Indoor 347
Iklim,,69,105,
402
117, 300.
170,199
irigasi
J
Jagung,182
jaminan
pupuk,103
Jahe 271
Jahe putih
272
Jahe emprit
272
Jahe merah
272
Jalur caspary,
36
Jelita 244
Jeruk 311
Joseph
Priestly, 29
Jaringan
irigasi,140.
Jar.ir.tersier,1
40
Jar-irutama,
140
K
Kahat hara
187
Kalium,
52,77,
Kalim
sulfat.98
Kalium
magnesium
sulfat, 98
Karbon, 44
Kadar
pupuk.84
Kandungan
beras,169
Kapasitas
tukar
kation,74
Kapok
kuning333
Kalsit, 55
Kalsium,
55,99
Karbondioksi
da, 20,26
Karat Uredo
sp 387
Kebiasaan
tanaman,137
Kedelai 197
Kekeringan
189
kehutanan,2
Kelembaban
nisbi 355, 528
Kemurnian
C3
benih 211
Keseimbahan
hara,65,107
Ketebalan
rumah tangga
air.136
Kelautan
pupuk, 84
Kemasaman
pupuk,84
Kentang 131
Kemiringan
tanah.134
Ketepatan
pengairan,15
3
Ketinggian
tempat 301
Kepik
anggrek 377
Kuantitas, 6
Kualitas, 6.
Kualitas
air.127.139
Kultur teknis
224
Kultivar 225
Kumbang
penggerek
371, 372
Kebutuhan
air,144
Kompos 542
Kompos
Bioaktif 553
Kutu daun
237, 287,378
Kutu kebul
249
Kutu perisai
372
Kutu putih
374
Kutu
tempurung
378
Kompos
366,536
Komposisi,
300
Kondensasi,
31
Konidium
381
Korteks, 10
Kedelai, 11
Kotiledon, 12
Klasifikasi
pupuk,81
Klasifikasi
irigasi,125
Klor,64
Klorofil, 19
Klorosis, 47
Kloroplas,
19,20
Kutikula,21
Kultur
jaringan 215
Kuprum, 62
Kumbang
koksi, 390
Ketuaan
bunga, 390
Kuping gajah,
407
Kerikil, 523
L
Larva 370,
371
Layu bakteri
238, 279
Lalat kacang
202
Lahan sawah
265
Layu
Sklerotium
382
Lembang 1,
254
Leguminosa
540
lingkungan,
12, 354
lidah
daun,159
lingkungan
354
litofit 356
laju respirasi
27
lokasi 227
Lubang tanah
Lidah agjah,
407316
Lempengan
rumput, 432
Larutan hara,
524
M
Mangga, 322
Malai
padi,161
Magnesium,
57,99,100
Manfaat 245,
327
Manohora
232
medium,
media 5,
Media tanam
359
Makhluk
hidup, 7,70
Manajemen
pupuk.113
Man-hara
N.114
Man- hara
P.115
Makro 538
Mangan,60
Mineralisasi,
48
Mikro,99
Mikroorganis
me 553
Mikoriza 547
Multiseluler, 7
Media tanam
133, 301
Membelah
diri 216
Meristem,9,1
0 Merbabu
232
Mesophyl, 21
Mitosis, 10
Meiosis,10
Mekanisasi
223
Minimum, 13
Molibdenum,
63
Morfologi 197
Mulut daun
21
Mulsa
235,248,537
Monokultur
228
Monopodial
353
Mosaik 251
Mawar, 401
Mawar tea,
402
Metode kultur
air, 510
Metoda arus
kontinyu, 521
Mengukur Ph,
527
Mycelia 551
N
Natural
system,151
NADPH,
23,24
NADPH2,
23,24
Nagka 335
Neolitikum, 2
Nephentens
sp, 48
Nephelium
lappaceum
297
Nematoda
287
Nitrogen, 46
Nitrifikasi, 49
Nikel,64
Nilai
pupuk,109
NPV 202
NFT, 510
O
Optimum,
6,13
Oncidium,
364 469
Organel, 19
Organisme
tanah 538
Oksigen,
19,44
Oriza
sativa,157
Opal 245
Orong-orong
237
Organik
535,537
Osmosis, 33
Okulasi, 403
P
Padi,157
Pupuk 366
Paket
teknologi,185
Padang
rumput,108
Pangan, 1
Paprika 262
Paralel ditch
sytem,148
Pangkas 248
Paranet 209
Parmarion
Pupilaris
375
Perenial 345
Penanaman
348
Persilangan
356
C4
Penggerek
daun 373
Pemakan
daun 374
Pertanian
organik
Pestisida 530
Panen,
186,194,204,
239, 252,
260.263, 268,
281, 288.
308, 319’ 342
Pascapanen,
186,252,282,
309,320, 351
Pedoman
teknis, 301,
315, 330,
337, 361
Pepaya
cibinong 327
P.Bangkok
328
P-Hawai 329
P.Jingga 329
P-Mas 330
pH 527
Pigmen, 23
Pipa
berlubang,13
2
Pipa
bernozzle.13
0
Piretrum 281
Pisang 333
Pecahan
genting 365
Perkebunan,1
Permata, 244
Persilangan
356
Pergerakan
Pelepah
daun,
159,160
Penggenanga
n,130
Proses
produksi, 2
Produksi 240
Perkembanga
n vegetatif, 5
Pemupukan,
110 201, 247,
339
Peruraian, 48
Pengairan,12
4,236
Pengapuran
304
Pengemasan
242
Penyaluran
air,129,131
Penyakit 238,
332, 340
Penyiangan
236, 318
Penyiraman
247, 360
Pendangiran,
178
Perkembanga
n generatif, 5
penempatan
pupuk,104
Penyakit, 5,
259,318
Penyiangan
201
Penyiapan
255
Penataan
jaringan.141
Peredaran N,
47
Perbanyakan
tanaman 209
Penggenanga
n,142
Persiapan
212
Pintu
penguras,143
Pintu
pengambilan.
143
Pengemasan
343
Pindah tanam
214
Penggulung
daun 203
Penggerek
polong 204
Pen.pisang
341
Pola tanam
304
Perkecambah
an 211
Prinsip
genetis, 5
Prinsip
agronomis, 5
Produktifitas,
6,180
Pertumbuhan
,7,
11
Perkembanga
n,7,11
Pelindung
dingin 208
Penyimpanan
pupuk,111,
306
Persiapan
lahan,200
Persemaian
214, 255
Pengairan
200
Penanaman
331
Pemupukan
dasar 235,
331
Penyulaman
235
Penanaman
200
Perawatan
305
Perompesan
258
Pola bulu
burung,122
Pola
radial,122
Pola
paralel.122
Polinia 357
Prokambium,
10
Profil tanah,
71
Phloem, 21
Ploneta
diducta, 307
Potensial air,
37
Posfat, 5
Pohonpohonan
128.
Pompa
air.108
Pupuk alam,
82
——- an
organik’
82,83
—– basa,83
—-
belerang,100
—– asam,83
——hijau
540,541
——padat
83,540
——cair,
83,545
—-
buatan,82,84
—– kalium 98
-
kalsium,99,10
0
—- kandang
349, 543

majemuk,102
—–mikro,100
—-
nitrogen,86
——posfat,95
Plyanta, 401
Pedoman
teknis, 402
Pemilihan
tanaman, 420
Pembentukka
n bonsai, 420
Pemilihan
bentuk
bonsai, 422
Pemilihan
tanah, 423
Perawatan
bonsai, 423,
514
Pengairan,
424,435
Pemupukan ,
424,434, 514
Pengairan
,431,435
Pemangkasa
n, 434
Pindah
tanam,
512513
Pasir, 522
Perlit, 524
Perawatan
media tanam,
526
Ph meter,
527
Q
R
Raja bulu 335
Rambut akar,
36
Rambutan
297,298
Ram.binjai
298
Ram.cimacan
298
C5
Ram-aceh
lebak 298
Random ditch
system,148
Rebah bibit
386
Rekayasa
bioteknologi,1
67
Radikula, 157
Reaksi
terang, 21
Reaksi gelap,
21
Reaksi tanah,
73
Rimpang 283
Rhizobia 546
Run off,119
Runduk 220
Rumah
kaca,207
Rm..kasa 209
Rm.plastik,20
8
Rumput, 427
Rumput
gajah,
428,429
Rumput gajah
mini, 429
Rumput
jepang, 430
Rumput
peking, 430
Rumput golf,
430
Rumpun, 423
S
Sabut kelapa
365
Sprofit 356
setek bang;
seteng daun
234
sayursayuran,
3
,108,221,222
Saluran,144
Saldrainase,
151
Sekam bakar
349
Seledri 285
irrigation,132
Spora 216
Spodoptera
spp 267
Syarat
tumbuh
199,232,245,
254,264, 273,
286. 311,
330.336. 354
Stolon, 428,
433
Substrat, 510
Sirkuasi air,
514
Serbuk kayu,
524
Sumber hara,
525
T
Tanaman
berkayu 346
Tanjung I
254
Tanjung II
254
Tataletak,152
Teknik, 1
Terestrial 355
Tanah,68,172
,199, 254,314
Tanah
berlereng.135
Tanaman
menghasilkan
318
Tanaman
inang, 369
370,
Tali rafia
363
Tembakau
281
Tindak
budidaya, 2
Thrips
anggrek 377
Tingkat
pemakain.14
5
Ting.efisiensi,
145
Teknik
budidaya, 3,
200
Tekanan
hidrostatik, 34
Tekstur
tanah, 72
Tekanan
kapiler,
34
Tekanan
turgor, 35
Tekanan
akar, 38
Tempel 219
Temperatur
,311, 391,399
Tinggi dari
permukaan
laut, 13
Tilakoid, 21
Tip burn, 57
Transpirasi,
30
Turgor, 30
Tungau 370
Tungau
merah 370
Tungau
jingga 377
Tomat 243
Topografi,
70,134
Top soil.136
Trichogramm
a toideea 202
Tunas 218
Temperatur,
391
Teknik
pemangkasa
n bonsai, 420
Topdressing
435
U
Uji dingin 210
Ulat grayak
202
Ul-engkal 202
Ul- polong
203
Umbi 269
Um-batang
216
Um- lapis 216
Uniseluler,7
Unsur N, 44
Unsur mobil,
47
Unsur pupuk,
81
Urea,92,93
Ulat grayak
C6
237
Ulat buah 250
Ulat bunga
373, 374
Ulat jengkal
307
V
Vanda teret
364
Varitas
unggul, 4,
Var.padi 166,
Vegetatif 215,
357,407, 428
Veg.alami
216
Vena, 21
Venus flytrap
, 46
Verticillium,
54
Vegetatif 358
Virus 239
Vitamin, 425
Vertikultur,
519
Vermikulit
524
W
Warna beras,
168
Waktu,71
Wali songo,
407
X
Xilem akar,
36
Y
Z
Zamrud 245
Zinkum, 59
Zigot, 11
D1
DAFTAR TABEL
1 Tingkatan mudah tidaknya
jaringan organisme
didekomposisi
.
.. … … … … … … … … 79
2 Pembawa Nitrogen organik ………………………… 87
3 Pembawa nitrogen
anorganik ………………………… 90
4 Pembawa fosfor ………………………… 97
5 Pupuk Kalium ………………………… 98
6 Garam-garam unsur mikro
yang biasa dipakai pada
pupuk ………………………… 101
7 Klasifikasi air pengairan
berdasarkan nilai SAR
(Bandingan adsorbsi natrium) ………………………… 125
8 Klasifikasi air irigasi menurut
US Salinity Laboratory ………………………… 126
9 Klasifikasi air
pengairan (irigasi)
menurut Scofield ………………………… 127
10 Kebutuhan air beberapa
jenis tanaman pada setiap
fase fenologi ………………………… 138
11 Perkiraan potensi air
dengan pengembangan
irigasi menurut wilayah,
tahun 1990-2020 ………………………… 154
12 Analisa ekonomi usaha
tani jaugung hybrida ………………………… 195
13 Klasifikasi botani
beberapa jebis sayuran ………………………… 229
D2
14 Jenis hama penyakit pada
bawang ………………………… 270
15 Klasifikasi buah-buahan
menurut kedudukan
sistematik, tipe, dan
pemanfaatan ………………………… 294
16 Jarak tanam dan jumlah
pohon perhektar ………………………… 462
17 Kriteria kematangan buah
berdasarkan jumlah
berondolan ………………………… 479
18 Jenis polifonel pada teh
yang telah teridentifikasi
dan tingkat kandungan
rata-rata ………………………… 482
19 Produksi pucuk basah
pada berbagai tingkat
jarak tanam ………………………… 486
20 Kriteria umur batang untuk
okulasi ………………………… 491
21 Unsur hara dan sumbernya ………………………… 532
22 Gejala-gejala kekurangan
hara ………………………… 534
23 Kadar rataan unsur hara
yang terdapat pada pupuk
kandang ………………………… 544
24 Berbagai sumber bahan
organik (tanaman) dan C/N
nya ………………………… 544
D3
DAFTAR GAMBAR
1 Titik Tumbuh pada Ujung Batang kedelai …………………… 8
2 Susunan sel titik tumbuh pada ujung akar ………………….. 9
3 Susunan sel titik tumbuh batang ……………………………….. 10
4 Perkecambahan Hipogaeal ……………………………………. 11
5 Perkecambahan Epigaeal ………………… …………………… 12
6 Skematik proses fotosintesa ……………………………………. 20
7 Penampang melintang daun …………………………………… 21
8 Skematik reaksi terang dan gelap dari
proses fotosintesa………………………………………………………. 22
9 Lintasan fotosintem I ……………………………………………….. 24
10 Lintasan fotosistem II………………………………………………… 25
11 Peredaran air dimuka bumi…………………………………………. 31
12 Peristiwa kapilaritas. ………………………………………………. 34
13 Peristiwa gutasi pada daun ………………………………………. 37
14 Daur unsur nitrogen lingkungan ………………………………… 47
15 Perubahan bentuk senyawa nitrogen ………………………….. 48
16 Peredaran hara posfat di alam …………………………………… 50
17 Defisiensi fosfor pada daun anggur ………………………….. 51
18 Defisiensi posfor pada tomat ……………………………………. 52
19 Ketersediaan K dalam tanah …………………………………….. 53
20 Gejala kekurangan kalium pada paprika …………………….. 56
21 Gejala kekurangan kalium pada daun labu…………………… 56
22 Buah apel yang mengalami kekurangan kalsium…………… 57
23 Mengeringnya buah tomat akibat kekurangan kalsium…… 58
24 Daun jeruk yang mengalami defisiensi magnesium……….. 58
25 Defisiensi besi pada daun bunga rose …………………………. 60
26 Defisiensi besi pada rumputan ……………………………………. 60
27 Defisiensi besi pada daun jeruk ………………………………….. 61
28 Gejala defisiensi mangan ………………………………………. 61
29 Gejala defisiensi boron pada daun anggur ………………….. 62
30 Gejala toksisitas boron pada daun tomat ……………………. 63
31 Gejala defisiensi molibdenum ………………………………….. 64
32 Daun yang mengalami keracunan klor ………………………… 65
33 Tahapan proses analisis tanah ………………………………….. . 67
34 Tahapan proses analisis jaringan tanaman ……………………. 68
35 Perbandingan volumetrik dari komposisi tanah ……………. 71
36 Penampang melintang tanah …………………………………….. 72
37 Tipe agregat tanah ………………………………….. …………… 73
D4
38 Ilustrasi skematik dari pertukaran
kation antara permukaan negatif
dari partikel liat dan larutan tanah ……………………………… 77
39 Konversi ammoniak ke beberapa
bentuk pupuk nitrogen ……………………………………………..
91
40 Tahapan pembentukan amonium dari asam nitrit ………… 94
41 Manajemen pengairan merubah
distribusi garam tanah…………………………………………………
123
41 Penggunaan drainase untuk mengelola
ketersediaan air ………………………………………………………..
146
43 Pengaturan pengairan sesuai dengan
kebutuhan tanaman ……………………………………………….
147
44 Sketsa lahan pertanaman dengan saluran irigasi
dan saluran drainase searah ………………………………………. 150
45 Sketsa lahan pertanaman dengan penurunan
pangkal dan topografi dengan
saluran drainase sejajar …………………………………………….. 151
46 Tata letak pipa saluran ……………………………………………… 152
47 Sketsa pembuangan drainase …………………………………….. 153
48 Pertumbuhan akar padi ……………………………………………. 158
49 Pertumbuhan daun padi …………………………………………… 159
50 Bagian daun tanaman padi ……………………………………….. 160
51 Malai padi ………………………………………………. 161
52 Bunga padi ………………………………………………. 161
53 Proses perkecambahan padi ……………………………………… 165
54 Padi dewasa ………………………………………………. 166
55 Pertumbuhan varietas IR 64 di lahan sawah ……………. 166
56 Akar jagung ………………………………………………. 183
57 Batang jagung ………………………………………………. 184
58 Daun jagung ………………………………………………. 184
59 Bunga jantan jagung ………………………………………………. 185
60 Bunga betina jagung ………………………………………………. 185
61 Buah jagung siap panen …………………………………………… 185
62 Urutan penanaman jagung ………………………………………… 186
63 Beberapa gejala kerusakan
dari batang jagung ………………………………………………….
190
64 Beberapa gejala kerusakan
pada akar jagung ………………………………………………. …..
191
65 Beberapa kerusakan pada tongkol jagung 192
66 Pohon industri jagung ………………………………………………. 196
67 Daun kedelai …………………………………………………………… 198
68 Setelah penanaman padi dapat dilakukan 200
D5
penanaman kedele ……………………………………………….
69 Areal pertanaman kedele ………………………………………….. 200
70 Hubungan antara hortikultura dengan ilmu lainnya 205
71 Piramida makanan ………………………………………………. 207
72 Bentuk rumah kaca ………………………………………………. 207
73 Rumah plastik …………………………………………….. 208
74 Pelindung bibit dari suhu rendah 209
75 Rumah kasa ………………………………………………. 209
76 Teknik penanaman benih langsung di lapangan 212
77 Bak kecambah yang dalam satu tempat banyak tanaman 213
78 Tipe bak kecambah satu lubang satu tanaman 213
79 Pot pembibitan ……………………………………………………. 213
80 Bak persemaian yang telah diisi dengan tanah 213
81 Persemaian pada bak kecambah untuk benih yang
berukuran besar ……………………………………………………. 214
82 Persemaian pada bak kecambah untuk benih berukuran
kecil ……………………………………………………………………. 214
83 Tanaman yang siap dilakukan pindah tanam ……………… 214
84 Teknik pindah tanam dari bibit yang
ditanam pada bak kecambah ……………………………………… 214
85 Teknik mencabut bibit dari pot ………………………………….. 215
86 Perbanyakan dengan rhizome ……………………………………. 216
87 Perbanyakan dengan umbi batang …………………………….. 217
88 Perbanyakan dengan geragih ……………………………………. 217
89 Perbanyakan dengan tunas ……………………………………….. 217
90 Teknik mencangkon tanaman ……………………………………. 218
91 Perbanyakan dengan setek batang
………………………………………………………………………
218
92 Beberapa jenis perbanyakan
dengan setek daun ……………………………………………….
219
93 Perbanyakan tanaman
dengan teknik menempel ………………………………………….
219
94 Teknik sambung pucuk …………………………………………….. 220
95 Teknik perbanyakan tanaman
dengan runduk …………………………………………………………
220
96 Sayuran yang dikeringkan ……………………………………….. 228
97 Tanaman cabe …………………………………………………….. 253
98 Penanaman cabe pada lahan terbuka
dengan mulsa plastik ………………………………………………. 257
99 Buah cabe paprika …………………………………………………. 262
100 Bawang merah yang sudah dikering 264
D6
siap untuk dijual ……………………………………………………
101 Seledri daunyang ditanam dalam pot ………………………. 285
102 Penampang tangkai daun dari seledri tangkai …………….. 286
103 Aneka jenis buah rambutan berdasarkan
besar kecilnya biji …………………………………………………..
298
104 Rambutan mengkal (belum masak sempurna) 308
105 Rambutan masak …………………………………………………… 308
106 Kebun jeruk berastagi ………………………………………………. 311
107 Buah jeruk yang masih pentil ……………………………………. 319
108 Buah jeruk yang masih hijau …………………………………….. 320
109 Buah jeruk yang siap panen …………………………………….. 320
110 Mangga duren ……………………………………………………. 322
111 Mangga arumanis …………………………………………………… 323
112 Pepaya cibinong ……………………………………………………. 327
113 Pepaya bangkok …………………………………………………… 328
114 Pepaya hawai ……………………………………………………….. 329
115 Pepaya jingga ………………………………………………. …….. 329
116 Pepaya emas ………………………………………………………….. 330
117 Pisang ambon lumut ………………………………………………. 333
118 Pisang kapok kuning ………………………………………………. 333
119 Pisang ambon kuning ………………………………………………. 334
120 Pisang nangka ……………………………………………………….. 325
121 Pisang raja bulu ……………………………………………………. 335
122 Tanaman yang diletakkan pada pot gantung………………… 346
123 Tanaman hias yang diletakkan dalam ruangan 346
124 Penggabungan golongan tanaman
berkayu dalam satu lanskap …………………………………….. 347
125 Mawar kampung ………………………………… ………………….. 401
126 Bunga matahari ……………………………………………………….. 405
127 Salah satu jenis anthurium ………………………………………… 407
128 Adenium ………………………………………………………………. 409
129 Salah satu jenis begonia …………………………………………… 411
130 Tanaman yang dibonsai …………………………………………. 413
131 Aneka bentuk pot bonsai ………………………………………… 414
132 Beberapa bentu pot 99) gajah (b) naga ……………………… 415
133 Batu penghias bonsai ……………………………………………. 415
134 Bonsai bentuk tegak lurus beraturan ………………………….. 416
135 Bonsai tegak lurus tidak beraturan ……………………………. 417
136 Bentuk bonsai tersapu angin ………………………………… 418
137 Bonsai anak air terjun ………………………………………… 418
138 Bonsai berkelompok ………………………………… 419
139 Beberapa alat bantu yang digunakan 420
D7
dalam bertanam bonsai ……………………………………………
140 Tahapan pembuangan akar ………………………………… ….. 421
141 Pengkawatan pada proses pembentukan bonsai ………….. 421
142 Beberapa teknik pemangkasanan …………………………….
pada pembentukan bonsai …………………………………
422
143 Pengikatan pada pangkal batang
sehingga batang membengkak …………………………………
422
144 Pembentukan cabang bonsai ………………………………… 423
145 Lapangan rumput pada halaman rumah 427
146 Bibit rumput gajah ………………………………… 428
147 Stolon rumput ………………………………… 428
148 Bagian-bagian rumput ………………………………… 428
149 Rumput gajah ………………………………… 429
150 Padang Golf ………………………………… 430
151 Bibit rumput dalam bentuk rumpun
(a) penanaman rumpun rumput di lapangan (b) …………… 432
152 Bibit rumput dalam bentuk sod/lempengan ……………….. 433
153 Cara penanaman bibit di lapangan …………………………….. 433
154 Beberapa jenis alat pemutung rumput 434
155 Dua jenis rumput yaitu …………………………………
rumput golf (kiri) gajah (kanan) 437
156 Pertanaman tembakau ………………………………… 438
157 Batang tembakau
…………………………………………………….
439
158 Biji tembakau ……………………………………………………. 440
159 Bunga tembakau …………………………………………………….. 441
160 Penyemaian benih tembakau …………………………………….. 443
161 Cara mencanut bibit tembakau …………………………………… 443
162 Proses pengeringan daun tembakau 447
163 Buah kakao ……………………………………………….. 452
164 Buah kelapa sawit ……………………………………………………. 470
165 Perkebunan kelapa sawit ………………………………………….. 470
166 Kelapa sawit di pembibitan awal (atas)
dan di pembibitan utama …………………………………………. 475
167 Pohon teh ………………………………………………………….. 481
168 Kebun entres ………………………………………………………….. 491
169 Cara mengokulasi karet ……………………………………………. 492
170 Bakal batang bawah …………………………………………………. 492
171 Pemotongan batang bawah ……………………………………….. 493
172 Batang bawah siap dilakukan okulasi ………………………… 493
173 Pekerjaan mengokulasi ……………………………………………. 493
174 Batang bawah dengan tunas hasil okulasi ………………….. 493
D8
175 Bibit karet siap di tanam ………………………………………….. 494
176 Pengangkutan bibit karet dengan truk atau jender ………. 494
177 Mesin traktor pengolahan lahan …………………………………. 495
178 Pembuatan ajir pada lahan datar ………………………………. 495
179 Pembuatan ajir pada lahan bergelombang 496
180 Mesin pembuat lubang tanam ……………………………………. 496
181 Bentuk lubang tanam ……………………………………. 496
182 Mal untuk mengukur kedalaman lubang tanam …………… 496
183 Penimbunan lubang tanam setelah
pindah tanam dengan mempergunakan
tenaga manusia ……………………………………………………….. 497
184 Perkecambahan benih karet sebagai
sumber batang bawah ……………………………………………… 498
185 Kacangan yang sudah tumbuh 498
186 Kacangan yang siap di tanam ke lapangan …………………. 498
187 Penanaman kacangan diantara barisan karet ……………….. 499
188 Proses pencampuran pupuk ………………………………….. 500
189 Pemberian pupuk pada tanam
belum menghasilkan ……………………………………………….. 501
190 Penyiangan gulma pada kawasan
tanaman penutup tanah …………………………………………. 501
191 Bidang sadap karet ……………………………………………….. 503
192 Tanaman karet belum menghasilkan ………………………… 504
193 Penimbangan lateks ………………………………………………. 507
194 Komponen penyususn dalam kultur air ………………………. 510
195 Salah satu stoples sebagai wadah hidroponik ……………….. 510
196 Menanam tumbuhan dalam air dengan
menggunakan gabus dan kapas
sebagai penyangga ………………………………………………….. 511
197 Beberapa hidroponik substrat ……………………………………. 515
198 Hara pada bak dialirkan dengan bantuan
pompa masuk ke paralon berbentuk O.
Dari paralon tersebut nutrient dialirkan
ke talang penanaman dan melalui selang
inlet akan mengalir dalam talang yang
dibuat miring akan masuk kembali
ke dalam paralon melalui
selang outlet menuju
tangki penampungan ……………………………………………….. 516
199 Sayuran ditanam dengan aeroponik ……………………………. 516
200 Pot piva PVC yang disususn vertikal
D9
menyerupai rak ………………………………………………………. 520
201 Beberapa peralatan dan cara
pembuatan lubang tanam
pada kolom vertikal bambu ……………………………………… 520
202 Teknik pembuatan lubang
tanam pada wadah tanam ……………………………………….. 520
203 Wadah yang telah siap diisi media
tanam dan ditanami ………………………………………………… 520
204 Beberapa model susunan kolum horizontal ………………… 520
205 Kolom horizontal bambu yang telah
siap disusun dan siap untu ditanami …………………………… 521
206 Sawi yang dibudidayakan
dalam kolom vertikal paralon …………………………………… 521
207 Slada yang dibudidayakan dalam
kolom vertikal paralon ………………………………………….. 521
208 Sawi sendok yang dibudidayakan
secara vertikal ……………………………………………………… 521
209 Salah satu contoh hidroponik
dengan menggunakan
metode arus kontinyu …………………………………………… 522
210 Hidroponik dengan menggunakan pasir ……………………. 523
211 Tanaman tomat yang ditanam pada jerami kering ………. 524
212 Penampang melintang akar
yang tidak bermikroriza ……………………………………………. 548
213 Penampang melintang akar bermikoriza …………………….. 548
214 Perbedaan pertumbuhan akar
kedelai bermikroriza dengan tidak ……………………………. 549

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s