TEKNIK BUDIDAYA BAWANG MERAH YANG BENAR


BUDIDAYA BAWANG MERAH

KONSULTASI LANGSUNG TLP

BP.RUWADI 085228510973

BP.setiawan085328153572

TEKNIK BUDIDAYA BAWANG MERAH YANG BENAR

TEKNIK BUDIDAYA BAWANG MERAH YANG BENAR

Bawang merah (Allium cepa) merupakan salah
satu komoditas hortikultura yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Agar sukses budidaya bawang
merah kita dihadapkan dengan berbagai masalah (resiko) di lapangan. Diantaranya cara budidaya,
serangan hama dan penyakit, kekurangan unsur mikro, dll yang menyebabkan produksi menurun.
Memperhatikan hal tersebut, PT. NATURAL NUSANTARA berupaya membantu penyelesaian
permasalahan tersebut. Salah satunya dengan peningkatan produksi bawang merah secara
kuantitas, kualitas dan kelestarian ( K – 3 ), sehingga petani dapat berkarya dan berkompetisi di era
perdagangan bebas.
A. PRA TANAM
1. Syarat Tumbuh
Bawang merah dapat tumbuh pada tanah sawah atau tegalan, tekstur sedang sampai liat. Jenis
tanah Alluvial, Glei Humus atau Latosol, pH 5.6 – 6.5, ketinggian 0-400 mdpl, kelembaban 50-70 %,
suhu 25-320 C

TEKNIK BUDIDAYA BAWANG MERAH YANG BENAR

TEKNIK BUDIDAYA BAWANG MERAH YANG BENAR

  1. Pengolahan Tanah
    Pupuk kandang disebarkan di lahan dengan dosis 0,5-1 ton/ 1000 m2
    Diluku kemudian digaru (biarkan + 1 minggu)
    Dibuat bedengan dengan lebar 120 -180 cm
    Diantara bedengan pertanaman dibuat saluran air (canal) dengan lebar 40-50 cm dan kedalaman 50
    cm.
    Apabila pH tanah kurang dari 5,6 diberi Dolomit dosis + 1,5 ton/ha disebarkan di atas bedengan dan
    diaduk rata dengan tanah lalu biarkan 2 minggu.
    Untuk mencegah serangan penyakit layu taburkan GLIO 100 gr (1 bungkus GLIO) dicampur 25-50 kg
    pupuk kandang matang, diamkan 1 minggu lalu taburkan merata di atas bedengan. ‘
  2. Pupuk Dasar
    Berikan pupuk : 2-4 kg Urea + 7-15 kg ZA + 15-25 kg SP-36 secara merata diatas bedengan dan
    diaduk rata dengan tanah.
    Atau jika dipergunakan Pupuk Majemuk NPK (15-15-15) dosis ± 20 kg/ 1000 m2 dicampur rata
    dengan tanah di bedengan.
    Siramkan pupuk SUPER NASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan
    dosis ± 10 botol/1000 m2 dengan cara :

- alternatif 1 : 1 botol Super Nasa diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian
setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
– alternatif 2 : setiap 1 gembor volume 10 lt diberi 1 sendok peres makan Super Nasa untuk menyiram
5-10 meter bedengan.
Biarkan selama 5 – 7 hari
4. Pemilihan Bibit
– Ukuran umbi bibit yang optimal adalah 3-4 gram/umbi.
– Umbi bibit yang baik yang telah disimpan 2-3 bulan dan umbi masih dalam ikatan (umbi masih ada
daunnya)
– Umbi bibit harus sehat, ditandai dengan bentuk umbi yang kompak (tidak keropos), kulit umbi tidak
luka (tidak terkelupas atau berkilau)
B. FASE TANAM
1. Jarak Tanam
Pada Musim Kemarau, 15 x 15 cm, varietas Ilocos, Tadayung atau Bangkok
Pada Musim Hujan 20 x 15 cm varietas Tiron
2. Cara Tanam
Umbi bibit direndam dulu dalam larutan NASA + air ( dosis 1 tutup/lt air )
Taburkan GLIO secara merata pada umbi bibit yg telah direndam NASA
Simpan selama 2 hari sebelum tanam
Pada saat tanam, seluruh bagian umbi bibit yang telah siap tanam dibenamkan ke dalam permukaan
tanah. Untuk tiap lubang ditanam satu buah umbi bibit.
C. AWAL PERTUMBUHAN ( 0 – 10 HST )
1. Pengamatan Hama
Waspadai hama Ulat Bawang ( Spodoptera exigua atau S. litura), telur diletakkan pada pangkal dan
ujung daun bawang merah secara berkelompok, maksimal 80 butir. Telur dilapisi benang-benang
putih seperti kapas.
Kelompok telur yang ditemukan pada rumpun tanaman hendaknya diambil dan dimusnahkan.
Populasi diatas ambang ekonomi kendalikan dengan VIREXI atau VITURA . Biasanya pada bawang
lebih sering terserang ulat grayak jenis Spodoptera exigua dengan ciri terdapat garis hitam di perut
/kalung hitam di leher, dikendalikan dengan VIREXI.
Ulat tanah . Ulat ini berwarna coklat-hitam. Pada bagian pucuk /titik tumbuhnya dan tangkai kelihatan
rebah karena dipotong pangkalnya. Kumpulan ulat pada senja/malam hari. Jaga kebersihan dari sisasisa
tanaman atau rerumputan yang jadi sarangnya. Semprot dengan PESTONA.
Penyakit yang harus diwaspadai pada awal pertumbuhan adalah penyakit layu Fusarium. Gejala
serangan penyakit ini ditandai dengan menguningnya daun bawang, selanjutnya tanaman layu
dengan cepat (Jawa : ngoler). Tanaman yang terserang dicabut lalu dibuang atau dibakar di tempat
yang jauh. Preventif kendalikan dengan GLIO.
2. Penyiangan dan Pembumbunan
Penyiangan pertama dilakukan umur 7-10 HST dan dilakukan secara mekanik untuk membuang
gulma atau tumbuhan liar yang kemungkinan dijadikan inang hama ulat bawang. Pada saat
penyiangan dilakukan pengambilan telur ulat bawang
Dilakukan pendangiran, yaitu tanah di sekitar tanaman didangir dan dibumbun agar perakaran
bawang merah selalu tertutup tanah. Selain itu bedengan yang rusak atau longsor perlu dirapikan
kembali dengan cara memperkuat tepi-tepi selokan dengan lumpur dari dasar saluran (di Brebes
disebut melem).

 

TEKNIK BUDIDAYA BAWANG MERAH YANG BENAR

TEKNIK BUDIDAYA BAWANG MERAH YANG BENAR

  1. Pemupukan pemeliharaan/susulan
    Dosis pemupukan bervariasi tergantung jenis dan kondisi tanah setempat. Jika kelebihan Urea/ZA
    dapat mengakibatkan leher umbi tebal dan umbinya kecil-kecil, tapi jika kurang, pertumbuhan
    tanaman terhambat dan daunnya menguning pucat. Kekurangan KCl juga dapat menyebabkan ujung
    daun mengering dan umbinya kecil.
    Pemupukan dilakukan 2 kali
    ( dosis per 1000 m2 ) :

- 2 minggu : 5-9 kg Urea+10-20 kg ZA+10-14 kg KCl
– 4 minggu : 3-7 kg Urea+ 7-15 kg ZA+12-17 kg KCl
Campur secara merata ketiga jenis pupuk tersebut dan aplikasikan di sekitar rumpun atau garitan
tanaman. Pada saat pemberian jangan sampai terkena tanaman supaya daun tidak terbakar dan
terganggu pertumbuhannya.
Atau jika dipergunakan Pupuk Majemuk NPK (15-15-15) dosis ± 20 kg/ 1000 m2 diberikan pada umur
± 2 minggu.
4. Pengairan
Pada awal pertumbuhan dilakukan penyiraman dua kali, yaitu pagi dan sore hari. Penyiraman pagi
hari usahakan sepagi mungkin di saat daun bawang masih kelihatan basah untuk mengurangi
serangan penyakit. Penyiraman sore hari dihentikan jika persentase tanaman tumbuh telah mencapai
lebih 90 %
Air salinitas tinggi kurang baik bagi pertumbuhan bawang merah
Tinggi permukaan air pada saluran ( canal ) dipertahankan setinggi 20 cm dari permukaan bedengan
pertanaman
D. FASE VEGETATIF ( 11- 35 HST )
1. Pengamatan Hama dan Penyakit
Hama Ulat bawang, S. litura dan S. exigua
Thrips, mulai menyerang umur 30 HST karena kelembaban di sekitar tanaman relatif tinggi dengan
suhu rata-rata diatas normal. Daun bawang yang terserang warnanya putih berkilat seperti perak
Serangan berat terjadi pada suhu udara diatas normal dengan kelembaban diatas 70%. Jika
ditemukan serangan, penyiraman dilakukan pada siang hari, amati predator kumbang macan.
Populasi diatas ambang ekonomi kendalikan dengan BVR atau PESTONA.
Penyakit Bercak Ungu atau Trotol, disebabkan oleh jamur Alternaria porii melalui umbi atau percikan
air dari tanah. Gejala serangan ditandai terdapatnya bintik lingkaran konsentris berwarna ungu atau
putih-kelabu di daun dan di tepi daun kuning serta mongering ujung-ujungnya. Serangan pada umbi
sehabis panen mengakibatkan umbi busuk sampai berair dengan warna kuning hingga merah
kecoklatan. Jika ada hujan rintik-rintik segera dilakukan penyiraman. Preventif dengan penebaran
GLIO.
Penyakit Antraknose atau Otomotis, disebabkan oleh jamur Colletotricum gloesporiodes. Gejala
serangan adalah ditandai terbentuknya bercak putih pada daun, selanjutnya terbentuk lekukan yang
akan menyebabkan patahnya daun secara serentak (istilah Brebes: otomatis). Jika ada gejala,
tanaman terserang segera dicabut dibakar dan dimusnahkan. Untuk jamur yang ada didalam tanah
kendalikan dengan GLIO
Penyakit oleh virus.
– Gejalanya pertumbuhan kerdil, daun menguning, melengkung ke segala arah dan terkulai serta
anakannya sedikit. Usahakan memakai bibit bebas virus dan pergiliran tanaman selain golongan
bawang-bawangan.
Busuk umbi oleh bakteri.
– Umbi yang terserang jadi busuk dan berbau. Biasa menyerang setelah dipanen. Usahakan tempat
yang kering.
– Busuk umbi/ leher batang oleh jamur.
– Bagian yang terserang jadi lunak, melekuk dan berwarna kelabu. Jaga agar tanah tidak terlalu
becek (atur drainase).
– Untuk pencegahan hama-penyakit usahakan pergiliran tanaman dengan jenis tanaman lain (bukan
golongan Bawang-bawangan. PESTISIDA Kimia digunakan sebagai alternatif terakhir untuk
mengatasi serangan hama-penyakit.
2. Pengelolaan Tanaman
– Penyiangan kedua dilakukan pada umur
30-35 HST dilanjutkan pendagiran, pembumbunan dan perbaikan bedengan yang rusak.
– Penyemprotan POC NASA dengan dosis 4-5 tutup/tangki tiap 7-10 hari sekali mulai 7 hari setelah
tanam hingga hari ke 50-55. Mulai hari ke 35 penyemprotan ditambah HORMONIK dengan dosis 1-2
tutup/ tangki (dicampurkan dengan NASA).
– Pengairan, penyiraman 1x per hari pada pagi hari, jika ada serangan Thrips dan ada hujan rintikrintik
penyiraman dilakukan siang hari.
E. PEMBENTUKAN UMBI ( 36 – 50HST )
Pada fase pengamatan HPT sama seperti fase Vegetatif, yang perlu diperhatikan adalah
pengairannya. Butuh air yang banyak pada musim kemarau sehingga perlu dilakukan penyiraman
sehari dua kali yaitu pagi dan sore hari.
F. PEMATANGAN UMBI ( 51- 65 HST )
Pada fase ini tidak begitu banyak air sehingga penyiraman hanya dilakukan sehari sekali yaitu pada
sore hari.
G. PANEN DAN PACA PANEN
1. Panen

60-90 % daun telah rebah, dataran rendah pemanenan pada umur 55-70 hari, dataran tinggi umur
70 – 90 hari.
Panen dilakukan pada pagi hari yang cerah dan tanah tidak becek
Pemanenan dengan pencabutan batang dan daun-daunnya. Selanjutnya 5-10 rumpun diikat

TEKNIK BUDIDAYA BAWANG MERAH YANG BENAR

TEKNIK BUDIDAYA BAWANG MERAH YANG BENAR

menjadi satu ikatan (Jawa : dipocong)
2. Pasca Panen
– Penjemuran dengan alas anyaman bambu (Jawa : gedeg). Penjemuran pertama selama 5-7 hari
dengan bagian daun menghadap ke atas, tujuannya mengeringkan daun. Penjemuran kedua
selama2-3 hari dengan umbi menghadap ke atas, tujuannya untuk mengeringkan bagian umbi dan
sekaligus dilakukan pembersihan umbi dari sisa kotoran atau kulit terkelupas dan tanah yang terbawa
dari lapangan. Kadar air 89 85 % baru disimpan di gudang.
– Penyimpanan, ikatan bawang merah digantungkan pada rak-rak bambu. Aerasi diatur dengan baik,
suhu gudang 26-290C kelembaban 70-80%, sanitasi gudang.
Budidaya Bawang Merah
Secara Organik
PD
F
| Print
|
Ema
il
Top of Form
User Rating: / 15
Poor Best
Rate
Bottom of Form
Written by prakarsa team
Tertarik pada pertanian karena kami sekeluarga hidup di lingkungan
masyarakat petani dan peternak sapi perah. Kegiatan dalam masyarakat
sebagai anggota klub sepak bola dan sekretaris kelompok tani Subur
Makmur.
Petani di daerah Batu sejak tahun 50-an telah menggunakan pupuk kimia
dan pestisida kimia seperti DDT. Tahun 1980 mereka sudah mulai
merasakan bahwa hasil produksi pertaniannya semakin merosot.
Penggunaan pupuk dan pestisida meningkat jumlahnya seiring dengan
mahalnya harga pupuk dan pestisida kimia. Dengan kemampuan yang paspasan
saya berupaya dan mencari terobosan agar petani tetap mendapat
keuntungan. Disinilah saya bergabung dengan petani lestari HPS Batu.
Di dalam tanah terdapat mahlk kecil yang dinamakan mikro organisme yang
menghancurkan sisa-sisa mahluk hidup dari hewan atau tumbuhan. Hasil
penghancuran itu menjadi makanan bagi tumbuh-tumbuhan dan selanjutnya
membentuk rantai makanan yang tidak pernah berhenti (daur ulang alami).
Setelah manusia menemukan pupuk kimia untuk menyuburkan tanaman dan
DDT untuk melindungi dari serangan hama, berkembanglah pemakaian
pestisida untuk memberantas hama dan penyakit tanaman. Penggunaan
pupuk kimia yang terus menerus menyebabkan penurunan jumlah bahan
organik tanah, PH tanah menurun, tanah menjadi kecut (masam), ditambah
pemakaian pestisida yang berakibat matinya mikro organisme di dalam
tanah, sehingga tanah menjadi mati/bantat.
Dengan terjadinya krisis, pupuk menjadi mahal bahkan ada yang naik 3 kali
llipat sehingga petani tidak mampu membelinya. Biaya untuk bertanam
menjadi semakin tinggi sedangkan hasilnya makin berkurang. Kerugian
selalu terjadi sehingga membuat kami harus mementukan pilihan jalan
keluar.
Menanam Bawang Merah Secara Organik
1. Tanah dicangkul agak dalam dan rumputnya diambil (kebruk kalet: bahasa
petani Batu), selanjutnya digulut dengan lebar 80 cm.
2. Guludan ditaburi pupuk kandang
3. Pupuk kandang ditutup dengan tanah dan permukaan guludan dibuat rata.
Pada musim penghujan permukaan guludan dibuat agak lebih tinggi agar
tidak terendam air hujan. Tinggi guludan pada musim kemarau 30 cm dan
musim hujan 40 cm.
4. Bibit yang sudah siap kemudian ditanam pada guludan (diponjo) dengan
jarak 20 cm, kemudian ditutup menggunakan daun pahit-pahitan (daun yang
rasanya pahit).
5. Tahap selanjutnya adalah penyiangan, menggemburkan tanah dan menguruk
tanaman tipis-tipis sesuai dengan pertumbuhan tanaman.
6. Pemberantasan hama dan penyakit menggunakan rendaman daun pahitan
dan bawang putih.
7. Setelah cukup umur tanaman dicabut, diikat dan selanjutnya disiger.
Hasil yang Diperoleh
1. Penanaman pada waktu musim kemarau (dengan disiram), dengan bibit
sebanyak 15 kg menghasilkan panen sebanyak 60 kg.
2. Penanaman pada musim hujan, dengan bibit sebanyak 50 kg menghasilkan
panen sebanyak 200 kg.
Kendala dan Manfaat
Selama proses penanaman berlangsung selalu dibayangi keraguan karena
seolah-olah menentang arus, meskipun dengan sistem pertanian organik
berarti mengikuti hukum alam.
Paguyuban belum mampu memasarkan hasil panen sehingga terpaksa saya
menjualnya seharga produk konvensional.
Kesimpulan
Bertani dengan sistem organik harus titen dan telaten sehingga pasti panen.
Dengan sistem pertanian organik biaya yang dikeluarkan rendah,
pengerjaan tanah mudah karena gembur. Sudah waktunya petani beralih
sistem, meninggalkan sistem konvensional yang merugi dan merusak
lingkungan, dengan sistem pertanian organik yang lestari.
PENULIS: RUDY GUNAWAN, DRESEL, ORO-ORO OMBO, BATU, MALANG
BUDIDAYA BAWANG MERAH ASAL BIJI
May 13, 2008
Sampai saat ini petani bawang merah di Daerah Istimewa Yogyakarta selalu menggunakan
umbi bibit sebagai bahan tanaman. Bibit yang berasal dari umbi, daya hasilnya relatif tidak
berubah dengan bergantinya waktu. Peningkatan daya hasil hanya bisa dilakukan melalui
perbaikan kultur teknis, dan suatu ketika produksi bawang merah akan mengalami
penurunan.
Untuk meningkatkan produktivitas bawang merah selain perbaikan kultur teknis, petani perlu
dikenalkan varietas unggul “TUK-TUK” yang dapat ditanam melalui biji. Ciri-ciri bawang
merah ini antara lain bentuk umbi bulat, ukuran seperti bawang merah lokal Philipina, warna
umbi merah muda sampai kecoklatan.
Bawang ini dapat ditanam di dataran rendah maupun dataran tinggi, dengan suhu optimal
25 – 32 derajat celcius, tanah yang cocok adalah tanah yang aerasinya baik, subur, gembur,
mempunyai bahan organik tinggi, sedang pH tanah berkisar 5,5-6,5. Adapun cara bercocok
tanamnya sebagai berikut :
CARA BERCOCOK TANAM
Persemaian
Benih atau biji sebaiknya disemai pada lahan terbuka agar tumbuh dengan baik, caranya:
1. Buat bedengan dengan lebar 1m, tinggi 40cm-50cm, dan panjang menyesuaikan lahan
yang tersedia.
2. Usahakan jarak antar bedengan 40-50 cm.
3. Campur tanah bedengan dengan pupuk kandang 2 Kg/m2 dan kapur pertanian sebanyak
150-200g/m2,
4. Ratakan kembali bedengan tersebut,
5. Taburi bedengan dengan sekam padi setebal 9-10 cm.
6. Bakar sekam padi selanjutnya dibiarkan selama 1 hari.
7. Ratakan bedengan, beri pupuk dasar KCI:50g/m2; SP-36:50g/m2 dan bahan aktif
karbofuran 5g/m2,
8. Buat alur melintang dengan jarak antara alur 5-10cm dan kedalaman 1 cm.
9. Taburkan biji bawang merah pada alur tersebut sebanyak 150-200 biji/alur, kemudian
tutup alur dengan tanah.
10. Lakukan penyiraman secara rutin dan hati-hati untuk menjaga kelembaban;
11. Kecambah akan muncul 5-10 HSS (Hari Setelah Semai);
12. Bila musim hujan sebaiknya bedengan ditutp dengan sungkup plastik selama 3-4
minggu.
Penanaman
1. Buat bedengan yang sama baik ukuran maupun perlakuannya seperti bedengan
pesemaian, kemudian diari sampai basah.
2. Buat lubang tanam dengan jarak dalam barisan 5cm-10cm dan jarak antar barisan 10cm;
3. Usahakan baris tanaman dibuat memotong bedengan untuk memudahkan penyiangan;
4. Tanam bibit yang telah berumur 6 minggu setelah semai dengan memasukkan bibit
kedalam lubang tanam satu lubang satu bibit;
5. Tekan tanah disekitarnya dengan lembut supaya akarnya menyatu dengan tanah.

12 responses to “TEKNIK BUDIDAYA BAWANG MERAH YANG BENAR

  1. saya pernah melihat bawang merah yang ukurannya agak besar dari bawang merah biasa, apakah itu varietas unggul? atau jenis dari luar? apakah sudah ada budidayanya di indonesia? makasih

  2. saya mulai suka pada bidang pertanian, jika kita menggarap nya dengan teknik teknik yang benar, mngkin hasilnya akan optimal, namun saya tidak tahu spekulasi jika ada permainan harga saat panen,,, ck,,ck,,,ck.,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s