BUDIDAYA KACANG HIJAU


TEKNOLOGI BUDIDAYA KACANG HIJAU (Vigna radiata L.)

acang hijau (Vigna radiata L.)
merupakan salah satu komoditas
tanaman kacang-kacangan yang banyak
dimakan rakyat Indonesia, seperti: bubur
kacang hijau dan isi onde-onde, dan lain-lain.
Kecambahnya dikenal sebagai tauge.
Tanaman ini mengandung zat-zat gizi, antara
lain: amylum, protein, besi, belerang,
kalsium, minyak lemak, mangan,
magnesium, niasin, vitamin (B1, A, dan E).
Manfaat lain dari tanaman ini adalah dapat
melancarkan buang air besar dan menambah
semangat hidup. Selain itu juga dapat
digunakan untuk pengobatan hepatitis,
terkilir, beri-beri, demam nifas, kepala
pusing/vertigo, memulihkan kesehatan,
kencing kurang lancar, kurang darah, jantung
mengipas, dan kepala pusing (Achyad dan
Rasyidah, 2006).
Meskipun tanaman kacang hijau
memiliki banyak manfaat, namun tanaman
ini masih kurang mendapatkan perhatian
petani untuk dibudidayakan. Di Sumatera
Barat, luas tanam kacang hijau menduduki
posisi terakhir dibanding tanaman pangan
lainnya, seperti: padi, jagung, kacang tanah,
ubi kayu, ubi jalar, dan kedelai (Tabel 1).
Pada hal, tanaman kacang hijau memiliki
potensi yang tinggi untuk dikembangkan.
Dibanding dengan tanaman kacang-kacangan
lainnya, kacang hijau memiliki kelebihan
ditinjau dari segi agronomi dan ekonomis,
seperti: (a) lebih tahan kekeringan; (b)
serangan hama dan penyakit lebih sedikit; (c)
dapat dipanen pada umur 55-60 hari; (d)
dapat ditanam pada tanah yang kurang subur;
dan (e) cara budidayanya mudah (Sunantara,
2000).
Tabel 1. Keragaman tanaman pangan, luas
tanam dan produktivitas tanaman
pangan utama di Sumatera Barat,
2005*
Komoditas
Luas
tanam
(ha)
Produk
tivitas
(t/ha)
Produksi
(t/th)
Padi 424.881 4,41 1.853.000
Jagung 45.064 3,40 148.329
Kedelai 2.997 1,29 3.754
Kacang
tanah
11.142 1,28 13.761
Kacang
hijau
1.947 1,10 2.109
Ubi kayu 8.429 14,00 114.456
Ubi jalar 4.706 11,58 52.897
*) Dipertahorti Sumbar, 2005 (perkiraan angka
sementara).
Ditinjau dari ketersediaan lahan,
sebenarnya Propinsi Sumatera Barat sangat
berpotensi untuk mengembangkan tanaman
K
Jurnal Ilmiah Tambua, Vol. VI, No.1, Januari-April 2007: 89-95 hlm. ISSN 1412-5838
90
kacang hijau di lahan sawah. Propinsi
Sumatera Barat memiliki lahan sawah tadah
hujan seluas 50.688 ha, lahan sawah irigasi
desa seluas 50.858 ha, dan lahan sawah
irigasi sederhana seluas 43.790 ha (Tabel 2).
Keseluruhan lahan ini sangat berpotensi
untuk pengembangan tanaman kacang hijau
setelah panen padi sawah. Biasanya, sebagian
besar lahan ini dibiarkan bera setelah panen
padi untuk waktu cukup lama (1-3 bulan).
Pemanfaatan lahan ini untuk budidaya
kacang hijau dapat meningkatkan indeks
pertanaman yang hanya 170% menjadi 200-
300% per tahun, dengan pola tanam padikacang
hijau-padi.
Tabel 2. Sebaran luas areal sawah (ha) menurut jenis irigasi pada setiap kabupaten/kota di
Sumatera Barat, 2003.
Kabupaten/Kota Teknis Semi
teknis
Sederhana Irigasi
desa
Tadah
hujan
Jumlah
Mentawai
Pesisir Selatan
Solok
Sawahlunto/Sijunjung
Tanah Datar
Padang Pariaman
Agam
50 Kota
Pasaman
Padang
Solok
Sawahlunto
Padang Panjang
Bukittinggi
Payakumbuh
Pariaman
-
520
7.240
4.240
-
4.803
1.620
499
9.703
4.173
-
-
-
-
956
-
-
8.327
9.145
1.592
3.395
4.265
13.226
4.728
11.356
218
575
35
-
181
885
1.339
-
4.465
6.017
2.902
8.101
4.649
4.656
6.616
2.743
543
393
379
695
173
806
652
12
6.339
9.618
2.746
5.919
4.748
5.145
2.848
11.338
1.588
-
157
-
45
293
74
2.729
7.847
1.844
7.444
5.767
4.989
3.128
9.159
7.755
291
286
1.395
-
54
120
609
2.741
27.709
33.864
18.924
23.182
23.454
27.775
23.850
42.895
6.813
1.254
1.966
695
453
3.060
2.674
Jumlah 33.754 59.267 43.790 50.858 50.688 238.357
Rata-rata hasil (t/ha) 4,5-5,0 4,0-4,5 3,5-4,5 3,0-3,5 2,5-3,5 4,40
Sumber: BPS (2004).
Permasalahan dalam pengelolaan
tanaman kacang hijau di tingkat petani antara
lain adalah masih rendahnya produktivitas
hasil. Di Propinsi Sumatera Barat, rata-rata
hasil hanya 1,1 t/ha (Dipertahorti Sumbar,
2005). Sementara itu, rata-rata hasil di
tingkat nasional sekitar 0,9 t/ha yang jauh
lebih rendah dari potensi hasilnya yang
mencapai 1,6 t/ha (Tim Prima Tani, 2006)
dan bahkan dapat mencapai 2 t/ha.
Rendahnya hasil kacang hijau di tingkat
petani antara lain disebabkan oleh praktek
budidaya yang kurang optimal (Balitkabi,
2005).
Untuk mendapatkan hasil kacang
hijau yang lebih tinggi masih memungkinkan
jika kendala dalam pertumbuhannya dapat
diatasi dengan teknologi budidaya yang
tepat. Oleh karena itu, dibuatlah tulisan ini
yang merupakan rangkuman hasil
penelitian/pengkajian dari berbagai aspek
yang diharapkan dapat menjadi pedoman
dalam budidaya kacang hijau khususnya di
lahan sawah.
TEKNOLOGI BUDIDAYA
a. Penggunaan Varietas Unggul
Menurut Balitkabi (2005), semua
varietas kacang hijau yang telah dilepas
cocok di tanam di lahan sawah. Namun,
untuk daerah endemik penyakit embun
tepung dan bercak daun (Cercospora)
dianjurkan menanam varietas Sriti, Kenari,
Atman: Teknologi Budidaya Kacang Hijau (Vigna radiata L.) di Lahan Sawah ISSN 1412-5838
91
Perkutut, Murai, dan Kutilang. Pada Tabel 3
disajikan keunggulan beberapa varietas
unggul yang telah dilepas. Diharapkan petani
mempunyai banyak pilihan dalam
menggunakan varietas kacang hijau yang
mereka sukai.
Tabel 3. Keunggulan beberapa varietas unggul kacang hijau.
Varietas Keunggulan
Sriti Tipe determinet; produktivitas rata-rata 1,58 t/ha; warna biji hijau kusam;
ukuran biji besar (6,0-6,5 g/100 biji); toleran penyakit embun tepung dan bercak
daun; umur panen 60-65 hari.
Murai Tipe determinet; produktivitas rata-rata 1,5 t/ha (rentang hasil 0,9-2,5 t/ha);
warna biji hijau kusam; ukuran biji besar (6 g/100 biji); tahan penyakit bercak
daun; umur panen 63 hari.
Perkutut Tipe determinet; produktivitas rata-rata 1,5 t/ha (rentang hasil 0,7-2,2 t/ha);
warna biji hijau mengkilat; ukuran biji sedang (5 g/100 biji); tahan penyakit
embun tepung dan agak tahan penyakit bercak daun; umur panen 60 hari.
Kutilang Tipe determinet; produktivitas rata-rata mencapai 2,0 t/ha; biji berwarna hijau
mengkilat; ukuran biji besar (6 g/100 biji); tahan penyakit embung tepung; umur
panen 60-67 hari.
Kenari Tipe tegak; determinet; produktivitas rata-rata 1,64 t/ha (rentang hasil 0,8-2,4
t/ha); warna biji hijau mengkilat; ukuran biji besar (6,7 g/100 biji); agak tahan
penyakit bercak daun dan toleran penyakit karat; umur panen 60-65 hari.
Sampeong Hasil pemurnian varietas lokal Samsik dari Nusa Tenggara; ukuran biji sangat
kecil (2,5-3,0 g/100 biji) sehingga sesuai untuk dibuat kecambah (tauge);
produktivitas rata-rata 1,0 t/ha; umur panen 70-75 hari.
Camar Berumur pendek (panen 60 hari); Produktivitas 1-2 t/ha; tahan penyakit busuk
daun dan bercak coklat; polong masak cukup seragam sehingga panen dapat
serempak; polong berada di atas daun canopi sehingga memudahkan penen
secara maksimal
Sumber: BPTP NTB (2002); Balitkabi (2005).
b. Penyiapan lahan
Kacang hijau dapat tumbuh pada
semua jenis tanah sepanjang kelembaban dan
tersedianya unsur hara yang cukup. Untuk itu
lahan yang akan dipergunakan harus
dipersiapkan sebaik-baiknya. Pada lahan
sawah setelah panen padi, tidak perlu
dilakukan pengolahan tanah (tanpa olah
tanah=TOT). Menurut Sunantara (2000) dan
Balitkabi (2005), jerami cukup dipotong
pendek atau rata dengan tanah. Sementara
itu, pada lahan sawah yang sudah agak lama
tidak ditanami perlu dilakukan pengolahan
tanah secara sempurna. Untuk menghindari
air tergenang pada musim hujan perlu dibuat
saluran drainase dengan lebar dan kedalaman
20-30 cm dan jarak antar saluran maksimum
4 m (Balitkabi, 2004).
c. Penanaman
Pada daerah endemis hama lalat bibit
dan untuk menghindari serangan semut maka
terlebih dahulu benih dicampur dengan
Marshal 25 ST (Carbosulfan) dengan takaran
10-15 g/kg benih atau Fipronil dengan
takaran 5 cc/kg benih. Penanaman dilakukan
dengan sistem tugal sebanyak 2-3 biji/lubang
dengan kedalaman 3-5 cm, kemudian ditutup
dengan abu dapur/jerami atau tanah halusl
atau pupuk kandang. Kebutuhan benih
berkisar 15-20 kg/ha. Jarak tanam bervariasi,
yaitu 40×10 cm (populasi 300.000-400.000
tanaman/ha) pada musim hujan atau 40×15
cm (populasi 400.000-500.000 tanaman/ha)
pada musim kemarau (Balitkabi, 2005;
Hilman, et al., 2004). Balitkabi (2004) juga
menyarankan jarak tanam mengikuti jarak
tunggul padi. Pada saat tanam, kelembaban
Jurnal Ilmiah Tambua, Vol. VI, No.1, Januari-April 2007: 89-95 hlm. ISSN 1412-5838
92
tanah tidak boleh terlalu tinggi karena dapat
menyebabkan biji busuk. Penyulaman dapat
dilakukan umur 7 hari (Tim Prima Tani,
2006).
Menurut Hilman, et al. (2004), pada
umumnya petani melakukan penanaman
benih kacang hijau sesudah padi dengan cara
sebar benih sebelum atau sesudah padi
dipanen. Sebar benih kacang hijau setelah
padi dipanen dilakukan dengan atau tanpa
pembabatan jerami, dan benih yang
diperlukan berkisar 50-75 kg/ha.
d. Pemupukan
Dalam bertanam kacang hijau, petani
jarang melakukan pemupukan. Cara ini juga
disarankan terutama pada lahan-lahan yang
subur. Sedangkan pada tanah kurang subur
diberikan pupuk sebanyak 45 kg Urea + 45-
90 kg SP36 + 50 kg KCl/ha (Hilman, et al.,
2004; Balitkabi, 2005). Sunantara (2000)
menyarankan pemberian pupuk sebanyak 50
kg Urea + 60 kg SP36 + 50 kg KCl/ha.
Pupuk diberikan pada saat tanam secara
larikan di sisi lubang tanam sepanjang
barisan tanaman. Bahan organik berupa
pupuk kandang sebanyak 15-20 t/ha atau abu
dapur/abu hasil pembakaran jerami sebanyak
5 t/ha sangat baik diaplikasikan untuk
menutup lubang tanam. Menurut Balitkabi
(2004), cara ini dapat meningkatkan hasil
kacang hijau mencapai 1,5 t/ha.
e. Penggunaan Mulsa Jerami
Penggunaan mulsa jerami yang
ditebar pada hamparan pertanaman kacang
hijau secara merata dapat mengurangi serangan
hama lalat bibit, menekan pertumbuhan
gulma, dan memperlambat proses penguapan
air tanah. Balitkabi (2005) dan Tim
Prima Tani (2006) menganjurkan penggunaan
jerami dengan takaran sebanyak 5 t/ha.
f. Penyiangan
Penyiangan dilakukan tergantung
dengan pertumbuhan gulma. Sunantara
(2000) menganjurkan umur 10-15 hari
setelah tanam (hst) dan 25-30 hst, dengan
cara dikored atau menggunakan cangkul.
Pada daerah yang langka tenaga kerja dapat
menggunakan herbisida pra tumbuh non
selektif seperti: Lasso, Paraquat, Dowpon,
dan Goal dengan takaran 1-2 l/ha yang
diaplikasikan 3-4 hari sebelum tanam.
g. Pengairan
Kacang hijau termasuk tanaman yang
toleran terhadap kekurangan air, yang
penting tanah cukup kelembabannya.
Namun, bila tanah pertanaman kacang hijau
kekeringan sebaiknya segera diairi terutama
pada periode kritis, yaitu: saat tanam, saat
berbunga (umur 25 hst), dan saat pengisian
polong (umur 45-50 hst) (Sunantara, 2000).
Untuk kacang hijau yang ditanam di tanah
bertekstur ringan (berpasir), umumnya
pengairan dilakukan dua kali yaitu umur 21
dan 38 hst, sedangkan pertanaman di tanah
bertekstur berat (lempung), biasanya
diperlukan pengairan hanya satu kali
(Balitkabi, 2005).
h. Pengendalian Hama
Serangan hama merupakan salah satu
faktor penyebab rendahnya hasil di tingkat
petani. Dilaporkan terdapat sebanyak 30 jenis
serangga yang telah diketahui merupakan
hama kacang hijau dan 20 jenis digolongkan
sebagai hama penting yang dapat
menurunkan kualitas tanaman kacang hijau.
Hama ini menyerang seluruh bagian tanaman
kacang hijau sejak tanaman tumbuh sampai
panen (Tengkano, 1986 cit LPTP, 2000).
Diantara hama penting kacang hijau tersebut
adalah: lalat bibit Ophyomia phaseoli, ulat
jengkal Plusia chalsites, kepik hijau Nezara
viridula, kepik coklat Riptortus linearis,
penggerek polong (Maruca testulalis dan
Etiella spp.) dan kutu thrips (Hilman, et al.,
2004). Menurut Nurdin (1994), di Sumatera
Barat hama utama yang menyerang tanaman
kacang hijau adalah: lalat bibit Ophyomia
phaseoli, Aphid sp, belalang, ulat grayak
Spodoptera litura, ulat penggulung daun
Lamprosema indicata, ulat jengkal Plusia
chalsites, kepik hijau Nezara viridula, kepik
coklat Riptortus linearis, dab penggerek
polong Maruca testulalis.
Atman: Teknologi Budidaya Kacang Hijau (Vigna radiata L.) di Lahan Sawah ISSN 1412-5838
93
Pengendalian hama dapat dilakukan
dengan menerapkan konsep Pengendalian
Hama Terpadu (PHT). Penggunaan insektisida
merupakan alternatif terakhir bila cara
lain tidak mangkus dalam mengendalikan
hama. Insektisida anjuran, antara lain adalah:
Confidor, Regent, Curacron, Atabron, Furadan,
atau Pegassus dengan dosis 2-3 ml/l air
dan volume semprot 500-600 l/ha (Balitkabi,
2005). Menurut Sunantara (2000), untuk
pengendalian lalat bibit, ulat daun maupun
penggerek polong dapat digunakan insektisida:
Marshal, Fastac, Decis, Matador, dan
Atabron. Sedangkan untuk mengendalikan
kutu dan kepik yang menyerang daun
maupun polong dapat digunakan insektisida:
Decis, Basso, Kiltop, Ambush, dan Larvin.
Waktu penyemprotan insektisida tergantung
populasi hama di lapangan. Bila populasi
telah mencapai ambang kendali, baru
dilakukan penyemprotan.
i. Pengendalian Penyakit
Penyakit utama tanaman kacang hijau
adalah bercak daun Cercospora canescens,
busuk batang, embun tepung Erysiphe
polygoni, dan penyakit puru Elsinoe glycines.
Pengendalian dapat dilakukan dengan
penyemprotan fungisida, seperti: Benlate,
Dithane M45, Baycor, Delsene MX200, atau
Daconil pada awal serangan dengan takaran
2 g/l air. Fungisida laian yang dapat
mengendalikan penyakit embun tepung dan
bercak daun adalah hexakonazol yang
diaplikasikan pada umur 4 dan 6 minggu
untuk penyakit embun tepung atau 4, 5, dan 6
minggu untuk penyakit bercak daun
(Balitkabi, 2005).
Sementara itu penyakit embung
tepung juga dapat dikendalikan dengan
menggunakan varietas tahan, seperti: Sriti
dan Kutilang. Menurut Anwari dan Iswanto
(2004), varietas Kutilang mempunyai tingkat
ketahanan lebih tinggi terhadap penyakit
embun tepung. Penggunaan varietas tahan
dapat menggurangi pemakaian fungisida
sehingga dapat menekan biaya produksi dan
secara tidak langsung juga melestarikan
lingkungan.
j. Panen dan Pascapanen
Umur panen barvariasi tergantung
varietas yang ditanam. Panen dilakukan bila
polong berwarna hitam atau coklat serta telah
kering dan mudah pecah. Panen dapat
dilakukan satu, dua, atau tiga kali tergantung
varietas yang ditanam.
Hasil panen langsung dijemur di atas
lantai beralaskan terpal atau karung dengan
ketebalan 2-3 cm, pembalikkan dilakukan
setiap + 3 jam. Polong yang sudah kering
dipukul-pukul sampai kulit polong pecah (di
dalam karung untuk menghindari kehilangan
hasil) dan pemisahan biji dari kulit polong
dilakukan dengan nyiru, tampi, atau blower.
Biji yang sudah bersih dijemur lagi sampai
kering simpan yaitu kadar air 8-9%
(Sunantara, 2000). Secara umum teknik
produksi kacang hijau di lahan sawah setelah
padi sawah disajikan pada Tabel 4.
PENUTUP
Kacang hijau merupakan salah satu
komoditas kacang-kacangan yang banyak
dimakan rakyat Indonesia. Tanaman ini
selain banyak mengandung zat-zat gizi juga
bermanfaat untuk proses pengobatan. Secara
agronomis dan ekonomis, tanaman kacang
hijau memiliki kelebihan dibanding tanaman
kacang-kacangan lainnya.
Propinsi Sumatera Barat sangat
berpotensi untuk mengembangkan tanaman
kacang hijau di lahan sawah yang selama ini
sebagian besar dibiarkan bera setelah panen
padi untuk waktu cukup lama (1-3 bulan).
Lahan yang memiliki potensi itu adalah:
lahan sawah tadah hujan seluas 50.688 ha,
lahan sawah irigasi desa seluas 50.858 ha,
dan lahan sawah irigasi sederhana seluas
43.790 ha. Permasalahannya, adalah masih
rendahnya produktivitas hasil yaitu hanya 1,1
t/ha dibanding potensi hasilnya yang
mencapai 1,6 t/ha dan bahkan dapat
mencapai 2 t/ha. Hal ini antara lain
disebabkan oleh praktek budidaya yang
kurang optimal.
Jurnal Ilmiah Tambua, Vol. VI, No.1, Januari-April 2007: 89-95 hlm. ISSN 1412-5838
94
Tabel 4. Teknik budidaya kacang hijau di lahan sawah setelah padi sawah.
Komponen
teknologi
Uraian
Varietas
Unggul
 Semua varietas unggul cocok di tanam di lahan sawah. Untuk daerah endemik penyakit embun
tepung dan bercak daun (Cercospora) dianjurkan varietas Sriti, Kenari, Perkutut, Murai, dan
Kutilang.
Kebutuhan
benih
 15-20 kg/ha
Penyiapan
lahan
 Pada lahan sawah setelah panen padi, tidak perlu dilakukan pengolahan tanah (tanpa olah
tanah=TOT).
 Jerami cukup dipotong pendek atau rata dengan tanah. Lahan sawah yang sudah agak lama
tidak ditanami perlu dilakukan pengolahan tanah secara sempurna.
 Untuk menghindari air tergenang, dibuat saluran drainase dengan lebar dan kedalaman 20-30
cm dan jarak antar saluran maksimum 4 m
Penanaman  Tanam dengan sistem tugal sebanyak 2-3 biji/lubang dengan kedalaman 3-5 cm, kemudian
ditutup dengan abu dapur/jerami atau tanah halus atau pupuk kandang.
 Jarak tanam bervariasi, yaitu 40×10 cm (populasi 300.000-400.000 tanaman/ha) pada musim
hujan atau 40×10 cm (populasi 400.000-500.000 tanaman/ha) pada musim kemarau.
 Juga disarankan jarak tanam mengikuti jarak tunggul padi. Pada saat tanam, kelembaban tanah
tidak boleh terlalu tinggi karena dapat menyebabkan biji busuk.
 Penyulaman dapat dilakukan umur 7 hari
Pemupukan  Tanah subur tidak perlu dipupuk.
 Tanah kurang subur dipupuk sebanyak 45 kg Urea + 45-90 kg SP36 + 50 kg KCl/ha atau 50 kg
Urea + 60 kg SP36 + 50 kg KCl/ha.
 Pupuk diberikan pada saat tanam secara larikan di sisi lubang tanam sepanjang barisan
tanaman.
 Bahan organik berupa pupuk kandang sebanyak 15-20 t/ha atau abu dapur/abu hasil
pembakaran jerami sebanyak 5 t/ha sangat baik diaplikasikan untuk menutup lubang tanam.
Penggunaan
mulsa jerami
 Sebanyak 5 t/ha, yang dihamparkan merata di areal pertanaman
Penyiangan
gulma
 Tergantung dengan pertumbuhan gulma, biasanya umur 10-15 hst dan 25-30 hst, dengan cara
dikored atau menggunakan cangkul.
 Daerah langka tenaga kerja, gunakan herbisida pra tumbuh non selektif seperti: Lasso,
Paraquat, Dowpon, dan Goal dengan takaran 1-2 l/ha yang diaplikasikan 3-4 hari sebelum
tanam.
Pengairan  Diairi bila kekeringan pada periode kritis, yaitu: saat tanam, saat berbunga (umur 25 hst), dan
saat pengisian polong (umur 45-50 hst)
 Pada tanah bertekstur ringan (berpasir), pengairan dilakukan dua kali yaitu umur 21 dan 38 hst
 Pada tanah bertekstur berat (lempung), pengairan hanya satu kali
Pengendalian
hama
 Menerapkan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT).
 Insektisida anjuran, antara lain: Confidor, Regent, Curacron, Atabron, Furadan, atau Pegassus
dengan dosis 2-3 ml/l air dan volume semprot 500-600 l/ha
 Untuk pengendalian lalat bibit, ulat daun maupun penggerek polong gunakan insektisida:
Marshal, Fastac, Decis, Matador, dan Atabron.
 Untuk pengendalian kutu dan kepik yang menyerang daun maupun polong gunakan
insektisida: Decis, Basso, Kiltop, Ambush, dan Larvin.
Pengendalian
penyakit
 Penyemprotan fungisida, seperti: Benlate, Dithane M45, Baycor, Delsene MX200, atau
Daconil pada awal serangan dengan takaran 2 g/l air.
 Penyakit embung tepung dikendalikan dengan varietas tahan, seperti: Sriti dan Kutilang.
 Gunakan fungisida hexakonazol yang diaplikasikan pada umur 4 dan 6 minggu untuk penyakit
embun tepung serta 4, 5, dan 6 minggu untuk penyakit bercak daun.
Panen dan
pascapanen
 Umur panen barvariasi tergantung varietas.
 Panen dilakukan bila polong berwarna hitam atau coklat serta telah kering dan mudah pecah.
 Panen dapat dilakukan satu, dua, atau tiga kali tergantung varietas.
 Hasil panen langsung dijemur di atas lantai beralaskan terpal atau karung dengan ketebalan 2-3
cm, pembalikkan dilakukan setiap + 3 jam.
 Polong yang sudah kering dipukul-pukul sampai kulit polong pecah (di dalam karungl) dan
pemisahan biji dari kulit polong dilakukan dengan nyiru, tampi, atau blower.
 Biji yang sudah bersih dijemur lagi sampai kering simpan yaitu kadar air 8-9%.
Atman: Teknologi Budidaya Kacang Hijau (Vigna radiata L.) di Lahan Sawah ISSN 1412-5838
95
Untuk mendapatkan hasil kacang
hijau yang lebih tinggi masih memungkinkan
jika kendala dalam pertumbuhannya dapat
diatasi dengan teknologi budidaya yang
tepat. Komponen teknologi yang harus
diperhatikan dalam budidaya tanaman
kacang hijau antara lain: (1) penggunaan
varietas unggul; (2) penyiapan lahan; (3)
penanaman; (4) pemupukan; (5) penggunaan
mulsa jerami; (6) penyiangan gulma; (7)
pengairan; (8) pengendalian hama; (9)
pengendalian penyakit; dan (10) panen dan
pascapanen.
DAFTAR PUSTAKA
1. Achyad, D.E. dan R. Rasyidah.
2006.http://www.asiamaya.com/jamu/isi/kac
ang hijau_phaseolusradiatus.htm. Kamis, 14
Desember 2006.
2. Anwari, M. dan R. Iswanto. 2004.
Kutilang Varietas Kacang Hijau Tahan
penyakit Embun Tepung. Berita
Puslitbangtan No. 29, April 2004; 16 hlm.
3. BPTP NTB. 2002. Diskripsi Varietas
Unggul Palawija. Badan Litbang Pertanian.
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa
Tenggara Barat. 30 hlm.
4. Balitkabi. 2004. Balai Penelitian Tanaman
Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. 30
hlm.
5. Balitkabi. 2005. Teknologi produksi
kacang-kacangan dan umbi-umbian. Balai
Ppenelitian Tanaman Kacang-kacangan dan
Umbi-umbian. 36 hlm.
6. BPS. 2004. Sumatera Barat Dalam Angka.
Badan Pusat Statistik Propinsi Sumatera
Barat. 584 hlm.
7. Dipertahorti Sumbar. 2005. Potensi,
program dan permasalahan pengembangan
tanaman pangan dan hortikultura di
Sumatera Barat. Dipertahorti Propinsi
Sumbar. Padang.
8. Hilman, Y. A. Kasno, dan N. Saleh. 2004.
Kacang-kacangan dan umbi-umbian:
Kontribusi terhadap ketahanan pangan dan
perkembangan teknologinya. Dalam
Makarim, et al. (penyunting). Inovasi
Pertanian Tanaman Pangan. Puslitbangtan
Bogor; 95-132 hlm.
9. LPTP. 2000. Budidaya Tanaman Kacang
Hijau di Lahan Sawah. Tim Program
Pertanian Berkelanjutan dan Lembaga
Pengembangan Teknologi Pedesaan.
Surakarta; 52 hlm.
10. Nurdin, F. 1994. Kacang Hijau di Sumatera
Barat: Budidaya, Hama, dan
pengendaliannya di tingkat petani. Risalah
Seminar Balittan Sukarami. Vol. III. Balittan
Sukarami; 121-129 hlm.
11. Sunantara, I.M.M. 2000. Teknik produksi
benih kacang hijau. No. Agdex: 142/35. No.
Seri: 03/Tanaman/2000/September 2000.
Instalasi Penelitian dan Pengkajian
Teknologi Pertanian Denpasar Bali.
12. Tim Prima Tani. 2006. Inovasi Teknologi
Unggulan Tanaman Pangan Berbasis
Agroekosistem Mendukung Prima Tani.
Puslitbangtan Bogor. 40 hlm.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s