TERNAK KATAK

 Ternak-Katak


 

8.1. Sejarah singkat
Sejarah kodok tidak diketahui asalnya, karena hampir ditemukan di manamana, karena kemampuannya untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitarnya. Kodok yang banyak dibudidayakan di Indonesia (Rana catesbeiana ) berasal dari Taiwan, kendati kodok itu semula berasal dari Amerika Selatan.
Budidaya kodok telah dilakukan di beberapa negara, baik negara beriklim panas maupun beriklim 4 musim. Tercatat negara-negara Eropa yang telah membudidayakan kodok antara lain : Prancis, Belanda, Belgia, Albania, Rumania, Jerman Barat, Inggris, Denmark dan Yunani, Amerika Serikat dan Meksiko. Sedangkan di Asia, Cina, Bangladesh, Indonesia, Turki, India dan Hongkong yang telah membudidayakan kodok.

 

8.2. Sentra Peternakan
Mulanya uji coba budidaya kodok dilakukan di Klaten (Balai bibit ikan), yang kemudian meluas ke Jawa tengah. Di Jawa Barat pembudidayaan kodok banyak ditemui di daerah pesisir Utara, disamping membudidayakan kodok masyarakat pesisir Utara juga menangkap dari alam. Kemudian di Sumatera Barat dan Bali juga merupakan sentra pembudidayaan kodok.

 

8.3. Jenis
Kodok tergolong dalam ordo Anura, yaitu golongan amfibi tanpa ekor. Pada ordo Anura terdapat lebih dari 250 genus yang terdiri dari 2600 spesies.

 

Terdapat 4 jenis kodok asli Indonesia yang di konsumsi oleh masyarakat kita yaitu:
a) Rana Macrodon (kodok hijau)
Sesuai namanya tubuhnya berwarna hijau dan dihiasi totol-totol coklat kehijauan. Badan bagian depan lebih tinggi dibandingkan badan bagian belakang. Di alam bebas kodok hijau  dapat  tumbuh mencapai ukuran 15 cm panjang badannya. Pahanya panjang, sedangkan dagingnya berwarna kekuningan. Selain itu hidup disungai-sungai, jenis kodok juga hidup di sawah-sawah.

 

b) Rana Cancrivora (kodok sawah)
Nama kodok ini sesuai dengan tempat hidupnya yaitu di sawah-sawah. Salah satu cirinya adalah terdapat bercak-bercak coklat tua pada punggung dari depan sampai belakang. Badannya lebih rata. Bila dewasa ukuran tubuhnya dapat mencapai 10 cm. Warna daging putih.

 

c) Rana Limnocharis (kodok rawa atau kodok totol)
Kodok rawa banyak terdapat di rawa-rawa. Daging jenis kodok ini  mempunyai  rasa yang paling enak daripada kedua jenis kodok di atas. Namun demikian ukuran tubuhnya lebih kecil yaitu hanya 8 cm saja. Ciri lain dari kodok rawa adalah warna kulit coklat dengan totol-totol coklat gelap. Oleh karenanya kodok ini disebut juga kodok totol.

 

d) Rana Musholini (kodok batu/raksasa).
Kodok ini dijuluki kodok raksasa karena ukuran tubuhnya tergolong besar. Berat badan nya dapat mencapai 1,5 Kg dan panjang tubuhnya mencapai 22 cm. Kodok betina biasanya lebih besar daripada kodok jantan.
Ciri khas kodok raksasa adalah kepala berbentuk pipih dan moncong halus berbentuk segitiga (triangular), ujung moncong ada yang runcing dan ada pula yang tumpul. Gendang telinganya terlihat jelas. Pada kelopak matanya terdapat bintil-bintil. Pada bagian kepala dan punggung warna kulitnya coklat kelabu muda atau kelabu hitam sampai hitam dengan bercak-bercak hitam dan coklat. Pada bagian perut warna kulitnya putih bersih. Secara umum keseluruhan permukaan kulitnya, baik punggung maupun perut bila diraba terasa lebih halus.
Pada mula jenis kodok ini hanya ditemukan didaerah Sumatra Barat, terutama di sekitar Payakumbuh yang berketinggian 500 meter di atas permukaan laut. Habitat alaminya berupa bebatuan. Oleh karena itu jenis kodok ini dinamakan juga kodok batu. Konon, karena ukurannya yang besar, kodok ini dapat melompat hingga 8 meter jauhnya.

 

Selain keempat jenis kodok asli Indonesia, masih ada 3 jenis kodok lain yang dapat dikonsumsi. Karena ukuran tubuhnya besar, maka ketiga jenis kodok ini merupakan kodok unggul. Masing-masing jenis tersebut adalah :

 

a.Kodok Lembu atau kodok banteng Amerika (Rana catesbiana)
Kodok yang berukuran besar ini berasal dari Amerika selatan. Ukuran tubuhnya dapat mencapai 20 cm. Ukuran pahanya lumayan besar dan rasanya lebih lezat dibanding kan semua jenis kodok konsumsi. Seperti umumnya jenis kodok, maka kodok lembu betina cenderung berukuran lebih besar daripada kodok jantan.
Badannya tegak dan kuat dengan warna kulit coklat kehijauan yang dilengkapi dengan benjolan-benjolan kecil. Kodok lembu senang mendiami tempat-tempat berair tenang dan dangkal. Di Amerika Selatan, kodok ini muncul dari tidur musim dinginnya pada bulan Mei dan kemudian berkembang biak pada Bulan Juli. Kodok Lembu ini lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya. Oleh karenanya, kodok lembu cepat berkembang  di berbagai Negara termasuk di Indonesia.
Selain itu di Amerika ada jenis lain yaitu Rana clamitans, Rana glylo, Rana Pipiens, Rana sphemocephala dan Rana palustris. Sedangkan species yang mirip Rana catesbiana dan berkembang di Eropa adalah Rana escuelenta, di Kepulauan Solomon Rana guppy.

 

b.Kodok Banteng Afrika (Pyxicephalus adspersus)
Kodok Banteng Afrika tumbuh hingga mencapai panjang 22,5 cm. Sedikit lebih besar dari ukuran kodok lembu. Berbeda dengan jenis kodok lainnya, dimana kodok banteng afrika ini justru yang jantan berukuran tubuh lebih besar dibandingkan dengan betina.
Badannya gemuk pendek dan berwarna hijau kekuningan, dengan lipatan memanjang pada kulitnya. Bentuk mulutnya sangat lebar, memanjang sampai ke bahu. Rahang bawahnya dilengkapi dengan 3 buah tonjolan yang menyerupai gigi. Di alam aslinya mereka hidup di genangan air yang dangkal. Berkembang biak pada musim penghujan dan akan tidur selama musim kemarau. Species lain dari Afrika adalah species asli Kamerun yaitu Rana goliath.

 

c. Kodok Banteng India atau Kodok batu (Rana Trigina)
Kodok Banteng India atau Kodok Batu juga mampu tumbuh besar yaitu mencapai panjang 15 cm. Tubuhnya berwarna hijau kekuningan. Kodok jenis ini terkenal sangat pemalu dan hidup menyendiri di selokan serta rawa-rawa. Perkembangbiakannya terjadi pada awal musim hujan.
Kodok batu ini merupakan salah satu jenis kodok yang memegang peranan cukup besar dalam meningkatkan produksi kodok tangkapan.

 

Selain itu di India masih ada species lain yang bisa dimakan tetapi kurang populer, yaitu : Rana crassa, Rana daudin dan Rana hexadactyla.

 

 

8.4. Manfaat
Nilai ekonomis kodok terdapat pada pahanya. Paha kodok ini dapat diolah menjadi berbagai macam makanan “kelas atas” yang cukup mahal harganya. Tidak mengherankan jika permintaan akan paha kodok mengalami peningkatan secara tajam.
Daging kodok adalah sumber protein hewani yang tinggi kandungan gizinya. Limbah kodok yang tidak dipakai sebagai bahan makanan manusia dapat dipakai untuk ransum binatang ternak, seperti itik dan ayam. Kulit kodok yang telah terlepas dari badannya bisa diproses menjadi kerupuk kulit kodok. Kepala kodok yang sudah terpisah dapat diambil kelenjar hipofisanya dan dimanfaatkan untuk merangsang kodok dalam pembuahan buatan. Daging kodok dipercaya dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
Pada mulanya kodok yang dilucuti pahanya itu adalah kodok yang ditangkap secara langsung dari alam. Namun karena begitu cepatnya laju eksploitasi tersebut, menyebabkan populasi kodok alam menurun secara drastis. Bahkan dinyatakan hampir punah. Melihat kenyataan tersebut, maka berkembanglah usaha budidaya kodok secara komersial.

 

8.5. Pedoman teknis budidaya
A. Persyaratan lokasi

 

  1. Ketinggian lokasi yang ideal untuk budidaya kodok adalah 1600 dpl.
  2. Tanah tidak terlalu miring namun dan tidak terlalu datar, kemiringan ideal 1- 5%, artinya dalam jarak 100 m jarak kemiringan antara ujung-ujungnya 1-5 m.
  3. Air yang jernih atau sedikit tercampur lumpur tersedia sepanjang masa. Air yang jernih akan memperlancar proses penetasan telur.
  4. Kodok bisa hidup di air yang bersuhu 2–35 drajat C. Suhu saat penetasan telur ialah anata 24–27 derajat C, dengan kelembaban 60–65%.
  5. Air mengandung oksigen sekitar 5-6 ppm, atau minimum 3 ppm. Karbondioksida terlarut tidak lebih dari 25 ppm.
  6. Dekat dengan sumber air dan diusahakan air bisa masuk dan keluar dengan lancar dan bebas dari kekeringan dan kebanjiran.

 

B. Penyiapan Sarana dan Peralatan
Dalam proses pembuatan kolam, tidak boleh hanya menggali atau menimbun saja melainkan harus menggabungkan keduanya sehingga akan mendapatkan bentuk dan konstruksi kolam yang ideal.
Untuk memasukkan air ke dalam kolam diperlukan saluran yang konstruksinya dibuat dari pasangan bata merah atau batako yang diperkuat dengan semen dan pasir. Bentuk dari saluran ini biasanya trapesium terbalik dan pada beberapa tempat pemasukan air ke kolam dibuat kobakan kecil untuk menjebak air agar mudah masuk kedalam kolam-kolam.
Kolam yang diperlukan antara lain: kolam perawatan kodok, kolam penampungan induk sebelum dikawinkan, kolam pemijahan, kolam penetasan, kolam perawatan kecebong, kolam pembesaran percil dan kolam pembesaran kodok remaja. Kebutuhan kolam ini masih ditambah dengan kolam pemeliharaan calon induk.

 

Kolam Perawatan Kodok
Luasnya 15 meter persegi dengan ukuran 3 x 5 m, yang terdiri dari dinding tembok 0,40 m dan dinding kawat plastik setinggi 1 m, lantainya terbuat dari semen dan bata yang terdiri dari 2/3 bagian kolam terisi air setinggi 10-15 cm dan 1/3 bagian kering.
Kolam Pemijahan.
Kolam dibuat dari semen dan diatasnya dinding kawat plastik. Kedalaman air di kolam ini sekitar 0,30–0,40 m dan ditengahnya dibuatkan daratan. Padat pemeliharaan 15 ekor setiap meter perseginya, dengan perbandingan tiga betina dan satu jantan. Supaya lebih nyaman, sebaiknya lantai daratan tengah tidak berlumpur, dan kolam ditanami enceng gondok. Sediakan makanan berupa ikan kecil, ketam dan bekicot Masa kawin ditandai dengan suara merdu. Tak lama kemudian, telur mereka mengambang di air kolam dan segera dipindahkan ke kolam penetasan.
Kolam Penetasan
Kolam penetasan dibuat beberapa buah, dari tembok dengan air sedalam 30 cm dan air mengalir atau diberi aerasi yang luas. Luas kolam seluruhnya 10 m2.
Kolam Kecebong
Terdiri dari beberapa kolam yang masing-masing luasnya berkisar anta 5–6 m2, dengan dasar lantai terbuat dari semen.
Kolam Kodok Muda
Di kolam ini kodok yang dipelihara berumur kurang dari 2 bulan. Dibuat beberapa buah dengan masing-masing luasnya 15 m2, dengan dinding tembok dan kawat. Lantai miring dengan daerah air 1/3 bagian dengan kedalaman 15–35 cm.
Kolam Kodok Dewasa.
Pada kolam ini kodok sudah berusia antara 2–6 bulan. Kolam yang diperlukan terdiri dari 2, dengan masing masing luas kira–kira 20 m2 , dengan konstruksi dasar dan dinding tembok dan kawat. Kedalaman air yang diperlukan antara 30–40 cm.

 

C. Pembibitan
Untuk pembudidayaan kodok yang banyak dicari adalah dari jenis kodok banteng Amerika (Bull frog), diamping rasanya enak juga beratnya bisa sampai 1,5 kg. Bisa juga jenis kodok batu dari Sumatera Barat yang sampai saat ini belum dibudidayakan secara optimal, karena masyarakat masih mengambilnya dari alam.
Adapun syarat ternak yang baik adalah bibit dipilih yang sehat dan matang kelamin. Sehat, tidak cacat, kaki tidak bengkok dan normal kedudukannya, serta gaya berenang seimbang. Pastikan kakikodok tidak mengidap penyakit kaki merah ( red legs).

 

1) Pemilihan Bibit Calon Induk
Pilihlah kodok yang sehat dan berukuran besar. Disamping itu perhatikan juga tanda-tanda kelamin sekundernya. Pisahkan induk berdasarkan jenis kelaminnya. Pemisahan dilakukan sekitar 1–2 hari dimaksudkan untuk lebih merangsang nafsu diantara mereka apabila saatnya mereka dipertemukan.
Untuk induk-induk yang hendak dikawinkan sebaiknya diberikan makanan cincangan daging bekicot yang masih segar dan makanan buatan lainnya.

 

2) Perawatan Bibit dan Calon Induk
Induk jantan dan betina berumur 4 bulan disuntik perangsang pertumbuhan Gonadotropin intramuskular dengan dosis 200-250 IU/ekor/bulan.

 

3) Sistem Pemijahan
Secara Alami
Induk jantan dan betina yang telah dipisah selama 1-2 hari disatukan di kolam pemijahan. Ikan liar dapat mengganggu hasil pemijahan. Perhatikan agar telur kodok tidak ikut terbuang air pembuangan. Di sore atau pagi hari pada saat suhu mulai menurun, barulah kita perlu membantu kelancaran proses pemijahan, yaitu dengan membuat hujan buatan.
Sistem Hipofisasi
Cara mutakhir untuk memijahkan kodok adalah dengan cara sistem kawin suntik menggunakan ekstrak kelenjar hipofisa untuk merangsang kodok agar kawin sesuai waktu yang kita inginkan. Dengan sistem ini kita bisa mengintensifkan pembenihan, mengurangi kematian, merawat telur-telur kodok yang telah dibuahi dalam tempat tersendiri, memberi jaminan bahwa telur-telur akan terbuahi oleh sperma seluruhnya dan tidak memerlukan hujan buatan. Penyuntikan pada tubuh betina lazimnya pada punggung, rongga perut dan bagian kepala. cara penyuntikan pada rongga perut banyak dipilih.

 

D. Reproduksi dan Perkawinan
Kodok yang hendak disuntik ditampung pada akuarium yang diberi sedikit air dan ditutup dengan kawat kasa untuk memudahkan penangkapan. kodokkodok tersebut telah cukup umur dan dalam keadaan matang telur. Saat penyuntikan kodok dibalut dengan kain hapa agar tidak meronta.
Kodok yang telah disuntik kemudian dilepas dalam akuarium lain dan dipantau setiap jam. Setelah 12 jam, kodok tadi disuntik kembali agar mereka mampu bertelur seluruhnya. Setelah yang betina 2 kali disuntik dan menunjukkan akan bertelur, maka kita mempersiapkan testis dari induk jantan. Sperma dikeluarkan dari testis dengan cara memotongnya dengan jarum kecil yang tajam dan dimasukkan ke cawan petri yang sudah diisi dengan air kolam yang bersih. Setelah air dalam cawan menjadi keruh dan testis sudah kosong, maka cairan testis dibiarkan selama 10 menit.

 

8.6. Pemeliharaan
Pemeliharaan dilakukan pada setiap tahap pertumbuhan kodok, Pertumbuhan dan kesehatan kodok terrgantung pada makanan dan kecocokan tempat tinggalnya. Kodok diberi makan 1 kali sehari, air di kolam diganti dan dibersihkan seminggu sekali.

 

1) Sanitasi dan Tindakan Preventif
Telur yang sudah dibuahi, dipindahkan pada kolam penetasan. Kolam dibersihkan dari hama dan kotoran sebelum digunakan. Telur harus dipisahkan dari induknya sehingga telur tidak terganggu proses penetasannya dan tidak dimakan oleh induknya. Memindahkan telur jangan sampai pecah sarangnya atau lendirnya. Telur-telur akan menetas setelah 48–72 jam pada suhu air 24–27 oC. Bila sudah menetas dipelihara pada kolam yang sama selama 10 hari.

 

2)Perawatan Ternak
Kodok muda yang telah mengalami metamorphose ditempatkan pada kolam permanen. Pemasukan dan pengeluaran air harus diberi penyaring untuk menghindari hama dan mencegah kodok lepas ke peraiaran umum. Padat penebaran 50-100 ekor/m2. Bila kita memelihara jenis kodok banteng yang tidak suka makanan yang tidak bergerak, makanan harus diletakkan dibawah aliran air/pancuran. Setelah berumur 3 bulan, kodok diseleksi berdasarkan kaki belakang, kulit dan ukuran badannya. Jumlah yang di seleksi 20% dari total dan dipindahkan ke kolam calon induk, sedangkan sisanya tetap dipelihara sampai masa panen pada umur 4-5 bulan.
Kodok dewasa (matang gonada) untuk bibit unggul, baik jantan maupun betina di suntik dengan kelenjar hiphopisa kodok sebanyak 1 dosis. Penyuntikan dilakukan 1 bulan sekali (bila memakai sistem hiphopisa) dan padat tanam sebanyak 20-25 ekor/m2

 

3) Pemberian Pakan
Untuk mendapatkan pertumbuhan yang optimum, kodok membutuhkan makanan yang baik. Pada umumnya kodok akan memangsa makanan yang diberikan bila dalam keadaan bergerak. Namun demikian pada kodok unggul jenis Rana catesbiana dapat diajari untuk memakan makanan yang mati (tidak bergerak).
Di alam bebas kodok akan memangsa kecebong kadal, kecebong bangkong, macam-macam ulat, nyamuk, kecoak dan serangga yang lain.
Terdapat berbagai macam makanan yang dapat diberikan untuk kodok di kolam pembesaran persil maupun di kolam pembesaran kodok remaja. Makanan percil sampai kodok dewasa berupa cincangan daging bekicot,cincangan daging ikan, ulat, belatung, serangga, mie, bakso dan berbagai benih ikan serta ketam-ketaman kecil dan lainnya.
Dapat juga diberikan makanan buatan, dengan meramu makanan buatan kita bisa menyusun sesuai dengan tingkat umur kodok, yang terkadang sulit dilakukan apabila kita memberinya makanan yang langsung didapat dari alam. Dengan demikian maka problem yang sering dialami seperti ukuran makanan lebih besar dari lebar bukaan mulut kodok tidak perlu terjadi lagi.
Di pasaran, pellet khsusus untuk pakan kodok telah dibagi menurut peruntukkannya. Yakni pellet untuk kecebong, grower dan untuk induk (breeder). Kebutuhan pakan pelet untuk kodok yaitu umur (minggu) dengan jumlah kebutuhan (g/ekor/hari) : 0-3  (kecebong) = 0,03 g/ekor/hari, 14 = 0,15; 16 = 0,42; 18 = 0,58; 20 = 0,72; 22 = 0,92 dan 24 minggu = 1,32 g/ekor/hari.
Setelah kodok berumur lebih dari 24 minggu, pemberian pakan selanjutnya disesuai kan dengan bobotnya. Rata-rata jumlah pakannya adalah 0,3-0,5 % dari bobotnya.
Pakan diberikan 2 kali sehari dalam setiap takaran. Dengan cara ini diharapkan pakan dapat dihabiskan kodok dan tidak tersisa sama sekali. Oleh karenanya, pembersihan kolam setiap hari mutlak dilakukan agar jika ada sisa pakan tidak membusuk di dalam kolam.

 

8.7. Hama dan penyakit
Banyak parasit dan penyakit yang mengancam keselamatan kodok budidaya, baik dalam stadia kecebong, percil, kodok remaja maupun kodok dewasa. Penyebabnya dapat berupa bakteri, virus, jamur, protozoa, cacing dan insekta. Dari berbagai penyakit dan parasit yang menyerang kodok, beberapa diantaranya yang perlu mendapat perhatian adalah sebagai berikut :

 

a)  Penyakit Ekor Busuk
Gejala. Penyakit Ekor busuk hanya menyerang stadia kecebong. Bila salah satu kecebong terkena, dengan mudah penyakit ini akan menular pada kecebong lainnya. Gejala serangan berupa rusaknya bagian ekor. Biasanya ditandai dengan munculnya warna putih pada bagian yang rusak tersebut. Kemudian gerakan kecebong menjadi tidak seimbang dan akhirnya mengalami kematian. Penularan penyakit ini akan dipercepat bila padat penebaran terlalu tinggi. Penyebab : Bakteri atau Jamur.
Pengendalian. Langkah penanggulangan adalah dengan memisahkan kecebong yang sakit dengan kecebong yang sehat. Kecebong yang masih sehat segera dipindahkan ke tempat lain yang lebih steril. Di tempat pemeliharaan yang baru, kecebong yang sehat tersebut diobati dengan Oktaklor dengan dosis 4 g/4,5 liter air atau dengan Natrium klorida (NaCl) 0,15 g/4,5 liter air. Pengobatan dilakukan dengan merendam kecebong dalam larutan tersebut selama setengah jam diulang sampai 4 kali. Sementara itu kolam yang tadinya ada kecebong sakit dibersihkan dengan desinfektan seperti larutan PK (Kalium permanganat).

 

b) Penyakit Kembung (Bloating)
Gejala. Penyakit kembung (bloating) lebih banyak menyerang kodok remaja dan dewasa dengan ditandai perut yang membuncit.
Penyebab. Disebabkan oleh kesalahan dalam memberikan makanan yang banyak mengandung protein. Akibatnya, kodok mengkonsumsi makanan yang terlalu banyak mengandung protein. Oleh karena itu penyakit ini juga disebut penyakit overprotein.
Pengendalian. Satu-satunya cara menyelematkan kodok yang menderita bloating adalah dengan menghentikan pemberian makan, Agr tidak mengganggu kodok yang lainnya, maka kodok yang sakit dipindahkan dari kodok yang sehat. Dengan demikian kodok yang tidak sakit kembung tetap dapat makan seperti biasanya.

 

c) Ambein (dubur keluar)
Gejala. Kodok yang terkena ambein menunjukkan gejala keluarnya semacam daging sepanjang kurang lebih 2 cm dari bagian anusnya. Penyakit ambein dialami oleh kodok muda.
Penyebab. Penyakit ambein disebabkan oleh melemahnya sistem otot belakang. Berdasarkan pengamatan peternak, dubur keluar ini kemungkinan besar bersumber pada kecerobohan kodok menelan makanannya. Mungkin makanan yang ditelan terlalu keras atau terlalu besar.
Pengendalian. Untuk penyembuhan, kodok yang sakit diisolasi selama 3 hari dan tidak diberi makan. Baru pada hari ke-4 kodok diberi makan, tetapi berupa makanan yang lunak dan sesuai dengan ukurannya. Untuk mengatasinya penyakit ambein, maka populasi tidak boleh terlalu padat dan kolam harus bersih dan pemberian kadar kalori dalam makanan tidak boleh melebihi dosis 3400 cl/kg makanan. Lama kelamaan ambein akan hilang dengan sendirinya.

 

d) Kaki Merah
Gejala. Penyakit kaki merah ini merupakan penyakit yang sangat merugikan. Karena yang diserang adalah yang sangat ekonomis pada kodok yaitu kaki dan paha. Gejala klinis dapat dikenali dengan adanya warna kemerahan di bagian belakang dan dibagian depan kaki. Warna merah tersebut disebabkan oleh rusaknya jaringan otot kaki. Paha kaki berwarna merah, luka dan kulit melepuh adalah penyakit yang menyerang kodok yang berumur 1-2 bulan, menular dan menyerang sistem saraf, sehingga akan mati dalam beberapa jam
Penyebab. Penyakit kodok ini disebabkan oleh serangan bakteri, yaitu Aeromonas hydrophilla atau Hydrophlilus.
Pengendalian. Untuk pencegahan penyakit ini, diusahakan agar penebaran tidak terlalu padat. Selain itu lingkungan pemeliharaan harus dijaga kebersihannya. Kodok yang sakit diobati dengan antibiotika, suntikan teramisin 25 mg/kg, atau streptomycin/ tetrasiklin 20 mg/kg berat kodok atau Oxolini acide dengan cara perendaman sebanyak 1,56 mcg/ml. Pengobatan kaki merah dan bisul pada kodok, dengan memandikan kodok dalam larutan Nifurene 50–100 gram/m2 air.

 

e) Kebutaan
Gejala. Terjadi iritasi mata dan peradangan kelopak mata yang berakhir dengan kebutaan.
Penyebab. Kebutaan pada kodok dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : infeksi larva cacing Trematoda pada mata, gangguan metabolesme, defisiensi Vitamin A dan polusi air.
Pengendalian. Pengobatan penyakit mata yang disebabkan oleh cacing dapat digunakan piperazin sitrat yang ditambahkan dalam pakan sesuai anjuran petunjuk pemakaian. Sementara gangguan mata karena matabolisme, defisiensi vitamin A atau polusi air dapat diberikan larutan perak nitrat 1% sebagai obat tetes mata.

 

Selain penyakit-penyakit di atas, masih ada faktor lain yang dapat mengakibatkan kematian kodok, diantaranya adalah perubahan habitat dari lingkungan air ke lingkungan darat (terjadi pada saat kecebong berubah bentuk menjadi kodok), kekurangan sinar ultra violet pada stadium starter dan grower, suhu yang tinggi (di atas 28 oC, pH air yang terlalu rendah (di bawah 3) atau pH yang terlalu tinggi (di atas 9), pencemaran air oleh pestisida, kadar oksigen terlalu rendah, kepadatan populasi dan ketidakseragaman ukuran kodok dalam satu area.
Untuk itu, hal-hal di atas harus mendapat perhatian yang serius agar pemeliharaan kodok dapat dilakukan lebih baik.

 

8.8. Panen
1) Hasil Utama
Hasil utama yang dihasilkan adalah dagingnya
2) Hasil Tambahan
Sedangkan hasil tambahan yang dapat diperoleh adalah dengan mengolah limbah hasil pemotongan untuk dijadikan silase; dengan penambahan propionat dan asam formiat dengan jalan digiling bersama sama maka makanan untuk ternak ini tahan hingga 2 bulan pada suhu sedang. Hasil sampingan lainnya adalah dengan dijadikan tepung, dimana kandungan mineral dan proteinnya masih cukup tinggi untuk dijadikan bahan tambahan pakan ternak. Kodok yang tidak dijual/afkir dapat diambil hiphofisanya untuk proses pemijahan berikutnya
3) Penangkapan
Sebelum disiangi, biasanya kodok-kodok tersebut ditempatkan pada penampungan. Tempat penampungan kodok bisa berupa kotak kayu atau bak semen yang drainasenya lancar

 

8.9. Pasca panen
Proses penanganan pasca panen juga sangatlah mudah. Untuk menjaga agar kodok tetap hidup dan segar, maka kita bisa menggunakan karung goni atau tas kain yang dibasahi. Pengangkutan paling aman dilakukan pada pagi hari atau sore hari. Apabila pengangkutan dilakukan untuk jarak jauh maka perlu dibuatkan kotak kayu yang didesain secara khusus, dan kapasitasnya disesuaikan dengan besarnya kotak kayu tersebut.

 

8.10. Analisis ekonomi budidaya
Gambaran analisis ekonomi usaha budidaya kodok lembu (rana catesbeiana), untuk memperkirakan keuntungan yang akan diperoleh dan untuk menghindari pos-pos yang tidak penting.

 

Adapun usaha pembenihan kodok skala kecil 200 M2 dengan asumsi sbb.
a)  Luas Tanah : 200 m2
b)  Luas Kolam : 125 m2

 

  • kolam penyimpanan induk: 9 m2
  • kolam induk jantan: 3m2
  • kolam induk betina: 3 m2
  • kolam pemijahan/perkawinan: 9 m2
  • kolam penetasan: 8 m2
  • kolam kecebong: 21 m2
  • kolam percil: 20 m2
  • kolam kodok dewasa: 30 m2
  • saluran air dan lainnya: 22 m2

 

c)  Jumlah Induk.

 

  • induk betina: 6 ekor, jantan: 4 ekor
  • induk yang dikawinkan: 3 betina 2 jantan
  • telur yang dihasilkan sebanyak + 30,000 butir/pemijahan

 

d)  Lama pemeliharaan: 5 bulan
e)  Frekuensi pemijahan: 3 kali / setahun
f)   Jenis makanan yang diberikan : cacing, belatung, anak ikan, cincangan bekicot, tepung dengan kadar protein + 35 %.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s